Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Chapter 141 (Balasan Rendra Untuk Kia)


__ADS_3

Rendra dan Risha sudah kembali ke kantor dan pergi keruangan mereka masing-masing. Saat ini Rendra sedang berada diruangannya dengan tumpukan dokumen yang perlu dia tanda tangani. Saat dia hendak minum, dia teringat kalau tangan Risha memerah karena air panas. Rendra langsung menghubungi Alan agar segera keruangannya


Tuut


"Alan, tolong segera keruangan saya!" Pinta Rendra melalui sambungan telepon


"Baik pak" Alan pun langsung masuk keruang Rendra setelah dia menutup teleponnya


"Anda memanggil saya pak?" Tanya Alan begitu dia masuk keruang Rendra


"Ya, tolong bawa rekaman CCTV ruang akuntansi dan juga pantry disana sebelum makan siang tadi!" Pinta Rendra dengan sikap yang tenang


"Baik pak" Alan bergegas pergi untuk mengambil rekaman CCTV yang diminta Rendra


"Untuk apa pak Rendra minta rekaman CCTV ya? Apa terjadi sesuatu?" Pikir Alan mendapatkan perintah dari Rendra. Alan dengan cepat pergi kebagian keamanan untuk melihat hasil rekaman CCTV, dia melihatnya lebih dulu sebelum nanti ditunjukkan pada Rendra


"Jadi ini yang jadi masalahnya. Tapi, apa hubungan pak Rendra dengan karyawan baru ini ya? Sudah berkali-kali aku melihatnya makan siang dengan pak Rendra" Pikir Alan sambil terus memperhatikan rekaman CCTV. Setelah selesai menyalinnya, Alan membawanya untuk ditunjukkan pada Rendra


Tok tok tok


"Masuk!" Alan langsung kembali dengan salinan dari rekman CCTV ditangannya


"Ini rekaman yang bapak minta" Ujar Alan sambil menyerahkan sebuah flashdisk pada Rendra


"Terimakasih. Kamu bisa kembali ke pekerjaanmu sekarang!"


"Baik pak. Permisi" Alan beranjak pergi setelah Rendra menganggukkan kepalanya menanggapi Alan.


Setelah sekertarisnya itu keluar, Rendra mulai membuka rekaman CCTV dan mempelajarinya dengan detil dimulai dengan ruang keuangan terlebin dahulu" Rendra terus memutar video disana


"Apa-apaan ini?!' Teriak Rendra kesal setelah melihat Risha yang terus dibuat kesulitan oleh Kia di bagian keuangan. Rendra langsug memanggil kembali ALan keruangannya


"Ada apa pak?" Tanya Alan lagi dengan sopan


"Tolong panggilkan bu Kia dari bagian keuangan untuk kemari. Minta dia membawakan laporan anggaran untuk produk terbaru kita!" Rendra meminta Alan memanggil Kia dengan raut wajah datar seperti biasanya


"Baik pak" ALan pun langsung mengiyakan dan segera pergi meninggalkan Rendra, karena jika tidak sudah dapat dipastikan kalau dia juga akan terkena omelannya Rendra


DiruangĀ  bagian keuangan, Risha kembali pada pekerjaannya yang menumpuk setelah selesai dengan makan siangnya. Dia mengabaikan tatapan Kia, Elisa dan Nura yang seakan ingin memakannya hidup-hidup karena kejadian di pantry tadi.

__ADS_1


Perbincangan mereka terganggu ketika Alan menghubungi Kia melalui sambungan telepon


Tuut tuut


Kia langsung menerima telepon dari Alan


"Halo" Kia menyapa ketika baru saja menerima telepon


"Bu Kia, ini saya Alan, sekertarisnya pak Rendra" Kata Alan dibalik teleponnya


"Oh pak Alan. Ada apa ya?" Kia terdengar panik dan langsung bertanya dengan nada yang ramah dan senyum yang lembut


"Pak Rendra meminta anda keruangannya dengan membawa laporan untuk anggaran produk baru kita" Alan menjelaskan dengan sikap yang tenang dan sopan


"Apa?! Anggaran untuk produk baru?! Sekarang?!" Kia sangat terkejut karena tugas itu baru saja dia berikan pada Risha


"Bukannya anggaran ituĀ  baru akan diperiksa 4 hari lagi?" Tanya Kia memastikan


"Tidak. Pak Rendra meminta anda membawanya kemari se-ka-rang!" Alan bicara dengan nada yang dingin dan menekankan batas waktu untuk Kia memberikan laporannya


"Baik, saya akan kesana sekarang!" Kia yang telah menutup teleponnya terlihat panik dan langsung berjalan mendekati Risha


"Risha, apa kamu sudah menyelesaikan laporan untuk anggaran produk baru yang saya minta?" Tanya Kia dengan wajah panik


"Kamu ini bagaimana sih! Bukannya aku memintamu menyelesaikannya dengan cepat?!" Kia semakin panik dan berusaha menyalahkan Risha karena laporan anggaran yang diminta Rendra masih belum siap


Risha mengernyitkan dahi mendengar perkataan Kia padanya


"Bukannya bu Kia yang bilang kalau selesaikan dulu laporanku, baru selesaikan laporan untuk anggaran ini?" Risha bicara dengan nada yang sedikit sinis dan wajah yang teguh tanpa ada ketakutan


"Lagipula, untuk menentukan laporan anggaran itu harusnya menjadi tugas bu Kia sebagai manajer kan? Mana bisa anda memberikannya pada karyawan baru seperti saya?" Risha bicara dengan nada yang sedikit mencibir


"Karena kamu anak baru makanya laporan itu aku berikan padamu, agar kamu bisa tau diri. Kamu itu hanya karyawan biasa yang belum lama mulai bergabung dengan kami. kamu tidak usah bersikap polos karena aku tahu betul bagaimana gadis muda sepertimu berusaha mengambil simpati dari para pria kaya" Kia menjawab dengan sinis karena Risha masih terus menjawabnya


"Memangnya saya kenapa? Sampai-sampai saya harus banyak belajar? Dan apa maksudnya dengan saya pura-pura polos untuk mencari simpati para pria?" Risha terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Kia tadi. Sedangkan Kia tidak lagi menjawab dan memilih pergi meninggalkan


"Apa maksudnya itu? Menjerat pria kaya dengan penampilan yang polos? Aku ingin lihat sampai kapan kamu akan bersikap arogan padaku. Aku akan selalu ingat kata-katamu tadi" Gumam Risha sambil terus menatap kia yang berjalan keluar ruangan


Elisa kembali mendekati Risha dengan senyum ramah dibibirnya

__ADS_1


"Ada apa dengan bu Kia? Ini pertama kalinya aku melihat dia begitu panik" Tanya Elisa sambil berjalan dan duduk di kursi depan Risha


"Bu Kia diminta keruangan pak Rendra dengan membawa laporan untuk anggaran produk terbaru kita" Risha menerangkan dengan tenang dan disertai senyum tipis pada Elisa


"Oh begitu" Elisa hanya menganggukkan kepala perlahan menanggapi ucapan Risha


Kia sudah tiba diruang kerja milik Rendra. Kini Alan berdiri di depan pintu menemani Kia sebelum masuk


Tok tok tok


"Permisi pak, bu Kia sudah disini!" Alan memberitahu Rendra mengenai kedatangan Kia


"Biarkan dia masuk!" Jawab Rendra dengan sikap yang dingin. Alan pun mempersilakan Kia masuk sementara dia kembali ke meja kerjanya


"Silahkan duduk!" Pinta Rendra dengan sikap yang dingin


"Mana laporan yang saya minta?"


Kia terlihat gugup dengan kedua tangannya saling menggenggam satu sama lain karena gemetar


"Anu pak. Saya belum menyelesaikan laporan itu" Jawab Kia dengan tertunduk


"Apa katamu? Belum kamu selesaikan?! Lalu apa saja yang kamu kerjakan?" Tanya Rendra dengan nada kesal


"Maafkan saya pak. Saya pikir laporan itu akan diserahkan 4 hari lagi. Jadi saya mengerjakan yang lain terlebih dahulu" Kia menjawab dengan kepala tertunduk dan tubuh gemetar


"Jadi, karena sebelumnya laporan itu akan digunakan 4 hari lagi makanya kamu tidak langsung mengerjakannya?" Rendra bertanya dengan sorot mata yang tajam


"Bu-bukan begitu. Hari ini saya sudah meminta Risha mengerjakannya, tapi dia juga belum sempat karena ada laporan lain yang harus dikerjakan" Kia menjawab dengan terbata-bata


"Bagaimana bisa kamu meminta karyawan baru yang mengerjakanmya? Ini seharusnya jadi tanggung jawabmu sebagai manajer!" Rendra meluapkan amarahnya pada Kia


"Maafkan saya pak" Ujar Kia dengan air mata yang mulai berderai


"Saya tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi. Jika kamu tidak bisa menyelesaikan laporan itu hari ini juga, maka kamu akan saya pecat!" Rendra bicara dengan sorot mata yang tajam


"Baik pak. Akan saya lakukan sekarang!" Kia pun hendak beranjak dari ruangan Rendra untuk segera membuat laporannya


"Tunggu! Ingat, kamu harus kerjakan sendiri laporannya dan jangan meminta karyawan lain untuk mengerjakan tugas ini. Mengerti?!" Tanya Rendra lagi dengan sikap dingin.

__ADS_1


"Baik pak. Saya mengerti"


"Akan kubuat kamu merasa kesulitan karena sebuah laporan"


__ADS_2