Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Meisya Utari Wilandra


__ADS_3

“Sayang, bisakah kamu menemaniku makan malam dengan klien hari ini?” Kenzie bertanya pada Meisya setelah mereka makan siang karena hari ini mereka tidak bisa makan siang bersama


“Makan malam dengan klien? Apa tidak masalah?” tanya Meisya dengan nada yang khawatir


“Tentu saja tidak. Karena itu aku mengajakmu” Kenzie kembali menanggapi dengan sikap yang tenang dan ceria


“Baiklah, jika memang tidak masalah. Tapi sebenarnya ada apa? Kenapa kak Zie tiba-tiba mengajakku makan malam bersama klien?” Meisya kembali bertanya dengan dahi berkerut karena Kenzie sangat jarang mengajaknya untuk menemui klien bersama.


“Ada insiden terjadi dan aku ingin mengenalkanmu sebagai pendampingku” ujar Zie dengan siap yang tenang penuh keyakinan


“Kak Zie yakin ingin mengungkapkan hubungan kita ke public? Kurasa dengan hubugan kita sekarang ini saja sudah cukup, karena orang tua kita sama-sama sudah tahu” Meisya kembali menjelaskan tentang hubungan diantara mereka


“Itu memang benar. Tapi ada sekian orang yang tidak percaya dengan hubungan kita dan meminta pembuktian dari kita berdua”. Meisya mengerutkan dahi karena semakin bingung dengan apa yang dimaksud Kenzie.


“Tidak percaya dengan hubungan kita? Apa maksudnya itu?” Meisya tersenyum tak percaya mendengar apa yang dikatakan Kenzie


“Ya pokoknya kamu berdandan yang cantik saja. Nanti aku akan menjemputmu dan kita akan pergi ke restoran bersama” ujar Zie dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah


“Baiklah. Akan aku hubungi lagi nanti. Sampai jumpa kak Zie” Meisya pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan Kenzie


“Apa dia bersedia pergi denganmu?” tanya Noey yang sedang membahas masalah pekerjaan dengan Kenzie


“Tentu saja. Mana mungkin dia tidak menemani kekasihnya sendiri dalam acara penting?” Kenzie menanggapi dengan sikap yang sombong


“Baguslah. Kalau begitu aku tidak perlu pergi denganmu ke acara makan malam itu kan? Toh kamu akan ditemani Meisya dan Deby” ujar Neoy dengan acuh tak acuh sambil beranjak pergi dari ruangan Kenzie


“Memangnya kamu mau kemana? Jangan sok sibuk begitu” Zie bertanya dengan sikap yang tenang namun terlihat dari raut wajahnya kalau dia sangat penasaran


“Aku juga memiliki urusanku sendiri. Aku tidak mau terus mengurusi urusanmu dan juga Kenzo!” Noey sedikit berbalik saat bicara pada Kenzie kemudian kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruangan sang bos.


“Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat aneh?” Gumam Kenzie dengan dahi berkerut heran


***


Malam hari disebuah salon. Kenzie datang menjemput Meisya yang telah menunggunya disana


“Apa kamu sudah siap, sayang?” tanya Kenzie sambil terus memperhatikan penampilan Meisya yang sangat cantik dan elegan.


“Tentu saja. Apa kamu tidak melihat penampilanku?” Meisya menanggapi dengan sneyum percaya diri sambil sedikit bergaya didepan Kenzie

__ADS_1


“Wow ... kamu sangat cantik” Puji Kenzie sambil


menggelengkan kepala memperhatikan penampilan Meisya.


"Benarkah? Apa dengan begini aku tidak akan mempermalukanmu?" tanya Meisya dengan senyum menggoda Kenzie


"Tentu saja tidak. Mau bagaimanapun penampilan kamu, aku tidak akan pernah malu berada disampingmu" ujar Kenzie sambil mencium punggung tangan Meisya.


Meisya tersipu malu mendengar sanjungan Kenzie. Dengan cepat dia menarik kembali tangannya dan mengalihkan pembicaraan mereka


"Kita sudah hampir terlambat. Sebaiknya kita berangkat sekarang" ujar Meisya sambil berlalu melangkah menuju mobil. Kenzie tersenyum melihat Meisya yang salah tingkah


"Dia seperti kucing" gumamnya sambil menatap punggung Meisya. Diapun berjalan ke mobil dan membukakan pintu untuk Meisya


"Terimakasih" ujar Meisya yang hanya dibalas anggukan disertai senyum oleh Kenzie.


Mereka pun mulai berkendara menuju restoran yang telah disepakati.


Tak berapa lama mereka tiba direstoran. Kenzie memarkirkan mobilnya ditempat parkir yang masih kosong.


"Apa kamu sudah siap, sayang?" tanya Kenzie sebelum mereka turun dari mobil.


"Tidak ada apa-apa. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku ada disampingmu " Kenzie bicara dengan senyum yang lembut berusaha menenangkan Meisya.


"Aku tidak takut. Memangnya apa yang harus aku takutkan?" Meisya menanggapi dengan santai perkataan Kenzie


"Kalau begitu kita masuk kedalam"


"Ehm"


Kenzie turun dari mobil lebih dulu setelah Meisya menganggukkan kepala. Setelah itu dia membuka pintu untuk Meisya. Barulah mereka masuk ke restoran dengan bergandengan tangan.


Restoran yang dipesan adalah restoran bintang 5 yang terlihat sangat menawan. Didalam sana Deby telah tiba lebih dulu dan menunggu kedatangan Kenzie bersama perwakilan dari perusahaan Estin.


"Apa pak Kenzie masih lama?" tanya direktur dari perusahaan Estin yang bernama Sintia


"Mungkin pak Kenzie sedang dalam perjalanan. Tolong tunggu sebentar ya Bu" ujar Deby dengan senyum ramah saat dia menenangkan Sintia


"Sayang, mungkin mereka terjebak macet. Kita tidak perlu buru-buru" Seorang pria yang datang: bersama Sintia bicara dengan lembut sambil memegang sebelah tangannya

__ADS_1


"Ya, itu bisa saja terjadi" ujar Sintia dengan senyum lembut disertai anggukan kepala.


"Selamat malam. Maaf kami terlambat" Deby, Sintia dan suaminya langsung menoleh bersamaan setelah mendengar suara seorang pria yang mendekati mereka


"Pak Kenzie, anda sudah datang" Deby langsung berdiri dan menyapa Kenzie dengan senyum yang hangat, namun dia menatap Meisya dengan tatapan sinis.


"Perkenalkan ini Bu Sintia, direktur dari PT Estin dan ini suaminya" Deby memperkenalkan Sintia dan Deby dengan senyum lembut


"Saya Kenzie Lutherin dan ini tunangan saya, Meisya Utari" Kenzie saling berjabat tangan dengan Sintia dan suaminya, kemudian memperkenalkan Meisya


"Sepertinya aku pernah melihat kalian, tapi dimana ya?". Suami Sintia terlihat berpikir setelah dia saling bertatapan dengan Kenzie dan Meisya.


"Ehm … kami juga tidak tahu. Mungkin hanya familiar saja" ujar Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang dan ramah.


"Ya mungkin saja. Kalau begitu silahkan duduk".


"Ya, terimkasih" Mereka pun duduk dan mulai memesan makanan.


Kenzie dan Meisya menyadari tatapan sinis Deby pada mereka, namun pasangan itu berusaha keras untuk bersikap normal.


"Bu Sintia, apa anda sudah lama menikah dengan suami anda?" Deby bertannya dengan senyum yang ramah


Sintia dan suaminya saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Deby


"Kami sudah menikah hampir 3 tahun. Dan itu terasa sangat cepat" ujar Sintia menanggapi dengan senyum yang ramah.


"Bagaimana anda saling mengenal? Anda seorang direktur perusahaan sedangkan suami anda seorang kontraktor" Deby bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah, namun matanya masih mendelik tajam pada Meisya.


"Kami saling mengenal saat ada proyek kerjasama antara perusahaanku dengan perusahaan tempatnya bekerja. Karena kerjasama itu kami menjadi dekat dan lama-kelamaan menjalin hubungan ketahap yang lebih serius" suami Sintia menjelaskan dengan senyum yang ramah.


"Saya kira kalian dari perusahaan yang sama. Tapi ada bagusnya dari perusahaan yang berbeda, jadi bisa saling membantu" Kenzie dan Meisya hanya tersenyum dan saling menatap saat mendengarkan Deby


"Anda bilang … anda seorang kontraktor, apa anda mengenal pak Arseno Wilandra?" Kenzie yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, kini mulai bicara


"Tentu saja saya mengenalnya. Saya rasa semua orang pasti tahu siapa itu Arseno Wilandra. Beliau adalah kontraktor sukses yang sudah terkenal dinegara A ini" suami Sintia menanggapi dengan sangat antusias karena dia memang mengenal ayah Meisya


"Tunggu. Sekarang aku ingat. Kamu adalah putri pak Arseno kan? Ya, benar. Aku melihatmu dipesta pak Arseno waktu itu. Kalian berdua ada saat pesta terakhir kali, kan?" ujar suami Sintia dengan sangat antusias


"Ternyata anda sangat teliti. Ya, saya Meisya Utari Wilandra. Putri satu-satunya dari Arseno Wilandra"

__ADS_1


__ADS_2