
Ting nong ting nong
Suara bel rumah pak Rudi terdengar beberapa kali tekan. Pak Rudi dan Ilana sepertinya sudah tidur karena ini memang sudah sangat larut, namun karena suara bel mereka bangun
"Hemn... siapa malam-malam begini datang berkunjung?" Gumam pak Rudi yang berjalan keluar kamar
"Pah, siapa yang datang malam-malam begini?" Tanya Ilana yang juga terbangun
"Papa juga tidak tahu" Jawab pak Rudi sambil berlalu menuju pintu depan
Ceklek
Pak Rudi sangat terkejut melihat beberapa polisi berdiri dihadapannya
"Selamat malam pak, dengan pak Rudi?"
"Benar, saya Rudi. Ada apa ya pak?" Rudi menjawab dengan ragu-ragu karena terkejut dan bingung
"Kami dari kepolisian datang untuk menangkap anda atas tuduhan upaya pembunuhan" Ujar salah satu polisi sambil menunjukkan surat penangkapannya
"Saya? Apa salah saya? Kenapa kalian menangkap saya?" Rudi terlihat panik saat polisi mengatakan akan menangkapnya
"Anda bisa memberikan kesaksian dikantor polisi. Sekarang silahkan ikut kami!"
"Lana! Ilana!"
"Papa! Kenapa papa saya ditangkap? Apa salah papa saya?" Ilana keluar saat mendengar pak Rudi berteriak. Diapun terkejut saat melihat sang ayah hendak dibawa ke kantor polisi
"Papa anda akan ditahan atas tuduhan upaya pembunuhan. Anda berhak menyewa pengacara. Bawa dia pergi!" Polisi meminta rekannya membawa pak Rudi setelah selesai bicara pada Ilana
"Papa! Papa!"
"Lana hubungi pengacara kita, minta dia datang secepatnya!" Ilana berusaha menahan pak Rudi agar tidak dibawa pergi namun tidak berhasil. Akhirnya pak Rudi meminta dia menghubungi pengacara
"Baik pah!" Pak Rudi pun dibawa paksa masuk kedalam mobil polisi, sedangkan Ilana berbalik dan masuk ke dalam rumah untuk menghubungi pengacara setelah melihat sang ayah dibawa pergi dengan mobil polisi
Tak berapa lama pak Rudi tiba di kantor polisi. Disana sudah ada beberapa orang yang sebelumnya dia sewa untuk mencelakai Kenzo dan Rendra
"Apa benar orang ini yang telah meminta kalian untuk mencelakai dua pemuda itu?" Tanya salah satu penyidik pada salah satu pemuda bayaran sambil menunjuk pak Rudi
"Dasar orang-orang bodoh! Bagaimana bisa mereka tertangkap? Itu berarti Kenzo dan Rendra selamat?" Pikir pak Rudi saat melihat para pemuda itu
"Benar pak, pak Rudi orangnya!" Jawab pemuda itu dengan sedikit panik
__ADS_1
"Kenapa kalian membawa saya secara paksa? Kalian punya bukti apa kalau saya yang membayar mereka? Saya sama sekali tidak mengenal mereka!" Pak Rudi berusaha membela diri setelah melihat para pemuda itu
"Benarkah? Anda yakin tidak mengenal mereka? Ini adalah bukti rekaman percakapan anda dengan mereka" Kenzo yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka dan hanya memperhatikan saja, akhirnya berjalan mendekat dengan sebuah chip memori yang menyimpan percakapan antara pak Rudi dan orang-orang suruhannya
"Kamu! Jadi kamu menyadap telepon saya?!" Teriak pak Rudi tak percaya
"Saya hanya berjaga-jaga saja karena penawaran kita dan ternyata kecurigaan saya benar. Kamu mencoba mencelakai kami" Ujar Kenzo dengan sikap yang tenang
"Tapi bagaimana kalian bisa lolos? Kerja kalian itu apa?!" Pak Rudi heran dengan Kenzo dan Rendra yang tidak terluka sama sekali. Justru anak buahnya yang babak belur, diapun berteriak menyalahkan para preman suruhannya
"Oh itu"
Flash back on
"Cari tempat sepi!"
"Kejar mereka!"
Kenzo dan Rendra menggiring para gerombolan orang yang mengejar mereka ke tempat sepi. Sebuah lahan kosong yang letaknya di dekat pinggiran kota.
"Akhirnya kalian berhenti juga. Percuma saja jika kalian terus saja lari dari kami. Kami akan tetap menemukan kalian" Ujar salah satu preman dengan sikap yang sombong
"Tidak perlu banyak bicara! Cepat selesaikan sekarang juga. Ini sudah waktunya jam istirahatku" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang
"Kamu ingin mengorbankan aku?!" Tanya Rendra dengan mengernyitkan dahi
"Kalian bisa-bisanya berdebat disaat begini?! Serang mereka!"
Bag bug bag bug
Preman itu berjumlah kira-kira sepuluh orang. Mereka terus melawan Kenzo dan Rendra yang hanya berdua. Dengan berbagai senjata. mereka berusaha menyakiti Kenzo dan Rendra. Mulai dari pisau, cerulit dan tongkat besi. Namun mereka tidak tahu kalau Kenzo membawa pistol di sakunya
Dor!
Tembakan peringatan Kenzo arahkan ke udara. Itupun setelah dia cukup kesal dengan para preman itu yang tidak menyerah meskipun telah babak belur dan mengalami luka hampir disekujur tubuhnya
"Kalian tidak lelah? Kalian pikir kami memiliki banyak waktu luang untuk terus melakukan pemanasan dengan kalian? Aku malas berurusan dengan orang yang tidak penting seperti kalian" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin setelah dia menembak keudara
"Ka-kamu terlalu sombong! Kamu tidak mungkin berani menembak kami. Itu pasti senjata ilegal?"
Dor!!
"Aakkh!"
__ADS_1
"Apa sekarang kalian sudah percaya? Dari pada nyawa kalian melayang, lebih baik kalian berkerja sama dengan kami dan mengakui kesalahan kalian!"
Para preman itu mulai gemetar setelah melihat Kenzo menembak kaki salah satu rekannya. Bahkan sorot mata Kenzo cukup untuk membuat bulu kuduk merinding
"A-apa yang kalian inginkan?" Tanya salah satu preman lain setelah melihat bos mereka meringis kesakitan karena tembakan Kenzo
"Jadi saksi dikantor polisi. Akui semua kejahatan kalian dan juga Rudi atau kalian akan berakhir di kamar mayat rumah sakit"
Para preman itu saling menoleh satu sama lain setelah mendengar ucapan Kenzo
"Baik kami akan melakukannya"
"Cih, jika tahu ini lebih mudah sebaiknya lakukan saja sejak tadi. Tidak perlu membuang tenaga" Ujar Rendra dengan senyum mencibir
Flash back off
"Pak Rudi, sekarang anda sudah tidak bisa mengelak lagi. Sudah ada bukti rekaman dan juga para saksi disini" Kenzo berjalan semakin dekat kearahnya kemudian berbisik pada pak Rudi
"Bahkan jika anda lolos dari polisi, anda tidak akan pernah bisa lolos dari tangan saya. Saya bisa dengan mudah menemukan anda. Sekalipun jika anda bersembunyi dilubang semut yang paling kecil"
Mata pak Rudi membelalak mendengar bisikan dari Kenzo
"Papa! Aku datang bersama pengacara terhebat!" Semua orang menoleh mendengar suara Ilana yang berteriak ketika dia baru saja menginjakkan kaki di kantor polisi
"Kenzo?" Ilana terkejut hingga membelalak ketika melihat Kenzo berada disamping ayahnya
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Pak Stevan, pengacara ternama di negara F. Apa menurutmu mereka sanggup membayarmu? Perusahaan mereka dinegara A tidak stabil. Pabrik tas mereka yang disini bahkan sedang kekurangan dana dan menunggu untuk pinjaman dari bank. Harta benda yang mereka miliki tidak seberapa. Apa kamu yakin akan membela mereka?" Kenzo dengan tenangnya bertanya pada pengacara yang dibawa Ilana
"Sebagai pengacara aku harus membela klienku. Mereka mempercayakan kasusnya untuk aku tangani. Jadi aku pasti akan membela mereka" Ujar pengacara Rudi dengan senyum yang optimis
"Bahkan jika mereka terbukti bersalah?" Tanya Kenzo lagi dengan tangan yang dilipat di dada
"Kalau begitu saya bisa meringankan hukumannya, dan belum tentu juga dia bersalah" Pengacara itu tetap pada pendiriannya membela Rudi
"Kalau begitu kamu rela prifesimu terancam karena membela penjahat seperti ayah dan anak ini? Aku bisa memanggil pengacara keluargaku untuk melawanmu" Ujar Kenzo dengan sorot mata yang tajam
"Silakan. itu hak anda sebagai penuntut untuk memanggil pengacara juga" Kenzo tersenyum mendengar jawaban dari pak Stevano
"Bagus kalau begitu, aku suka dengan sikapmu yang sangat percaya diri itu. Rendra hubungi pengacara keluarga Kusuma. Aku yakin kakek buyut tidak keberatan jika aku menggunakan pengacara miliknya" Ujar Kenzo dengan senyum licik diwajahnya
"Apa?! Keluarga Kusuma?!"
__ADS_1