Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kekesalan Risha


__ADS_3

Risha dan sepasang kekasih itu pun menunggu dengan sikap yang tenang. Dia bahkan melupakan Rendra yang sedang menunggunya dipinggir jalan.


Drrt drrt drrt


Tak berapa lama ponsel Risha berdering. Dia pun merogoh ponsel dalam sakunya dan melihat layar ponsel tertulis nama Rendra.


"Halo, sayang". Risha menyapa Rendra dengan nada yang manja, berbeda dengan sikapnya yang tadi terlihat tenang dan serius.


"Sha, kenapa kamu lama sekali? Kamu bilang hanya ingin mengambil tas yang tertinggal saja?" Terdengar suara Rendra yang langsung bertanya setelah mendengar suara Risha.


"Maaf, sayang. Ada sedikit masalah yang terjadi. Aku tidak dapat menemukan tas belanjaanku disana. Hanya saja, aku melihat seseorang membawa tas yang sama dengan milikku, jadi aku sedang ingin melihat CCTV untuk melihat siapa yang mengambil tasku setelah aku pergi" ujar Risha menjelaskan dengan sikap yang tenang.


"Aku akan kesana sekarang!". Rendra langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Risha.


"Dia ini benar-benar tidak bisa menunggu" gumam Risha disertai senyum lembut dibibirnya sambil gelengan kepala perlahan.


Tak lama manajer toko datang bersama seseorang yang bertugas mengawasi CCTV.


"Selamat malam. Saya manajer toko ini, bisakah dari anda semua menjelaskan bagaimana situasinya?" ujar manajer toko dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa begitu dia menghampiri kerumunan orang.


"Biar aku yang jelaskan" ujar pemuda itu yang maju mendampingi sang kekasih


"Pak Julian, rupanya itu anda. Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Sikap manajer toko itu langsung berubah begitu dia melihat Julian, putra dari pemilik mall.


"Ternyata sikapmu sebagai manager cepat sekali berubah ya?" Risha pun bicara dengan senyum mencibir dibibirnya


"Maaf Nona, tapi apa maksud anda?" tanya manajer itu dengan sikap yang kembali tenang seperti semula.


"Langsung saja pada intinya, saya ingin melihat CCTV dan membuktikan tas yang dipegang nona itu milik saya atau bukan" Risha bicara dengan sikap yang tegas.


Manajer toko itu menoleh pada tas belanjaan yang dipegang oleh gadis itu


"Itu ... apa anda yakin kalau anda membeli tas itu? Nona Ciara adalah pacarnya Pak Julian, pasti Pak Julian yang telah memberikan tas itu. Mungkin anda lupa meninggalkannya disuatu tempat yang lain" Manajer itu menanggapi degan sikap yang tenang namun terkesan mendukung Julian dan pacarnya.


Risha memicingkan mata mendengar perkataan manajer toko itu. Raut wajahnya sangat jelas menunjukkan kalau dia tidak suka dengan sikap manajer toko itu.


"Saya tidak minta pendapat anda. Saya hanya ingin anda menunjukkan kamera CCTV toko ini sekarang juga!" Risha yang semakin kesal bicara dengan sikap yang sinis dan dingin.

__ADS_1


"Tapi, Nona"


"Mau menunjukkannya atau tidak?!" ujar Risha dengan nada mengancam dan mata menatap tajam kearah manajer toko.


"Baik, saya akan tunjukkan"


"Kamu ingin mempermalukan kami?! Mana mungkin kami mengambil barang orang lain?! Lagipula tas murahan seperti ini saja kamu ributkan. Aku bisa membelikan pacarku yang lebih bagus dari ini. Kamu tinggal minta saja ini padaku". Julian berusaha menyelamatkan citranya dengan menganggap remeh barang yang Risha perebutkan dengannya.


Risha semakin mencibir Julian dan juga pacarnya setelah mendengar apa yang mereka katakan


"Tas murahan? Itu adalah tas keluaran terbaru yang masuk kategoti edisi terbatas, limited edition, Apa kamu mengerti? Apa kamu tahu berapa harga tas itu bal ith"


Julian dan pacarnya saling menatap setelah mendengar ucapan Risha


"Julian, apa kamu membuat masalah baru?"


Saat semua sedang memperhatikan Risha dan sepasang kekasih itu, suara seorang pria yang baru saja datang mencuri perhatian semua orang dan membuat mereka semua menoleh kearah sumber suara. Disana seorang pria paruh baya datang bersama seorang wanita yang lebih muda mengikuti dari belakangnya.


"Papa. Aku tidak melakukan apapun" Julian menanggapi pertanyaan pria itu dengan sikap yang tenang.


"Ini semua karena gadis itu. Dia menuduh kami mengambil barang miliknya. Padahal kami tidak melakukan itu sama sekali" Julian menjelaskan dengan nada kesal dan terus menunjuk Risha. Sang ayah pun menoleh dan mengikuti arah yang ditunjuk sang putra. Pandangannya terkunci pada Risha yang berdiri dengan sikap yang anggun dan elegan disamping manajer toko.


"Kamu ... apa aku mengenalmu?" tanya ayah Julian dengan sikap tenang karena merasa kalau wajah Risha tidak asing baginya.


"Saya Arisha Nedzara, direktur di perusahaan Sanjaya. Apa anda mengenal saya?". Risha menanggapi dengan sikap yang tenang


"Perusahaan Sanjaya? Bukankah itu masih dipimpin oleh pak Diaz?" tanya ayah Julian yang memang tahu mengenai keluarga Kusuma.


"Benar. Tapi saya rasa bukan ini yang jadi masalahnya sekarang. Saat ini saya hanya ingin membuktikan kalau tas yang dipegang gadis ini milik saya atau bukan". Risha bicara dengan sikap yang tegas pada ayah Julian. Dia tidak perduli apakah ayah Julian pemilik mall atau bukan. Baginya hanya tas itu yang penting sekarang.


"Ya ya, maafkan saya. Sebaiknya kita periksa saja buktinya. Mungkin ada yang bisa dijadikan bukti disini?" ujar ayah Julian yang tersadar dengan masalah yang sedang terjadi.


"Kalau begitu, cepat periksa CCTV toko ini. Kalian sungguh membuang-buang waktu hanya untuk melihat CCTV saja" ujar Risha lagi yang berikeras dengan apa yang dia inginkan.


"Tunjukan bukti rekaman CCTV sekarang" ujar ayah Julian pada manajer toko


"Baik, Pak" Manajer toko itupun mulai menyalakan laptop dan memutar rekaman kamera CCTV

__ADS_1


"Dimana anda meletakkan barang anda?" tanya manajer toko pada Risha sebelum dia memutar bukti rekaman.


"Dekat dengan ruang ganti" jawab Risha sambil menunggu layar laptop memutar rekaman CCTV.


Tak lama layar monitor menunjukkan hasil rekamannya


"Lihatlah ini. Ini benar tempat dimana aku meletakkannya. Mereka berdua yang menemukan barang milikku". Risha bicara dengan skap yang dingin dan percaya diri. Dia menunjuk layar monitor saat Julian dan pacarnya datang dan menemukan tas belanjaan miiknya.


"Kami memang menemukan ini, tapi bukan berarti kalau ini milik perempuan ini kan?!" Ciara bicara tanpa rasa takut sema sekali.


"Ciara benar apa buktinya kalau anda yang punya tas ini?" Julian pun mendukung sang kekasih dengan ikut menyudutkan Risha.


"Kalian berdua ini benar-benar menyusahkan. Apa kita perlu pergi ketoko tas ini? Aku yakin kalau mereka pasti masih mengingatku dengan sangat jelas". Risha mendengus kesal karena Julian dan Ciara, kemudian dia bicara dengan senyum mencibir. Dia benar-benar tidak mengerti dengan pasangan ini padahal sudah jelas sekali kalau dia yang memiliki tas itu. Semua orang pun tahu kalau Risha pemiliknya.


Saat Risha sedang menahan amarahnya, Rendra datang dari balik kerumunan dan mendekati Risha


"Pemuda itu kan ...?" pikir ayah Julian saat melihat Rendra melewati kerumunan dan mendekati Risha


"Kenapa kamu sangat lama? Aku sudah menunggumu dari tadi" Rendra bicara dengan nada yang lembut dan senyum yang hangat dengan sebelah tangan langsung melingkar dipinggang Risha. Dia tidak mempedulikan kerumunan orang disekeliling nya yang menatap mereka.


"Hanya berusaha mendapatkan kembali barang belanjaanku. Itu tas limited edition yang sudah lama aku tunggu-tunggu. Aku tidak mau kalau harus menunggu sampai tas ini kembali dikirim ke negara ini" Risha mengeluih pada Rendra dengan nada yang manja.


Rendra langsung menoleh ke sekeliling mereka dan pandangannya terkunci pada seorang gadis yang memegang tas belanjaan Risha. Dia adalah Ciara, kekasih Julian yang masih mematung karena terpesona dengan ketampanan Rendra.


Risha pun menyadari tatapan Ciara pada Rendra. Dia memicingkan mata dan menatap Ciara dengan sinis lalu berjalan mendekat kearahnya.


"Apa yang kamu lihat? Apa calon suamiku ini sangat tampan sampai kamu tidak berkedip saat menatapnya?" bisik Risha pada Ciara yang sama sekalii tidak menyadari kalau Risha berjalan kearahnya


"Ah. Ba-bagaimana kamu ada disini?" Ciara sangat terkejut menyadari bisikan Risha yang tiba-tiba berdiri disampingnya


"Aku bertanya lebih dulu, apa calon suamiku sangat tampan?" ulang Risha lagi dengan nada yang sinis


"Jangan mengalihkan topik. Sekarang ini kita sedang membahas mengenai tas ini" Ciara mengalihkan topik pembicaraan dari pertanyaan Risha karena ada Julian disampingnya dan kembali membahas masalah tas


"Sayang, sebaiknya kita kembali ke toko tas yang tadi. Kita butuh konfirmasi dari mereka" Rendra menyarankan dengan sikap yang tenang


"Ya, kita memang harus menyelesaikan masalah ini, tapi aku juga tidak akan membiarkan sembarangan gadis melihatmu. Ini sama saja mencuri hakku sebagai pemilik masa depanmu. Aku tidak suka itu. setelah dia mempermalukanku, dia juga menginginkanmu. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus menyingkirkannya sebelum terlambat.

__ADS_1


__ADS_2