Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kesempatan Kedua? Kami Tidak Pernah Memberikannya


__ADS_3

Suasana ruang konfrensi masih tegang, ditambah lagi perdebatan Diaz dan Rendra yang sama sekali tidak tahu tempat itu membuat suasana ruangan semakin tidak jelas


"Maaf, apa kalian berdua bisa berhenti? Kalian tidak ingin menyelesaikan ini dulu?" Risha menyela perdebatan Diaz dan Rendra dengan menunjukan senyum terpaksa diwajah cantiknya


"Papi kan sudah bilang kalau kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan padanya" Diaz menghela napas panjang dan bicara dengan acuh tak acuh


"Sepertinya pak Daniel sudah punya janji sebelumnya padaku. Bapak akan melakukannya kan, karena sudah jelas kalau anda yang kalah" Lagi-lagi Risha bicara dengan senyum yang lembut namun terlihat menyeramkan bagi Daniel


"I-iya, saya akan lakukan apapun yang bu Risha katakan asalkan bu Risha mengampuni saya" Daniel menjawab dengan ragu


"Bagus. Kalau begitu tolong berikan aku kertas dan spidol!" Risha bicara pada asisten Diaz yang sedang berdiri disaana


"Baik" Diapun bergegas keluar dari ruang konfrensi untuk mendapatkan apa yang minta Risha. Tak lama dia kembali dengan kertas dan spidol yang diminta Risha


"Ini bu, silahkan"


"Terimakasih" Risha menerima kertas dan spidolnya lalu menulis sesuatu diatasnya


'Saya yang membuat gosip mengenai bu Risha dan pak Diaz, saya juga yang menyebarkan foto saat mereka berdua sedang makan siang bersama. Itu hanyalah gosip yang saya buat karena saya tidak suka bu Risha langsung menempati posisi direktur padahal tidak memiliki pengalaman'


"Kenapa kamu menulis itu Sha?" Rendra bertanya dengan raut wajah bingung


"Hanya untuk bersenang-senang saja" Jawab Risha dengan senyum lembut. Dia pun berjalan mendekati Daniel dan memberikan kertas itu padanya


"Ini ...?" Tanya Daniel yang sedang bingung


"Saya ingin kamu keliling gedung ini dan menunjukkannya pada setiap karyawan yang kamu temui. Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa. Cukup berkeliling  saja" Risha bicara dengan sikap yang acuh tak acuh


"Apa?! Mengelilingi kantor dengan tulisan seperti itu?! Apa dia gila?! Itu sangat memalukan!" Batin Daniel menggerutu tak terima setelah membaca kalimat yang dltulis Risha


"Tapi jika aku tidak melakukannya sudah pasti aku akan kehilangan muka didepan pak Diaz. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan dengan jaminan maa depan yang besar ini"


"Bagaimana? Kamu tidak mau melakukannya?" Tanya Risha lagi meminta keputusan dari Daniel

__ADS_1


"Baik! Saya akan melakukannya"


"Bagus. Nih!" Daniel menyetujui permintaan Risha meskipun dengan terpaksa. Daniel pun mendekati Risha dan mengambil kertas putih yang diulis oleh Risha


"Lihat saja, aku pasti akan membalasmu nanti, karena kamu telah mempermalukan aku" Pikir Daniel saat dia muai berjalan meninggalkan ruang konfrensi sambil membawa kertas yang diletakkan didepan dadanya


"Kamu tidak bermaksud memberikan hukuman anak SD padanya kan?" Rendra bertanya dengan mata menatap curiga pada Risha


"Tidak, aku hanya ingin bersenang-senang dan memberikan hiburan untuk karyawan lain juga. Kasihan mereka terlalu lelah bekerja" Risha menjawab dengan sikap yang begitu tenang. Dan senyum penuh curiga dari bibirnya yang manis


"Kamu cukup licik juga" Rendra bicara dengan senyum lembut di wajahnya. Risha hanya tersenyum dengan mengangkat kedua bahunya bersamaan menanggap ucapan Rendra. Setelah itu mereka kembali memperhatikan Daniel yang menghampiri setiap karyawan untuk menunjukan apa yang sedang dia pegang


"Ini sangat menyenangkan" Ujar Risha dengan senyum ceria.


Tak berselang lama Daniel kembali setelah menjadi bahan tertawaan para karyawan dikantor


"Bu, saya sudah melakukan apa yang ibu katakan. Apa sekarang saya bisa kembali keruangan saya?" Daniel bertanya dengan sikap yang tenang tanpa merasa bersalah sama sekali


"Ya, kamu bisa keruanganmu sekarang" Ujar Risha dengan sikap yang tenang


"Terimakasih untuk apa? Tanya Risha dengan wajah bingung


"Karena ibu sudah memaafkan saya dan membiarkan saya kembali bekerja disini"


"Siapa yang bilang kalau saya membiarkan kamu kerja lagi disini? Saya mengizinkan kamu kembali keruanganmu itu untuk membereskan semua barangmu dan pergi dari sini!" Risha bicara dengan sikap yang dingin dan tegas


"Kamu menipuku?!" Teriak Daniel yang tetap tidak terima


"Kapan aku menipumu? Aku tidak pernah mengatakan kalau kamu akan kembali bekerja setelah kami memberimu hukuman" Risha bicara dengan sikap acuh tak acuh dan anggun


"Dasar ****** sialan!" Daniel yang marah mengangkat sebelah tangannya untuk menampar Risha, namun dia dapat dengan cepat menahan tangan Daniel sehingga dia tidak berhasil menamparnya


"Kamu ingin menamparku?! jangan terlalu bermimpi, Keamanan! Bawa dia keluar dari sini. Oh aku lupa memberitahumu. Keluarga Kusuma tidak pernah bisa terima kalau kami diinjak dan dipermainkan. Jadi sebagai imbalan atas keberanianmu. Kamu tidak akan pernah bisa bekerja dimanapun. Bahkan jika itu diluar negeri sekalipun" Risha bicara dengan senyum manis dan sikap yang tenang

__ADS_1


"Apa? Kalian gila ya?! Bagaimana bisa kalian merusak masa depanku hanya karena masalah seperti ini?! Aku bisa tuntut kalian atas semua ini" Daniel masih bersikeras melawan Risha meskipun dia telah tersudut


"Masalah seperti ini? Kamu pikir berapa banyak orang yang mengenal keluarga Kusuma dan bersaing dengan kami? Jika aku membiarkan orang sepertimu lolos begitu saja, maka sudah pasti banyak orang lain yang akan menginjak keluarga kami dan aku tidak bisa terima itu"  Kini Risha bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam


"Lalu bagaimana dengan keluargaku?" Tanya Daniel dengan khawatir


"Ada apa dengan keluargamu?" Risha mengernyitkan dahi dan menatap Daniel dengan tatapan bingung


"Jika aku tidak bekerja, bagaimana dengan mereka?" Daniel kembali berusaha meyakinkan Risha agar dia tidak dipecat dari pekerjaannya


"Kenapa kamu baru memikirkan hal itu sekarang? Harusnya kamu lebih peduli pada mereka sebelum kamu menimbulkan masalah. Sekarang aku tidak bisa membantu karena gara-gara kamu juga reputasiku dan juga papi semakin buruk. Jadi, anggap saja kalau itu adalah nasib sial mereka karena memiliki keluarga sepertimu. Sebaiknya kamu pergi sekarang  juga. Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu!" Risha bicara dengan sikap tegas kemudian berbalik mendorong kursi roda Rendra untuk kembali ke ruang konfrensi karena Bil dan Alan menunggu disana


"Bu Risha! Tolong sekali ini saja berikan aku kesempatan kedua! Aku tidak akan melakukan hal buruk lagi pada anda dan keluarga anda. Aku janji itu" Daniel kembali berlutut dhadapan para karyawan yang menyaksikan percakapanya dengan Daniel


"Kesempatan kedua? Kami tidak pernah memberikannya pada siapapun. Tidak ada alasan untuk kami mempertahankan orang yang telah berani merendahkan kami. Beruntung aku hanya membuatmu kehilangan pekerjaan dan tidak membuatmu kehilangan nyawa juga" Ujar Risha dengan acuh tak acuh


"Lebih baik kamu bunuh saja aku sekarang! Toh lama kelamaan aku juga akan mati kelaparan!" Daniel tetap bersikeras melawan Risha tanpa ada rasa takut sedikitpun


"Benarkah? Aku bisa mewujudkan apa yang kamu minta itu  dengan mudah. Ren, apa kamu membawa pistol milikmu?" Risha bertanya pada Rendra setelah dia bicara pada Daniel


"Tentu" Rendra pun mengambil pistol kecil dari pinggangnya dan memberikannya pada Risha


"Apa ada bagian dari tubuhmu yang ingin mencicipi ini?" Risha bertanya sambil menatap pistol ditangannya


"Ap-apa yang akan kamu lakukan?!" Daniel terlihat gugup dan panik setelah Risha memegang senjata api ditangannya


"Bukankah kamu sendiri yang bilang ingin mati? Aku bisa membantumu sekarang!" Risha pun mengarahkan pistol itu dengan tenang pada Daniel


"Ti-tidak! Ja-jangan!" Daniel semakin panik dan takut pada Risha. Tubuhnya mulai gemetar dengan keringat dingin yang mulai bercucuran


Dor!!


"Aaah"

__ADS_1


"Ah, sayang sekali itu hanya mengenai celanamu. Jika kamu masih berani mencari gara-gara denganku. Maka peluru ini akan bersarang ditubuhmu! Ayo sayang" Risha pun melenggang pergi dengan Rendra meninggalkan Daniel yang ketakutan dilantai dengan air kencing yang juga telah mengalir. Risha tetap tersenyum pada karyawan yang berlarian keluar setelah mendengar suara tembakan


"Tidak ada apa-apa, hanya ada peluru nyasar dan kalian bisa kembali bekerja"


__ADS_2