Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kunjungan Pak Arseno Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Risha menjadi pusat perhatian dari saat dia memasuki gedung kantor. Semua orang menatapnya, namun saat dia menoleh atau balas menatap mereka, mereka akan langsung mengalihkan pandangannya dari Risha


"Ada apa dengan mereka? Kenapa menatapku seperti itu?" Gumam Risha yang bingung setelah melihat apa yang mereka lakukan. Risha pun berjalan menuju toilet sebelum dia keruangannya. Saat dia berada di dalam WC ada dua orang karyawati masuk ke toilet.


"Apa kamu sudah dengar kalau sebelumnya bu Risha dijemput oleh seorang pemuda?"


"Memangnya itu benar ya? Saat itu aku sudah pulang. Jadi tidak tahu, tapi  bukannya bu Risha itu memiliki hubungan dengan pak Diaz? Bagaimana mungkin dia berani menunjukan hubungannya dengan pria lain secara terang-terangan?"


"Aku juga tidak tahu, tapi pak Daniel pernah melihat langsung saat mereka berdua sedang makan siang bersama di restoran yang tidak jauh darisini. Seseorang juga pernah mengatakan kalau dia melihat foto bu Risha dan pak diaz di ponsel pak Daniel"


"Jadi itu memang bukan gosip ya? Pantas saja bu Risha bisa langsung menduduki posisi sebagai direktur, padahal dia baru saja masuk perusahaan ini. Setidaknya direktur yang sudah-sudah harus memiliki pengalaman berkerja disini selama beberapa tahun kan?"


Risha mendengarkan karyawannya bergosip saat dia berada didalam toilet. Dia hanya diam dan membiarkan mereka terus bicara. Setelah dirasa cukup, Risha pun keluar dari dalam WC.


Ceklek


"Bu Risha ..." Dua gadis itu terkejut melihat Risha ada dibelakangnya


"Kenapa kalian berhenti? Padahal aku juga ingin tahu gosip apa yang sedang beredar di perusahaan ini. Sepertinya sangat mneyenangkan ya?" Risha bicara dengan senyum sinis diwajahnya


"A-anu, maaf bu Risha, kami tidak bermaksud ..." Salah seorang dari karyawan itu tergagap ketika Risha menegur mereka


"Kenapa jadi gagap begitu? Sepertinya tadi kalian bicara dengan lancar dan tidak gagap sama sekali? Bukannya tadi kalian sangat bersemangat membicarakanku? Kalian bisa tanyakan langsung padaku siapa sebenarnya pacarku" Risha bicara dengan senyum sinis dibibirnya


"Tidak bu. Kami sama sekali tidak ingin tahu siapa pacar ibu. Kami tidak berhak ikut canpur untuk urusan pribadi ibu" Salah satu dari mereka kembali menjawab dengan kepala tertunduk


"Benarkah? Sayang sekali. Padahal aku ingin memberitahu kalian kalau pacarku bukanlah orang sembarangan. Kalian pasti terkejut jika tahu siapa pacarku" Risha bicara dengan sikap yang acuh tak acuh kemudian beranjak pergi meninggalkan toilet.


"Haah. Menyebalkan! Haruskah aku beritahu semua orang siapa aku sebenarnya? Ini semua gara-gara pria bernama Daniel itu! Harus ku selesaikan urusanku dengannya sebelum semuanya melebar" Risha menggerutu kesal karena gosip yang beredar dikantor. Dan saat dia keluar dia menghubungi Rendra untuk mengutarakan keluh kesahnya


Tuut tuut tuut


"Halo, sayang. Ada apa?" Rendra langsung bertanya begitu dia menerima telepon dari Risha


"Halo Ren. Aku sedang sangat kesal. Sekarang seisi kantor ini membicarakanku karena terang-terangan membawa pacarku ke kantor. Mereka seakan mengatakan kalau aku sengaja membawamu ke kantor untuk menutupi citraku sebagai kekasih dari direktur utama perusahaan"


Risha mengeluh dengan nada yang manja. Rendra hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan sang kekasih


"Benarkah begitu? Kukira mereka akan mengatakan kalau direktur baru mereka memiliki pacar yang cacat dan tidak bisa berjalan"


"Jangan mengejek seperti itu. Lagipula kakimu akan sembuh. Aku yakin itu, jadi kamu tidak usah bicara sembarangan!" Risha dibuat tambah kesal dengan apa yang dikatakan oleh Rendra mengenai kakinya


"Ya ya, aku tahu.. Kamu tenang saja, aku pasti akan sembuh. Dokter bilang perkembangannya sudah lumayan bagus ko. Hanya menunggu aku berjalan dengan lancar saja" Rendra menjelaskan dengan sikap yang tenang sambil membaca dokumen ditangannya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak sabar melihatmu berjalan lagi. Karena setelah kamu berjalan, aku pasti akan memintamu menggendongku lagi"


Rendra tersenyum mendengar nada bicara Risha yang manja padanya

__ADS_1


"Tentu, saat aku bisa kembali berjalan, maka kamu tidak akan memiliki kesempatan menggunakan kakimu untuk berjalan kekamar kita nanti"


"A-apa? Ka-mar kita?" Risha sangat terkejut mendengar ucapan Rendra sampai dia menghentikan langkah kakinya dengan wajah merah seperti cheri


"Itu nanti, saat kita sudah menikah"  Rendra tertawa puas setelah mengerjai Risha


"Rendra! Jadi kamu mempermainkanku?! Awas saja jika kita bertemu nanti. Akan aku cekik kamu!"


"Hahaha"


Risha menyadari kalau suasana hati Rendra sepertinya sedang baik saat ini. Itu terdengar dari suaranya yang lembut dan ceria


"Apa ada hal bagus yang terjadi? Aku merasa hari ini kamu sedang dalam suasana hati yang bagus" Risha bertanya dengan suara yang tenang dan senyum dibibirnya


"Ya, harga saham perusahaanku naik, kakiku juga semakin membaik dan yang pasti, Zo memintaku melakukan sesuatu yang menyenangkan sebelumnya"


Risha mengerutkan dahinya penasaran dengan apa yang dikatakan Rendra


"Apa yang sudah kamu lakukan sampai begitu senang?" Tanya Risha dengan raut wajah penasaran


"Bukan masalah besar. Hanya membuat seorang gadis menjadi gila"


"Apa?!" Risha terkejut dan juga semakin penasaran dengan ucapan Rendra namun Rendra tidak mengatakan apapun lagi dan hanya tertawa saja


***


"Suster, katakan dimana Meisya Utari Wilandra dirawat?!" Pak Arseno bertanya dengan panik pada suster bagian informasi begitu dia tiba dirumah sakit


"Tuan, tenanglah dulu. Nona pasti baik-baik saja" Har berusaha menenangkan bosnya yang sedang panik saat ini.


"Bagaimana aku bisa tenang?! Putriku sedang terluka"


"Sebentar ya pak, saya akan periksa dulu daftar pasiennya" Ujar suster itu dengan sopan dan ramah


"Ya, tolong cepat!"


Suster itupun langsung mencari nama Meisya dalam daftar pasien


"Maaf pak tidak ada pasien dengan nama tersebut. Mungkin anda salah rumah sakit" Kata suster itu memberitahu Arseno


"Tidak mungkin! Jelas-jelas aku diberitahu kalau putriku dirawat disini. Bagaimana bisa tidak ada?" Arseno berteriak kesal karena tidak ada nama Meisya


"Maaf tuan, tapi sekarang nama nona Meisya hanya Meisya Utari saja" Har mengingatkan kalau Meisya tidak menggunakan nama keluarga


"Kamu benar. Kalau begitu cari nama Meisya Utari!" Ujar pak Arseno lagi dengan sedikit tenang


"Baik, tolong tunggu" Arseno pun mengangguk dan menunggu dengan sedikit tenang

__ADS_1


"Maaf pak, kamar pasien bernama Meisya Utari ada di ruangan dandelion nomor 05" Akhirnya suster menemukan dimana Meisya dirawat


"Terimakasih" Pak Arseno pun melangkahkan kaki dengan cepat untuk segera pergi ke mmar Meisya


"Har, cepatlah sedikit. Kenapa kamu berjalan sangat lambat?" Pak Arseno bicara pada asistennya yang mengikuti dengan tergesa-gesa


"Baik tuan" Har mengalah pada tuannya agar tetap tenang dan kembali mengikutinya


Setelah beberapa lama, akhirnya pak Arseno tiba dikamar meisya


"Meisya, papa dengar kamu terluka?" Arseno langsung bicara sambil membuka pintu ruang rawat


"Papa" Meisya pun terkejut begitu melihat sang ayah ada didepan matanya


"Bagaimana papa bisa datang kemari? Kenapa juga sampai mendobrak pintu"


"Maafkan papa. Papa melakukan itu karena khawatir padamu. Bagaimana keadaanmu? Apa ini sakit? Apa lukanya serius? Apa akan meninggalkan bekas luka? Apa tanganmu akan normal seperti semula?" Arseno terus bertanya tanpa membiarkan Meisya menjawab lebih dulu


"Halo om. Bagaimana kabar om?" Kenzie yang sejak tadi seakan tak terlihat, kini mendekati pak Arseno dan menyapa dirinya


"Kenzie... bagaimana bisa kamu membiarkan putriku terluka? Bukannya kamu bisa beladiri? Kenapa tidak melindunginya? Bagaimana kami bisa menjaga Meisya nantinya kalau sekarang saja kamu sudah lalai!" Pak Arseno melampiaskan kemarahannya pada Kenzie yang hanya diam dan menerima kesalahannya


"Maafkan saya om. Ini memang karena saya tidak bisa melindungi Meisya"


"Tidak! Ini bukan salah kak Zie. Ini memang karena aku yang memaksa untuk melawan orang-orang itu, padahal kak Zie sudah memintaku menunggu di mobil" Meisya menyela dan bicara dengan raut wajah penuh sesal, membuat Arseno tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Sudahlah. Yang penting kamu tidak papa dan tanganmu bisa kembali pulih. Sebenarnya siapa yang menyerangmu? Apa kamu memiliki banyak musuh?" Pak Arseno yang sempat diam karena canggung pun kembali bicara. Dia bicara pada Meisya dan Kenzie secara bergantian


"Itu … mereka suruhannya pak Berly Wiguna"


"Apa?! Berly Wiguna?! Jadi dia berani menggunakan kekerasan. Aku harus membuat perhitungan dengannya mengenai masalah ini. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja" Pak Arseno terlihat marah mendengar pelaku yang melukai tangan putrinya


"Tidak perlu pah. Om Berly sudah mendapatkan ganjarannya" Meisya bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis


"Apa maksudmu?" Pak Arseno terlihat bingung karena belum tahu apa yang terjadi


"Keluarga om Berly sudah bangkrut dan dia tidak akan berani macam-macam dengan kita lagi"


"Kenapa kamu sangat yakin?"


"Karena saudara kembar kak Zie sudah membereskan masalahnya sampai ke akar. Om Berly tidak akan berani balas dendam" Meisya terlihat sangat percaya diri saat dia bicara


"Benarkah? Kamu yakin darimana kalau dia tidak akan balas dendam?" Pak Arseno menatap Zie dengan tatapan tak percaya


"Karena saya akan membereskannya lagi om" Zie mengedipkan mata pada Meisya agar tidak memberitahu pak Arseno mengenai keluarganya


"Hah terserah kamu saja!"

__ADS_1


__ADS_2