Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Pertemuan Kenzo Dan Steve


__ADS_3

Kenzo dan Safira meninggalkan kantor saat jam pulang kerja. Mereka berjalan beriringan saat


meninggalkan perusahaan diikuti Zack yang berjalan dibelakangnya. Semua orang menatap mereka kagum dan tidak percaya melihat bis mereka bersama dengan artis terkenal.


“Zack, kamu bisa langsung pulang. Kami akan pergi ke kantor polisi lebih dulu” ujar Kenzo


pada Zack dengan sikap yang tenang.


"Bukankah sebaiknya saya menemani anda kesana, Pak?” tanya Zack lagi yang ingin mengikuti Kenzo


“Tidak papa. Aku akan pergi dengan Safira” Kenzo menanggapi dengan sikap yang tenang


“Baiklah, kalau begitu saya akan pulang sekarang. Sampai jumpa, Pak, Bu” Zack langsung pamit pada Kenzo dan juga Safira lalu beranjak pergi lebih dulu.


“Ya, hati-hati”. Safira menanggapi dengan senyum lembut dibibirnya


“Sepertinya hari ini aku jadi pusat perhatian banyak orang” gumam Kenzo menyadari tatapan


orang-orang padanya


“Bukannya kamu  memang selalu jadi pusat perhatian para gadis ya? Bahkan lelaki juga tertarik padamu” Safira menanggapi Kenzo dengan nada menyindir dan senyum menggoda.


“Apa maksudmu?” Kenzo mendelik dengan tatapan curiga pada sang istri.


“Itu ... pria bernama  Salim?” ujar Safira yang berusaha menahan tawanya


“Cih, jangan bahas manusia tidak jelas seperti dia! Lebih baik kita pergi sekarang. Biarkan


aku yang membawa mobilmu. Besok aku akan minta Zack menjemputku dirumah” Kenzo


meminta kunci mobil Safira dan akan meninggalkan mobilnya dikantor


"Tidak. Aku yang akan mengendarainya sendiri. Kamu cukup duduk yang manis saja” Safira tidak membiarkan Kenzo mengendarai mobilnya dan membiarkan sang suami duduk dikursi penumpang


“Yaa baiklah. Hari ini aku akan membiarkan istriku yang membawa mobil” Kenzo pun menuruti Safira dan duduk dikursi penumpang. Mereka pun mulai berkendara menuju kantor polisi.

__ADS_1


Tak berapa lama, mereka pun tiba. Kenzo dan Safira berjalan masuk kekantor polisi dengan beriringan.


“Permisi, kami ingin bertemu dengan pak Steve yang baru saja ditangkap tadi siang” Kenzo bicara dengan sopan dan tenang pada polisi yang bertugas


“Silahkan kesebelah dini. Tersangka masih berada diruang interogasi”. Polisi itu pun


mengantar Kenzo dan Safira untuk menemui Steve.


“Terimakasih”. Polisi langsung berbalik dan pergi meninggalkan Safira dan Kenzo bersama dengan Steve


“Sepertinya anda sangat menikmati berada diruangan ini?” Kenzo bertanya dengan nada yang dingin dan senyum yang mengejek. Sikapnya terlihat sangat tenang saat duduk bersama dengan Safira


“Untuk apa kalian datang kemari?” tanya Steve dengan nada yang sinis


“Kami hanya ingin melihat anda secara langsung saja” ujar Kenzo lagi menanggapi Steve


“Jangan-jangan ... ini adalah ulah kalian berdua?” Steve kembali bertanya dengan nada menyelidik dan tatapan yang sinis


“Yaaa, bisa dibilang ya, bisa dibilang tidak” Kenzo menanggapi dengan sikap acuh tak acuh


“Apa maksudmu?” tanya Steve yang terlihat bingung.


mencelakai Safira, jadi aku memberikan hadiah yang setimpal dengan apa yang kamu inginkan” Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang dan sorot mata yang tajam. Nada bicaranya terdengar sangat dingin dan mengintimidasi


“Aku sama sekali tidak melakukan apapun pada gadismu” Steve bersikeras dengan apa yang


dikatakannya


“Benarkah? Lalu … bagaimana dengan bukti rekaman ini? Kamu bekerja sama dengan Catherin kan?" tanya Kenzo yang ingin mendapatkan kejelasan dari Steve


"Itu sama sekali tidak membuktikan apapun!" bantah Steve yang terus menutupinya


"Kalau begitu aku melakukan kesalahan? Harusnya aku tidak melaporkanmu, tapi aku harus menghabisimu sendiri" Kenzo bicara dengan sorot mata yang tajam, nada bicara yang dingin dan sikap yang acuh tak acuh.


"Ap-apa maksudmu?" Steve terlihat panik dan bingung saat mendengar apa yang dikatakan Kenzo

__ADS_1


"Lihatlah ini!" Kenzo menunjukkan grafik harga saham perusahaan Nugros dalam bursa saham yang semakin lama semakin jatuh


"Ini … bagaimana bisa jadi seperti ini?" Steve semakin tidak percaya dengan apa yang ditunjukan Kenzo padanya.


"Tentu saja bisa. Kamu pikir setelah kamu ditangkap polisi … perusahaanmu akan tetap stabil? Kamu harus berpikir lebih panjang lagi kedepannya, tapi kurasa tidak akan ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi" Kenzo bicara dengan sikap acuh tak acuh


"Kenapa kamu melakukan ini padaku?!" Steve terlihat kesal pada Kenzo


"Kenapa kamu melakukan ini? Bukankah seharusnya ini pertanyaanku padamu? Kenapa kamu berusaha mencelakai istriku padahal kita tidak memiliki masalah apapun? Bahkan perusahaan kita baru saja melakukan kerja sama" ujar Kenzo dengan sikap yang dingin.


"Aku tidak suka dengan anak ingusan sepertimu! Aku ingin menghancurkan kesombonganmu itu. Hanya karena kamu beruntung menjadi pemimpin perusahaan Anggara kamu sudah bersikap seperti kamu adalah pewaris dari perusahaan ternama. Kamu hanya sekedar pemimpin saja. Posisimu bisa digantikan oleh siapapun kapan saja!" Steve meluapkan semua emosi dan kekesalannya pada Kenzo.


Safira dan Kenzo saling menatap satu sama lain


"Jadi kamu berusaha menjatuhkanku hanya karena iri padaku yang bisa jadi pemimpin perusahaan Anggara? Kamu berpikir aku menduduki posisi ini hanya karena aku beruntung?" Kenzo tak habis pikir dengan alasan Steve berusaha menjatuhkannya.


"Memang apalagi? Diusia muda sepertimu harusnya masih bekerja keras untuk bisa memantapkan posisi, tapi kamu sudah jadi pemimpin perusahaan Anggara tanpa perlu bekerja keras" Steve bicara dengan nada mencibir


"Kalau begitu kamu salah besar. Perlu kamu tahu, aku tidak hanya jadi pemimpin diperusahaan Anggara saja, tapi aku juga akan jadi pemimpin diperusahaan JB Company. Pasti kamu tahu kan perusahaan itu? Perusahaan milik Jingga Riani Putri Kusuma". Steve terlihat semakin terkejut dengan apa yang dikatakan Kenzo padanya


"Aku bukan hanya beruntung menjadi pemimpin diperusahaan Anggara dan juga JB Company saja, tapi aku juga beruntung karena dilahirkan sebagai bagian dari keluarga Anggara …" Steve terdiam dengan dahi berkerut heran mendengar apa yang dikatakan Kenzo padanya. Dia masih berusaha mencerna apa yang dimaksud olehnya.


"Kamu menyelidiki tentang kemampuanku, tapi kamu tidak menyelidiki latar belakangku? Harusnya kamu tahu siapa aku. Aku Kenzo Osterin Anggara. Perlu kamu ingat juga kalau keluarga Kusuma tidak membutuhkan orang luar untuk memimpin perusahaan kami. Kami masih bisa memimpin perusahaan kami sendiri" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.


"Kenzo Osterin Anggara? Kamu … putra dari Lian dan Cheva?" Steve terkejut hingga matanya membelalak mendengar identitas Kenzo


"Oh kamu kenal orang tuaku? Kenapa kamu tidak mengenalku?" Kenzo bicara pada Steve dengan sikap acuh tak acuh


"Mungkin kamu masih kurang terkenal, sayang. Bagaimana kalau kalian ungkap identitas kalian yang sebenarnya? Kurasa ini sudah waktunya karena kalian sudah mengelola perusahaan kalian masing-masing" Ujar Safira dengan senyum mencibir


"Kami tidak menyembunyikan identitas kami. Hanya saja … orang-orang seperti mereka ini sangat bergantung pada identitas pribadi. Seharusnya kamu fokus saja pada bisnismu, dengan begitu perusahaan Nugros masih tetap berdiri kokoh. Meskipun sekarang kamu sudah tahu identitasku, perusahaan Nugros sudah tidak ada lagi. Dan kamu hanya akan menyesali perbuatanmu dibalik jeruji besi. Akan aku pastikan kalau kamu mendekam disini seumur hidupmu. Ayo sayang, kita sudah tidak punya urusan lagi disini". Kenzo dan Safira beranjak pergi dari hadapan Steve yang masih mematung setelah mendengar setiap ucapan Kenzo


Tak berselang lama setelah Kenzo dan Safira keluar dari kantor polisi, asisten Steve datang bersama seorang pria dan juga beberapa pengawal yang menunggu diluar kantor polisi


"Steve, apa yang terjadi padamu? Bukankah sudah ku katakan sebelumnya untuk meninggalkan pekerjaanmu dan kembali membangun kerajaan bisnis kita. Dengan begitu kamu tidak akan seperti ini. Jhon, siapa yang membuat adikku seperti ini?" tanya seorang pria dengan wajah brewok dan kumis pada asisten Steve

__ADS_1


"Itu … Kenzo dari perusahaan Anggara" jawab asisten Steve dengan ragu-ragu


'Aku jadi penasaran, seperti apa orang yang berani membuat adik dari Carlos Nugros seperti ini. Akan kubuat dia menyesal karena telah berurusan denganku"


__ADS_2