Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Aku Tidak Membiarkan Sembarangan Orang Menyentuhku


__ADS_3

Safira masih syuting saat ini. Dia mengambil adegan dari malam sampai pagi karena sutradara membutuhkan pengambilan gambar saat malam dan matahari terbit. Namun ternyata sampai hari sudah menjelang siang, proses syuting masih belum selesai karena lawan main Safira terus saja melakukan kesalahan


"Rolling and action!"


"Apa yang harus aku lakukan?! Apa aku harus menyembah padamun?!"


"Cut! Ekspresinya mana? Emosimu harus lebih keluar lagi! Kamu harus meluapkan amarah dan juga kesedihan diwaktu bersamaan" Sutradara menegur lawan main Safira yang terus melakukan kesalahan.


"Maaf. Maafkan saya" Ujar aktor baru itu dengan sopan


"Kita istirahat dulu!"


"Baik"


"Kak Fira, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat. Kamu pasti lelah karena harus syuting dari malam sampai siang ini? Bahkan sekarang masih belum selesai" Tiara terlihat khawatir dengan safira


"Aku baik-baik saja. Sepertinya ini karena terlalu lelah saja. Aku bisa istirahat setelah adegan selesai" Safira berusaha tersenyum meskipun dengan wajah yang pucat


"Mana ponselku?" Tanya Safira dengan sebelah tangan yang diulurkan pada Tiara


"Kenzo tidak menghubungiku ya?" Tanya Safira lagi sambil melihat ponselnya


"Tidak ada. Mungkin dia sedang sangat sibuk menyelesaikan software yang baru saja dia buat?" Ujar Tiara menanggapi pertanyaan Sfira


"Ya, sepertinya kamu benar" Safira pun kembali menanggapi dengan raut wajah sedih


"Kita akan kembali syuting. Kali ini kita akan mengambil adegan saat Safira hampir saja pingsan karena terlalu lama menunggu dalam cuaca yang panas. Ok ... siap ... and action"


"Sayang ... apa kamu tidak akan datang? Aku sudah menunggumu sejak kemarin" Ujar Safira dalam diaolog perannya


"Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing ya? Apa karena aku terlalu lama berdiri? Atau karena aku belum tidur semalaman?" Safira yang memang pusing memegangi kepalanya. Samar-samar pendengarannya berkurang, pandangannya mulai kabur dan semuanya terlihat berputar


Bruk


Safira pun tidak sadarkan diri dan tergeletak dilantai namun sutradara dan kru hanya mengira kalau dia sedang acting karena kebutuhan adegannya sama


"Ok Cut. Bagus Fira. Aktingmu benar-benar meyakinkan"


Puji sang sutradara dengan senyum ceria karena acting Safira saat pingsan sangat bagus


"Fira?"


Seseorang menyadari saat Safira tak kunjung bangun meskipun sutradara telah mengatakan padanya kalau adegannya selesai, akhirnya dia mendekati Safira untuk melihat keadaannya. Betapa terkejutnya dia saat tahu kalau Safira pingsan


"Pak, Safira pingsan!" Teriak orang itu memberitahu yang lain


"Apa?! Cepat bawa dia ke ruang istirahat dan segera panggilkan dokter!" Pinta sang sutradara dengan panik. Semua pun ikut panik dan khawatir pada Safira.

__ADS_1


"Kak Safira! Kak Safira!" Tiara yang mendengar kalau Safira tidak sadarkan diri langsung berlari untuk melihat kondisi Safira


"Kak Safira bangun ... jangan membuat aku takut hiks ... hiks ... hiks..." Tiara menangis tersedu-sedu disamping Safira yang tidak sadarkan diri.


Tak lama tim medis pun datang dan memeriksa keadaan Safira


"Dokter, bagaimana kondisi kak Safira?" Tanya Tiara dengan panik dan air mata yang masih mengalir.


"Dia hanya kelelahan, tapi saya sarankan agar dia dibawa kerumah sakit untuk dirawat selama dua atau tiga hari. Nanti akan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk tahu penyebab dia seperti ini " Sang dokter menjelaskan dengan tenang setelah dia memeriksa kondisi Safira


"Baik dokter, saya akan membawanya ke rumah sakit segera" Tiara menanggapinya dengan semangat demi kebaikan Safira


"Baiklah, kalau begitu saya permisi" Ujar Sang dokter undur diri


"Terimakasih dokter" Tiara pun mengantar dokter sampai ke pintu, lalu menemui sutradara


"Bagaimana keadaan Safira?" Tanya sutradara pada Tiara


"Dokter bilang kak Safira kelelahan. Dia menyarankan agar kak Safira dirawat dirumah sakit selama 2 atau 3 hari sekalian melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuhnya" Tiara kembali menjelaskan apa yang dikatakan dokter padanya


"Hemn … kalau begitu langsung bawa saja Safira kerumah sakit. Kami tetap akan melanjutkan syuting adegan lain tanpa Safira" Sutradara mengatakannya setelah dia memikirkannya


"Baik pak. Terimakasih banyak" Tiara pun bergegas kembali ke tempat Safira sambil menghubungi Mona


"Halo kak Mona. Kak Safira pingsan. Dokter bilang dia kelelahan. Aku akan membawanya kerumah sakit. Pak sutradara juga sudah mengizinkan" Tiara langsung menjelaskan apa yang terjadi lada Safira


"Baik kak. Sampai jumpa disana" Tiara menutup panggilan teleponnya dan meminta beberapa orang memindahkan Safira ke mobil


"Bisa tolong bantu aku memindahkan kak Safira ke mobil? Aku akan membawanya kerumah sakit"


"Tentu"


"Terimakasih" Safira pun dipindahkan ke mobil dengan bantuan dari beberapa kru


***


Sementara itu dikantor Rendra sedang di adakan rekrutmen karyawan baru. Banyak orang berkumpul di lobby menunggu giliran mereka untuk melakukan interview


"Katanya direktur perusahaan ini masih muda dan sangat tampan. Dia juga lulusan universitas luar negeri"


"Benarkah? Kira-kira dia akan melakukan interview tidak ya? Aku jadi penasaran dengan direkturnya"


Beberapa calon pelamar kerja sedang berbincang disela waktu menunggu giliran mereka.


Risha sedang ke toilet sebelum dia keluar kantor untuk makan siang bersama Rendra.


"Aduuh kenapa tiba-tiba perutku sakit? Rendra pasti sudah menungguku diluar" Gumam Risha yang hendak keluar dari toilet

__ADS_1


Bruk


"Ah. Maafkan aku, aku sedang buru-buru" Ujar Risha yang tak sengaja menabrak seorang gadis begitu dia hendak keluar dari toilet


"Sepertinya kamu memang tidak punya mata ya?!" Gadis itu menanggapi dengan sinis


"Maaf?" Risha kembali menanggapi dengan dahi mengernyit bingung


"Ini sudah kedua kalinya kamu menabrakku seperti ini" Gadis itu bicara pada Risha dengan senyum mencibir


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Risha sama sekali tidak ingat dengan gadis yang baru saja dia tabrak


"Dulu juga kamu pernah menabrakku di toilet sampai semua barang-barangku jatuh berserakan" Gadis itu bicara dengan sikap yang sombong


"Ah, kamu gadis itu? Gadis dengan dompet mewah palsu itu? Apa yang kamu lakukan disini?" Risha menanggapi dengan senyum mencibir


"Apa katamu? Sudah ku katakan kalau dompetku itu asli!" Ujar Gadis bernama Ana itu dengan sikap yang kesal


"Ya ya ya. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku sedang buru-buru. Sekali lagi maafkan aku!" Risha pun berbalik dan hendak pergi dari sana meninggalkan perdebatan dengan Ana


"Dasar tidak tahu sopan santun. Dulu kamu pergi seperti itu. sekarang pun kamu akan pergi begitu saja setelah membuat bahuku terasa sakit?" Ana berteriak pada Risha sehingga semua orang menatap mereka


"Ah lagi-lagi dia seperti ini! Aku bisa terlambat menemui Rendra. Dia pasti sudah menungguku" Pikir Risha yang menghentikan langkahnya


"Aku sudah minta maaf padamu. Apa lagi? Bukannya semua sudah selesai sekarang?" Risha menanggapi dengan sikap yang tenang meskipun dia kesal


"Minta maaf? Apa kamu selalu minta maaf sambil berlari pergi? Bukankah itu namanya melarikan diri?" Ana bicara dengan senyum mencibir


"Ya ampun … kenapa dia selalu mencari masalah denganku? Sampai kapan dia akan menahanku disini?" Pikir Risha dengan wajah merengut kesal


Dari kejauhan, Rendra pun baru turun dan hendak keluar untuk makan siang.


"Kenapa Risha lama sekali? Bukankah dia bilang hanya sebentar?" Gumam Rendra sambil menoleh kesana kemari karena lobby dipenuhi banyak orang


"Lalu apa yang kamu inginkan? Aku sudah minta maaf padamu saat tadi tidak sengaja menabrakmu" Risha merendahkan suaranya karena dia semakin kesal dan ingin semua segera berakhir


"Berlutut di kakiku!" Ana bersikap sombong dengan senyum mencibir


"Apa katamu?! Kamu gila? Aku tidak akan mau berlutut dikakimu hanya karena masalah sepele seperti ini. Memangnya siapa kamu? Kamu hanyalah gadis sombong yang suka pamer barang! " Risha pun kembali bicara dengan nada kesal


"Berani-beraninya kamu!" Ana sudah mengangkat sebelah tangannya untuk menampar Risha


"Risha!" Ujar Rendra terkejut melihat Ana akan menampar Risha, namun gerakan Risha lebih cepat. Dia lebih dulu menahan tangan Ana dan menampar sebelah pipinya lebih dulu


Plak!


"Kamu!" Ana menatapnya dengan sorot mata tajam

__ADS_1


"Kamu pikir bisa menyentuhku dengan mudah? Jangan mimpi. Aku tidak membiarkan sembarangan orang menyentuhku!"


__ADS_2