
Pras termenung setelah Cheva meninggalkannya sendiri. Dia terus terigat dengan apa yang dikatakan Cheva
"Tanpa kaki dan tanpa uang?" Gumam Pras dengan sorot mata yang kosong sambil menatap selimut berwarna biru muda milik rumah sakit yang menutupi kakinya yang kini hanya setengah bagian saja. Dia mencengkeram erat selimut itu sambil mulai menitikan air mata
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia pasti bohong. Tidak mungkin keluargaku bangkrut. Yah benar, dia pasti sengaja berbohong padaku. Ah lebih baik aku keluar, aku bosan selalu berada di dalam kamar. Lagipula sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah sakit ini"
Pras menghapus air matanya lalu menekan tombol di dekat tempat tidurnya untuk memanggil suster agar bisa membantunya mendekatkan kursi roda
Teeettt
"Apa kamu butuh sesuatu?" Seorang suster masuk kekamarnya dan bertanya dengan sopan pada Pras
"Ya, aku ingin jalan-jalan, apa bisa bantu aku pindah ke kursi roda?" Pras bertanya pada suster dengan sikap yang tenang
"Tentu" Suster pun langsung membantunya mendekatkan kursi roda ke tempat tidur Pras. Lalu dengan perlahan dan sangat hati-hati Pras mulai memindahkan tubuhnya sendiri ke kursi roda
"Mau saya antar?" Tanya suster yang masih berdiri di belakang kursi rodanya dan ingin membantu Pras dengan mendorong kursi rodanya
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri, saya hanya akan jalan-jalan sebentar" Pras menjawab dengan sikap yang dingin
"Baiklah kalau begitu. Saya akan kembali ke pekerjaan saya" Suster pun meninggalkan Pras sendiri dan membiarkan dia mendororong kursi rodanya sendiri
"Apa katamu?! tidak mungkin biaya yang dikeluarkan sebanyak ini! Kalian pasti bohong kan? Putraku hanya disini selema hampir 1 bulan saja dan biaya yang dikeluarkan hampir 300juta? Ini namanya pemerasan"
__ADS_1
Saat Pras sedang melintasi meja informasi untuk pergi ke bagian taman, dia melihat orang-orang berkerumun dengan sebuah keributan. Dia mengenal suara yang membuat keributan itu
"Bukankah itu suara mama? Apa yang terjadi?" Pras yang merasa penasaran mulai mendekati kerumunan dan mencari tahu apa yang sebenarnya tejadi
"Nyonya, maafkan kami. Putra anda menempati ruang VIP dan itu memerlukan biaya hingga beberapa juta untuk 1 malam saja. Belum lagi obat-obatan dan alat yang digunakan putra anda. Itu bukanlah peralatan murah dan bukan obat yang bisa di dapatkkan di apotik umum. Dan juga putra anda mengikuti terapi agar dia bisa terbiasa dengan keadaannya sekarang"
Perawat berusaha menjelaskan pada Astria alasan kenapa biaya yang diperlukan Pras sangat mahal
"Tapi, bagaimana biaya ini bisa dilunasi secepatnya? Jika tidak dibayar anakku tidak bisa keluar dari rumah sakit ini kan?!" Astria berusaha mencari kejelasan dari apa yang mungkin terjadi
"Karena putra anda sudah bisa pulang, jadi anda memiliki batas waktu untuk pembayarannya. Jika tidak, maka biaya rumah sakit putra anda akan semakin membengkak" Perawat itu bicara dengan sikap yang tetap tenang. Dia berusaha dengan keras agar tidak terbawa emosi
"Baiklah, aku mengerti" Astria pun beranjak pergi meninggalkan meja informasi untuk menghubungi Adnan
"Apa kamu gila?! Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan perusahaan juga sedang berada diujung tanduk?!" Adnan cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Astria. Karena saham perusahaannya pun kini semakin anjlok dan batas waktu pembayaran bank pun akan segera tiba
"Tapi kakak, aku juga tidak memiliki uang sebanyak itu! Uangku dan suamiku sudah aku masukkan keperusahaan untuk menambah kekuragan investasi kita sebelumnya!" Astria pun terdengar semakin panik setelah mendengar kalau tidak ada uang untuk membayar biaya pengobatan putranya
"Kamu tenang dulu, kita akan mencari cara untuk mendaatkan uang itu"
"Kakak harus membantuku mendapatkan uang itu aku masih memerlukan banyak uang untuk terapi Pras agar dia bisa melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain"
Tanpa Astria tahu, Pras mendengarkan disalah satu sudut rumah sakit. Air matanya mulai mengalir dan tangannya yang memegang roda kursi roda mulai bergetar hebat
__ADS_1
"Jadi ... apa yang dikatakan wanita itu benar? Kalau keluargaku sedang mengalami kesulitan ekonomi dan tidak lama lagi akan bangkrut? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melanjutkan kuliah, aku juga tidak bisa mencari kerja dengan keadaan seperti ini"
Pras kembali murung dengan menatap kakinya yang kini hanya bisa menggunakan kursi roda. Dia terus menggulirkan rodanya tanpa tujuan yang jelas dengan air mata yang terus mengalir. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang mulai menatapnya dengan rasa penasaran
Perlahan dan dengan terus mengikuti roda kursinya yang terus bergelinding, dia tiba di lift dan langsung masuk kedalamnya. Didalam lift itu hanya ada Pras sendiri, tidak ada orang lain yang tahu kalau dia menekan tombol ke bagian gedung paling atas, Pras kembali menggulirkan roda kursinya dengan perlahan hingga dia tiba di tepi gedung, Dari sana terlihat banyak gedung lain dan banyak juga kendaraan yang berada dibawanya. Baik itu yang terparkir maupun yang berlalu lalang keluar masuk rumah sakit yang merupakan salah satu rumah sakit terbesar dikota ini.
"Untuk apa aku hidup jika kondisiku seperti ini? Lebih tepatnya bagaimana aku hidup dengan hanya menggunakan kursi roda tanpa uang dan tanpa bisa melakukan apapun sendiri? Aku tidak bisa melakukan apapun sendiri dan tidak akan ada yang mau membantu orang cacat sepertiku. Aku bertahan karena kupikir mama bisa mencarikan jalan keluar untukku, tapi jika mama juga tidak punya uang ... bagaimana aku harus menjalani hidupku?" Batin Pras mulai ragu dan bimbang dengan apa yang akan terjadi setelah keluarganya bangrut
Pikiran-pikiran kotor pun mulai merasuki otak Pras yang kalut
"Dasar cacat, sekarang kamu sudah tidak bisa bersikap sombong lagi. Apa yang akan kamu sombongkan setelah keluargamu sudah tidak memiliki uang dan pengaruh? Bahkan kamu sudah tidak punya kakl"
"Benar. Bagaimana kamu bisa bertahan tanpa kaki dan tanpa uang? Kamu hanya akan jadi sampah masyarakat yang tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain"
"Apa kamu akan mengemis dijalan untuk mendapatkan belas kasihan orang lain? Atau kamu akan menjadi pemulung barang bekas? Termasuk menunggu sisa makanan?"
"Tidak! Itu tidak akan terjadi?! Itu tidak mungkin terjadi pada seorang Pras!" Pras menggelengkan kepala berkali-kali menolak apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan.
Dia terus membayangkan cibiran dari orang-orang terhadapnya saat mereka tahu kalau keluarganya bangkrut. Bahkan dia memikirkan bagaimana orang-orang akan mengucilkan dia dan merendahkannya. Dia mulai ketakutan sendiri dengan apa yang dia pikirkan. Bagaimana tatapan orang dan apa yang akan mereka bicarakan mengenainya yang selama ini selalu disegani karena memiliki uang dan kekuasaan
Mentalnya yang sedang tidak stabil karena kehilangan kaki, ditambah dengan mendengar kalau keluarganya yang selama ini selalu memberikan apapun yang dia minta kini diambang kebangkrutan, membuat mental Pras semakin jatuh dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Perlahan dia mendorong rodanya ke tepi gedung. Pembatas yang hanya menggunakan tembok dengan tinggi selutut orang dewasa, masih bisa dijangkaunya dengan mudah meskipun dia menggunakan kursi roda. Pras menggunakan kekuatan tangannya untuk menaiki pembatas. Dengan derai air mata dia menatap kebawah gedung. Melihat orang yang berlalu lalang dan mobil yang sesekali juga keluar masuk rumah sakit
"Aku tidak bisa hidup seperti ini. Disaat semua orang bisa berjalan dan mengejar mimpi yang mereka inginkan, aku tertahan dikursi roda ini tanpa bisa melakukan apapun. Aku tidak ingin hidup dengan cibiran dari orang-orang. Mereka akan merendahkanku dan menghinaku karena tidak punya uang dan kaki. Aku tidak mauuuu!!! Aaaaaa!!!"
__ADS_1