Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Apa IQ-Mu Merosot Setelah Punya Pacar Yang Lebih Cerdas?


__ADS_3

Risha telah kembali keruangannya setelah dia berhasil mengusir Kenzie pergi dari kantornya. Namun ada sesuatu yang aneh yang dia rasa berbeda dengan sebelum dia meninggalkan ruangan


"Kenapa pintu ruanganku terbuka? proposalku!" Risha pun berjalan dengan cepat untuk memeriksa disc berisi kerangka proposal yang akan dia berikan pada Rendra


"Masih ada tapi kenapa ... ah sudahlah. Mungkin aku lupa menutupnya saat tadi meminta Kenzie pergi" Risha pun tidak mempermasalahkan lagi semuanya dan mulai memutuskan menghubungi Rendra untuk membicarakan proposal dan juga perihal Kenzo


Tuut tuut tuut


"Selamat pagi" Tidak perlu menunggu waktu lama untuk Risha bisa mendengar suara Rendra karena dia langsung menerima telepon darinya hanya dalam sekali dering


"Selamat pagi. Sepertinya pak bos sedag dalam suasana hati yang bagus?" Risha menggoda Rendra dengan nada bicara yang sedikit manja


"Tentu saja karena pacarku menghubungiku sebelum jam kantor mulai untuk memberikan semangat" Rendra pun menggoda Risha dengan sikapnya yang tenang


"Maaf pak, tapi saya menghubungi anda bukan untuk memberikan semangat melainkan membahas kerjasama kita mengenai film yang akan bapak tinjau sebelum anda berinvestasi nanti" Risha menanggapi Rendra dengan sikap tenang dan senyum tipis


"Oh, berarti aku salah paham ya? Yaah mau bagaimana lagi. Tidak masalah karena yang menghubungiku seorang bos cantik" Ujar Rendra lagi dengan sikap acuh tak acuh


"Jadi jika saya tidak cantik, anda tidak akan menanggapi laporan pagi saya?" Kini nada bicara Risha terdengar dingin dan serius. Dia menelpon sambil duduk dikursi kerjanya dan berputar kekanan dan kekiri secara perlahan


"Saya tetap harus menjaga mood saya sebelum bekerja. Jika saya tidak mengenal lawan bicara saya, untuk apa menghabiskan waktu pagi saya dengan sesuatu yang bisa saja malah merusak mood saya? Mau bagaimanapun, saya tidak suka jika ada sembarangan gadis yang mendekati"


Risha tersenyum menanggapi nada bicara Rendra yang sedikit menggodanya


"Sudah-sudah berhenti bercanda. Apa kamu sudah sarapan?" Risha menghentikan candaan mereka dan mengalihkan permbicaraan


"Ya, aku sarapan bersama Bil.Kamu sudah sampai kantor?" Rendra bicara dengan lembut pada Risha sambil membaca dokumen yang harus dia tangani hari ini


"Ehm ... aku diantar ke kantor oleh Zie" Ujar Risha disertai anggukan kepala dan senyum lembut


"Zie? Kenapa dia mengantarmu kekantor? Bukannya Meisya masih dirumah sakit?" Rendra terdengar bingung saat mendengar kalau Risha diantar Kenzie ke kantor


"Haaah ... apa lagi? Dia datang kesini untuk tebar pesona dan membuatku berada dalam masalah" Risha menjawab Rendra dengan nada mengeluh


"Masalah seperti apa maksudmu?' Rendra kini semakin bingung dengan apa yang dikatakan Risha


"Sekarang seisi kantor kembali membicarakan aku. Belum reda gosip tentang hubunganku degan papi dan juga kamu, sekarang kembali tersebar gosip aku yang menggaet pria lain lagi"


"Apa? Menggaet pria lain? Kamu berani macam-macam dibelakangku?" Nada bicara Rendra kini berubah dingin

__ADS_1


"Tidak! Mereka mengira Kenzie adalah gebetan baruku" Jawab Risha dengan nada manja seakan ingin menangis


"Apa? Sepertinya kalian berdua cukup mirip, apa tidak ada yang menyadarinya?" Rendra kini terlihat bingung karena mereka mengira kalau Zie dan Risha adalah sepasang kekasih


"Mana kutahu. Selain itu … kami mirip dibagian mananya?" Risha pun dibuat bingung dengan apa yang dikatakan Rendra


"Kalian berdua sama-sama gila!" Rendra mengatakannya dengan sikap yang tenang kemudian terbahak setelah mengatakan Risha dan Zie gila


"Oh kalau begitu anda juga sama gilanya karena memilih pacaran dengan gadis gila ini!" Risha tidak ingin kalah dan berkata dengan nada yang dingin


"Maaf-maafkan aku. Hentikan perdebatan ini ya"


"Kamu yang memulainya lebih dulu!" Ujar Risha dengan nada yang sinis


"Iya, ini salahku, jadi jangan marah. Bagaimana dengan proposalmu?" Nada bicara Rendra terdengar menyesal, kemudian dia mengalihkan pembicaraannya pada proposal yang sedang disiapkan oleh Risha


"Oh itu, aku ingin membicarakan itu. Akan aku kirimkan ke emailmu sekarang. Kamu harus memeriksanya dan  katakan padaku bagian mana yang harus direvisi" Risha melupakan kekesalannya dan membahas mengenai proposal yang akan dia ajukan pada Rendra.


"Baiklah, kirimkan sekarang. Aku sedang tidak ada pekerjaan"


Disaat yang sama Alan baru saja masuk keruangan Rendra untuk menyerahkan dokumen yang harus ditangani olehnya hari ini dan tanpa sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh atasannya


"Apa? Tidak ada pekerjaan? Lalu tumpukan dokumen atas mejanya itu apa? Apa itu hanya pajangan saja? Atau bosku yang gila kerja dan serius kini telah berubah jadi gila beneran? " Gumam Alan yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat Rendra sedang menghubungi Risha


"Apa?! Gunung es itu akan menikah minggu ini?" Rendra bertanya dengan tangan melambai, mengisyaratkan pada Alan untuk kembali ke meja kerjanya dan meletakkan dokumen yang dibawanya. Bil memang berada diluar bersama dengan Alan saat mereka berada dikantor


"Iya, Kenzo menghubungiku dan Zie. Dia mengatakan sendiri kalau dia akan menikah minggu ini. Apa kamu sibuk? Aku dan Zie tidak akan berangkat bersama keluarga Kusuma. Kami akan berangkat lebih dulu. Apa kamu akan ikut dengan kami kesana?" Risha bertanya dengan sikap yang tenang


"Eum ... aku akan bicarakan ini dengan Noey terlebih dahulu. Dia bisa marah lagi kalau aku langsung pergi denganmu tanpa mengajaknya. Dia seperti anak ABG yang sedang labil" Renda bicara dengan nada sedikit mengejek


"Kenapa aku marasa kalau kamu itu seperti pacaran dengan Noey ya daripada aku?" Risha bicara dengan sikap yang acuh


"Bukan begitu. Biar bagaimanapun kami bertiga ini berteman, aku lebih dulu mengenal Noey dan Kenzo dari pada kamu. Dan Noey juga bukan orang yang akan langsung menerima begitu saja situasi sekelilingnya. Aku sudah menganggapnya adik sendiri … jadi setelah sekarang aku bertemu dengannya lagi ... aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja" Rendra menjelaskan dengan tenang mengenai apa yang dia rasakan pada Noey


"Ya aku mengerti. Tadi aku hanya bercanda saja" Risha pun menanggapi Rendra dengan sikap yang tenang


"Terimakasih. Oh ya untuk proposalmu akan aku pelajari dulu. Nanti aku beritahu lagi  bagian mana yang harus kamu revisi"


"Baiklah. Sudah saatnya bekerja sampai jumpa lagi"

__ADS_1


"Ya sampai jumpa"


***


Kenzie baru saja tiba dirumah sakit setelah dia mengantar Risha ke kantornya


"Pagi om, pagi Sya. Bagaimana keadaanmu?" Kenzie menyapa pak Arseno terlebih dulu kemudian menyapa Meisya dan berjalan mendekat padanya lalu mengusap lembut kepalanya.


"Kenapa kamu baru datang jam segini? Kamu tahu ini sudah jam berapa? Kamu sama sekali tidak perhatian pada Meisya!" Pak Arseno langsung menggerutu begitu melihat Kenzie


"Tadi saya mengantarkan sepupu saya dulu ke kantornya. Lagipula ... bukannya bagus jika saya datang terlambat? Om jadi lebih banyak waktu dengan Meisya?" Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah


"Alasan saja. Bilang saja kalau kamu tidak peduli lagi dengan Meisya dan berpikir kalau dia hanya bisa merepotkan  saja, iya kan" Pak Arseno terus saja bicara dengan nada yang sinis


"Saya tidak mengatakan itu. Yang mengatakan Meisya merepotkan bukannya om sendiri?" Kenzie tetap menanggapi pak Arseno dengan senyum ceria dan ramah


"Kamu ...!!!"


"Kak Zie, aku sudah lebih baik. Dokter juga bilang kalau aku bisa segera pulang, hanya saja tanganku masih belum bisa digunakan untuk aktivitas seperti biasa" Meisya menyela sang ayah dan bicara dengan Kenzie sambil memegangi tangan Zie menggunakan tangan kirinya yang tidak terluka


"Sudahlah. Papa pergi dulu! papa harus pergi kekantor" Pak Arseno pun beranjak pergi meninggalkan Meisya dan Kenzie


"Apa papamu masih PMS?" Bisik Kenzie pada Meisya


"Aku bisa mendengarnya!" Teriak pak Arseno dari luar kamar Meisya


"Sepertinya papamu sangat membenciku ya? Aku tidak mengerti kenapa dia begitu" Kenzie duduk disamping Meisya dan bicara dengan sikap yang tenang


"Aku juga tidak tahu. Atau mungkin … papa memang cemburu melihat hubungan kita ya?" Meisya yang tidak terlalu dekat dengan sang ayah berpikir kalau Arseno iri pada hubungannya


"Aku juga tidak tahu" Kenzie menanggapi dengan kedua bahu diangkat bersamaan


"Atau kita memang harus mencarikan papa pasangan?" Tanya Meisya dengan wajah bingung


"Pfft..." Kenzie berusaha keras menahan tawanya karena ucapan Meisya


"Sayang, kamu itu cerdas. Apa IQ mu merosot setelah jadi pacar dari pemuda yang cerdas juga---???" Kenzie bertanya dengan senyum yang manis. Namun Meisya mengerucutkan bibir karena ucapannya


"Apa maksudnya? Kamu mengejekku"

__ADS_1


"Bukan begitu. Hanya saja … apa kamu tidak sadar kalau ayahmu itu takut kehilanganmu?"


"Benarkah?"


__ADS_2