
Kenzie sudah kembali dari kediaman Wilanda dan tengah duduk dibalkon kamarnya dengan raut wajah yang sedih. Dia bahkan sesekali masih menitikan air mata mengingat perpisahannya dengan Meisya.
Flash back on
“Kita akhiri saja sampai disini. Ini akan percuma saja kalaupun kita teruskan” ujar Kenzie dengan kedua tangan memegang bahu Meisya yang tengah menangis.
“Kak Zie, aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku tidak bisa membayangkannya hiks … hiks... hiks…” Meisya bicara sambil berderai air mata saat berusaha menahan Kenzie.
Kenzie yang tak tahan melihat sang pujaan hati berderai air mata pun akhirnya mendekap Meisya dengan erat kedalam pelukannya. Dia mengusap lembut punggung Meisya dan juga ikut bersedih akan kisah cinta mereka.
“Sya, aku tidak bisa bersama denganmu. Meskipun setelah ini ayahmu merestui
hubungan kita. Pikirannya tentang keluargaku akan selalu membayangi hubungan kita. Jadi kurasa ini adalah keputusan terbaik untuk kita semua. Aku harap kamu akan selalu bahagia”. Kenzie bicara dengan suara yang lembut. Diapun mengecup kening Meisya sebagai tanda perpisahan saat mengharapkan yang terbaik untuknya.
Mendengar apa yang dikatakan Kenzie membuat tangis Meisya semakin kencang. Diapun semakin memeluk erat Kenzie dan membenamkan wajahnya.
“Kak Zie … tidak … aku tidak ingin berpisah” Meisya terus berusaha menahan Kenzie agar tidak pergi, namun Kenzie tidak menanggapi ucapan Meisya.
Perlahan Kenzie dan Meisya saling melepas pelukan mereka dan juga melepas pegangan tangan mereka yang saling bertautan sedikit demi sedikit. Kenzie pun pergi meninggalkan Meisya yang terus menangis menatap kepergiannya.
Flash back off
“Ada apa dengamu? Aku melihat pintu kamarmu terbuka sedikit, karena itu aku langsung masuk”. Kedatangan Risha yang tiba-tiba membuat Kenzie tersadar dari lamunannya. Dia pun dengan segera mengusap air mata yang menetes dari kedua matanya agar tidak terlihat oleh Risha.
“Eh? Apa kamu menangis?Apa yang terjadi?” Risha yang melihat Kenzie mengusap air mata terlihat sangat penasaran dan khawatir dengan alasan Kenzie menitikan air mata. Dia punbberdiri disamping Kenzie dan menunggu penjelasan darinya.
“Aku sudah benar-benar memutuskan hubunganku dengan Meisya” ujar Kenzie yang menjawab dengan tatapan kosong sambil memandang kelangit malam yang sangat gelap
“Apa?! Kalian berdua benar-benar putus?! Apa tidak ada jalan lain lagi untuk mempertahankan hubungan kalian berdua? Bukannya kamu sangat mencintainya? Kamu tidak ingin memperjuangkan cintamu?” Risha terus bertanya karena dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi pada hubungan Kenzie dan juga Meisya.
“Ini jalan yang terbaik. Aku tidak ingin mempertahankan hubungan baru dan mengorbankan hubungan lama yang sangat mustahil untuk bisa diakhiri begitu saja” Kenzie menanggapi dengan raut wajah yang sedih.
__ADS_1
Risha semakin bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Kenzie bicarakan.
“Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud dari ucapanmu. Coba jelaskan agar aku. Bisa mengerti kondisinya” Risha bicara dengan dahi berkerut dan gelengan kepala bersamaan
“Aku bisa mempertahankan hubunganku dengan Meisya, asalkan aku mau meninggalkan keluargaku”
“Apa?! Tunggu. Maksudnya … ayah Meisya ingin kamu keluar dari rumah ini?!” Risha sangat terkejut hingga dia berteriak. Dia pun berusaha mencerna dengan baik apa yang baru saja Kenzie katakan padanya.
“Tidak hanya keluar dari rumah ini, tapi juga keluar daribkeluarga ini”
“Apa pria tua itu sudah gila?! Bisa-bisanya dia minta hal yang tidak masuk akal seperti itu?! Memangnya dia pikir dia itu siapa?!” Risha terlihat sangat kesal mendengar keinginan pak Arseno. Dia terus mengumpat
dengan raut wajah penuh kemarahan.
“Ayah dan ibu Meisya berasal dari kasta yang berbeda. Mereka memaksakan kehendak mereka sendiri untuk menikah meskipun orang tuanya tidak setuju. Perlahan, status sosial mereka membuat pergesekan dalam hubungan rumah tangga yang penuh cinta itu. Ibu Meisya yang tidak tahan pun akhirnya memilih untuk berpisah dengan ayah Meisya. Sekarang pak Arseno takut kalau Meisya akan mengalami hal yang sama
dalam keluarga kita karena statusnya lebih rendah dari kita”. Kenzie menjelaskan
“Tidak masuk akal. Memang dia pikir keluarga kita sama dengannya?! Bagaimana dia bisa menilai kita seperti itu? Dia seperti orang yang mengenal keluarga kita dengan baik saja. Seenaknya menilai orang, bukankah itu sama saja seperti dia selalu memikirkan hal negative tentang semua orang? Menilai orang dari penampilan luarnya saja, eh tidak, bahkan dia juga tidak pernah bertemu dengan kita, bagaimana dia bisa tahu karakter kita?”.
Risha terus saja menggerutu kesal karena ayah Meisya. Dia bicara penuh emosi hingga terus saja meninggikan suaranya. Namun raut wajah kesal Risha seketika berubah begitu melihat wajah Kenzie, kekesalannya pun meredup dan menaap Kenzie dengan tatapan khawatir.
“Zie, apa kamu tidak papa?” tanya Risha dengan suara rendah dan lembut.
“Ya, kurasa … aku baik-baik saja”. Kenzie menanggapi Risha dengan senyum paksa dibibirnya.
“Apa kamu tidak akan mencoba untuk membujuk ayah Meisya lagi? Mungkin jika kamu memberinya pengertian dengan baik-baik … dia akan menerima hubungan kalian berdua”. Risha kembali bersikap tenang dan memberikan saran untuk hubungan Kenzie dan juga Meisya.
“Tidak, Sha. Aku tidak ingin memaksakan hubungan yang sudah retak dan bisa pecah kapan saja ini. Meskipun nanti ayah Meisya menerimaku, belum tentu itu karena keinginannya. Dia menjadikan keluarga sebagai alasan untuk tidak menerimaku, jika aku tetap memaksakan hubungan kami … bisa saja dia merendahkanku suatu hari nanti karena telah memaksakan diri untuk bisa bersama dengan putrinya”.
Risha terdiam mendengarkan apa yang dikatakakn Kenzie. Yang dikatakannya memang masuk akal, karena status
__ADS_1
keluarga Kusuma lebih tinggi, bisa saja nanti dia akan besar kepala karena Kenzie terkesan memohon cinta putrinya.
“Baiklah, aku akan mendukung apapun keputusanmu. Zie, aku hanya mengharapkan kebahagiaanmu saja. Kamu tahu kan kalau keluarga kita tidak pernah meminta syarat apapun atau kriteria seperti apapun mengenai pasangan kita nanti? Aku harap kamu bisa menemukan gadis lain yang lebih baik dari Meisya dan bisa membahagiakanmu”. Risha bicara dengan senyum yang lembut dibibirnya sambil menepuk sebelah pundak Kenzie sebagai bentuk dukungan untuknya.
“Ya, aku tahu. Terimakasih Sha” Kenzie pun tersenyum lembut dan memegangi tangan Risha yang ada dipundaknya.
“Oh iya, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu? Apa semua
berjalan lancar? Tinggal menghitung hari saja sampai resepsi diadakan, kan?”
Kenzie mengalihkan topik pembicaraan mereka kepada pernikahan Risha.
“Ya, semua sudah hampir selesai. Tapi sekarang, aku mulai gugup. Ini terasa lebih mendebarkan dari pada menghadapi masalah pekerjaan”. Risha menanggapi dengan ekspresi seperti anak manja.
“Tenanglah. tidak perlu sampai memasang wajah seperti itu. Aku yakin semua akan berjalan lancar. Oh iya, apa kamu sudah menghubungi Kenzo? Kapan mereka akan datang kemari?” Kenzie terlihat antusias saat dia menanyakan kedatangan Kenzo
“Entahlah, dia tidak memberitahuku. Kamu seperti tidak tahu bagaimana dia saja. Dia itu tidak bisa ditebak. Selalu datang dan pergi
seenaknya sendiri. Tapi sepertinya dia akan sedikit terlambat karena Safira sedang ada syuting film terbarunya”.
Risha menjelaskan mengenai apa yang dia tahu tentang Kenzo dan Safira.
"Kamu benar. Sangat sulit bagi kita untuk bisa menebaknya dengan baik" Kenzie mengeluh dengan bibir mengerucut kesal memikirkan Kenzo.
"Sudahlah, tidak perlu membicarakan mereka lagi. Ini sudah larut malam, sebaiknya kembali ke kamarmu" Kenzie pun mengusir Risha dengan cara mendorong punggungnya secara perlahan.
"Ya aku tahu, tidak perlu mendorongku. Tapi aku minta padamu untuk tidak menangis lagi. Aku tidak suka melihat sepupuku menangis"
"Iya aku tahu. Sudah, sudah. Cepat pergi sana"
"Iya, aku pergi" Akhirnya Risha pun keluar dari kamar Kenzie dan pergi menuju kamarnya sendiri
__ADS_1