Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Memilih Gaun Pengantin


__ADS_3

Hari ini semua keluarga Kusuma yang dari negara A telah tiba di bandara negara F. Mereka datang menggunakan jet pribadi milik keluarga itu. Kedatangan Yudha dan keluarganya tentu membuat bandara seketika heboh. Meskipun kini Yudha sudah tidak muda lagi, dia tetap menjadi pusat perhatian banyak orang dibandara.


"Kakek, sepertinya tidak ada yang bisa mengalahkan pesona kakek didunia ini?" Cheva bicara pada Yudha dengan nada bicaranya yang manja


"Kamu benar Va, meskipun kakek sudah tidak muda lagi. Tapi lihat saja samua orang masih menatap kakek dan nenek dengan segan. Kurasa artis papan atas juga tidak ada yang memiliki popularitas seperti kakek dan nenek" Diaz setuju dengan apa yang dikatakan oleh Cheva. Mereka terus saja berbincang sambil berjalan keluar dari bandara


"Mami! Papi!" Cheva berteriak senang ketika dia melihat Ji dan Ed yang menyambut kedatangan mereka. Disana juga ada Biru dan Mili yang sudah menunggu bersama Ji dan Ed.


"Sayang. Aduh" Ji terkejut saat Cheva langsung berhambur ke pelukannya


"Kamu masih tetap tidak berubah" Ujar Ji melihat tingkah Cheva


"Kamu tidak memeluk papi?" Ed mengerucutkan bibir saat Cheva hanya memeluk Ji saja


"Sana, peluk juga papimu sebelum dia akhirnya marah pada Lian!" Bisik Ji pada putrinya


"Papi, aku rindu pada papi" Akhirnya Cheva pun memeluk Ed agar dia tidak merajuk lagi


"Papi juga rindu kamu my princess"


"Cucu nenek sudah besar. Kamu sudah jadi pemuda yang tampan ya sekarang?" Mili merenggangkan tangannya hendak memeluk Dhefin


"Nenek, bagaimana kabar nenek?" Tanya Dhefin ketika berhambur ke pelukan Mili


"Nenek baik-baik saja.. Nenek senang bisa bertemu denganmu" Ujar Mili dengan lembut kemudian dia melepaskan pelukannya dan menoleh pada Diaz


"Diaz, kamu tidak merindukan mami?" Mili mendekati Diaz dan bertanya dengan lembut padanya


"Tentu saja aku meridukan mamiku yang sangat cantik dan lembut ini. Berbeda dengan 2 wanita yang selalu ada disampingku. Yang satu manja seperti anak kecil padahal sudah tua. Yang satu lagi selalu serius meskipun tetap terlihat mempesona"


"Kak Diaz!"


"Diaz!"


Cheva dan Tania langsung menatap Diaz dengan tatapan yang tajam seakan bisa menembus ke dalam jantungnya


"Haha maaf-maaf. Meskipun begitu kalian tetap dua orang yang penting dalam hidupku" Diaz kembali bicara manis setelah Cheva dan Tania menatapnya dengan tajam

__ADS_1


"Papi, mami! Bagaiamana kabar kalian? Anak-anak ini bisa menjaga papi dan mami dengan baik kan?" Kini Ji menghampiri Yudha dan Gina yang sejak tadi tersenyum melihat mereka


"Kami ini sudah tua, tentu kesehatan kami akan selalu naik turun. Tapi mereka merawat kami dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir" Yudha bicara dengan sikap yang tenang sambil menoleh pada Diaz dan Cheva yang kini memperhatikan mereka


"Syukurlah kalau begitu. Maaf karena kami tidak bisa selalu menemui mami dan papi" Biru pun mendekati Yudha dan Gina untuk menyapa mereka


"Tidak papa. Kami mengerti kalau kalian sibuk. Mereka yang satu rumah dengan kami saja cukup sulit ditemui, apalagi kalian yang tinggal jauh dari kami"  Gina mendelik pada Cheva dan Diaz saat sedang bicara pada Biru. Terlihat Diaz dan Cheva salah tingkah karena merasa bersalah saat Gina mendelik kearah mereka


"Sebaiknya kita pergi dulu dari sini. Semua orang memperhatikan kita" Ujar Biru menyarankan setelah memperhatikan sekelilingnya


"Bahkan mereka mengambil gambar, sepertinya kedatangan mami dan papi akan jadi berita besar lagi" Jingga pun menanggapi apa yang dikatakan Biru setelah dia pun menoleh ke sekelilingnya


"Papi, apa Vio juga akan datang kemari? Sudah lama aku tidak melihat Lathan dan adiknya. Kurasa mereka sudah besar sekarang" Ji bicara dengan sikap yang  tenang dan senyum yang lembut sambil berjalan dengan menggandeng Yudha


"Ya, Lathan sudah kelas 3 SMA sekarang. Usianya tidak berbeda jauh dengan Dhefin. Adiknya sekarang baru masuk SMP, dia sangat mirip dengan Radit" Yudha menjawab dengan sikap yang tenang


"Mami, papi, apa anak-anak tidak ikut kemari? Besok pernikahan Kenzo, kenapa Kenzie dan Risha tidak datang bersama kalian?" Biru menanyakan keberadaan Kenzie dan Risha yang tidak datang bersama dengan Yudha


"Apa maksud om Biru? Mereka sudah berangkat sejak 2 hari yang lalu. Memangnya mereka tidak tidur dirumah mami atau om? Padahal kapten Jed sudah mengantar mereka kemari dengan selamat" Cheva terlihat bingung saat Biru mengatakan kalau Risha dan Kenzie tidak ada disana


"Benarkah? Lalu kemana mereka pergi? Apa mereka tinggal bersama Zo?" Ji pun menanggapi pembicaraan Cheva dan Biru


***


Kenzo dan Safira kini telah sampai dibutik. Mereka langsung mencoba beberapa gaun pengantin yang telah direkomendasikan pada Zo sebelumnya


"Bagaimana dengan yang ini?" Kenzo memperhatikan gaun yang sedang dikenakan Safira, kemudian menggelengkan kepala



"Tidak. Itu terlalu biasa"


Safira pun kembali masuk keruang ganti untuk mencoba gaun lain


Tak lama dia kembali keluar dengan gaun yang lain


"Bagaimana dengan ini?" Kenzo kembali menatap Safira dan memperhatikannya

__ADS_1



"Tidak. Itu terlalu seksi. Aku ingin gaun yang mewah dan elegan, tapi tidak terlalu terbuka" Ujar Kenzo dengan sikap yang dingin dan seakan putus asa


"Haah ..." Safira kembali berbalik dan masuk keruang ganti untuk mencoba gaun lain.Kini dia terlihat tak bersemangat mencoba gaun pengantin yang lainnya. Tak lama dia keluar dengan gaun dan riasan lain


"Bagaimana dengan yang ini?"



Kenzo kembali memperhatikan Safira dengan gaun pengantinnya


"Tidak. Itu terlalu berat. Ganti yang lain lagi" Kenzo kembali bicara sambil menggelengkan kepala bersamaan


"Haaah ….Kenapa tidak kamu saja yang pilih? Jadi itu bisa sesuai dengan seleramu" Safira menggerutu ketika dia kembali mencoba gaun lain dengan malas. Dia mulai kesal sekarang karena tidak menemukan gaun yang cocok dengan keinginan Kenzo


Tak lama dia kembali keluar dari ruang ganti


"Sekarang bagaimana? Jangan bilang kalau yang ini juga tidak bagus? Sebaiknya kamu sendiri yang memilihkan gaunnya untukku!"



"Tidak. Ini sangat cantik. Kamu seperti bidadari yang turun dari langit untuk mendampingiku" Kenzo tersenyum ceria saat melihat Safira dengan gaun yang terakhir. Dia sangat terpesona sampai tidak mengerdipkan matanya. Kenzo pun berdiri dan menghampiri Safira


"Aku mau gaun yang ini


"Benarkah? Yang ini sudah cocok? Tidak perlu mencoba yang lain lagi? Akhirnya ... ini lebih melelahkan dari pada sebuah photoshoot" Ujar Safira dengan manarik napas lega mendengar ucapan Kenzo


"Iya, ini sudah sangat cocok denganmu. Aku tidak pernah melihat pengantin wanita yang secantik kamu didunia ini"


"Jangan gombal. Aku tidak suka kamu merayu seperti itu didepan banyak orang setelah kamu membuatku kesal karena harus mencoba banyak gaun pengantin. Aku harus dapat ganti rugi atas kelelahan yang aku rasakan ini"


Safira masih terus menggerutu kesal karena harus mencoba banyak gaun, ditambah lagi dia menyadari tatapan semua pegawai butik yang memperhatikan Kenzo saat dia tersenyum dan memuji kecantikannya. Itu membuatnya semakin kesal dan ingin segera meninggalkan butik


"Kenapa kamu marah begitu? Aku hanya ingin memilihkan yang terbaik untuk pernikahan kita saja" Kenzo berusaha membujuk Safira yang kini terus mengerucutkan bibirnya


"Aku tahu itu hanya saja... bukannya aku sudah bilang kalau kamu hanya boleh tersenyum ketika bersamaku saja. Aku tidak mengizinkan kamu tersenyum didepan orang lain!" Safira bicara dengan nada manja dan kesal

__ADS_1


Kenzo menatapnya dengan mata mendelik


"Apa sekarang ini … kamu sedang cemburu? Aku senang melihatmu yang seperti ini. Rasanya aku jadi pria paling berharga di dunia ini"


__ADS_2