
Risha pun kembali kerumah Mariana setelah dia membeli barang-barang yang dia perlukan.
Tok tok tok
Risha menunggu pintu terbuka dengan gugup. Dia menoleh kesana kemari karena takut ada orang lain yang akan melihatnya mengunjungi rumah Mariana
Ceklek
“Bu Risha, silahkan masuk!” ujar Mariana mempersilahkan Risha masuk kedalam rumahnya
“Aku tanya lagi padamu. Apa kamu yakin ingin berpisah dengan pria itu dan mau melakukan apa saja? Jika kamu melakukan cara ini mungkin akan sedikit mengejutkanmu dan dia akan ditahan. Apa tidak masalah?” Risha kembali bertanya sambil berjalan masuk kedalam rumah Mariana untuk memastikan padanya mengenai langkah yang akan dia ambil
“Saya yakin. Saya akan melakukan apapun untuk berpisah dengan pacar saya. Saya ingin hidup bebas dan tidak lagi terkekang oleh sikap posesifnya yang sangat berlebihan” Mariana menjawab Risha dengan tatapan penuh keyakinan dan raut wajah yang serius tanpa ada keraguan sedikitpun
“Kalau begitu aku akan mulai dengan rencanaku. Kalian selalu bicara dimana? Apakah hanya diruang tamu atau juga dikamar?” tanya Risha sambil terus menoleh kesana kemari untuk mencari posisi yang tepat meletakkan kamera dan penyadap miliknya
“Kami lebih banyak menghabiskan waktu dikamar, apalagi untuk berdebat. Dia tidak akan menunjukkan sifat aslinya didepan orang lain. Dia selalu terlihat baik dan juga sopan. Lain halnya jika kami sedang berdua. Dia akan berubah jadi orang yang kasar dan tidak bisa ditebak. Dia akan jauh berbeda dengan apa yang terlihat dari luar” Mariana menjelaskan dengan wajah pucat mengenai pacarnya yang memiliki sifat buruk
“Kalau begitu, aku akan meletakkan ini diruang tamu dan juga kamar mu. Aku tidak bisa menempatkannya disetiap sudut, jadi
kamu harus tahu dimana posisi alat yang aku pasang agar rencana kita bisa berhasil. Dan ingat, jangan sampai dia mengetahuinya” Mariana mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Risha padanya.
Risha pun mulai meletakkan kamera pengintai kecil disalah satu sudut vas bunga yang ada diruang tamu. Dia juga meletakkan penyadap dibawah meja dan juga lemari panjang yang ada disana. Setelah ruang tamu, Risha juga pergi kekamar Mariana
“Bolehkan aku pergi kekamarmu?” tanya Risha sebelum dia langsung masuk kesana
“Tentu saja boleh. Sebelah sini” Mariana pun berjalan didepan Risha untuk menunjukkan arah kamarnya
“Ini kamarku. Masuklah!” ujar Mariana mempersilahkan Risha masuk
“Permisi” Risha pun masuk kekamar Mariana dan mulai mencari posisi yang tepat untuk meletakan penyadap dan juga kamera pengintai yang sudah dia siapkan
“Aku sudah memasang kamera pengintai dan juga penyadap. Ini akan kita jadikan bukti kekerasan yang selalu dia lakukan padamu” ujar Risha menjelaskan pada Mariana. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Kenzo
Tuu tuut tuut
“Halo, Zo. Aku sudah memasangnya. Apa kamu bisa menyambungkannya ke ponselku?” tanya Risha yang langsung mengatakan tujuannya
__ADS_1
“Kirimkan lokasinya padaku, aku akan mencari sendiri letak kamera pengintai dan juga penyadap yang ada disana” jawab Kenzo dengan sikap yang tenang
“Ya, aku akan kirimkan sekarang juga”
Risha langsung menutup teleponnya dan dia mulai mengirimkan lokasi tempatnya berada saay ini pada Kenzo
***
Dirumah Kenzo di negara F
Tring
Ponsel Kenzo berdering tanda sebuah pesan telah dia terima. Kenzo langsung membuka laptopnya dan mencari alamat lengkap dari lokasi yang dikirimkan Risha padanya.
“Apa yang kamu lakukan? Aku sudah memintamu untuk beristirahat, kenapa sekarang malah membuka laptopmu segala?!” ujar Safira dengan sikap tegas dan tatapan yang sinis
“Risha sedang dalam masalah, jadi aku harus membantunya” Kenzo menanggapi dengan sikap yang tenang sambil terus menatap layar ponselnya. Matanya sama sekali tidak berpaling sedikitpun pada Safira
“Apa tidak ada yang lain? Sepertinya kamu harus mulai mencari orang lain agar mereka bisa menggantikanmu mengerjakan apa yang biasa kamu kerjakan. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja saat kondisimu sakit begini!” Safira
menanggapi dengan sikap acuh tak acuh karena kesal pada sang suami
Tuut tuut tuut
“Halo, Zo” Tak lama terdengar suara Noey yang menyapanya dari ujung telepon
“Aku butuh bantuanmu, sekarang juga!” ujar Kenzo dengan tegas
“Ada masalah apa?” Noey terlihat heran karena Kenzo meminta bantuannya
“Aku tidak memiliki masalah apapun. Hanya saja ... Risha meminta bantuanku namun aku tidak bisa memenuhi apa yang dia ingnkan. Aku
sedang tidak enak badan dan Safira tidak membiarkanku untuk melakukan pekerjaan ini” Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang. Saat ini dia sedang duduk bersandar diatas tempat tidurnya.
“Oh aku mengerti. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Noey setelah Kenzo menjelaskan keadaannya
“Risha sudah memasang kamera pengintai dan juga penyadap. Dia memintaku untuk menyambungkannya ke ponsel miliknya” Kenzo menjelaskan apa yang harus dilakukan Noey
__ADS_1
“Aku mengerti.. Kirimkan aku lokasi dan juga nomor telepon Risha” ujar Noey setelah menyetujui apa yang diminta Kenzo padanya
“Akan aku kirimkan padamu sekarang juga. Terimakasih sebelumnya. Aku harap kamu tidak mengecewakan aku” ujar Kenzo dengan sikap yang tenang
“Pasti. Aku aka memberitahumu begitu semuanya selesai”
“Hmn ” Kenzo dan Noey pun langsung menutup telepon diantara mereka. Kenzo kembali istirahat karena Safira terus mengawasinya. Sedangkan Noey kembali dengan kesibukannya dikantor yang masjh belum selesai sambil mengerjakan apa yang diminta Kenzo padanya.
***
Noey dengan lincahnya memainkan jari jemari tangannya diatas papan keyboard. Dia mulai mencari letak kamera pengintai yang terpasang dirumah Mariana dan menyambungkannya pada ponsel milik Risha
"Akhirnya selesai" gumam Noey sambil tersenyum ketika mendapatkan apa yang sedang dia cari. Dia pun langsung mengirimkan pesan singkat pada Zo begitu pekerjaannya selesai
"Zo, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Kamu bisa mengecek kembali semuanya sendiri" tulis Noey dalam pesan singkatnya pada Kenzo
"Terimkasih. Aku akan memberitahu Risha untuk memeriksanya" balas Kenzo dalam pesan singkatnya. Diapun langsung menghubungi Risha untuk memberitahukan pekerjaannya sudah selesai
Tuut tuut tuut
"Halo Zo" Sapa Risha tanpa menunggu lama
"Kameranya sudah terhubung dengan ponselmu. Kamu bisa mengeceknya langsung dan katakan padaku jika ada yang tidak jelas" ujar Kenzo menjelaskan
"Baik, Zo. Aku akan langsung mengeceknya dan menghubungimu jika memang ada yang masih belum jelas nanti" Risha pun mengiyakan Kenzo dengan sikap yang tenang
"Ya, katakan padaku jika kamu membutuhkan yang lainnya" ujar Kenzo sebelum menutup teleponnya
"Aku mengerti. Terimakasih banyak, Zo. Kamu memang paling bisa diandalkan" Risha memuji Kenzo dengan senyum ceria diwajahnya
"Hmn … sampai jumpa" Kenzo pun langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Risha
"Semuanya sudah siap. Kita dapat memiliki bukti saat pacarmu yang gila itu memukulmu lagi. Aku harap kamu bisa bersikap natural sampai semuanya selesai agar pacarmu tidak mencurigai apapun. Maafkan aku karena membiarkanmu harus menerima kekerasan, tapi jika tidak begitu, kita tidak akan bisa mendapatkan bukti untuk menjatuhkannya" Risha bicara dengan raut wajah penuh penyesalan
"Aku mengerti. Aku akan melakukan apapun untuk bisa lepas dari pacarku" ujar Mariana penuh tekad
"Bagus. Sekarang kita tinggal menunggu sampai pacarmu datang kesini. Dia tidak akan tahu kalau kita sudah menyiapkan jebakan untuknya. Aku akan memantau melalui ponselku. Jika sesuatu terjadi, aku bisa langsung datang bersama polisi" Risha bicara dengan senyum tipis dibibirnya. Dia terlihat sangat yakin dengan apa yang sudah dia rencanakan
__ADS_1
"Terimakasih sudah membantuku. Aku harap ini bisa berjalan lancar dan sesuai rencana" ujar Mariana dengan senyum lembut
"Ya, kuharap seperti itu"