
Sekarang Risha sudah mulai masuk kuliah. Dia berjalan dengan bantuan tongkat untuk menopang tubuhnya karena kakinya masih belum sepenuhnya pulih.
"Hati-hati, sini biar aku bantu" Kenzie mengulurkan tangan pada Risha ketika dia akan turun dari mobil
"Aku bisa sendiri Zie. Biarkan aku mencobanya sendiri. Aku tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain" Ujar Risha dengan senyum lembut sambil perlahan mengeluarkan tingkat untuk membantunya berdiri
"Baiklah, aku hanya akan berada disampingmu untuk berjaga-jaga saja" Kenzie menanggapi degan sikap kecewa namun Risha terseyum tipis menenangkan Kenzie
"Kamu sudah masuk kuliah?" Risha dan Kenzie menoleh bersamaan setelah mendengar seseorang dibelakang mereka. Disana terlihat Panji yang berjalan mendekat kearah mereka
"Iya pak. Aku sudah bisa kuliah lagi, terlalu lama aku tidak masuk kuliah" Risha menjawab dengan senyum lembut dibibirnya
"Mau pergi keperpustakaan?" Tanya Panji dengan lembut
"Tidak perlu! Risha masih tidak boleh terlalu lelah, jadi kami akan langsung pergi kekelas saja!" Kenzie menanggapi dengan sikap yang dingin
"Zie ..." Risha menegur Kenzie sambil menyenggol sedikit sikunya
"Apa? Aku sudah bilang kalau aku akan menjagamu. Dan aku tidak akan lupa kalau aku hampir kehilanganmu karena dia!" Kenzie bicara dengan sinis sambil menunjuk tepat wajah panji
"Saya tahu. Maafkan saya untuk itu, tapi saya benar-benar tidak berpikir kalau Arumi bisa sampai melakukan itu. Lagipula memang diantara saya dan Risha tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas dosen dan mahasiswi saja" Panji berusaha menjelaskan pada Kenzie agar dia tidak lagi menyalahkannya
"Jika seperti itu, maka tetaplah bersikap sebagai dosen dan mahasiswi. Jangan berusaha sok dekat dengan Risha! Ayo Sha kita pergi ke kelas!" Kenzie bicara dengan sikap yang sangat dingin pada Panji. Dia terlihat benar-benar sangat tidak suka pada Panji
Panji terus menatap punggung Kenzie dan Risha yang berjalan semakin jauh darinya
"Sekarang dia bersikap seperti anjing penjaga untuk Risha" Gumam Panji dengan senyum yang manis sambil menggelengkan kepala berkali-kali
***
"Zie, kenapa kamu bersikap tidak sopan seperti itu? Dia itu kan dosen kita" Tanya Risha saat mereka berjalan menuju kelas
"Kamu sudah tahu sendiri alasannya. Aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengannya. Cukup bersikap sebagai dosen dan murid saja, tidak perlu terlalu dekat!"
"Tapi aku dan dia itu kan hanya membahas makalah saja. Kami juga tidak memiliki hubungan lain" Kenzie memperingati Risha dengan sikap yang tenang namun sorot mata yang mengancam
"Kenapa nada bicaramu begitu? Kamu pikir aku bisa dekat dengan orang lain sembarangan? Aku hanya menganggap dia dosen, dan karena dia sangat cerdas jadi aku merasa kalau membahas makalah dengannya itu sangat menyenangkan" Risha tersenyum ceria saat dia membicarakan membahas makalah dengan Panji
"Kamu gila? Bukannya kamu bisa membicarakan makalah denganku?" Tanya Kenzie dengan ekspresi kesal sambil menunjuk wajahnya sendiri
__ADS_1
"Ada apa denganmu Zie? Kamu aneh sekali. Kamu cemburu pada pak Panji?" Risha bertanya dengan nada menggoda pada Kenzie
"Kamu tenang saja. Pak Panji tidak akan mungkin menggantikan posisimu sebagai saudaraku yang tersayang" Ujar Risha lagi pada Kenzie
"Aku sudah tahu itu!"
***
Saat ini Kenzo baru selesai bekerja dan dia pergi ke ruang privat dulu sebelum berganti pakaian. Ternyata Safira masih menunggunya hingga saat ini
"Ku kira kamu sudah pulang?" Sapa Kenzo ketika melihat Safira masih duduk disana
"Aku sengaja meminta Tiara pulang lebih dulu dan menunggumu disini. Apa kamu sudah selesai?" Safira bertanya dengan senyum lembut
"Ya, aku ganti baju dulu. Kamu tunggu dibawah! Nanti aku antar kamu pulang!" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang
"Euh" Safira menganggukkan kepala kemudian membereskan barang-barangnya dan kembali mengenakan maskernya
Kenzo pergi keruang ganti karyawan dan mengganti pakaian serta membawa barang-barang miliknya
"Sampai jumpa semuanya" Dia pamit pada semua karyawan restoran lainnya karena mereka sedang membereskan restoran
"Nih, pakai helmmu!" Ujar Kenzo sambil memberikan helm pada Safira
"Terimakasih" Kenzo pun mulai mengendarai motornya dan mengantar Safira pulang. Kali ini dia tidak perlu bertanya lagi dimana rumah Safira. Safira pun langsung memegang pinggang Kenzo karena ini bukan pertama kalinya lagi dia naik motor.
Kenzo terus memacu motornya menyusuri gelapnya malam yang hanya diterangi kerlap kerlipnya lampu-lampu
Perlahan Safira melingkarkan tangannya dipinggang Kenzo, kemudian dia menyandarkan kepalanya dipunggung Kenzo
"Seandainya saat itu ada kamu, Zo. Aku pasti memiliki tempat bersandar seperti ini" Gumam Safira dengan air mata yang mulai membasahi pipinya
"Ra, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kenzo pada Safira yang sedang menyandarkan kepala dipunggungnya
"Euh" Safira tidak menjawab langsung. Dia hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Kenzo dan tidak menceritakan masalah yang sebelumnya dia hadapi
Mereka tidak membicarakan apapun selama perjalanan hingga tanpa terasa sudah sampai di gerbang perumahan Safira.
"Saya Fira pak" Safira membuka kaca helmnya dan bicara pada penjaga gerbang agar mereka bisa masuk
__ADS_1
"Oh non Fira" Kenzo pun diizinkan melewati gerbang dan mengantar Safira sampai kerumahnya
"Terimakasih sudah mengantarku" Ujar Safira setelah turun dari motornya
"Apa benar tidak ada masalah saat aku pergi?" Kenzo terlihat tidak percaya karena melihat sikap Safira yang hari ini terasa berbeda
"Benar, tidak ada apa-apa. Pulanglah, ini sudah malam dan terimakasih sudah mengantarku!" Safira berusaha untuk tersenyum ceria seperti biasanya namun tetap terasa seperti dipaksakan
"Baiklah. Aku pulang dulu. Istirahatlah lebih cepat sepertinya kamu sangat kelelahan" Safira menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis meskipun Kenzo tidak dapat melihat senyum itu karena tertutup oleh masker
"Kamu hati-hati ya dijalannya. Kabari aku jika kamu sudah sampai rumahmu"
"Ya, sampai jumpa" Kenzo pun kembali memacu motornya meninggalkan rumah Safira
Safira masuk kedalam rumahnya yang gelap gulita karena semua lampu belum dinyalakan. Tanpa menyalakan lampu, dia duduk di sofa ruang tamu yang hanya diterangi cahaya dari luar karena rumah Safira hampir dikelilingi kaca disemua bagian
"Rasanya aku tidak ingin berada di industri ini lagi" Gumam Safira sambil memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya
***
Sementara itu Kenzo sedang memacu motornya dengan kecepatan tinggi dia di ikuti beberapa motor lain dibelakangnya
"Aah sial, apa mereka orang suruhan Rudi? Sejak kapan mereka mengikutiku?" Gumam Kenzo sambil terus memacu motornya
"Aku malas meladeni mereka!"
Brooom
Tanpa Kenzo sadari sebuah motor sport lain datang dari arah lain dan kini berada tepat disebelahnya
"Jangan lengah, cepat cari tempat sepi. Jangan sampai membuat keributan di tengah jalan begini!" Teriak pengemudi motor itu yang membuka kaca jendela motornya
"Kamu malah membuat orang yang mengejatlr tambah banyak! Ku kira kamu akan membiarkanku sendiri karena takut pada mereka?!" Jawab Kenzo dengan berteriak juga
"Aku tidak bisa menghadapi mereka sendiri. Berdua lebih baik daripada hanya sendiri kan?Sudahlah. jangan banyak bicara! Ayo cepat!" Kenzo dan Rendra memacu motornya lebih cepat lagi menyapu keheningan malam dengan riuhnya suara motor yang saling kebut-kebutan
"Hei, berhenti! Jangan kalian pikir bisa lari dari kami!" Teriak pengemudi motor lain
"Cepat tangkap mereka!"
__ADS_1