Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Pebisnis Berdarah Dingin


__ADS_3

"Kak Diaz, apa kakak tahu kalau aku sudah berhasil menjadikan Kenzie direktur operasional diperusahaan cabang? Kenzo juga akan masuk ke perusahaan kak Lian besok. Sekarang kami bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama. Benarkan hubby?" Cheva bicara dengan senyum ceria sambil bergelayut manja pada tangan Lian


"Jadi bagaimana dengan Risha? Jika dia masih suka bekerja diluar … maka kak Diaz masih harus bekerja keras untuk perusahaan Sanjaya. Kak Diaz masih harus mencari artis dan model berbakat untuk menopang perusahaan. Sedangkan aku dan kak Lian bisa mulai bersantai karena kesibukan kami akan berkurang"


Cheva dengan sengaja mengolok Diaz dan terus memanas-manasinya mengenai kedua putranya yang kini sudah mulai masuk ke perusahaan keluarga. Cheva tidak menghiraukan wajah Diaz yang sudah terlihat kesal


"Aku juga sudah meminta Risha untuk pulang dan masuk ke perusahaan Sanjaya. Tapi dia bilang masih butuh waktu untuk mengerjakan sisa pekerjaannya" Diaz menjawab dengan sikap yang tenang. Meskipun dia kesal dengan Cheva namun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya


"Kak Diaz yakin kalau dia akan kembali? Bagaimana jika dia lebih memilih menjadi sekertaris Rendra dan membiarkan kak Diaz yang mengelola perusahaan sampai Dhefin lulus kuliah? Tidak menutup kemungkinan kalau dia bisa saja mengambil keputusan seperti tante Vio yang lebih memilih jadi seketaris om Leo. Iya kan?" Cheva bicara dengan senyum cerianya saat dia terus menggoda Diaz


Glek


Dia yang berusaha keras untuk tenang, kini mulai resah. Dia yang sedang menikmati secangkir kopi ditangannya langsung diam sesaat


"Tidak, Risha sudah bilang kalau dia akan segera pulang" Bantah Diaz dengan wajah serius


"Kak Tania, apa yang akan kakak lakukan jika Risha lebih memilih jadi seorang sekertaris daripada menjadi pemimpin perusahaan?" Kini Cheva beralih pada Tania, dia bertanya dengan sikapnya yang manja disertai kedua alis diangkat bersamaan. Diaz tidak menyadari isyarat yang Cheva dan Tania lakukan untuk mengerjainya


"Ya ... mau bagaimana lagi? Itu artinya kami masih harus bekerja keras sampai Dhefin lulus kuliah" Tania menanggapi dengan sikap yang tenang disertai kedua bahu yang diangkat bersamaan


Jika Risha terus memilih jadi karyawan Rendra … itu berarti, aku dan Tania tetap akan sulit menikmati masa tua kami bersama. Kami tidak bisa pensiun dini sebelum Dhefin berhasil membuktikan kalau dia mampu. Tidak boleh, aku harus membuat Risha cepat pulang


"Berhenti menggodanya! Kamu tidak lihat wajah Diaz yang mulai panik?" Lian berbisik pada Cheva sambil sesekali melirik Diaz


"Biarkan saja, dia terlihat mulai risau ketika tahu kalau Kenzo dan Kenzie masuk keperusahaan. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan" Cheva menjawab dengan senyum manis diwajahnya sambil memperhatikan ekspresi Diaz yang terlihat panik


***

__ADS_1


Risha masih belum pulang meskipun rekan kerjanya yang lain sudah meninggalkan ruangan mereka


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Rendra bertanya pada Risha melalui sebuah pesan singkat


"Tinggal sedikit lagi, aku selesai" Risha pun langsung membalasnya setelah membaca pesan itu


"Tinggalkan saja. Sudah jam 6 sore. Aku menunggumu dibawah, kita makan malam bersama" Tulis Rendra lagi dalam pesan singkatnya


"Kamu masih belum pulang juga? Baiklah, aku akan selesaikan sekarang juga" Risha pun membereskan pekerjaannya dan mulai beranjak pergi meninggalkan ruangannya untuk segera turun dan menemui Rendra lalu makan malam dengannya


"Hai Ren, hai Bil. Kalian sudah lama menungguku ya?" Risha langsung menyapa ketika dia masuk ke mobil Rendra. Billy hanya menanggapi dengan senyum dan anggukan kepala


"Belum terlalu lama. Apa pekerjaanmu masih belum selesai? Kenapa sampai lembur segala?" Rendra bertanya dengan sikap yang tenang


"Ya, tinggal sedikit lagi. Sepertinya besok juga selesai, jadi aku bisa meninggalkan perusahaanmu dengan tenang"


"Tetap saja tidak perlu bekerja terlalu keras. Kamu masih disini 4 hari lagi, tapi kamu menyelesaikan semuanya seperti akan pergi besok. Sama sekali tidak memperhatikanku" Rendra bicara dengan nada sedikit kesal


"Apa kamu sedang merajuk seperti anak kecil? Itu tidak lucu sama sekali"


Drrt drrt drrt


Saat mereka sedang dalam perjalanan, ponsel Risha tiba-tiba berdering. Risha pun meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di atas layar bertuliskan 'Papi'


"Halo papi" Risha menjawab telepon dari ayahnya dengan sikap yang tenang dan sopan


"Sya, apa kamu masih bekerja?" Diaz bertanya dengan sikap yang tenang sebelum mulai menanyakan inti dari tujuannya menghubungi Risha

__ADS_1


"Tidak, aku baru mau pulang, Ada apa pih?" Risha menyandarkan tubuhnya pada sandatan kursi dan bertanya dengan sopan


"Kapan kamu akan pulang? Kenzie sudah menjabat sebagai direktur, lalu kapan kamu akan datang kemari?" Diaz langsung menanyakan tujuannya menghubungi Risha


"Mungkin akhir minggu ini pih. Aku sedang mengerjakan sisa pekerjaanku sebelum aku pergi. Aku tidak mau meninggalkan perusahaan Rendra dengan pekerjaan yang masih  menumpuk. Setelah ini selesai, aku pasti akan langsung pulang. Papi tidak perlu khawatir!" Risha menjawab dengan nada yang malas


"Kalau begitu papi akan sabar menunggumu. Ingat. kalau kamu harus langsung pulang setelah pekerjaanmu selesai!" Diaz bicara dengan nada yang sedikit memaksa


"Baik papi, aku mengerti. Sampai jumpa. Haah …" Diaz dan Risha pun memutuskan sambungan telepon mereka


"Apa om Diaz memintamu pulang lagi?" Rendra bertanya dengan lembut setelah melihat Risha menutup teleponnya


"Ya, papi memintaku untuk segera pulang. Ini karena Kenzie sudah jadi direktur cabang perusahaan Kusuma, jadi papi juga ingin aku segera masuk ke perusahaan sanjaya. Kurasa dia tidak ingin kalah dari tante Cheva" Risha kembali menanggapi Rendra dengan nada yang malas


"Kenapa?" Rendra menatap Risha dengan dahi berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu


"Tante Cheva sama papi itu sama gilanya. meskipun mereka sudah tua, tapi mereka tidak pernah ingin mengalah satu sama lain. Pasti papi mendesakku pulang karena tante Cheva sudah mengejeknya lagi"


Rendra mengangguk berkali -kali sebagai tanda mengerti


"Keluarga kalian itu memang sulit dipercaya. Siapa sangka kalau keluarga raja bisnis yang terlihat serius dan dingin diluar bisa memiliki kepribadian yang unik. Aku tidak mengerti bagaimana semua orang tertipu dengan topeng yang kalian gunakan sampai keluarga Kusuma dijuluki pebisnis berdarah dingin" Rendra menggelengkan kepala berkali-kali karena tidak mengerti dengan apa yang ditakuti oleh para pebisnis lain


"Kamu berfikir begitu karena sudah tahu bagaimana sikap kami saat bersama keluarga. Kamu tidak melihat kan bagaimana sikap keluarga kami saat menghadapi orang yang bersalah? Eh tidak, kamu pasti tahu kan bagaimana kalau Kenzo menangani masalah? Itu hanya setengahnya dari apa yang mungkin dilakukan orang tua kami. Saat kami mengambil langkan balasan, kami masih mempertimbangkan hukuman yang ringan. Jika papi atau tante Cheva yang melakukannya, itu bisa selesai dalam waktu satu hari. Bahkan tante Cheva dikenal sebagai iblis berwajah cantik. Tentu yang lebih menyeramkan lagi kalau kakek buyut dan nenek Ji yang mengambil tindakan. Mereka tidak pernah setengah-setengah memberikan imbalan pada lawannya. Aku ingin seperti mereka yang disegani hanya dengan mendengar nama mereka saja"


Mata Risha seakan berbinar saat dia menceritakan mengenai keluarganya. Dia sangat bersemangat dan penuh tekad


"Terserah padamu. Aku akan selalu mendukung apapun yang kamu lakukan" Rendra bicara sambil mengusap lembut kepala Risha

__ADS_1


"Kuharap saat aku seperti itu, kamu tidak malu karena punya pacar yang kejam" Risha bicara dengan mata sedikit mendelik


"Siapa bilang kamu itu pacarku? Kamu akan jadi calon istriku"


__ADS_2