
Seperti yang direncanakan sebelumnya. Diaz sedang mempersiapkan untuk pembuatan film baru. Sejak 2 tahun lalu dia mengelola perusahaan Sanjaya tapi terkadang masih pergi ke negara F untuk memeriksa kantor Tania.
"Roni, tolong persiapkan untuk produksi film baru. Kamu harus cari sutradara dan artis terkenal. Oh, kalau bisa cari tahu dulu perusahaan Surendra. Aku tidak ingin artis dari agensi itu. Aku juga ingin kamu melakukan sesuatu"
Roni terlihat heran dengan apa yang diminta Diaz
"Apa terjadi sesuatu?Kenapa kamu terlihat bersemangat?" Roni bertanya dengan heran setelah melihat sikap Diaz
" Tidak ada. aku hanya ingin bermain dengan perusahaan itu" Diaz menunjukkan senyum tipis yang sangat mencurigakan
"Apa perusahaan itu melakukan sesuatu?" Roni masih tidak percaya jika Diaz ingin main-main dengan perusahaan itu tanpa alasan yang jelas.
"Kami telah melakukan penyelidikan atas kecelakaan Lea dan suaminya. Dari yang kami dapat. Kecelakaan itu telah direncanakan dan itu atas perintah Astria dan juga Adnan, kakak angkat Galen dan Rey"
"Apa?! Mereka yang merencanakannya?!"
Roni yang sejak tadi diam saja mendengarkan terlihat cukup terkejut dengan ucapan Diaz
"Ya, mereka yang merencanakannya. Kami curiga kalau ini karena harta warisan. Tuan Adi belum lama meninggal. Galen dan Rey termasuk dalam penerima warisan yang cukup besar. Mengingat kalau selama ini mereka yang bekerja keras mengembangkan perusahaan Surendra kurasa itu cukup wajar, namun pemikiran setiap orang berbeda. Aku yakin kalau Astria dan Adnan tidak berpikiran begitu"
"Aku mengerti. Aku akan mencari tahu semuanya terlebih dahulu" Roni pun beranjak dari hadapan Diaz setelah dia mengerti dengan apa yang Diaz katakan
***
Kenzo, Kenzie dan Risha kini telah memasuki sekolah menengah pertama. Seperti keinginan mereka sebelumnya, Kenzie dan Risha masuk sekolah yang sama sedangkan Kenzo disekolah yang lain
"Hei, kalian! Anak baru! Maju sini! Perkenalkan diri kalian!" Seorang senior meminta Kenzie dan Risha untuk memperkenalkan diri mereka.
Kenzie dan Risha pun maju ke depan untuk memperkenalkan diri
"Dimulai dari kamu dulu!" Ujar senior itu pada Risha
"Hai semua, namaku Arisha Nedzara. Kalian bisa panggil aku Risha"
"Namaku Kenzie Lutherin. Kalian bisa panggil aku Kenzie"
Kenzie dan Risha memperkenalkan diri mereka masing-masing secara bergantian
"Kalian berdua kakak beradik atau apa? Sepetinya kalian sangat dekat?" Senior itu penasaran karena Kenzie dan Risha selalu terlihat bersama-sama
"Kami saudara sepupu" Risha menjawab dengan senyum lembut
"Oh, jadi kalian bersaudara" Ujar senior yang bernama Angga sambil tersenyum lembut. Dia adalah salah satu senior terpopuler di sekolah
"Ada masalah apa dengan hubungan kami?" Kenzie bertanya dengan senyum ramah
__ADS_1
"Tidak ada. Sekarang kalian bisa bergabung dengan teman kalian yang lain"
"Baik" Kenzie dan Risha pun bergabung dengan rekan seangkatan mereka yang sama-sama baru masuk
"Hai aku Ilana" Ujar seorang rekan yang berdiri di samping Risha sambil mengulurkan sebelah tangan
"Aku Risha, ini saudaraku Kenzie"
"Hai" Kenzie melambaikan tangan pada Ilana
"Ilana, siapa senior yang ada di samping kak Angga itu? Kenapa dia menatap kearah kita dengan sinis begitu ya? Sepertinya dia tidak suka pada kita padahal ini pertama kalinya kita ketemu" Risha bertanya dengan sedikit berbisik pada Ilana
"Aku juga tidak tahu. Mungkin dia takut kalau pamornya turun karena banyak anak baru yang cantik" Jawab Ilana yang juga berbisik
"Mana mungkin seperti itu? Memangnya ada ya kekhawatiran seperti itu?"Risha menatap heran pada Ilana
"Mungkin" Jawab Ilana sambil mengangkat kedua bahu bersamaan
***
"Hubby, apa kamu sedang sibuk?" Cheva datang ke kantor Lian tanpa memberitahu sebelumnya
"Tidak. Kenapa kamu kemari, sayang?" Lian yang melihat Cheva langsung mendekat dan meninggalkan pekerjaannya
"Apa kakak sudah menyelidiki perusahaan Surendra? Cheva bertanya dengan nada manja
"Aah ternyata suamiku ini memang paling bisa diandalkan" Cheva bersandar manja pada Lian
"Lalu hadiah apa yang aku dapatkan?" Lian bertanya dengan senyum yang menggoda. Diapun mendekatkan wajahnya pada Cheva
"Kak Lian bukan anak muda lagi. Sekarang sudah punya 2 anak remaja, jadi tidak usah genit"
"Siapa bilang aku sudah tua? Kedua putraku baru masuk sekolah menengah pertama. Usiaku juga baru 37 tahun. jadi itu tidak bisa dikatakan tua. Jika kamu masih tidak percaya, kamu bisa membuktikannya sendiri. Apakah aku sudah tua atau belum?"
Lian terus menggoda Cheva dengan senyumnya yang menawan
Tok tok tok
"Masuk!"
"Maaf pak Lian ada dokumen yang harus ditandatangani" Robin masuk dengan sebuah dokumen ditangannya
"Bawa kemari!"
Cheva berusaha menahan senyum ketika melihat suaminya seketika merubah ekspresinya
__ADS_1
"Wajah kak Lian tadi terlihat sangat mempesona tapi sekarang terlihat menyeramkan"
Cheva berbisik pada Lian yang sedang menandatangani dokumen di meja
"Diam, sebaiknya kamu kirimkan emailnya pada Diaz!"
Ujar Lian pada Cheva yang terus mengganggunya
"Baik, baik aku kirimkan" Cheva pun langsung meraih laptop Lian dan mengirim email pada Diaz mengenai data artis dan proyek yang akan di jalankan perusahaan Surendra setelah dia mencuri data dari perusahaan itu
"Sudah aku kirimkan"
"Terimakasih pak Lian. Saya permisi" Lian menganggukkan kepala menanggapi Robin
"Hahaha..."
Cheva terbahak setelah Robin pergi meninggalkan ruang kerja Lian
"Kenapa kamu tertawa seperti itu?" Lian terlihat heran melihat Cheva yang terus terbahak
"Hubby, Robin itu sudah lama jadi asisten kak Lian. Apa tidak bisa bersikap sedikit santai dan lembut padanya? Kak Lian masih saja kaku jika di depan orang lain"
Cheva terus menggoda Lian tanpa henti
"Sayang, kamu tahu sendiri kalau aku hanya akan bersikap lembut di depanmu. Aku tidak perlu bersikap lunak pada orang lain. Siapapun itu" Lian menjawab Cheva dengan nada yang menggoda hingga membuat Cheva tersipu malu mendengar ucapannya
"Benarkah? Kakak yakin kalau kakak tidak bersikap manis pada orang lain selain aku?" Cheva bertanya dengan sebelah tangan menyangga dagunya
"Tentu saja. Memang kamu lihat aku bersikap manis pada orang lain?"
"Hmn... tidak juga sih. Aku yakin kalau hanya ada aku dimata kak Lian"
"Bukan cuma dimataku, tapi juga dihatiku. dihidupku dan duniaku. Semua hanya ada kamu"
Cheva semakin tersipu dengan gombalan yang Lian berikan
"Cih gombal" Ujar Cheva sambil menampar sebelah pipi Lian dengan lembut
"Jika kamu terus bersikap seperti ini maka aku tidak bisa sabar lagi" Lian dengan tegas memperingati Cheva
"Tidak sabar untuk apa?" Cheva bertanya-tanya dengan apa yang dimaksud Lian
"Tentu saja untuk memberikan hukuman padamu"
"Aah... kak Lian ini dikantor!"
__ADS_1
"Ya ini kantorku dan tidak akan ada yang berani masuk ke ruang istirahat pribadiku"
Lian langsung membawa Cheva ke ruang istirahat pribadinya yang ada diruangan itu dengan cara menggendongnya