Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Persiapan Risha Dan Kenzo Masuk Ke Perusahaan


__ADS_3

Risha sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya sebelum dia meninggalkan kantor Rendra. Bahkan dia tidak sempat untuk makan siang.


"Apa kamu tidak pergi makan siang? Aku menunggumu di restoran dekat kantor" Rendra mengirim sebuah pesan singkat pada Risha


Dengan cepat Risha membalas pesan dari Rendra


"Iya, pekerjaanku sedikit lagi. Aku tidak bisa menunda laporan ini"


"Apa rekanmu yang lain ada disana?"


Balas Rendra lagi dalam pesannya


"Tidak ada. Mereka semua pergi makan siang"  Balas Risha lagi dalam pesan singkatnya


"Oh, aku mengerti"


"Mengerti? Apa maksudnya ini? Ah sudahlah, aku harus segera menyelesaikan ini. Jika tidak aku tidak bisa meninggalkan perusahaan ini seperti rencana awalku" Risha kembali fokus pada pekerjaannya setelah dia salig berikirim pesan dengan Rendra


Kruyuuukkk ...


"Aahh, aku lapar, tapi jika aku keluar .... ya sudahlah, minum dulu saja. Setelah selesai aku bisa keluar membeli roti" Risha memegang perutnya karena merasa lapar kemudian dia mengambil kembali segelas air putih untuk menahan rasa laparnya


"Eh?"


Risha terkejut ketika ada sekotak makanan di atas mejanya. Karena terlalu fokus, dia tidak menyadari kalau Rendra datang keruangannya dengan kursi roda yang didorong oleh Billy


"Meskipun sibuk. kamu tetap harus makan siang. Jangan sampai sakit karena pekerjaan" Rendra bicara dengan lembut sambi menyingkirkan dokumen dari hadapan Risha kemudian membukakan makanan untuknya.


"Aku harus segera menyelesaikan ini. Surat pengunduran diri sudah aku berikan padamu, jika ini tidak selesai sampai waktunya tiba, maka akan membuat perusahaann ini kesusahan. Aku tidak mau itu" Risha bicara dengan nada yang lembut sambil menikmati makanan yang dibawakan oleh Rendra


"Apa kamu sudah makan siang?" Risha bertanya karena Rendra hanya membawa satu makanan untuknya


"Ya, kamu makan saja"


"Makan sendiri tidak enak. Kamu juga makan. A ..." Risha langsug menyodorkan sesendok makanannya pada Rendra. Rendra pun membuka mulutnya dan mulai makan bersama dengan Risha


"Kenapa aku harus berada di antara mereka berdua" Pikir Billy yang harus selalu melihat kemesraan antara Risha dan Rendra.


"Billy, jika kamu ingin makan siang, pergi makan dulu saja. Nanti aku yang akan antarkan Rendra ke ruangannya" Risha melihat raut wajah Billy yang murung dan mengira kalau dia begitu karena belum makan siang


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu.. Setelah makan siang aku akan langsung keruang pak Rendra" Billy dengan kecepatan kilat langsung meninggalkan ruang kerja Risha.

__ADS_1


"Selamat... Akhirnya aku bisa melindungi mata dan hatiku agar tidak iri melihat mereka berdua" Gumam Billy setelah dia meninggalkan ruangan Risha sambil mengusap dadanya sendiri


"Kamu jangan terlalu keras pada Billy. Sampai tidak membiarkan dia makan siang. Perawat itu juga manusia biasa" Risha bicara dengan lembut pada Rendra


"Siapa bilang dia tidak makan siang? Kami baru saja makan siang, karena itu aku juga membawakan satu untukmu" Rendra menjawab dengan tenang dan senyum tipis dibibirnya


"Kalau begitu kenapa dia langsung pergi begitu? Ku kira dia begitu karena belum makan siang" Tanya Risha dengan wajah bingung


"Sudah, lupakan saja dia. Selesaikan makannya dulu karena kamu harus mengantarku kembali keruangan"


"Baik" Risha pun kembali melanjutkan makan siangnya dengan cepat agar bisa segera mengantar Rendra


"Pelan-pelan saja, nanti kamu bisa tersedak" Rendra bicara dengan lembut sambil mengusap bibir Risha yang kotor dengan sapu tangan miliknya


"Aku sudah selesai. Biar aku antar kamu keruangan sekarang. Nanti yang lain keburu datang" Risha langsung merapikan bekas makannya dan mendorong kursi roda Rendra kembali keruangannya.


"Bukannya itu Risha dan pak Rendra? Apa benar mereka punya hubungan pribadi?"


"Sepertinya begitu. tapi bukannya Risha mau mengundurkan diri? Alasan Risha mengundurkan diri... apa karena mereka akan menikah?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu"


Saat Risha dan Rendra sudah keluar dari ruangan, rekan kerja Risha baru saja kembali dari kantin dan melihatnya mendorong kursi roda Rendra


"Apa pekerjaanmu masih banyak yang tertunda?" Rendra bertanya dengan lembut saat mereka menuju ruang Rendra


"Ada beberapa laporan yang harus aku selesaikan sebelum meninggalkan perusahaan ini. Jika itu diberikan kepada penggantiku, mungkin dia tidak akan mengerti. Karena itu aku berusaha keras menyelesaikannya" Risha bicara dengan nada mengeluh manja


"Tapi tetap saja jangan sampai lupa istirahat dan makan. Aku tidak mau kamu terlalu bekerja keras untuk ini. Yang ada nanti kamu malah sakit dan om Diaz marah padaku karena membiarkan putri kesayangannya jatuh sakit. Itu tidak akan bagus untuk hubungan kita" Rendra bicara dengan sikap yang tenang dan sesekali menoleh pada Risha yang sedang mendorong kursi rodanya


"Hmn … kamu benar, aku tidak berpikir kesana. Jika papi marah padamu, dia tidak akan mengizinkan kita berhubungan. Itu tidak bagus. Kalau begitu aku akan mengatur waktu lagi untuk bisa menyelesaikan pekerjaanku"


Risha bicara dengan nada manja dan tenang. Sesekali dia juga mengerucutkan bibirnya saat bicara


"Baguslah jika kamu mengerti"


***


Kenzo dan Safira sudah tiba di negara F. Saat ini dia sedang berada dirumah Safira sambil memeriksa kondisi perusahaan Anggara


"Halo Om Pram, aku sedang memeriksa laporan keuangan yang om berikan padaku. Tapi aku merasa ada yang aneh disini" Kenzo menghubungi Pram sambil memeriksa laporan perkembangan perusahaan Anggara

__ADS_1


"Om tahu Zo, tapi om juga sudah selidiki semuanya, dan tidak ada masalah" Jawab Pram dengan sikap yang tenang


"Om sudah bicarakan ini dengan papi? Tidak mungkin papi membiarkan hal ini begitu saja kan?" Kenzo terdengar heran dengan keadaan perusahaan sang ayah


"Papimu sudah lama tidak kemari. Meskipun dia memantau keadaan perusahaan dari sana, tetap saja ada yang tidak bisa dia pantau. Karena itu om mendesak papimu agar kamu saja yang ambil alih perusahaan disini" Pram bicara dengan sangat tenang


"Baik, tapi om harus membantuku mengelola perusahaan itu"


Pram menggelengkan kepala meskipun Kenzo tidak bisa melihatnya


"Tidak akan lama, om sudah bilang kalau om hanya akan bersama denganmu selama 1 bulan saja. Kamu harus cari asisten sendiri yang bisa kamu percaya"


"Om pikir gampang mencari orang yang sesuai dengan cara kerja kita?" Zo menanggapi dengan sikap yang dingin


"Bukannya selama ini kamu sudah punya sisten yang selalu membantumu?" Pram mengernyitkan dahi karena bingung


"Dia itu bukan asistenku. Dia adalah sahabatku" Jawab Kenzo menjelaskan


"Bagus kalau begitu. Justru karena dia sahabatmu jadi kalian bisa bekerja sama dengan mudah" Pram terdengar semangat saat mendengar Kenzo bicara


"Tidak bisa. Dia memimpin perusahaan sendiri di negara A. Aku tidak bisa selalu meminta bantuannya" Kenzo kembali menjelaskan tentang Rendra


"Oh begitu" Pram menganggukan kepala berkali-kali mengerti dengan apa yang dikatakan Kenzo


"Lalu kapan kamu akan masuk keperusahaan?"


"Secepatnya. Om persiapkan saja semuanya. Ingat untuk tidak memberitahukan identitasku" Kenzo kembali mengingatkan keinginannya pada Pram


"Tenang saja. Om sudah mengerti. Kamu bisa datang kemari lusa. Om akan persiapkan semuanya"


"Terimakasih om. Sampai jumpa"


"Kapan kamu akan mulai bekerja diperusahaan ayahmu?" Safira langsung mendekati Kenzo setelah dia melihat Kenzo menutup teleponnya


"Lusa, besok aku akan mengantarmu ke bandara. Kamu sudah beritahu Tiara kan?" Kenzo mengulurkan sebelah tangannya dan merangkul Safira. Lalu membiarkan Safira menyandarkan kepalanya dibahu Kenzo yang kekar


"Ya, aku sudah katakan pada Tiara. Zo, aku tidak ingin berpisah denganmu" Safira melingkarkan tangannya dipinggang Kenzo dan memeluknya dengan erat


"Aku juga sama. Tapi aku ingin kamu sembuh. Aku janji, jika aku tidak sibuk, aku akan terbang kesana untuk menemuimu" Kenzo mengecup pucuk kepala Safira dengan lembut


"Ya, kalau begitu aku akan selalu menunggumu"

__ADS_1


__ADS_2