Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kenzo Si Raja Gombal


__ADS_3

Rendra mencari apotik terlebih dahulu sebelum dia mengantarkan Risha ke rumahnya.


"Tahan sedikit. Ini akan sedikit sakit" Rendra membersihkan dan mengobati luka Risha dengan hati-hati. Dia bahkan meniup lukanya dengan lembut. Risha terus menatap Rendra yang sedang mengobati lukanya tanpa berkedip sekalipun.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku bisa meleleh jika kamu terus menatapku tanpa berkedip begitu" Rendra bicara dengan sikap yang tenang tanpa menatap Risha sama sekali. Dia hanya merasa Risha menatapnya kemudian meliriknya untuk memastikan.


"Ah tidak papa. Terimakasih" Risha menanggapi dengan salah tingkah


"Sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Kenapa hari ini sikapmu padaku terasa aneh ya?" Kini Rendra menatap Risha dengan sorot mata yang tajam. Dia terlihat serius saat bertanya pada Risha karena penasaran


"Ti-tidak. Tidak ada apa-apa" Risha semakin gugup saat Rendra menatapnya


"Kenapa dia menatapku seperti itu sih? Kenapa juga jantungku berdebar kencang? Jantungku, tolong kendalikan dirimu. Bisa-bisa Rendra mendengar suaramu" Resha bicara dalam hati dengan mata menatap ke arah lain dan berusaha menenangkan diri.


"Sudah selesai. Untung saja hanya memar dan lecet sedikit. Kalau lukanya parah, bisa-bisa Kenzo langsung terbang kesini dan menggantung leherku" Rendra bicara dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh


"Apa? Jadi … kamu melakukannya karena takut pada Kenzo?" Risha bertanya dengan raut wajah kecewa


"Tentu saja. Kenzo sudah menitipkanmu padaku. Jadi aku harus menjagamu dengan baik"


Ada kekecewaan yang Risha rasakan setelah mendengar perkataan Rendra


"Oh begitu. Ini sudah malam, katanya mau mengantarku pulang?" Risha berkata dengan wajah sedih sambil beranjak pergi meninggalkan Rendra ke mobil lebih dulu


"Kenapa dia? Tiba-tiba jadi murung begitu?" Pikir Rendra menatap Risha yang sudah berjalan kemobilnya. Rendra pun berdiri dan mengikuti Risha untuk mengantarnya


***


Beberapa polisi datang ke lokasi perkelahian Risha setelah dihubungi Rendra. Mereka masih meringis kesakitan karena peluru yang ditembakan oleh Rendra. Meskipun tidak ditempat yang fatal tetap saja mengeluarkan banyak darah


"Kalian ini masih muda tapi suka membuat keributan. Bahkan kalian berusaha melecehkan seorang gadis" Polisi menceramahi tiga pemuda itu sambil membalut luka mereka sebelum mereka dibawa ke kantor polisi.


"Kami hanya disuruh pak. Mereka ini yang meminta kami untuk mencelakai gadis itu. Siapa tahu kalau ternyata dia membawa pistol dan menembak kami" Jawab salah satu pemuda sambil meringis kesakitan


"Mereka bertiga ini?" Tanya polisi memastikan sambil menunjuk ke arah Nura, Elisa dan Kia dengan tatapan tak percaya

__ADS_1


"Benar, mereka yang membayar kami untuk mencelakai gadis itu. Kami menunggu aba-aba dari mereka sampai gadis itu datang" Ketiga pemuda itu bergantian menjelaskan pada polisi.


"Kalau begitu kalian bertiga juga ikut dengan kami ke kantor polisi. Kita akan melanjutkan perbincangan kita disana nanti" Akhirnya Elisa, Nura dan Kia pun ikut digiring ke kantor polisi. Mereka sejak tadi tak berhenti menangis. Selain karena kehilangan pekerjaan, mereka juga tidak bisa pergi karena diancam tiga pemuda itu.


***


Risha yang biasa bicara mengenai banyak hal pada Rendra, kini hanya diam dengan menundukan kepala selama perjalanan. Sesekali dia menatap keluar jendela. Dia terlihat murung dan sedih.


Sesekali Rendra menoleh padanya


"Sha? Apa kamu baik-baik saja? Apa kita perlu periksa kerumah sakit?" Tanya Rendra yang heran dengan sikap Risha yang tiba-tiba jadi pendiam.


"Tidak perlu aku hanya lelah saja. Sebaiknya cepat pulang" Risha menjawab dengan sikap acuh tak acuh. Dia bahkan tidak menatap wajah Rendra saat bicara


"Owh, ya sudah" Rendra pun tidak tahu lagi harus mengatakan apa.


Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai


"Terimakasih sudah mengantarku. Aku pulang dulu" Risha bicara dengan sikap yang dingin pada Rendra. Itu tentu membuat Rendra semakin bingung. Diapun hanya bisa menatap Risha yang langsung pergi dengan dahi mengernyit heran


"Ah sudahlah. Mungkin dia lelah saja" Rendra pun kembali memacu mobilnya untuk pulang kerumahnya


***


Pagi hari


Keadaan Safira sudah semakin membaik setelah dia istirahat semalaman dirumah sakit. Kenzo terus setia mendampinginya.


"Zo, kapan aku boleh keluar dari rumah sakit? Dan bagaimana dengan syutingnya?" Safira bertanya dengan suara yang masih lemah


"Syutingnya dihentikan sementara waktu sampai kondisimu stabil. Lagipula Manda dan Gilang juga kemarin menghilang" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dengan mata menatap ke arah lain


"Kamu menyembunyikan sesuatu? Apa yang sudah kamu lakukan?" Safira memicingkan mata menatap Kenzo dengan tatapan curiga


"Memangnya apa yang aku sembunyikan?" Kenzo menjawab dengan salah tingkah karena memang dia telah melakukan sesuatu pada Manda dan Gilang

__ADS_1


"Jika kamu tidak menyembunyikan sesuatu, kenapa tidak berani menatap mataku?" Safira tersenyum dengan nada bicara tak percaya


"Ehm aku hanya … sedikit bermain saja dengan mereka" Kenzo pun menjawab dengan kedua bahu diangkat bersamaan


"Sedikit? Seperti apa?" Safira semakin penasaran dengan apa yang telah dilakukan Kenzo pada Manda dan Gilang


"Aku … membuat mereka merasakan apa yang kamu rasakan. Aku menceburkan mereka ke kolam renang yang ada di villaku dan membiarkan mereka kedinginan semalaman. Tapi mereka tidak mengalami hipotermia seperti mu. Mereka hanya demam saja. Itu sangat mengecewakan" Kenzo menjawab dengan raut wajah kecewa


"Kamu itu sama sekali tidak punya perasaan ya" Safira menggelengkan kepala, dan bicara dengan senyum diwajahnya


"Tentu saja. Perasaanku hanya untukmu. Mana mungkin aku punya perasaan pada orang lain" Kenzo mengangkat kedua alisnya disertai senyum saat bicara pada Safira


"Maksudku bukan perasaan seperti itu, melainkan rasa belas kasihan" Safira memperjelas perkataannya pada Kenzo


"Orang seperti mereka tidak pantas dikasihani. Apalagi yang bernama Manda itu. Saat dia tahu aku sedang kebingungan mencarimu, dia malah berusaha menggodaku. Sungguh menjijikkan" Kenzo mencibir membayangkan Manda dan Gilang


"Apa?! Dia berani menggoda Kenzoku?!" Safira terkejut sampai tidak sengaja mengatakan kalau Kenzo adalah miliknya


"Kenzoku?" Safira tersipu malu ketika Kenzo menggodanya


"Eum … itu … maksudnya" Safira langsung salah tingkah karena Kenzo terus menatapnya dengan tatapan senang


"Apapun maksudnya aku tidak peduli. Yang jelas adalah kamu itu milikku. Dan aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkanku. Apapun yang terjadi, kamu tidak bisa kabur dariku" Kenzo mendekatkan wajahnya pada wajah Safira. Diapun lalu mengecup kening Safira dengan lembut


"Ternyata Kenzo Osterin Anggara itu sangat posesif ya? Tapi kamu juga harus tahu kalau aku tidak suka jika ada gadis lain yang mendekatimu selain aku" Safira bicara dengan nada yang sombong


"Oh maaf nona aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, karena aku memiliki banyak keluarga perempuan. Terpenting mami, nenek dan Risha" Jawab Kenzo dengan senyum menggoda


"Jadi aku berada di urutan terakhir?" Tanya Safira lagi dengan tatapan penasaran


"Kamu jadi satu-satunya dihatiku"


"Kenzo Osterin Anggara, sejak kapan kamu jadi raja gombal?"


"Sejak aku jatuh cinta padamu" Safira semakin tersipu malu dengan ucapan Kenzo

__ADS_1


__ADS_2