
"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Safira pada Kenzo dengan raut wajah penasaran
"Entahlah, aku khawatir pada Rendra. Risha mengatakan kalau dia tidak bisa menghubungi Rendra lagi setelah tadi mendengar suara teriakan seseorang. Aku akan coba menghubungi Bastian" Kenzo menjawab dengan wajah panik sambil menghubungi nomor telepon Bastian
Tuut tuut tuut
Saat ini Bastian sedang berkumpul dengan saudara dari keluarga ibunya. Mereka asyik berbincang karena jarang sekali bertemu. Dia tidak sadar ponselnya berdering karena menggunakan mode silent pada ponselnya
"Kenapa sibodoh itu tidak menerima telepon dariku?!" Kenzo pun kini semakin kesal karena tidak berhasil menghubungi Bastian setelah berkali-kali mencoba
"Sekertaris Rendra, kurasa aku menyimpan nomornya" Kenzo pun mencari nomor Alan dan langsung menghubunginya
"Halo"
"Apa kamu Alan, sekertarisnya Rendra?" Belum selesai Alan menyapa Kenzo, dia langsung bertanya padanya
"Ya benar. Siapa ini?" Tanya Alan yang terlihat sangat penasaran dan bingung
"Aku Kenzo. Aku mengkhawatirkan Rendra, bisakah kamu membantuku?" Kenzo bicara langsung pada intinya
"Apa ... yang bisa saya bantu?" Alan juga penasaran dengan apa yang akan diminta Kenzo. Dia sering mendengar nama Kenzo dari Rendra, namun mereka belum pernah bertemu.
"Aku ingin tahu kondisi Rendra, tapi aku sekarang berada di negara F. Jadi, aku ingin kamu datang kerumah Rian, pamannya Bastian. Disana sedang diselenggarakan sebuah pesta. Aku ingin kamu mencari tahu keadaan Rendra. Dia sama sekali tidak bisa dihubungi, jika ada sesuatu kabari aku ke nomor ini lagi" Kenzo bicara dengan tenang dan berwibawa
"Baik saya mengerti. Saya akan kesana sekarang juga" Alan pun menutup teleponnya dan bersiap ke rumah Rian
***
"Toloooong....! Tolooooong ...! Toloooong ada mayat!" Seorang pelayan tanpa sengaja melihat Rendra yang tergeletak bersimbah darah dihalaman belakang. Dia dengan cepat berteriak kesana kemari meminta pertolongan dan membuat geger aula pesta
"Apa katamu? Mayat? Dimana?" Tanya Rian yang menjadi tuan rumah acara
"Dibelakang pak. Dia tergeletak dibelakang, saya tidak berani menyentuhnya karena rakut disalahkan" Pelayan itu menjelaskan dengan panik pada Rian
"Bawa aku kesana"
"Baik" Rian pun mengikuti pelayan itu dan para tamu yang lain juga mengikuti mereka dari belakang karena penasaran
"Itu pak!" Tunjuk si pelayan pada tubuh Rendra. Rian pun mendekatinya
"Rendra?" Rianpun memeriksa napas dan juga denyut nadinya
"Sangat lemah. Cepat panggilkan dokter!" Teriak Rian pada orang-orang disana
"Permisi, boleh aku lewat?" Bastian melewati kerumunan untuk melihat orang yang katanya terluka. Betapa terkejutnya dia begitu mengenali pakaian Rendra
"Rendra! Om, apa yang terjadi padanya?!" Bastian meninggikan suara dan bertanya dengan panik pada Rian
__ADS_1
"Om juga tidak tahu. Tadi seorang pelayan menemukan Rendra sudah bersimbah darah disini" Rian menjelaskan dengan sikap yang tenang
"Kalian tunggu apalagi?! Cepat panggilkan dokter!" Bastian terlihat sangat panik dan air matanya tanpa terasa mulai menetes begtu saja
"Ren, bangun Ren. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" Bastian bicara dengan kepala terunduk dihadapan tubuh Rendra dan air matanya mulai menetes di tangan Rendra
"Kenapa lama sekali dokternya?!" Teriak Bastian yang semakin panik
"Aku harus membawanya sendiri!" Ujar Bastian yang mulai mengangkat tubuh Rendra
"Tenanglah dulu! Untuk apa kamu bersikap seperti ini padanya? Dia itu tidak penting bagimu!" Ujar Rian yang berusaha menghalangi Bastian
"Om, dia itu adikku! Bagaimana mungkin dia tidak penting bagiku?!" Bastian semakin kesal dan panik ketika mendengar ucapan Rian
Wiu wiu wiu
"Ambulance sudah datang!" Seseorang berteriak ketika Bastian akan membawa Rendra
"Permisi, beri kami jalan!" Petugas medis langsung melewati kerumunan orang dengan membawa tandu untuk mengangkat tubuh Rendra dan segera membawanya kerumah sakit
"Pak Bastian!" Bastian yang hendak naik mobil ambulance menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya
"Alan? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Bastia karena heran
"Saya kemari karena ..."
***
"Kenapa belum ada kabar dari Kenzo? Apa yang sebenarnya terjadi pada Rendra?" Risha masih menunggu dengan panik karena dia masih tidak bisa menghubungi Rendra
"Kenzie ... apa yang sedang dia lakukan sekarang ya? Apa dia bisa membantuku?" Pikir Risha yang teringat pada Kenzie
***
Saat ini Kenzie sedang menghadapi pak Arseno. Sejak pagi pak Arseno tidak membiarkannya bersantai sedikit pun
"Harus berapa lama lagi aku melakukan ini om?" Tanya Kenzie yang mulai lelah
"Anak muda tidak boleh lemah. Kamu harus sehat dan kuat agar bisa melindungi putriku" Ujar pak Arseno yang meminta Kenzie terus memukul samsak tanpa henti
"Om, sebenarnya om itu mau memintaku melatih tubuhku atau berniat membunuhku? Sejak pagi kita sudah lari, lalu beladiri dan sekarang memukul samsak. Om memiliki dendam padaku ya?" Tanya Kenzie yang terengah-engah karena kelelahan
"Kamu itu sakit karena kurang olahraga. Karena itu fisikmu lemah" Arseno bersikeras membuat Kenzie berolahraga
"Aku itu sakit karena kelelahan. Jika om memintaku olahraga dengan keras seperti ini artinya om ingin membunuhku" Kenzie sama sekali tidak ingin kalah dengan Arseno.
"Anak muda zaman sekarang. Apa hanya sebatas ini saja kekuatanmu?" Ujar Arseno lagi dengan sikap yang tenang
__ADS_1
"Om, pelatihan militer saja tidak seperti ini. Bagaimana bisa om memintaku yang baru saja sembuh dari sakit berlatih keras seperti ini? Aku sudah tidak ingin bermain kebugaran lagi dengan om" Kenzie pun berhenti dan mendekati ponselnya yang diletakkan dekat handuk kecil
"Eh" Kenzie terkejut melihat Risha menghubunginya
"Kenapa ekspresimu begitu?" Tanya pak Arseno melihat ekspresi wajah Kenzie
"Tidak papa om. Sepupuku berkali-kali menghubungiku. Maaf om aku akan telepon dia dulu" Kenzie pun langsung menghubungi Risha
Tuut tuut tuut
"Halo, Zie" Terdengar suara Risha dari ujung telepon dengan nada sedih
"Sha, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Kenzie menanggapi dengan nada yang panik
"Zie … Rendra …"
"Ada apa dengan Rendra?" Kenzie semakin khawatir ketika mendengar Risha bicara sambil menangis
"Aku tidak bisa menghubunginya lagi hiks… hiks …" Risha terus menangis saat dia bercerita pada Kenzie
"Tenanglah dulu. Ceritakan pelan-pelan padaku" Ujar Kenzie yang berusaha menenangkan Risha
"Tadi aku sedang menelepon Rendra. Saat ini dia sedang berada di pesta omnya Bastian. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seseorang. Entah itu Rendra atau bukan Tapi setelah itu ponsel Rendra tidak. bisa dihubungi. hiks… hiks…" Risha berusaha bercerita setenang mungkin pada Kenzie
"Kamu sudah hubungi Bastian?" Tanya Kenzie lagi dengan tenang
"Sudah, tapi dia tidak bisa dihubungi. Aku sudah minta bantuan pada Kenzo tapi dia juga belum memberiku kabar. Zie, bagaimana ini? Aku takut terjadi sesuatu pada Rendra" Risha mengeluh disela isak tangisnya
"Tenanglah dulu. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Kita tunggu kabar dari Kenzo. Dia pasti akan menghubungimu nanti"
"Ya, aku akan menunggu kabar dari Kenzo" Jawab Risha yang sedikit tenang
"Kalau begitu sampai jumpa. Kabari aku jika kamu mendapatkan kabar lagi"
"Hemn … Baiklah. Sampai jumpa" Risha dan Kenzie pun mengakhiri perbincangan mereka
"Apa yang terjadi? Apa ada masalah serius?" Meisya berjalan mendekati Kenzie dengan membawa minuman ditangannya dan memberikannya pada Kenzie
"Tadi sepupuku Risha. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Rendra sampai dia panik. Semoga saja tidak ada masalah serius" Kenzie menjawab sambil menerima gelas berisi minuman dari tangan Meisya
"Kuharap juga begitu. Apa kamu akan pergi menemui sepupumu?" Tanya Meisya lagi yang penasaran
"Tidak. Aku akan menunggu kabar lebih lanjut dari Risha dan Kenzo. Jika Kenzo menghubungiku, aku akan langsung pergi menemui Risha. Aku yakin Kenzo juga akan langsung terbang kemari jika terjadi sesuatu pada Rendra. Mereka sudah lama berteman, dan meskipun Kenzo orang yang dingin, dia bukan orang yang akan mengabaikan orang terdekatnya begitu saja" Jawab Kenzie dengan senyum tipis
"Kamu sangat percaya padanya?" Tanya Meisya dengan senyum lembut
"Tentu saja. Dia saudara kembarku, aku tahu betul bagaimana sifat dan karakternya"
__ADS_1