
"Pak Bastian, sebenarnya apa yang terjadi pada pak Rendra?" Alan bertanya dengan raut wajah khawatir. Saat ini mereka sudah berada dirumah sakit dan menunggu Rendra yang sedang ditangani di ruang IGD
"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa dia jatuh dari balkon. Dia ditemukan ketika sudah jatuh dan bersimbah darah ditanah. Saat itu terjadi aku sedang berbincang dengan saudaraku yang lain dan aku memintanya untuk menunggu sebentar sambil menikmati pestanya" Bastian bicara sambil menundukkan kepala disertai air mata yang terus mengalir
Drrt drrt drrt
Ponsel Alan tiba-tiba berdering dan itu adalah panggilan dari Kenzo
"Permisi pak, saya terima telepon dulu" Alan pun menerima teleponnya setelah Bastian menganggukkan kepala
"Halo, pak Kenzo" Sapa Alan begitu menerima telepon. Bastian yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar nama Kenzo
"Bagaimana? Apa kamu sudah pergi kerumah Rian?" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin dan tenang
"Ya pak dan sekarang ... saya sedang berada dirumah sakit" Alan sedikit ragu-ragu saat menjawab pertanyaan Kenzo
"Dirumah sakit? Apa yang terjadi? Cepat katakan!" Kenzo sudah terdengar panik saat ini. Nada bicaranya yang biasa tenang, kini terdengar bergetar
"Itu ... pak Rendra ... dia ..."
"Cepat katakan!" Kenzo tidak lagi bersabar untuk mendengar Alan yang ragu-ragu
"Pak Rendra mengalami kecelakaan. Dia jatuh dari balkon dan sekarang sedang ditangani dokter. Tapi kami belum tahu bagaimana kindisinya sekarang" Alan menjelaskan kondisi Rendra setelah Kenzo mendesaknya
"Apa katamu?! Jatuh dari balkon?!" Kenzo kembali mengulang perkataan Alan untuk memastikan apa yang dia dengar
"Ya, tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya, tapi tadi sudah ada yang menghubungi polisi untuk mencari tahu kronologi kejadiannya" Alan menjelaskan dengan sikap yang tenang
"Apa Bastian tahu kalau Rendra jatuh?" Kini Kenzo bertanya dengan nada yang tegas dan dingin
"Ya pak. Saat saya tiba disana, pak Bastian yang akan membawa pak Rendra ke rumah sakit. Sekarang beliau Ada disini bersama saya" Alan menjelaskan apa yang dia ketahui.
Meskipun dia belum pernah bertemu Kenzo, namun dari apa yang dia dengar dari Rendra, Alan bisa tahu bagaimana karakter Kenzo
"Berikan telepon itu padanya. Aku ingin bicara"
"Baik pak" Alan pun langsung mendekati Bastian dan memberikan telepon padanya
"Maaf pak. Pak Kenzo ingin bicara dengan bapak"
Bastian pun dengan ragu-ragu menerima teleponnya
"Ha-lo"
"Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan selama dipesta? Kamu yang mengundangnya, tapi kamu yang malah mengabaikan dia. Kamu lupa apa yang pernah aku katakan padamu dulu, hah? Kubilang jaga Rendra, jika terjadi sesuatu padanya kamu akan memiliki nasib seperti ibumu" Kenzo bicara dengan nada yang dingin dan menyeramkan
"Aku tidak tahu apa yang terjadi.. Aku tidak mungkin dengan sengaja mencelakai Rendra. Aku juga sudah bilang padamu saat aku akan menjemput dia. Aku akan menjaganya, mana mungkin sekarang aku mencelakainya" Bastian langsung menyangkal dengan nada yang panik
"Dengar Bastian. Aku tidak peduli kalaupun kamu kakaknya Rendra. Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku akan buat perhitungan dengan kalian. Siapapu yang mencelakai Rendra akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Kalian tidak akan bisa lari dariku. Ingat itu! Berikan ponselnya pada Alan!" Bastian memberikan ponselnya pada Alan dengan tangan yang gemetar
"Halo, pak" Alan kembali bicara dengan Kenzo, Dia terlihat heran ketika melihat ekspresi Bastian dan juga tangannya yang gemetar.
"Tolong kamu jaga Rendra. Jangan pernah tinggalkan dia sendiri. Aku akan berangkat kesana sekarang juga"
"Baik pak. Saya mengerti" Alan dan Kenzo pun mengakhiri percakapan mereka
__ADS_1
Disana Bastian masih gemetar ketakutan mendengar ucapan Kenzo. Dia tahu betul kalau Kenzo tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dia ingat betul apa yang pernah Kenzo lakukan pada ibunya saat dia masih duduk di bangku SMA
Flash back on
Hari itu sudah cukup lama Rendra dan Kenzo saling mengenal setelah terakhir kali Kenzo menyelamatkan Rendra yang jadi korban kecelakaan bersama ibunya.
"Apa yang terjadi denganmu? sejak kapan kamu murung begitu? Ada masalah lagi dengan ibu tirimu?" Kenzo bertanya dengan sikap yang acuh tak acuh dan nada yang dingin
"Akan ada makan malam keluarga dirumah dan kamu tahu sendiri kalau aku tidak bisa makan dirumah. Nyawaku bisa jadi taruhannya saat aku berada disekitar mereka" Rendra menjawab dengan wajah murung
"Kamu takut? Bukannya aku sudah memberitahumu trik-trik kecil menghindari makan malam?" Kenzo bicara degan senyum tipis dibibirnya
"Hish ,,, kamu pikir aku hanya akan berada 1 atau 2 menit saja disana?" Rendra menjawab dengan sinis
"Lalu aku harus bagaiamana? Terserah kamu sajalah" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang dingin kemudian kembali fokus pada gamenya
Saat makan malampun tiba. Rendra dengan berat hati duduk bersama ayahnya, ibu Bastian dan juga Bastian
"Rendra, kenapa tidak kamu nikmati makananmu? Kamu tidak suka?" Ibu Bastian bicara dengan lembut karena berada di depan sang suami
"Aku menyukainya" Rendra makan hanya sedikit, dia berusaha untuk tidak makan apapun yang dihidangkan disana. Namun pada akhirnya justru racun berada di minuman Rendra. Setelah dia meminumnya Rendra mengeluarkan busa dari mulutnya
Khek ... khek ... Khek …
Tenggorokannya seakan rercekik. Dadanya mulai sesak dan napasnya benar-benar tertahan Dan terasa berat. Rendra pun tak sadarkan diri namun pelayan dengan cepat membawanya kerumah sakit
"Sial lagi-lagi anak itu selamat!" Ibu Bastian terlihat sangat kesal saat menemani sang suami dirumah sakit
"Dimana Rendra? Bagaimana keadaannya?" Kenzo datang kerumah sakit dengan gayanya yang tenang dan sikapnya yang dingin
"Aku temannya. Katakan bagaimana keadaannya!" Kenzo sama sekali tidak terlihat takut meskipun disana ada ayah Rendra yang memperhatikannya
"Dia didalam dan kondisinya sudah membaik" Ayah Rendra pun menjawab dengan nada bicara yang lemah
"Anda ayahnya Rendra? Bagaimana bisa ada orang tua seperti anda di dunia ini?" Kenzo bicara dengan dingin dan sorot mata yang tajam
"Apa maksudmu?" Tanya ayah Rendra dengan sikap tenang
"Sudah jelas anda tidak bisa melindungi wanita yang anda bilang sangat anda cintai itu. Yang dengan beraninya anda jadikan istri kedua. Sekarang anda juga tidak bisa melindungi putra anda. Apa yang bisa anda lakukan? Jika anda seorang pengecut, untuk apa anda membuat mereka ada disisi anda dan membahayakan nyawa mereka?"
Ayah Rendra hanya bisa diam dengan kepala sedikit tertunduk mendengar perkataan Kenzo. Dia tidak bisa menyangkal karena itu memang benar adanya.
"Hei, jaga bicaramu! Kalau tidak, kami akan melaporkanmu ke polisi. Bagaimana bisa anak ingusan sepertimu bersikap kasar kepada orang tua?!" Ibu Bastian berteriak pada Kenzo dan berusaha membuatnya diam
"Silahkan saja. Anda pikir saya takut? Saat anda melaporkan saya, saat itu juga saya akan melaporkan kalian atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga, penyiksaan terhadap anak dibawah umur dan percobaan pembunuhan!" Kenzo mengancam ibu Bastian dan membuatnya terdiam tanpa bisa melakukan apapun. Dia terlihat tegas tanpa rasa takut sama sekali.
***
Hari lain lagi
Tring
"Untuk apa Rendra mengirimkan lokasinya?" Kenzo terlihat bingung saat menerima lokasi dari ponsel Rendra. Diapun membuka pesannya.
"Pinggiran kota? Apa yang dia lakukan disana?" Kenzo berpikir keras saat melihat lokasi itu. Tanpa pikir panjang lagi, Kenzo langsung bergegas dengan motor sport miliknya mengejar Rendra ke lokasi yang dikirim.
__ADS_1
Eum... Eum....
"Rendra, kali ini kamu tidak akan bisa selamat. Tidak akan ada yang bisa menolongmu" Ibu Bastian terlihat sombong dan bicara dengan senyum tipis dibibirnya. Sorot matanya terlihat penuh kebencian meatap Rendra yang mulutnya ditutup lakban dan tangan yang diikat
"Ma, jangan lakukan itu. Rendra itu adikku. Dia sudah kehilangan ibunya, jadi biarkan dia hidup. Dia tidak bersalah mah" Bastian berusaha menahan sang ibu agar tidak melakukan hal yang membahayakan
"Jangan ikut campur! Mama melakukan ini semua untukmu. Untuk masa depanmu!" Ibu Bastian tetap ingin melenyapkan Rendra seperti ibunya. Mereka bergegas ke tebing yang berada di pinggiran kota
"Apa yang akan kita lakukan disini mah? Ini berbahaya, kita bisa jatuh ke jurang" Tanya Bastian yang kebingungan atas tindakan sang ibu yang mengarahkan mobilnya ke pinggiran jurang.
"Justru itu rencana mama. Membuat mobil ini jatuh dengan Rendra yang menjadi korbannya. Hahaha"
"Mama sudah gila! Jangan lakukan itu mah. Hentikan!" Bastian berusaha menahan sang ibu agar menghentikan mobilnya sebelum tiba di depan gedung tinggi
"Mama bilang diam! Jangan ikut campur"
"Awas mah!"
Aaah!
Mereka terus bertengkar tanpa menyadari ada motor didepannya
Kenzo dengan sengaja menghadang mobil dan membuatnya berhenti
"Kamu sudah gila?!" Ibu Bastian keluar dari mobil dan berteriak pada Kenzo
Kenzo turun dari motornya dan membuka helmnya
"Kamu lagi?!" Ibu Bastian menyunggingkan senyum mencibir melihat Kenzo
"Kamu ini wanita yang tidak punya perasaan ya? Kamu tidak takut jika aku memasukkanmu dan anakmu ke penjara? Tidak cukup kamu membunuh ibunya, sekarang kamu juga ingin membunuh Rendra?!"
Kenzo berjalan mendekati ibu Bastian dan bicara dengan sikap yang dingin
"Kamu tidak perlu ikut campur! Ini masalah keluarga kami!"
"Rendra itu temanku, aku bisa melakukan apa saja untuk melindunginya"
"Oh ya? Apa yang bisa kamu lakukan?" Ibu Bastian mencibir ucapan Kenzo
"Aku bisa menjatuhkan keluarga Dirga dan juga keluargamu"
"Apa maksudnya? Anak ingusan sepertimu, hah? Jangan bercanda?" Ibu Bastian semakin mencibir Kenzo
"Anda pikir aku bercanda. Bagaimana kalau aku bilang kalau keluarga Kusuma bisa melakukan apa saja?"
"Keluarga Kusuma? Maksudmu apa lagi?"
"Aku Kenzo Osterin Anggara, Dan aku bisa membuat keluarga kalian hilang dalam semalam" Kini Kenzo menyeringai menatap ibu Bastian
"Tidak tidak mungkin. Lagipula aku tidak melakukan apapun pada keluarga Kusuma"
"Oh ya, sayangnya kamu sudah berani menyinggungku. Dan anakmu ini tidak akan bisa diterima di universitas manapun. Kuharap kamu tidak lagi mengganggu Rendra" Kenzo langsung berjalan ke mobil dan menbantu melepaskan Rendra
Sedangkan ibu Bastian meninggal dalam kecelakaan karena depresi dan takut pada ancaman Kenzo
__ADS_1
Flash back off