Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Berkumpulnya Keluarga Kusuma


__ADS_3

Keluarga Kusuma langsung pergi ke hotel mewah yang telah mereka pesan sebelumnya. Mereka akan berkumpul disana untuk merayakan pernikahan Kenzo dan Safira


"Selamat ya Zo. Akhirnya kamu telah menikah"  Diaz bicara dengan senyum lembut pada Kenzo


"Terimakasih om" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah


'Selamat ya Zo atas pernikahanmu" Kini Biru yang memberikan ucapan selamat padanya


"Terimakasih kek"


"Lihatlah siapa yang baru saja tiba disini" Semua orang menoleh kearah pintu masuk ketika Cheva mengatakan seseorang datang


"Vio! Akhirnya mami bisa melihat kamu lagi, sayang" Gina langsung memanggil Vio yang baru datang bersama Leo dan juga keluarga Radit


"Mami, papi. Bagaimana kabar kalian?" Vio tersenyum lembut saat dia menyapa Yudha dan Gina dengan nada bicaranya yang lembut


"Kami baik. Kami senang karena kamu bisa berkumpul lagi dengan kami disini" Yudha pun menanggapi Vio dengan senyum lembut dan nada bicara yang tenang


"Kak Bi, kak Ji. Bagaimana kabar kalian?" Kini Vio beralih pada Bi dan Ji yang terus memperhatikannya


"Kami juga baik. Senang bisa melihatmu berkumpul lagi dengan kami" Ji menarik Vio kedalam perukannya dan memeluknya dengan erat


"Aku juga senang bisa melihat kalian lagi. Maaf karena aku tidak pernah mengunjungi kalian" Vio bicara dengan suara lembut dan penuh penyesalan


"Tidak masalah. Yang penting sekarang kamu bisa berkumpul lagi dengan kami. Oh apa ini Lathan dan Ardhan? Waah kalian sangat tampan ya" Ji menenangkan Vio kemudian mengalihkan pandangannya pada Lathan dan adiknya Ardhan


"Halo nek. Lama tidak bertemu" Lathan menyapa Ji dengan sikap yang tenang


"Ya, bagaimana kabarmu, Lathan? Kamu sudah sangat tinggi sekarang. Aku rasa kamu jadi salah satu pria paling populer disekolahmu" Ji terus menyanjung Lathan yang hanya tersenyum melihatnya


"Nenek Ji terlalu berlebihan. Aku tidak mungkin seperti itu. Aku tidak bisa menyaingi kak Zo dan juga kak Zie yang pandai dalam segala hal" Lathan bicara dengan nada merendah untuk menghormati Jingga

__ADS_1


"Hei hei ... akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi" Kenzie langsung melingkarkan tangannya di leher Lathan ketika dia melihatnya


"Kak Zie! Bagaimana kabarmu? Aku senang bisa bertemu denganmu lagi" Lathan langsung merangkul Zie karena bahagia


"Kabarku baik. Aku juga senang bisa melihatmu lagi. Keluargamu sungguh sulit untuk ditemui" Kenzie mengeluh karena dia tidak pernah bertemu dengan Lathan


"Maafkan aku. Mami dan papi selalu sibuk dengan perusahaan dan juga hotel. Jadi kami tidak bisa sering hadir dalam pertemuan dengan keluarga. Maaf ya" Lathan bicara dengan raut wajah penuh penyesalan


"Ardhan!"


"Kak Zo!" Ardhan langsung berlari dan berhambur kepelukan Kenzo begitu dia melihatnya


"Owh ... Ardhan sudah semakin besar ya? Tapi kamu selalu ingin digendog begini. Bagaimana ini?" Kenzo menggoda Ardhan yang kini menginjak sekolah SMP


"Habisnya kakak sangat kuat. Bahkan aku yang sudah sebesar ini pun masih bisa digendong oleh kak Zo" Jawab Ardhan dengan senyum ceria di bibirnya


"Ardhan, turun! Kamu tidak kasihan kalau pengantin kita dipenuhi keringat?" Radit menyela pembicaraan Ardhan dan juga Kenzo dengan senyum yang lembut


"Kami baik. Selamat ya atas pernikahan kalian. Om tidak menyangka kalau kamu menikahi seorang artis terkenal. Tapi ... apa matanya tidak buta? Kenapa dia mau menikah dengan orang sepertimu?" Radit menggoda Kenzo dengan senyum dibibirnya


"Mau bagaimana lagi om, keponakan om ini sangat tampan, jadi tidak ada alasan untuk Safira menolak cintaku padanya" Kenzo menjawab dengan tenang dan penuh percaya diri


"Cih, masih saja narsis. Kamu tidak bisa mengurangi sedikit sikapmu yang narsis itu? Om pikir kamu terlalu melebihkan dirimu sendiri" Radit bicara dengan nada mencibir namun sikapnya sangat tenang


"Ini sudah tidak bisa dikurangi om karena memang kenyataannya begini. Aku harap om dapat mengerti keadaanku" Ujar Kenzo dengan sikap yang tenang dan senyum bangga dibibirnya


"Yah mau bagaimana lagi kalau memang sudah begini jadinya"


Mereka semua berkumpul dan saling berbincang satu sama lain dengan membahas banyak hal. Mulai dari bisnis, kesehatan dan keluarga. Semua terlihat sangat gembira dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah mereka saat bicara.


Hotel yang mereka sewa pun dijaga dengan ketat oleh pengawal Yudha dan juga anak buah Ji dan Bi. mereka tidak mengizinkan wartawan dari majalah manapun masuk kedalam restoran

__ADS_1


"Apa kalian sudah memiliki rencana bulan madu? Kalian akan pergi kemana?" Cheva bertanya dengan senyum yang ceria. Tidak terlihat lagi kesedihan yang tadi muncul saat di catatan sipil


"Kami belum memiliki rencana. Mungkin kami akan menundanya untuk sementara waktu karena Safira baru kembali ke dunia keartisannya dan aku masih memilki perjanjian kerjasama yang harus diselesaikan" Ujar Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang sambil menikmati makanannya


"Berapa lama kalian akan menundanya?" Kini Cheva bertanya pada Safira dengan sikap yang tenang dan senyum lembut


"Ehm ... kami masih belum tahu tante" Jawab Safira yang terlihat salah tingkah karena merasa gugup ketika berkumpul untuk yang pertama kalinya


"Apa?! Tante?! Kamu sudah jadi istri Kenzo, berati kamu juga putri mami. Jadi jangan panggil tante, panggil mami dan papi seperti Kenzo dan Kenzie" Cheva terkejut mendengar panggilan Safira padanya dan menegur Safira dengan sikap yang sinis dan tegas


"Baik tan, eh mami? Fira akan mencoba membiasakan diri sekarang" Safira menjawab dengan sedikit terbata dan itu membuat semua orang terbahak dengan reaksinya


"Hahaha ... Cheva Cheva ... kamu itu seperti ibu mertua yang jahat saja" Diaz terbahak melihat ekspresi Cheva dan Safira


"Kak Diaz, ini tidak lucu! Aku hanya meminta Fira memanggilku mami, bukan memintanya untuk mencuci pakaian kotor dan mengepel lantai" Ujar Cheva lagi dengan sikap yang sinis


"Aku tahu, tapi jika kamu menegur Fira dengan mata seperti itu, kamu malah membuatnya takut. Kamu tidak sadar kalau tampangmu itu sangat menyeramkan?" Diaz terus saja menggoda Cheva dan membuatnya mengerucutkan bibir karena kesal


"Apa iya aku seperti itu? Rasanya aku ini sudah memasang wajah imut dan menggemaskan. Darimananya aku terlihat menyeramkan?" Cheva yang ragu dengan ucapan Diaz langsung mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan melihat sendiri ekspresi wajahnya saat ini


"Apa? Imut dan menggemaskan? Kak Cheva tidak salah? Kurasa kakak hanya ingin membuat menantu barumu ini tambah ketakutan dengan apa yang kamu katakan. Mana ada imut dan menggemaskan yang matanya menatap tajam hingga bola matanya hampir melompat keluar?" Radit pun menimpali apa yang dikatakan Diaz. Mereka kini menyerang Cheva dan menjadikannya bahan bully mereka.


"Owh ... aku tahu sekarang. Jadi kalian berdua sengaja ya ingin menyudutkanku disini? Kalian bekerja sama untuk menyerangku dan membuat semua orang yang hadir disini menilaiku dengan buruk?" Cheva menunjuk pada Diaz dan Radit yang menyudutkannya. Dia bicara dengan nada sinis dan wajah kesal


"Untuk apa kami membuat nilaimu buruk? Toh disini hanya ada keluarga kita saja dan mereka juga tahu kalau kamu memang memiliki kepribadian yang buruk. Sangat buruk" Diaz tidak ingin menyerah menyudutkan Cheva dan terus bekerja sama dengan Radit untuk menjatuhkannya


"Awas saja kalian berdua. Aku pasti akan membuat kalian berdua menyesal dengan apa yang telah kalian lakukan padaku. Papi lihatlah, mereka terus terang-terangan membullyku di depan papi. Papi tidak marah pada mereka?" Cheva yang tidak lagi memiliki jalan keluar, kini meminta dukungan dari Ed


"Radit, Diaz! Berhenti mengganggu putriku. Ini sama sekali tidak lucu!"


"Haah ... pada akhirnya kamu meminta bantuan dari papimu lagi. Kamu tidak meminta dukungan dari Lian?" Diaz bicara dengan nada mengeluh kemudian bertanya dengan serius

__ADS_1


"Untuk apa aku meminta bantuan kak Lian. Toh tanpa aku minta pun kak Lian akan terus mendukungku"


__ADS_2