Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Keputusan Ji


__ADS_3

"Nenek, kenapa nenek memintaku dan Safira kembali kemari? Memangnya ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?"


"Halo nek"


Kenzo dan Safira kembali kerumah Jingga setelah mereka mengantarkan Kenzie dan Risha ke bandara


"Kalian sudah kembali. Duduklah!" Jingga yang sedang duduk bersantai bersama dengan Ed sambil menikmati secangkir teh, menoleh pada Kenzo disertai senyum tipis saat dia melihatnya


"Halo kek. Bagaimana kabar kakek? Kenapa dengan wajah kakek? Wajah kakek terlihat tidak enak dipandang padahal sudah cukup lama kita tidak bertemu" Kenzo menyapa Ed dengan sikap yang acuh tak acuh


"Anak ini. Bagaimana bisa kamu bersikap begitu? Kita baru 2 hari yang lalu bertemu saat acara pernikahanmu" Ed menanggapi Kenzo dengan sikap yang tidak kalah cueknya dengan sang cucu


"Benarkah? Tapi kenapa sekarang wajah kakek kelihatan kusut? Padahal kakek ada disamping nenek. Apa keberadaan nenek tidak lagi membuat kakek menjadi cerah?" Kenzo bicara pada Ed dengan sikap yang tenang dan senyum yang menggoda.


"Apa katamu? Kamu berani bilang begitu pada kakek hah? Seperti wajahmu terlihat segar saja" Ed pun tidak ingin kalah dan menjawab Kenzo dengan sikap yang dingin


"Tentu saja aku terlihat cerah. Karena ada Safira disampingku" Kenzo menoleh pada Safira dengan tatapan lembut


"Cih, mentang-mentang pengantin baru. Kamu mengejek kakek hanya untuk gombal pada istrimu" Ed berdecih kesal dengan sikap Kenzo


"Ed ..."


"Ya, my queen" Sikap Ed langsung berubah ketika Ji memanggil namanya. Kenzo hanya tersenyum tipis menertawakan sang kakek meskipun dia harus mendapat tatapan tajam dari kakeknya itu. Sedangkan Safira terlihat terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat dihadapannya.


"Hah, kakek Ed yang dikenal menyeramkan bisa bersikap seperti itu didepan nenek Ji?" Batin Safira berpikir keras dengan dahi berkerut mematap tak percaya pada perubahan sikap Ed


"Sekarang tolong katakan pada kami, untuk apa nenek meminta kami kemari?" Kenzo kembali bertanya pada Ji karena belum mendapatan jawaban darinya


"Bagaimana kondisi perusahaanmu sekarang?" Ji mengabaikan pertanyaan Kenzo dan justru menanyakan kondisi perusahaan Anggara


"Nenek belum menjawab pertanyaanku kenapa sekarang malah menanyakan kondisi perusahaanku?" Zo terlihat semakin heran karena Ji tidak menjawab pertanyaannya


"Nenek hanya ingin tahu perkembanganmu saja" Ji menanggapinya dengan sikap yang tenang sambil mengesap teh miliknya


"Perusahaanku sudah semakin membaik. Perlahan harga saham perusahaan mulai naik dan sejauh ini perkembangannya juga stabil" Kenzo pun menjelaskan pada Ji kondisi perusahaannya saat ini

__ADS_1


"Kalau begitu kamu sudah bisa mengambil alih perusahaan nenek juga?" Ji bertanya dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis


"Nenek, aku belum memperbaiki keadaan perusahaan dengan baik. Aku masih belum mencapai target sampai perusahaan Anggara diakui sebagai perusahaan besar seperti perusahaan keluarga kita yang lain. Lagipula aku baru saja menikah. apa nenek tidak akan membiarkan aku bernafas lega sebentar saja?" Kenzo mendelik saat dia bicara pada sangĀ  nenek


"Sampai kapan waktu bernapas yang kamu maksud itu?" Ji kembali bertanya dengan sikap dingin


"Ehm ... mungkin 1 tahun lagi?" Kenzo berusaha bernegosiasi dengan Ji


"8 bulan" Jawab Ji tegas


"10 bulan?" Kenzo sedikit mengurangi keinginannya


"6 bulan" Ji juga tidak ingin kalah dan mengurangi waktu yang dia berikan untuk Kenzo


"8 bulan?" Kenzo masih berusaha tawar menawar dengan ji


"3 bulan"


"Tidak, tidak. Aku akan meminta waktu 6 bulan saja" Jawab Kenzo dengan panik


"Tidak, nenek memberimu waktu 3 bulan dari sekarang. Kamu sudah harus membereskan masalah penting diperusahaan Anggara dan mengambil alih JB Company" Ji bicara dengan tegas tanpa memberikan Kenzo kesempatan untuk melakukan penawaran lagi


***


Risha baru saja tiba dikantor. Dia datang bersama dengan Diaz. Mereka tidak lagi menutupinya karena hampir semua orang dikantor sudah tahu hubungan diantara mereka berdua setelah Risha mengatakannya pada Daniel sebelumnya


"Lihatlah itu, sekarang Pak Diaz dan Bu Risha sudah terbuka dengan hubungan mereka. Bagaimana reaksi Bu Tania ya kalau melihat suaminya bersama dengan wanita lain?" Para karyawan sedang berkumpul untuk melakukan absen pagi. Mereka pun saling berbisik begitu melihat Risha dan Diaz yang baru saja tiba


"Memangnya kamu tidak tahu kalau pacarnya bu Risha itu adalah investor perusahaan kita yang pernah datang kemari dengan menggunakan kursi roda itu?"


"Tapi bukannya bu Risha itu pujaan hati pak Diaz?"


"Tidak, mereka adalah ayah dan anak"


"Hah?! Ayah dan anak?!"

__ADS_1


"Ya mereka adalah ayah dan anak. Kami juga baru tahu saat pacarnya Bu Risha datang sebagai investor baru untuk film perusahaan ini. Meskiipun dia menggunakan kursi roda tapi dia sangat tampan dan gagah dan dia juga bukanlah orang sembarangan. Dia merupakan penerus Dirga Electronik"


"Wah wah wah memang ya kalau orang ternama itu tidak mungkin mencari seseorang dari kalangan biasa. Meskipun dia cacat, tapi dia masih memiliki keuntungan untuk perusahaan dan keluarganya.Sama halnya dengan orang biasa yang mencari pria untuk penopang hidup, orang kaya juga mencari pasangan yang menguntungkan untuk ekonominya"


Mereka terus bicara sambil berjalan menuju ruang kerja mereka. Tanpa mereka tahu, Risha berada disudut dan mendengar percakapan mereka


"Apa mereka melihat hubunganku dan Rendra hanya karena saling menguntungkan? Bagaimana bisa mereka juga berpikir kalau aku memanfaatkan kelumpuhan Rendra sebagai keuntungan bagiku?" Risha bicara sendiri sambil menatap punggung para gadis itu dengan tubuh bersandar pada dinding, dia juga menyilangkan tangannya didada dan tersenyum mencibir para gadis itu


"Haah ... kapan Rendra akan bisa jalan lagi? Rasanya aku ingin menampar mereka dengan menunjukan kedekatan hubunganku dengan Rendra saat dia sudah pulih nanti. Aku ingin menunjukan pada dunia kalau kami saling mencintai, bukan saling menguntungkan dalam bisnis. Haish menyebalkan!"


Risha terus bicara sendiri sambil berjalan pergi dari sana dengan langkah yang tenang dan terlihat anggun


"Aku jadi merindukan Rendra. Bagaimana terapinya ya? Apa dia sudah lebih baik sekarang?"


***


DItempat lain, Rendra sedang melakukan terapi rutinnya untuk melatih kekuatan kakinya


"Bagus pak, anda sudah bisa berdiri, jadi sekarang kita mulai berlatih melangkah tanpa bantuan apapun" Dokter yang menangani Rendra bicara dengan senyum yang ramah dan sikap yang tenang


"Haaah"


Rendra pun menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia mulai berlatih melangkahkan kakinya. perlahan dia berdiri dari kursi rodanya. Dia menurunkan satu persatu kakinya dari kursi roda kemudian dia bertumpu pada kedua tangannya yang menopang tubuhnya. Rendra masih terlihat gemetar saat berdiri. Kakinya masih belum terlihat stabil, dia masih terus mencoba untuk tetap berdiri dengan tegap.


"Ya seperti itu pak. Anda bisa berpegangan lebih dulu pada besi yang ada di samping anda" Dokter memberikan instruksi pada Rendra agar memegang besi yang terpasang pada dinding rumah sakit. Rendra pun mengikuti apa yang diinstruksikan. Dia berjalan perlahan menyusuri dinding yang ada diruang terapi


"Bagus, sekarang anda bisa melepaskan pegangan tangan anda. Perlahan ... lepaskan tangan anda, melangkahlah selangkah demi selangkah. Rileks, anda tidak perlu gugup. Ya, terus seperti itu" Dokter terus bicara saat membimbing Rendra yang mulai bisa berjalan secera perlahan


"Cukup, saya rasa hari ini sudah cukup. Anda tidak perlu terlalu membebankan kaki anda. Perlahan saja, ini sudah perkembangan yang baik. Anda bisa berlatih sendiri tapi jangan terlalu berlebihan dulu"


"Baik dokter. Terimakasih" Sementara Rendra berbincang dengan dokter, Billy mengambilkan kursii roda dan mendekatkannya pada Rendra setelah dokter mulai beranjak pergi.


"Sama-sama pak. Saya duluan" Dokter keluar ruangan lebih dulu sementara Rendra dan Billy bersiap untuk pergi


"Selamat pak. Perkemangan anda semakin bagus setiap harinya. Apa ... anda akan memberitahu bu Risha?" Billy bertanya dengan sikap yang tenang

__ADS_1


"Nanti, aku ingin memberikan kejutan padanya saat datang ke perusahaan Sanjaya untuk membahas kontrak lanjutannya" Rendra menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis


"Baik pak. Saya mengerti"


__ADS_2