
Cheva dan Lian tiba di bandara saat tengah malam, jadi mereka tidak bisa langsung kerumah sakit. Melainkan pergi kerumah Ji terlebih dahulu
"My princess, akhirnya kamu pulang. Sudah lama papi tidak melihat wajah cantikmu" Ed berteriak dengan senang begitu melihat Cheva. Dia juga memeluknya dengan sangat erat
"Papi ... hentikan. Aku ini bukan anak kecil lagi. Aku sudah punya dua putra yang sudah dewasa!" Cheva menggerutu dengan nada bicaranya yang manja
"Kamu tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil tapi cara bicaramu masih seperti anak kecil. Padahal kamu sadar kalau kamu sudah sangat dewasa" Ji menyela ayah dan anak itu dengan sikap yang tenang
"Mami, ini bukan salahku. Ini salah kalian karena selalu memanjakanku" Cheva membela diri dengan menyalahkan orang-orang disekitarnya
"Lian, bagaimana kabarmu?" Ji tidak mempedulikan ucapan Cheva dan beralih pada Lian yang telah duduk di kursi dengan tenang
"Aku baik mih. Bagaimana kabar mami dan papi?" Tanya Lian dengan sikap sopan dan tenang
"Kami baik. Kalian pasti lelah. Istirahatlah, besok pagi mami akan meminta supir mengantarkan kalian kerumah sakit" Ji menyarankan pada Cheva dan Lian untuk istirahat karena telah menempuh perjalanan jauh dan juga ini sudah sangat malam
"Queen, apa sebaiknya besok kita ikut mereka ke rumah sakit? Kurasa tidak ada salahnya kalau kita menjenguk Safira" Ed menyarankan itu agar dia bisa lebih lama bersama Cheva
"Tidak bisa. Besok kita harus ke kantor dan juga, kedatangan mereka ke rumah sakit pasti akan menyebabkan keributan, jika kita juga ikut kesana, kamu pasti sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kan?" Ji menggelengkan kepala dan bicara dengan tenang menolak permintaan Ed
"Ya, kamu benar. Itu bukan rencana yang bagus" Ujar Ed dengan raut wajah kecewa
"Kalau begitu kami ke kamar dulu mih, pih" Ujar Cheva sambil menggandeng tangan Lian
"Queen, kenapa kamu tidak mengizinanku ikut dengan my princess? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya" Ed mengeluh dengan raut wajah kecewa
"Aku kan sudah beritahu alasannya. Jadi tidak usah dibicarakan lagi ya. Kamu harusnya peduli pada kedua cucumu yang beranjak dewasa, bukan pada anakmu yang jelas-jelas sudah menikah dan dan memiliki 2 putra" Ji mengomentari sikap Ed yang tidak berubah pada Cheva
"Mereka anak laki-laki yang tidak menggemaskan. Lain halnya dengan putriku satu-satunya yang lucu" Ed terus membanggakan Cheva yang paling dia sayangi
"Sudahlah, tidak akan ada habisnya bicara denganmu"
"My queen, tunggu aku. Kenapa kamu meninggalkan aku?"
Ji bicara sambil berjalan pergi menuju kamarnya di ikuti Ed yang berjalan dibelakang sambil merengek
***
Keesokan harinya Cheva dan Lian langsung berangkat kerumah sakit dimana Safira dirawat. Mereka membawa seikat karangan bunga yang cantik untuk Safira
__ADS_1
"Apa kamu yakin kalau ini rumah sakitnya?" Lian bertanya pada Cheva untuk memastikan kalau rumah salit yang mereka kunjungi adalah tempat yang benar
"Tentu saja kak Lian. Mana mungkin mami mendapatkan informasi yang salah? Ayo kita masuk ke dalam" Cheva bicara dengan senyum ceria diwajahnya. Mereka pun berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan saling bergandengan tangan
"Eh eh, bukannya itu Cheva dan Lian? Apa yang sedang mereka lakukan disini?"
"Benar, itu mereka. Atau mungkin ... ada saudara mereka yang sakit?"
Beberapa orang menyadari kedatangan Lian dan Cheva meskipun mereka sudah menggunakan kacamata hitam agar tidak ada yang mengenali mereka
"Sepertinya mereka sudah sadar mengenai keberadaan kita?" Cheva berbisik pada Lian dengan mata yang terus menoleh kesana kemari mengawasi tatapan orang-orang yang mulai saling berbisik.
"Tentu saja. Mana mungkin mereka tidak menyadari keberadaan kita padahal penampilan kita ini sangat menarik perhatian orang" Lian bicara dengan nada yang dingin dan penuh percaya diri
"Kak Lian, apa sekarang waktunya kamu untuk bersikap narsis?" Cheva bicara dengan nada yang sedikit mencibir dan memukul tangan Lian dengan pelan
Lian dan Cheva pun berjalan menuju meja informasi untuk menanyakan ruang rawat Safira
"Permisi, kamar pasien bernama Safira ada disebelah mana ya?" Tanya Cheva dengan sikap yang sopan
"Oh ada dilantai atas ruang VVIP" Jawab perawat dengan sikap yang sopan
"Terimakasih. Ayo kita ke atas" Lian menganggukkan kepala menanggapi ajakan Cheva dan mereka kembali melanjutkan langkah mereka menuju kamar Safira. Lian dan Cheva terus berjalan dan mengabaikan orang-orang yang menatap mereka
"Zo, apa setelah pemeriksaan nanti, aku sudah bisa langsung pulang?" Safira bertanya dengan sikap yang lembut
"Ya, kita hanya tinggal menunggu pemeriksaan saja. Setelah itu kamu bisa pulang, tapi kamu masih tetap harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu lelah. Mulai sekarang aku akan menemanimu syuting setelah aku selesai bekerja" Zo menjawab dengan sikap yang tenang
"Ra, apa jadwal Safira bisa sedikit dikurangi? Aku tidak ingin dia terlalu lelah karena syuting" Kenzo beralih bicara pada Tiara
"Tenang saja kak Kenzo, kak Mona sudah mengatur ulang jadwa kak Safira dan memberikan waktu padanya untuk beristirahat" Tiara menjelaskan dengan senyum ceria
Tok tok tok
Percakapan mereka terganggu setelah mendengar suara ketukan pintu. Tiara langsung beranjak untuk membuka pintu
"Permisi, apa ini kamarnya Safira?" Tiara terkesima melihat Lian dan Cheva ada dihadapannya dengan membawa karangan bunga
"Be-benar ini kamar kak Safira. Silahkan masuk!" Tiara sangat gugup meskipun wajahnya terlihat senang
__ADS_1
"Siapa Ra?" Tanya Safira dengan tenang. Kenzo pun menatap ke arah pintu
"Mami, papi? Apa yang kalian lakukan disini?!" Kenzo dan Safira tampak terkejut melihat kedatangan Cheva dan Lian
"Mami? Papi?" Gumam Tiara yang terkejut mendengar panggilan Kenzo pada Cheva dan Lian
"Tentu saja kami datang untuk menjenguk Safira" Cheva berjalan mendekati Safira dengan senyum lembut dibibirnya
"Ha-lo om, tante" Sapa Safira dengan sedikit canggung
"Halo, kami dengar dari Kenzo kalau kamu dirawat, karena itu kami datang kemari. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Cheva dengan ramah
"Sudah lebih baik tante. Hari ini juga aku bisa pulang. Terimakasih sudah datang jauh-jauh kemari" Cheva menganggukkan kepala disertai senyum menanggapi ucapan Safira
"Mami, bukannya aku sudah bilang kalau aku akan mengenalkannya pada mami setelah dia sembuh? Kenapa mami malah datang kemari?" Kenzo bertanya dengan sikap yang tenang meskipun terdengar sedikit kesal
"Apa salahnya mami kemari? Lagipula mami tidak percaya padamu, jadi mami harus memastikan sendiri kalau gadis cantik ini memang benar-benar pacarmu" Cheva bicara dengan nada yang mencibir
"Jadi seperti ini hubungan Kenzo dan ibunya? Dia memang suka bersikap dingin. Tapi ternyata dia juga bisa kesal seperti itu" Pikir Safira melihat perdebatan Cheva dan Kenzo
"Jadi kak Kenzo itu putra dari Cheva dan Lian? Apa kak Safira sudah lama tahu tentang ini? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Pantas saja saat kak Safira jatuh kelaut, kak Kenzo membawa beberapa pengawal" Pikir Tiara berusaha mencerna situasi yang ada
"Mami, jika mami kemari pasti akan timbul keributan. Dan semua akan curiga dengan hubunganku dan Safira. Orang-orang memang tahu aku pacarnya, tapi yang mereka tahu itu aku hanya seorang programer saja. Apa jadinya jika semua orang mulai mencari tahu tentang identitasku?" Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tetap tenang
"Apa yang kamu khawatirkan? Bukannya kamu sudah membuktikan kemampuanmu? Sekarang kamu tinggal masuk perusahaan papi menggantikan om Sam disana" Lian pun mulai angkat bicara membela sang istri
"Papi selalu saja membela mami. Apa papi tidak bisa memihak padaku kali ini saja?" Tanya Kenzo dengan sedikit kesal
"Tidak bisa. Karena bagaimanapun, papi akan selalu berada dipihak mamimu" Ujar Lian tegas
"Jangan harap dapat dukungan dari papimu!" Ujar Cheva dengan senyum penuh kebanggaan
Safira dan Tiara menatap Lian dengan kagum
"Mereka memang pasangan yang membuat iri"
Sedangkan Kenzo mencibir sikap orang tuanya
"Haah … Berhentilah memamerkan cinta kalian berdua. Terkadang itu membuatku kesal karena kalian hanya peduli pada satu sama lain"
__ADS_1
"Tidak perlu iri, karena sekarang kamu sudah punya Safira" Goda Cheva pada Lian yang membuat pipi Safira berubah jadi merah
"Mami tenang saja, aku tidak akan bersikap seperti papi"