Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Makan siang Noey dan Mariana


__ADS_3

Mariana langsung kembali kerumahnya setelah dia pulang dari rumah sakit. Betapa terkejutnya dia saat dia tiba dirumahnya.


“A-apa yang kamu lakukan disini? Bukannya kamu pergi ke kantor polisi?” tanya Mariana dengan wajah terkejut ketika melihat Noey sedang membereskan rumahnya yang berantakan karena ulah Sean


“Aku hanya membantu membereskan kekacauan ini saja. Setelah ini selesai, aku akan kembali ke kantor” Noey menanggapi dengan sikap acuh tak


acuh dan dingin


“Te-terimakasih” jawab Mariana dengan kepala tertunduk. Diapun membantu Noey merapikan rumahnya yang berantakan


“Sama-sama” Noey pun kembali menanggapi Mariana. Mereka terus membereskan rumah Mariana tanpa saling bicara dan hanya fokus sampai semua selesai


“Ini sudah selesai. Kalau begitu aku akan kembali ke kantor” ujar Noey ketika mereka telah selesai dengan pekerjaan mereka


“Ehm ... mau makan siang dulu denganku? Anggap saja sebagai ucapan terimakasih” ujar Mariana dengan sedikit ragu-ragu.


“Baiklah ... tapi kurasa tidak baik jika kita makan diluar. Bagaimana kalau pesan layanan antar saja?” Noey menyarankan dengan sikapnya


yang tenang setelah melihat kondisi wajah Mariana yang terdapat memar dan masih sedikit bengkak. Itu tidak akan baik untuk reputasinya jika ada seseorang yang sadar akan keberadaannya dengan wajah seperti itu.


“Tapi ... aku tidak memiliki bahan makanan yang cukup untuk berdua. Oh begini saja, bagaimana kalau kamu tunggu disini dan aku akan pergi sebentar ke super market dekat sini?” tanya Mariana dengan senyum yang lembut.


“Aku akan menemanimu berbelanja” ujar Noey yang langsung mengenakan lagi jasnya


“Tapi ...”


“Ayo pergi” Noey tidak memberikan kesempatan pada Mariana untuk menolak dan dia langsung berjalan lebih dulu


“Haah ... baiklah” Mariana pun kembali mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya dan meraih tas kecil miliknya.

__ADS_1


Mereka berdua pergi ke super market yang letaknya tidak jauh dari rumah Mariana dan memang masih berada disekitar kawasan perumahannya.


“Apa kamu memiliki sesuatu yang tidak bisa kamu makan?” tanya Mariana saat mereka mulai memilih bahan makanan yang akan dibeli.


“Tidak, aku bisa makan apapun” jawab Noey dengan singkat


“Baguslah” Mariana tersenyum mendengarnya. Meskipun dia mengenakan masker, namun itu masih dapat dilihat kalau dia tersenyum.


“Apa saja yang ingin kamu beli? Biar aku bantu memilihkannya” ujar Noey yang kini sedang mendorong troli belanjaan Mariana


“Sayuran, udang, hmn ... bumbu dapur juga, dan mungkin beberapa buah untuk tambahan. Oh daging juga” ujar Mariana dengan nada bicara yang lembut. Mereka terlihat santai dan tidak seperti kalau mereka baru saja bertemu


“Baiklah, aku akan bantu memilihkannya untukmu” Mariana mengangguk dan mereka mulai memilih barang belanjaan. Mariana memilih barang yang ada disebelah kanan dan Noey disebelah kiri. Mereka terus melakukannya sampai tak terasa kalau troli mereka sudah penuh


“Waah ... kenapa bisa jadi penuh begini? Sepertinya tadi aku hanya berniat membeli bahan makanan yang akan kita masak saja” Mariana terlihat bingung saat melihat barang belanjaannya yang sangat banyak


“Entahlah, aku juga tidak mengerti” ujar Noey menanggapi dengan ekspresi yang datar dan kedua bahu diangkat bersamaan.


“Boleh aku bertanya?” Noey terlihat sedikit ragu saat dia ingin bertanya pada Mariana


“Katakan saja!” jawab Mariana dengan senyum ceria


“Kenapa kamu tetap bertahan dengan pacarmu yang kasar seperti itu?” Langkah Mariana langsung terhenti. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia menundukkan kepala setelah mendengar pertanyaan dari Noey


“Kami sudah menjalin hubungan selama 2 tahun. Awalnya dia bukan orang yang kasar seperti itu. Namun beberapa bulan yang lalu, dia mendapatkan surat pemberhentian dari tempat kerjanya. Sejak itu dia mulai berubah. Dia selalu berpikir kalau aku akan meninggalkannya karena dia tidak bekerja. Dia juga mulai marah-marah ketika aku berakting dengan lawan main pria. Setiap aku kembali dari syuting ataupun dia melihat aku beradegan dengan lawan main pria ... dia akan memukul atau menamparku. Aku sudah beberapa kali ingin mengakhiri hubungan kami karena sikap kasarnya itu. Tapi dia akan marah dan semakin memukulku. Beberapa hari yang lalu, aku juga memintanya untuk mengakhiri hubungan kami. Dia memukulku dan mengatakan kepada semua orang kalau aku memiliki hubungan gelap dengan pria lain sampai-sampai perilisan film terbaruku ditunda. Untungnya ada bu Risha yang membantuku. Jika tidak ada dia … mungkin aku tidak akan bisa terbebas darinya”


Mariana bercerita dengan wajah tertunduk sedih. Diapun menitikan air mata yang tidak bisa dibendung lagi atas kepedihan yang dia rasakan selama ini. Dia juga tersenyum ketir dalam derai air mata yang masih terus mengalir deras.


“Tidak perlu diingat lagi. Pria berengsek seperti dia tidak pantas untuk kamu tangisi” Noey bicara sambil menyodorkan sapu tangan yang dia ambil dari saku celananya.

__ADS_1


“Terimakasih. Maaf aku jadi mengatakan ini padamu. Padahal kita baru saja bertemu. Kamu juga telah membantuku. Sekali lagi, terimakasih” ujar Mariana setelah dia menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya.


“Hmn ... ayo kita bayar dan segera kembali” Noey bicara sambil berlalu pergi terlebih dulu menuju meja kasir dan mendorong troli belanjaan mereka. Mariana mempercepat langkahnya untuk bisa mengejar Noey dan mengimbangi


langkah kakinya yang besar.


Mereka langsung kembali setelah membayar belanjaan mereka. Noey membawa kantorng belanjaannya tanpa membiarkan Mariana membawa 1 kantong pun ditangannya.


“Apa kamu tidak butuh bantuanku? Belanjaan ini sangat banyak dan sudah pasti berat. Kamu sampai membawa 3 kantong belanjaan” Mariana mencoba membujuk Noey agar membiarkannya membawa salah satu kantong belanjaan mereka.


“Tidak perlu. Ini bukan apa-apa. Aku masih bisa membawanya seorang diri” Noey tetap bersikap acuh tak acuh setiap kali menanggapi Mariana


“Baiklah. Terimakasih"


“Sampai kapan kamu akan berterimakasih? Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali padaku” ujar Noey yang menatap Mariana dengan tatapan penuh tanya


“Ehm itu ... karena aku memang sangat berterimakasih padamu. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa padamu selain terimakasih” Mariana menanggapi dengan malu-malu karena dia memang sadar telah berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Noey


“Sudahlah, ayo masuk dan mulai masak. Aku masih harus kembali ke kantor”


“Iya” Mariana menganggukkan kepala disertai


senyum menanggapi ucapan Noey. Dia pun langsung masuk kerumahnya dan berjalan menuju dapur untuk membereskan barang belanjaannya.


“Kamu bisa duduk dulu disana sementara aku akan memasak” Mariana menunjuk ruang keluarga agar Noey menunggu disana sambil menonton televisi.


“Hmn ...” Noey hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apapun. Dia pun menunggu diruang televisi. Dia melihat setiap foto Mariana yang terpajang disana.


“Cantik” gumamnya setelah melihat-lihat foto, namun sorot matanya langsung berubah tajam saat dia mengingat video dari kamera pengintai yang dipasang Risha

__ADS_1


“Bodoh! Dasar pria brengsek! 2 luka tembak masih tidak cukup untukmu. Pria sepertimu juga harus merasakan bagaimana rasanya dipukuli habis-habisan. Beraninya kamu mengayunkan tanganmu yang keras pada seorang gadis. Dasar pria tidak tahu diri” gumam Noey dengan kedua tangan mengepal keras


"Aku pasti akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya ditampar dan dipukuli. Lihat saja nanti!"


__ADS_2