Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Godaan Untuk Kenzie


__ADS_3

Kenzo masih terus menunggu dengan khawatir di depan ruang IGD. Dia duduk dengan kaki yang terus dihentakkan dan keuda tangan yang saling menggenggam.


"Bagaimana ini? Kenapa dokter lama sekali memeriksanya?" Gumam Kenzo sambil sesekali menoleh ke arah pintu IGD


"Tuan muda, mau kita apakan 2 orang itu? Mereka sepertinya demam karena kemarin masuk ke air. Kru syuting juga mencari-cari mereka" Tanya salah satu pengawal yang kini sudah mengikuti Kenzo kerumah sakit


"Berikan saja mereka makanan dan Obat. jangan lepaskan mereka dulu. Setelah Safira sadar, baru mereka boleh dilepaskan!" Ujar Kenzo dengan sikap yang dingin. Tak berselang lama dokter yang memeriksa Safira keluar. Kenzo langsung berdiri dengan panik dan menghampiri dokter


"Dokter bagaimana keadaan Safira?" Tanya Kenzo dengan panik


"Dia mengalami hipotermia. Kita harus menunggu sampai kondisinya kembali stabil" Ujar dokter dengan sikap tenang dan sopan


"Tapi dia tidak papa kan?" Kenzo kembali memastikan keadaan Safira


"Dia tidak papa. Untungnya segera dibawa kerumah sakit dan ditangani, jika terlambat sedikit saja … hipotermia bisa mengancam nyawanya" Dokter kembali menjelaskan kondisi Safira


"Syukurlah, apa aku boleh melihatnya?" Tanya Kenzo masih dengan menoleh ke arah pintu IGD sesekali


"Kami akan memindahkannya keruang perawatan, anda bisa menemaninya disana" Ujar dokter dengan senyum yang lembut


"Baik dokter, terimakasih" Kenzo pun tersenyum lembut karena merasa lega setelah mendengar kondisi Safira yang tidak lagi membahayakan


"Kalau begitu, permisi" Dokter pun meninggalkan Kenzo setelah Kenzo menganggukkan kepala tanda setuju


"Aku harus memberitahu Tiara" Kenzo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Safira karena ponselnya dipegang oleh Tiara


Tuut tuut tuut


"Halo, kak Kenzo. Bagaimana? Apa sudah ada kabar dari kak Safira?" Tiara langsung bertanya dengan nada suara yang terdengar begitu panik


"Aku sudah menemukannya. Sekarang aku berada dirumah sakit menemani Safira" Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang


"Apa? Rumah sakit? Bagaimana kondisi kak Safira? Dan, dimana rumah sakitnya?" Karena panik dan terkejut, Tiara terus mengajukan pertanyaan pada Kenzo


"Tenanglah dulu! Dia sudah baik-baik saja sekarang. Nanti aku kirimkan alamat rumah sakitnya. Oh ya bagaimana kondisi Dilokasi syuting?" kenzo kembali bertanya dengan sikapnya yang tenang dan dingin


"Syuting dihentikan sementara. Selain karena kak Safira menghilang, Manda dan Gilang juga tidak ada. Semua orang juga sedang mencari keberadaan mereka berdua" Tiara menjelaskan bagaimana kondisi dilokasi syuting saat ini


"Oh, mungkin mereka berdua sedang bersenang-senang karena mengangka Safira hilang" Kenzo bicara dengan nada mencibir.

__ADS_1


"Maksud kak Kenzo apa?" Tanya Tiara dengan mengernyitkan dahi hingga kedua alisnya hampir menyatu


"Tidak ada maksud apa-apa. Sudah dulu ya, Safira mau dipindahkan keruang rawat" Kenzo hendak menutup teleponnya begitu melihat suster mendorong Safira untuk dipindahkan keruang rawat


"Baik kak. Kirimkan aku alamatnya. Aku akan kesana sekarang"


"Ya sampai ketemu" Kenzo pun menutup teleponnya dan langsung mengirimkan alamat rumah sakit Safira melalui pesan singkat pada Tiara


***


Setelah insiden yang berhubungan dengan Luki, kini Kenzie semakin disegani. Tidak ada yang berani menyinggungnya lagi di perusahaan.


"Meisya, tolong kirimkan laporan produksi hari ini dibagiannya dan juga Rubi" Pinta Kenzie pada Meisya


"Baik pak" Meisya pun menyiapkan laporan yang diminta Kenzie.


"Rubi, pak Kenzie meminta laporan produksi bagianmu hari ini" Ujar Meisya pada Rubi


"Aku akan segera siapkan. Nanti aku antarkan sendiri padanya" Ujar Rubi dengan nada bicaranya yang sinis


"Ya sudah kalau begitu" Meisya pun beranjak pergi sendiri ke kantor Kenzie


Tok tok tok


"Maaf pak, ini laporan yang anda minta" Ujar Meisya sambil meletakkan laporannya dimeja Kenzie


"Oh iya. Terimakasih" Kenzie hanya sejenak menoleh dan tersenyum kemudian kembali fokus pada dokumen yang dia periksa. Namun perhatiannya kembali teralihkan ketika Meisya tak juga pergi dari hadapannya


"Ada apa lagi? Apa masih ada sesuatu?" Tanya Kenzie dengan senyum yang ramah dan nada bicara yang lembut


"Ehm ... begini pak, saya ingin minta cuti 1 hari saja" Meisya sedikit ragu-ragu saat dia bertanya pada Kenzie


"Cuti? Bukannya kamu tinggal ajukan cuti saja?" Kenzie menatap bingung mendengar pertanyaan Meisya


"Meskipun saya magang, tapi saya tidak bisa mendapatkan cuti seenaknya karena saya bertanggung jawab atas bagian produksi. Karena itu saya bertanya pada bapak terlebih dahulu sebelum mengisi form cuti" Meskipun ragu-ragu namun Meisya bicara dengan cukup tenang


"Memangnya ada perlu apa sampai kami harus cuti? Kamu tidak bisa menunggu sampai akhir pekan?" Kenzie memicingkan mata bertanya pada Meisya


"Tidak bisa pak. Besok saudara saya mau datang kemari. Jadi saya harus menemaninya satu hari besok" Jawab Meisya pada Kenzie

__ADS_1


"Owh, ya sudah kamu bisa ajukan cuti untuk besok. Katakan pada bagian HRD kalau saya sudah memberikan izin. Hanya satu hari kan?" Kenzie bicara dengan lembut dan senyum ramah


"Baik pak. Terimakasih banyak. Permisi" Meisya terlihat ceria saat Kenzie memberinya izin. Diapun berbalik dan pergi dari kantor Kenzie


"Tidak apalah aku berbohong. Tidak mungkin aku memberitahu pak Kenzie kalau aku menghindari anak buah papa. Katanya besok mereka akan kemari, jadi akan lebih baik kalau aku tidak ada disini" Pikir Meisya sambil berjalan keluar.


Setelah Meisya meninggalkan kantor Kenzie, Rubi langsung masuk ke kantornya dengan dokumen laporan ditangannya


Tok tok tok


"Masuk!" Rubi pun langsung masuk setelah mendapat izin dari Kenzie, dia juga menutup pintu kantor Kenzie


"Permisi pak. Ini laporan yang anda minta" Rubi mendekati Kenzie dengan dokumen laporan ditangannya


"Ya, letakkan saja di atas situ" Kenzie meminta Rubi meletakkan laporannya diatas meja dan tetap fokus pada dokumen yang dia periksa


Lagi-lagi perhatian Kenzie teralihkan karena Rubi juga tidak langsung pergi


"Ada apa? Apa ada sesuatu lagi yang ingin kamu bahas?" Tanya Kenzie yang kini menatap Rubi dengan tatapan penasaran


Rubi tersenyum tanpa mengatakan apapun. Diapun berjalan ke samping meja kerja Kenzie dan berdiri tepat disamping Kenzie


"Pak Kenzie, apa anda punya waktu siang ini? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Rubi bertanya sambil meletakkan kedua tangannya dipundak Kenzie dan bertanya dengan nada yang manja


Tanpa Rubi sadari, kini sorot mata Kenzie berubah tajam


"Apa yang kamu inginkan?"


"Saya hanya ingin makan siang dengan pak Kenzie saja. Menurut saya, saya ini cukup cantik, dan penampilan saya juga menarik. Anda tidak akan malu jika berkencan dengan saya" Rubi berusaha merayu Kenzie seperti merayu pria pasa umumnya


"Pak Kenzie tidak mungkin menolakku. Apalagi laki-laki sangat suka dimanjakan. Seperti kucing yang tidak akan menolak ikan didepannya, Pak Kenzie juga pasti sama karena dia laki-laki normal" Pikir Rubi dengan rencananya mendapatkan Kenzie


"Kamu tahu apa yang kamu lakukan sekarang?" Tanya Kenzie dengan nada bicara yang tenang meskipun tangannya kini mengepal keras


"Tentu saja pak. Saya ini tertarik pada bapak sejak bapak pertama kali bergabung dengan perusahaan ini. bapak sendiri juga tahu kan kalau banyak yang tertarik pada saya. Jadi saya rasa... " Rubi masih terus berusaha merayu Kenzie


"Saya rasa ... ini tidak pantas karena kita berada dikantor" Ujar Kenzie dengan sikap yang dingin


"Tapi pak, tidak mungkin ada yang berani masuk sembarangan keruangan bapak. Jadi anda tidak perlu khawatir"

__ADS_1


"Sebaiknya kamu tahu batasmu sebelum melakukan sesuatu"


__ADS_2