
Safira sangat terkejut dengan lamaran Kenzo yang sangat mendadak, bahkan disaat dia tidak mengingat apapun. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air mata yang entah kenapa tiba-tiba menggenang dipelupuk matanya membuatnya tidak bisa melihat Kenzo dengan jelas.
"Bagaimana ini? Aku harus jawab apa? Aku bahkan tidak ingat dan tidak tahu apapun tentangnya. Apa aku memang mencintainya sejak awal? Aku sedikit ragu, tapi kenapa hatiku terasa sangat senang ya? Apa memang ini yang selalu aku tunggu? Ajakan pernikahan dari Zo?" Safira terdiam mempertimbangkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Kenzo yang masih menunggu dengan sebuah cincin yang ditujukan padanya
"Kenapa kamu malah menangis? Apa ini sangat mengejutkanmu?" Kenzo menurunkan cincinnya dan menghapus air mata Safira yang mulai membasahi kedua pipinya.
"Aku … aku tidak tahu. Aku merasa senang, tapi entah kenapa air mata ini malah keluar begitu saja" Safira menjelaskan pada Kenzo dengan nada yang manja
"Kamu ini ada-ada saja. Jika kamu senang dan ingin menghabiskan waktu denganku maka menikahlah denganku. Tapi jika tidak … aku akan mengikatmu agar tetap berada disisiku" Kenzo bicara dengan sikap acuh tak acuh
"Kalau begitu … aku tidak punya pilihan selain menikah denganmu?" Safira bertanya dengan memicingkan mata dan tersenyum lembut pada Kenzo
"Ya begitulah. Mau bagaimanapun kamu harus menikah denganku" Kenzo menanggapi dengan acuh tak acuh
"Lalu untuk apa kamu bertanya padaku?" Safira kembali memicingkan mata dan bertanya pada Kenzo. Air mara yang sebelumnya terus mengalir kini sepenuhnya hilang
"Hanya ingin saja, agar terlihat lebih romantis. Jika aku langsung membawamu ke penghulu setelah kita kembali ke negara F, kamu pasti akan sangat terkejut. Karena itu aku bertanya dulu padamu" Kenzo bicara dengan sikap acuh tak acuh
"Awalnya aku merasa terharu dengan ajakan lamaran darimu. Tapi sekarang semuanya langsung hilang begitu saja" Safira pun menanggapi Kenzo dengan sikap yang tenang dan senyum mencibir
"Jadi, kapan kita akan melangsungkan pernikahan? Tidak perlu meriah untuk saat ini cukup kakek nenekmu dan keluargaku saja yang hadir. Kita bisa menyelenggarakan pestanya nanti" Kenzo kembali bicara dengan sikap yang tenang
"Ehm … kapan aku bisa keluar dari sini?" Safira bertanya dengan sikap yang tenang
"mungkin beberapa hari lagi. Kita hanya tinggal menunggu pemeriksaan terakhirmu saja"
"Lalu, bagaimana dengan lukamu? Apa ini masih sakit?" Safira bertanya dengan lembut sambil menyentuh kepala Kenzo yang masih diperban
"Ini sudah tidak sakit. Aku akan segera menemui dokter untuk memeriksanya"
"Aku ikut! Aku juga ingin menemanimu memeriksa lukamu" Safira langsung menyela sebelum Kenzo selesai bicara
"Baiklah, kamu akan menemaniku menemui dokter" Kenzo pun mengalah dan bicara dengan lembut sambil menyibakkan rambut yang ada dipipi Safira
Drrt drrt drrt
Ponsel Kenzo berdering saat dia sedang bicara serius dengan Safira
"Aku terima telepon dulu"
Kenzo langsung menerima telepon setelah Safira menganggukan kepala
"Halo om. Ada apa? Bukannya sudah ku bilang untuk menyelesaikan masalah perusahaan?" Sapa Kenzo dengan sikap yang tenang dan dingin
__ADS_1
"Ini masalah yang rumit Zo. Sheila Wiguna hanya ingin bekerja sama dengan perusahaan kita jika kamu yang langsung menangani urusan kerjasama ini" Pram langsung bicara setelah Kenzo menyapanya
"Apa maksudnya? Bukannya dia tetap akan berhubungan dengan bagian keuangan setelah kita kerjasama? Kenapa ingin aku yang turun tangan langsung? Sudah ku kira dia adalah gadis yang aneh" Kenzo bicara dengan nada mencibir saat dia menggerutu kesal
"Dia bilang akan tanda tangan kontrak saat kamu kembali. Dia tidak ingin mulai sebelum kamu kembali" Pram melanjutkan penjelasannya mengenai apa yang dikatakan Sheila
"Abaikan saja! Masih banyak perusahaan lain yang ingin bekerja sama denganku. Aku masih belum tahu kapan akan kembali. Jadi tolong om tangani dulu masalah perusahaan" Zo menanggapi dengan sikap yang tenang
"Baik Zo. Kamu tenang saja om akan tangani semuanya. Jika ada yang penting om akan langsung hubungi kamu lagi"
"Ya om. Terimakasih"
"Ya, sampai jumpa" Zo langsung menutup teleponnya begitu saja
"Siapa itu Sheila Wiguna?" Safira yang berada disebelah Zo sedikit mendegarkan pembicaraan mereka. Diapun bertanya dengan raut wajah sinis
"Hah? Apa kamu cemburu?" Zo menggoda Safira hingga membuatnya semakin bersikap sinis dan memalingkan wajah darinya
"Perusahaanku akan bekerja sama dengan perusahaannya. Hari dimana aku datang kesini, harusnya aku mengadakan meeting dengannya. Sekarang dia hanya ingin bekerja sama jika aku yang langsung menangani kerja sama ini"
Zo menjelaskan dengan tenang mengenai hubungannya dengan Sheila
"Kenapa begitu? Bukannya kamu sudah menyerahkan tanggung jawab sementara pada asistenmu?" Safira memicingkan mata dengan tatapan heran setelah mendengar penjelasan Kenzo
"Cih, terlalu narsis!"
"Mau bagaimana lagi. Pesonaku terhadap gadis-gadis itu tidak bisa dipungkiri"
"Haah … ku kira kamu menyeramkan ternyata kamu malah menyebalkan"
***
Hari ini adalah akhir pekan. Rendra datang ke perusahaan Sanjaya untuk memberikan kejutan pada Risha setelah melimpahkan semua pekerjaannya pada Alan. Jadi saat jam pulang kantor tiba, Rendra sudah berada di depan perusahaan dan menunggu Risha bersama Billy yang menemaninya.
"Pak, apa sebaiknya kita turun saja? Sebentar lagi bu Risha pasti akan keluar karena sudah mau jam pulang kerja" Billy menyarankan pada Rendra agar turun dari mobil
"Tidak perlu. Aku tidak mau membuat dia malu karena kondisiku sekarang" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang dan pandangan yang terus menatap kearah pintu masuk perusahaan
"Tapikan pak Rendra sudah bisa berdiri? Dokter mengatakan kalau pak Rendra masih terapi secara rutin, maka bapak bisa berjalan lagi" Billy berusaha memberikan semangat pada Rendra
"Ya, alu tahu. Aku akan memberikan kejutan padanya jika kakiku sudah benar-benar pulih" Billy tidak mengatakan apapun lagi dan mengerti dengan keinginan Rendra
"Sebaiknya aku telepon dia dulu" Rendra langsung merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya
__ADS_1
Tuut tuut tuut
"Halo, Ren" Tak perlu menunggu lama, terdengar suara lembut Risha dari seberang telepon
"Halo Sha. Apa kamu sudah pulang? Sebentar lagi jam pulang kantor" Rendra bertanya dengan lembut pada Risha
"Ya sebentar lagi aku pulang. Tapi sayang sekali, padahal ini akhir pekan" Risha menjawab Rendra dengan nada bicara yang manja dan sedih
"Apa yang disayangkan?" Rendra bertanya lagi dengan dahi mengernyit
"Ini akhir pekan semua menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Sedangkan aku tidak bisa menghabiskan akhir pekan denganmu" Risha bicara dengan nada yang manja kemudian mengalihkan pembicaraan
"Apa kamu tahu kalau kantorku sedang dihebohkan dengan sebuah gosip besar?"
"Gosip apa?" Rendra terdengar penasaran dengan gosip yang Risha katakan
"Disini sedang heboh kalau aku mendapatkan posisi ini karena menjalin hubungan dengan direktur utama perusahaan"
"Apa katamu? Direktur utama perusahaan? Itukan papimu sendiri" Rendra terdengar bingung saat Risha bercerita padanya
"Itu dia. Ada karyawan perusahaan ini yang mengambil fotoku saat sedang makan siang dengan papi. Karena mereka tidak tahu jadi gosip itu menyebar luas seperti api. Rasanya aku ingin sekali mengenalkanmu pada semua orang dan mengatakan kalau kamu itu pacarku" Risha awalnya bicara dengan menahan senyum, namun pada akhirnya dia bicara dengan nada kecewa
"Kamu tidak malu jika menunjukkan pada semua orang kalau aku adalah pacarmu? Kamu tahu sendiri kalau sekarang aku memerlukan kursi roda untuk berjalan" Rendra terdengar sangat penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan Risha
"Aku tidak peduli dengan orang lain. Yang menjalani hubungan ini kan kita berdua, kenapa harus peduli dengan kata orang lain?" Rendra tersenyum ceria mendengar jawaban Risha
"Benarkah? Apa kamu yakin tidak akan malu?"
"Tentu saja. Kenapa harus malu?"
"Ya sudah. Sudah jam pulang kantor. Aku tutup dulu teleponnya"
"Baiklah, sampai jumpa. Ren, aku merindukanmu"
"Aku juga merindukanmu. Daah" Risha bicara dengan Rendra sambil berjalan keluar meninggalkan ruangannya.
Disaat yang bersamaan para karyawan yang lain pun keluar dari kantor Sanjaya. Semua mata para gadis tertuju pada Rendra yang duduk diatas kursi roda dan memutuskan untuk turun dari mobil.
Tak lama kemudian terlihat Risha keluar dari kantor. Rendra langsung mengirim pesan pada Risha begitu melihatnya
"Sayang, lihatlah ke depan. Tepat ke arah pintu keluar"
Risha langsung menoleh kearah yang diminta Rendra.
__ADS_1
"Rendra"