Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Programer Muda Handal


__ADS_3

Saat ini Risha sedang bersiap mengemasi barang kantornya dan akan mengundurkan diri dari perusahaan Rendra.


"Sha, kamu yakin akan berhenti bekerja? Apa tidak sayang ya? Posisimu kan sudah enak. Mungkin sebentar lagi kamu akan mendapatkan promosi jabatan karena kerja kerasmu sendiri"


"Benar. Meksipun kamu belum lama bekerja disini, tapi tetap saja hasil kerjamu selalu jadi yang  terbaik di departemen kita"


Kini rekan Risha sedang berkumpul melihat Risha yang sedang berkemas. Mereka terlihat sedih dan menyayangkan karena kinerja Risha selama ini sangatlah baik.


"Kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah punya pekerjaan lain. Karena itu aku berhenti dari sini" Risha menjawab dengan sikap yang tenang disertai senyum lembut yang tipis


"Kalau mereka tahu aku akan pindah ke perusahaan lain dan menjabat sebagai direktur ... apa mereka akan terkejut ya?"


Batin Risha terus bicara sambil memperhatikan rekan kerjanya yang sedang berbincang membicarkan pengunduran dirinya


"Sha, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Anggap saja sebagai perpisahan kita"


"Ah benar, itu ide yang bagus"


Salah satu teman Risha menyarankan dengan senyum ceria diwajahnya yang disetujui oelh rekan kerja yang lain


"Tapi aku ..."


"Kamu tidak bisa menolak! Pokoknya sekarang kita harus makan siang bersama"


Rekan kerja Risha memotong perkataannya sebelum dia selesai bicara. Dia juga menggandeng Risha saat berusaha membujuknya


"Hemn ... baiklah aku akan pergi dengan kalian. Tapi aku harus menghubungi seseorang dulu"


"Ya ya, tidak masalah"


Risha berjalan sedikit menjauh setelah rekannya mengizinkan dia menghubungi seseorang. Dan seseorang itu adalah Rendra


Tuut tuut tuut


Tak perlu menunggu waktu lama untuk Risha mendengar suara Rendra karena dia langsung menerima telepon darinya.


"Halo sayang"


Risha terkejut karena mendengar kata sayang pertama kali yang muncul dari mulut Rendra.

__ADS_1


"A-apa? Sa-sayang?" Tanya Risha yang tiba-tiba tergagap dengan mata memicing tak percaya.


"Iya, sayang. Ada apa?" Rendra menanggapinya dengan sikap yang tenang dan santai


"Oh, i-itu ... aku tidak bisa makan siang denganmu. Aku akan pergi makan siang dengan rekan kantorku.. Mereka bilang ingin makan bersama sebelum aku berhenti bekerja" Risha menjelaskan dengan sedikit ragu-ragu


Rendra terdiam sesaat sebelum dia memberikan jawabannya. Risha yang biasanya makan siang dengan Rendra terlihat panik karena takut sang kekasih akan marah dan tidak mengizinkannya pergi. Wajah Risha kini sudah terlihat pucat, dia pun menggigit ujung kukunya untuk menghilangkan kepanikannya.


"Kalau begitu kamu harus makan malam denganku hari ini!"


"Hah? Benarkah? Jadi kamu mengizinkanku pergi?" Risha terlihat sangat senang dan begitu antusias saat Rendra mengizinkannya pergi


"Ya, sebagai gantinya ... kamu harus makan malam denganku" Renda kembali mengulang perkataannya agar Risha mengerti


"Tidak masalah. Aku akan makan malam denganmu hari ini. Sampai jumpa nanti sore" Risha yang sangat senang langsung mengakhiri teleponnya dengan Rendra dan kembali pada rekan kerjanya


"Bagaimana? Apa kita bisa pergi makan siang bersama?" Tanya salah satu rekannya begitu Risha kembali ke tempat mereka


"Ya, aku akan makan siang dengan kalian" Risha bicara dengan sikap yang tenang disertai senyum manis dibibirnya


Siang harinya Risha dan rekan kerjanya memutuskan makan siang disalah satu restoran dekat kantor. Mereka tertawa ceria sambil membicarakan banyak hal


"Kenapa menanyakan itu padaku? Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka" Risha menjawab dengan sikap yang tenang namun matanya menatap ke arah lain dengan canggung.


"Kami melihatmu mendorong kursi roda pak Rendra saat pertama kali dia kembali keperusahaan. Kalian pasti punya hubungan spesial, jadi kamu pasti tahu jawabannya kan?"" Kini semua rekan kerja Risha menatapnya seakan meminta jawaban langsung


"Ehm ... itu ... anu, apa kalian ingat salah satu pemuda yang datang pada hari itu? Yang datang bersama dengan kami" Risha berusaha untuk tidak memberitahu secara langsung perihal hubungannya dengan Rendra.


"Tentu saja kami ingat. Pemuda tampan dengan aura yang tudak biasa. Mana mungkin kami bisa melupakannya. Benar kan?"


"Benar. Pemuda itu memang sangat tampan. Rasanya akan sangat sayang jika mengalihkan pandanganku dari wajah tampannya meskipun sebentar"


"Ah aku jadi membayangkan bagaimana jika berjalan dengan pria setampan itu. Tubuhnya tinggi dan kekar, wajahnya tampan, saat dia berjalan … dia terlihat berwibawa dan auranya benar-benar membuat orang kagum"


"Betul, tidak hanya para gadis saja yang mengatakan dia tampan, bahkan para karyawan laki-laki pun mengatakan kalau dia sangat tampan dan gagah"


Awalnya Risha ingin memberikan jawaban atas pertanyaan mereka, namun diuar dugaan, mereka malah membicarakan Kenzo dengan sangat antusias


"Ah benar, memang apa hubungannya dengan pemuda itu Sha? Apa dia yang membantu pak Rendra?" Salah satu rekan Risha kembali pada topik semula setelah dia mengingat apa yang sebelumnya sedang mereka bahas.

__ADS_1


"Sebenarnya ... pemuda itu adalah sepupuku. Dan kebetulan dia adalah sahabat pak Rendra, karena itu aku mendorong kursi roda pak Rendra saat ada Kenzo disini"


"Apa?! Sitampan itu sepupumu?! Kenapa tidak mengatakan pada kami kalau kamu punya sepupu yang sagat tampan?!"


Lagi-lagi salah satu rekan Risha antusias mendengar ceritanya, hingga dia berteriak dan membuat Risha juga yang lain terkejut


"Kamu tidak bisa pelan sedikit? Suaramu bisa saja membuat gendang telingaku pecah!" Rekan Risha yang lain mengomentari rekannya yang bersikap berlebihan setelah mendengar cerita tentang Kenzo.


"Sha, kenalkan dia pada kami! Apa dia sudah punya pacar?"


"Dia tidak tinggal disini. Dia tinggal di negara F. Jadi aku tidak bisa mengenalkan dia pada kalian semua"


"Yaah, sayang sekali. Padahal aku ingin sekali berkenalan dengannya. Siapa tahu dia bisa terpesona padaku"


"Hei jangan bercanda. Mana mungkin pria setmpan dia mau pacaran denganmu"


Mereka kini tertawa sambil saling mengejek satu sama lain. Restoran pun semakin ramai dengan gelak tawa mereka.


"Tapi ... kenapa aku merasa wajahnya sangat familiar ya?"


"Benar, aku juga merasa begitu. Sha, apa dia model atau aktor?" Mereka menghentikan tawa mereka dan kembali berpikir mengenai Kenzo


"Dia bukan model, aktor ataupun penyanyi. Dia tidak suka hal-hal seperti itu. Dia bilang itu akan merusak privasinya karena terlalu disorot"


"Lalu, dimana aku pernah melihatnya ya?" Mereka kembali diam dan berpikir mengenai Kenzo


"Kalian suka menonton berita mengenai bisnis tidak?" Tanya Risha dengan nata menatap ke semua rekan kerjanya satu persatu


"Aku hanya sesekali saja menonton majalah bisnis"


"Lalu ... apa kalian tahu programer muda yang tampan dari negara F?" Risha tidak langsung memberikan jawaban mengenai kenzo, melainkan dia berusaha membuat mereka tahu sendiri mengenai Kenzo


"Ya, aku pernah dengar mengenai programer muda yang hasil karyanya dicuri oleh perusahaan yang bekerja sama dengannya untuk pengembarangan software itu, tapi karena dia cerdas ... dia berhasi kembali mendapatkan hak ciptanya. Dan perushaan itu harus membayar kerugian yang disebabkan kesalahan saat uji coba. Itu sangat keren dan sangat cerdas"


Salah satu dari mereka kembali menjelaskan dengan sangat antusias hingga matanya seakan berbinar.


"Jangan bilang kalau dia ...."


"Benar. dialah oangnya. Kenzo Osterin. Seorang programer muda yang sudah diakui kemampuannya"

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2