
Kenzie dan Noey baru saja kembali dari kantor Teguh saat pak Har menghubungi Kenzie.
"Halo, Pak Har" Kenzie menerima telepon Har dan menyapa dengan sikap yang tenang.
"Pak Kenzie. Apa anda punya waktu sore ini?" Har langsung bertanya pada Kenzie tanpa basa-basi terlebih dahulu
"Ya, ada apa? Apa ada sesuatu?" Kenzie memicingkan mata dengan raut wajah yang penasaran
"Tuan ingin bertemu dengan anda. Beliau bilang ada sesuatu yang ingin dikatakan langsung pada anda mengenai hubungan anda dan nona Meisya" Kenzie terdiam sesaat mendengar ucapan pak Har. Dia tidak langsung menanggapi ucapannya.
"Apa pak Arseno merestui hubunganku dan Meisya?". Kenzie bertanya untuk memastikan tujuan pak Arseno mengundang nya
"Saya tidak tahu. Beliau hanya meminta saya untuk mengundang anda saja" ujar Har dengan sikap yang sopan
"Baiklah, saya akan kesana setelah pulang dari kantor. Terimakasih, Pak Har"
"Sama-sama Pak Kenzie. Sampai jumpa". Har dan Kenzie pun langsung mengakhiri pembicaraan mereka.
"Pak Arseno ingin bertemu denganku? Apa dia setuju dengan hubungan kami? Apa aku bisa melanjutkan hubunganku dengan Meisya? Ah, bagaimana ini? Haaah kenapa aku jadi sangat gugup?"
Kenzie terlihat bingung dan salah tingkah setelah dia mendapatkan telepon dari Har. Dia terus saja berjalan mondar mandir dihadapan Noey. Noey yang kesal pun menatapnya dengan tatapan heran.
“Haah … dia mulai lagi. Padahal sebelumnya dia sudah terlihat berwibawa dengan jiwa pemimpin yang tinggi, kenapa sekarang dia
kembali bersikap bodoh?” gumam Noey sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Zie yang kembali seperti awal. Dia pun tidak mempedulikan Kenzie dan berbalik pergi meninggalkannya sendiri.
“Noey! Noey! Mau kemana kamu?”
“Aku tidak ingin tertular penyakit gila sepertimu!”.
Kenzie terus memanggil Noey, namun Noey menanggapinya dengan sikap acuh tak acuh dan hanya melambaikan tangan tapi tidak menoleh pada Kenzie sedikitpun.
“Dasar asisten kurang ajar! Saat diluar urusan pekerjaan, kamu sangat menyebalkan! Sama seperti saudara kembarku itu!” Kenzie terus menggerutu sendiri karena sikap Noey yang tidak mempedulikannya sama sekali.
***
Sore harinya setelah Kenzie pulang dari kantor, dia langsung pergi kerumah Meisya seperti yang diminta pak Arseno.
“Saya sudah membuat janji dengan pak Arseno. Kalian bisa tanyakan sendiri padanya”. Kenzie bicara pada penjaga gerbang karena mereka melarang Kenzie masuk kedalam.
Mereka saling menoleh satu sama lain sebelum membukakan pintu gerbang untuk Kenzie.
__ADS_1
“Baiklah, anda boleh masuk" ujar salah satu penjaga yang langsung membuka pintu gerbang untuknya.
“Terimakasih”. Kenzie pun kembali mengendarai mobilnya dan masuk kedalam kediaman pak Arseno.
Ketika Kenzie tiba didalam, Har sudah menunggunya didepan pintu masuk kediaman pak Arseno. Dia langsung berjalan mendekat begitu Kenzie memarkirkan mobilnya.
“Selamat sore pak Kenzie” Sapa Har dengan senyum yang sopan dan sikap yang ramah.
“Selamat sore, Pak. Bagaimana kabar anda?” Kenzie pun menyapa Har begitu dia turun dari mobil.
“Saya baik-baik saja. Silahkan masuk” Pak Har menyambut Kenzie dengan senyum yang ramah, lalu membawanya menuju ruang kerja Arseno.
Tok tok tok
“Masuk!” Arseno lngsung mempersilahkannya masuk begitu mendengar suara ketukan pintu.
“Permisi, Tuan. Pak Kenzie sudah ada disini” Har memberitahu kedatangan Kenzie dengan sopan begitu masuk ke ruangan pak Arseno.
“Biarkan dia masuk” Pak Arseno bicara dengan sikap datar dan dingin. Diikuti anggukan kepala oleh Har
“Baik, Tuan” Har pun mempersilahkan Kenzie yang menunggu diluar ruangan Pak Arseno untuk masuk kedalam.
“Silahkan duduk”
“Aku sudah lihat video siaran langsung yang kamu lakukan. Ternyata kamu sudah bisa mengungkap identitasmu” Pak Arseno menatap Kenzie dengan tatapan sinis dan bicara dengan sikap dingin
“Ya, karena Kenzo sudah mengambil alih semua perusahaan milik papi dan juga nenek Ji, saya juga tidak bisa lagi menyembunyikan identitas saya. Karena itu saya membuka identitas saya dan akan tetap mengelola perusahaan Kusuma bersama dengan mami” Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang
“Apa kamu tidak merasa iri karena saudara kembarmu mengambil alih beberapa perusahaan sekaligus? Meskipun dia hanya mengelola perusahaan utama milik pak Lian dan bu Jingga dinegara F tapi tetap saja masih ada perusahaan cabang
milik pak Lian yang ada dinegara ini yang pasti akan dia kelola lagi”.
Pak Arseno tampak penasaran dengan apa
yang akan menjadi jawaban Kenzie.
“Kenapa saya harus iri? Justru saya senang karena saya tidak harus selalu berada dikantor. Lagipula … 2 perusahaan Kusuma yang akan saya kelola nanti, saya rasa itu sudah cukup sulit. Meskipun hanya 2 perusahaan, tapi keduanya adalah perusahaan besar. Belum tentu saya mampu mengelolanya jika lebih dari itu. Lain halnya dengan Kenzo yang gila kerja dan selalu serius dalam semuanya. Kemampuannya lebih unggul dari saya dan juga saudara saya yang lain. Dia lebih cocok untuk mengelola 3 perusahaan besar itu”.
Kenzie selalu menjawab dengan sikap yang tenang. Sesekali dia tersenyum saat bicara pada pak Arseno.
Ruangan itu pun kembali hening karena keduanya sama-sama diam tak bersuara. Tak lama suara ketukan pintu memecah keheningan dalam ruangan itu. Rupanya Meisya yang mendengar kedatangan Kenzie langsung bergegeas pergi keruangan sang ayah agar bisa bertemu dengannya.
__ADS_1
Tok tok tok
Ceklek
“Boleh saya masuk?” Tanya Meisya yang masih berdiri diambang pintu. Kenzie dan pak Arseno menoleh secara bersamaan begitu mendengar suara pintu yang diketuk.
“Ya, kemarilah!” kata pak Arseno mengizinkan putrinya masuk sambil menepuk kursi disampingnya berkali-kali agar Meisya duduk disana
Meisya pun masuk dan duduk dikursi yang pak Arseno tunjuk. Dia dan Kenzie saling menatap dengan tatapan penuh kerinduan meskipun mereka tidak saling mengatakan apapun. Melihat hal itu, pak Arseno pun mentap Kenzie dan juga Meisya secara bergantian.
“Apa kamu mencintai Meisya?” Suara pak Arseno menyadarkan Kenzie dan Meisya yang tenggelam dalam tatapan kerinduan mereka
“Ya, Saya sangat mencintai Meisya” Kenzie pun menjawab dengan tenang dan senyum yang manis, tatapan matanya tak pernah beralih dari gadis yang sudah dia rindukan selama beberapa hari itu.
“Apa kamu mau melakukan apapun untuk bisa bersama dengan Meisya?” tanya pak Arseno lagi dengan raut wajah yang serius.
“Ya, saya akan melakukan apapun untuk bisa bersama dengannya. Anda bisa meminta apapun pada saya. Saya akan berusaha untuk mengabulkan papun yang anda minta”
Kenzie pun menjawab dengan serius disertai
nggukan kepala. Dari sorot matanya dapat terlihat jelas kalau dia sangat bersungguh-sungguh dan penuh keyakinan.
Arseno kembali terdiam sebelum dia mengatakan apa yang dia minta.
“Dulu ... aku dan ibunya Meisya juga saling mencintai. Kami tidak peduli dengan status dan derajat kami yang berbeda. Aku tetap menikah dengan ibunya karena aku yakin kalau kekuatan cinta dapat mengalahkan segalanya. Namun seiring berjalannya waktu, status diantara kami mulai menjadi masalah dan menimbulkan pergesekan diantara hubungan kami"
"Keluargaku yang memiliki status lebih tinggi tidak pernah menghargai ibu Meisya. Aku selalu berusaha melindunginya, namun perlahan kepercayaan ibumu juga mulai berkurang hingga sering terjadi perselisihan diantara kami dan pada akhirnya kami memutuskan untuk berpisah meskipun kami saling mencintai”
Pak Arseno menceritakan kisahnya dan ibunya meisya dengan kepala tertunduk dan wajah yang sedih. Sesekali pak Arseno terlihat mengusap air mata yang menetes dari kedua matanya. Kenzie dan Meisya mendengarkan dengan seksama cerita dari pak Arseno.
“Aku tidak ingin hal yang sama terjadi pada Meisya. Meskipun kamu sangat mencintainya tidak berarti kamu bisa menjaga hatinya agar tidak terluka”
“Tapi Pak, saya …”
Pak Arseno langsung menyela Kenzie sebelum dia selesai bicara.
“Apa kamu yakin mau melakukan apa saja untuk bersama Meisya?” Pak Arseno kembali mengulang pertanyaannya dengan serius. Kenzie pun kini mulai merasa khawatir dengan apa yang ingin dikatakan ayah Meisya itu.
“Ya, saya akan melakukan apapun untuk bisa bersamanya” jawab Kenzie penuh dengan keyakinan.
“Kalau begitu … tinggalkan keluargamu”
__ADS_1
“Apa?!”