
Pak Rudi sedang menyiapkan pengajuan pinjaman untuk pabrik tas miliknya. Ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Dia menjaminkan semua aset yang dia miliki untuk melengkapi persyaratannya. Namun dia masih memiliki satu kendala. Pihak bank mengatakan kalau mereka masih harus mempertimbangkan pengajuan pak Rudi dan akan menghubunginya dalam waktu dekat
"Surya, apa kamu sudah mendapatkan konfirmasi dari pihak bank untuk pengajuan pinjaman kita?" Tanya pak Rudi pada Surya
"Belum pak. Saya juga tidak mengerti kenapa bank bisa menunda pengajuan kita. Padahal semua syarat pengajuan sudah lengkap dan tidak kekurangan apapun" Jawab Surya yang juga tidak mengerti dengan penundaan dari pihak bank
Drrt drrt drrt
Ponsel pak Rudi berdering dan terlihat disana nomor tidak dikenal
"Saya terima telepon dului" Ujar pak Rudi pada Surya
"Kalau begitu saya permisi kembali keruangan saya pak" Pak Rudi mengangguk dan Surya pun mulai beranjak maninggalkan ruangan pak Rudi
"Halo" Sapa pak Rudi begitu menerima telepon
"Selamat siang, pak Rudi" Ujar orang yang menelepon
"Dengan siapa ini?" Tanya pak Rudi lagi yang penasaran dengan penelpon misterius
"Saya tahu kalau anda sedang mendapatkan masalah. Saya bisa membantu anda tapi saya juga bisa menjatuhkan anda" Pak Rudi mengernyitkan dahi mendengar apa yang dikatakan oleh penelpon itu
"Apa maksudmu? Jangan macam-macam denganku!" Pak Rudi terdengar sangat kesal hingga dia berdiri dari duduknya
"Saya hanya ingin membantu anda saja. Saya tahu kalau pengajuan anda ditunda oleh pihak bank. Dan saya bisa dengan mudah membuat bank menerima pengajuan anda" Pak Rudi cukup terkejut mendengar apa yang dibicarakan
"Sebenarnya siapa kamu?! Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku mengajukan pinjaman ke bank?!" Pak Rudi semakin penasaran dengan penelpon misterius itu
"Itu bukan hal yang sulit untuk saya. Saya sudah katakan kalau saya bisa membantu anda tapi saya juga bisa dengan mudah mengahancurkan anda"
"Apa maumu sebenarnya?" Tanya pak Rudi dengan sikap sinis
"Masukkan anakmu ke rumah sakit jiwa!"
"Apa?! Permintaan gila macam apa ini?!" Pak Rudi semakin kesal setelah mendengar apa yang diinginkan oleh penelpon misterius itu
"Bukan permintaanku yang gila. Tapi anak anda yang sudah gila karena obsesianya. Pilihan ada di tangan anda, mau membiarkan putri anda menerima perawatan dirumah sakit jiwa untuk memperbaiki mentalnya atau membiarkan pabrik tas anda tidak bisa beroperasi lagi karena tidak ada biaya untuk produksi? Silahkan pikirkan baik-baik!"
"Halo! Halo!" Penelpon itu menutup sambungan teleponnya sebelum Rudi memberikan tanggapan atas pertanyaannya
"Siapa orang ini? Bagaimana dia bisa tahu banyak mengenai pabrik dan juga putriku? Sebenarnya apa yang telah dilakukan Ilana sampai ada orang yang membencinya seperti ini?" Pak Rudi berpikir semakin keras setelah dia mendapatan telepon misterius
***
Risha dan Kenzie baru pulang kuliah dan hendak pergi mencari makan siang
__ADS_1
"Sha, kamu mau makan apa?" Tanya Kenzie sebelum mereka masuk kedalam mobil
"Kita pergi ke restoran Jepang di seberang jalan saja! sudah lama kita tidak makan makanan Jepang kan?" Ujar Risha dengan senyum cerianya
"Hemn ... kenapa harus makanan jepang? Kamu tahu kalau yang suka makanan Jepang itu kan Kenzo, bukan aku" Kenzie mengerucutkan bibirnya ketika Risha mengatakan ingin makan makanan jepang
"Ayolah Zie, makanan Jepang ya? Tadi kamu sendiri yang tanya padaku mau makan apa" Risha merayu Kenzie dengan manja sambil memegangi tangannya
"Ya, ya, ya?"
"Haah ... Baiklah" Kenzie pun menghela napas panjang dan mengalah pada Risha
"Yess ... terimakasih" Mereka pun tidak jadi masuk ke dalam mobil dan berjalan hendak menyeberang
"Kebetulan sekali. Kamu malah mengantarkan nyawamu untuk segera menemui ajalmu" Ujar Arumi dengan senyum sinis sambil menatap Risha dan Kenzie yang hendak menyeberang jalan
Kenzie dan Risha tidak menyadari kalau ada sebuah mobil mengarah ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Setelah jarak mobil semakin dekat, barulah Risha menyadari kalau sebuah mobil melaju kearah mereka
"Zie, awas! Aaaahhh" Risha mendorong Kenzie ke belakang hingga dia terjatuh dan tangannya terbentur aspal, namun dia tidak sempat menghindar
Brak
"Risha! Tidak!" Kenzie berteriak ketika melihat sebuah mobil menghantam Risha. Dengan cepat dia kembali berdiri dan memeluk Risha yang berlumuran darah dipelukannya
"Hei. Kejar mobil itu!" Teriak seseorang yang melihat kejadian itu dan langsung mengejar mobil putih yang dikendarai oleh Arumi
"Siapapun tolong hubungi ambulance. Cepat!" Teriak kenzie dengan air mata yang mulai mengalir
"Sha, bangun Sha! Jangan membuatku takut Sha!" Kenzie terus berteriak sambil memeluk Risha yang berlumuran darah
"Mana ambulancenya?!" Teriak Kenzie dengan panik
Wiu wiu wiu
Tak berselang lama ambulance datang ke lokasi kejadian dan memecah kerumunan orang yang berkumpul mengelilingi Kenzie dan Risha
"Permisi, tolong beri jalan!" Ujar perawat yang membawa tandu untuk memindahkan Risha. Risha pun dibawa dan Kenzie ikut bersama mobil ambulance.
***
Disaat yang bersamaan Tania sedang dirumah dan Dhefin baru saja pulang dari sekolah. Mereka sedang bersiap untuk makan siang bersama dengan Yudha dan Gina
"Tania, apa kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu terlihat pucat?" Gina bertanya setelah mengamati Tania yang diam saja seperti memikirkan sesuatu
"Tidak papa nek. Hanya saja aku tidak tahu kenapa perasaanku tidak enak" Jawab Tania dengan sikap yang tenang
__ADS_1
"Apa mami sakit?" Dhefin pun terlihat khawatir kepada sang ibu
"Mami tidak papa" Tania menjawab dengan sikap yang tenang dan berusaha tersenyum. Ketika hendak mengambil gelas minumannya, tiba-tiba tangannya terasa lemas dan gelas itu pun jatuh ke lantai
Prank
"Ah!" Tania cukup terkejut. Begitupun dengan Yudha, Gina dan Dhefin
"Kamu tidak papa, Tania?" Tanya Yudha dengan dengan sikapnya yang tenang namun wajahnya terlihat panik
"Aku tidak papa kek" Jawab Tania dengan senyum canggung
Tak lama ponselnya pun berdering
Drrt drrt drrt
"Telepon dari Kenzie. Aku terima dulu ya kek, nek" Ujar Tania sebelum dia menerima telepon dari Kenzie
"Halo, Zie" Sapa Tania dengan sikap yang tenang
"Tante ... Risha ..." Kenzie terdengar sesenggukan saat dia berusaha bicara
"Risha? Kenapa dengan Risha, Zie?" Kini Tania terdengar panik saat Kenzie manyebutkan nama Risha sambil menangis
"Sebaiknya tante kerumah sakit dekat kampus sekarang! Aku akan membawa Risha kerumah sakit. Nanti aku ceritakan disana" Kenzie tidak mengatakan apapun mengenai apa yang terjadi pada Risha. Dia takut kalau Tania khawatir berebihan. Setelah menghubungi Tania, Kenzie langsung menghubungi Kenzo
Drrt drrt drrt
Berkali-kali Kenzie menghubungi Kenzo namun tidak diangkat oleh Kenzo
"Apa yang dia lakukan? kenapa tidak mengangkat teleponku?" Kenzie yang panik terus saja menangis sambil memandangi Risha dan berusaha menghubungi Kenzo
"Sha, bertahanlah! Aku yakin kalau kamu itu kuat" Ujar Kenzie yang menatap Risha dengan derai air mata
***
Kenzo sedang berada di restoran. Saat ini dia sedang melayani tamu karena banyaknya pengunjung saat jam makan siang
"Ada apa Kenzie menghubungiku sampai berkali-kali? Apa ada sesuatu yang penting?" Gumam Kenzo sambil menatap layar ponsel dan melihat banyaknya jumlah panggilan tak terjawab dari Kenzie
"Zo, tolong layani meja sebelah sana!" Teriak Sita yang sedang sibuk melayani pengunjung lain
"Baik" Jawab Kenzo dengan sikap datar dan tenangnya. Dia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan menemui tamu yang belum dilayani
"Selamat siang. Anda mau pesan apa?" Tanya Kenzo pada 2 orang gadis yang sedang duduk menunggu. Tiba-tiba seseorang mendekat kearahnya
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu"