Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Keberangkatan Ke Negara F


__ADS_3

Setelah insiden dengan Daniel tempo hari. Perusahaan Sanjaya masih tetap saja ramai membincangkan masalah Risha dan Rendra. Kini semua orang diperusahaan tahu kalau Risha adalah putri dari Diaz


"Haah ... bisa-bisanya kita percaya pada gosip kalau bu Risha itu selingkuhan pak Diaz"


"Kamu benar. Jelas semua orang tahu betul kalau keluarga Kusuma selalu mementingkan keluarga dan tidak pernah terlibat skandal"


"Didekati saja susah apalagi ingin memiliki hubungan lebih. Yang ada sebelum memiliki hubungan dengan  mereka, sudah pasti hancur duluan oleh pasangannya"


"Kamu benar. Mereka semua memang pasangan yang saling mencintai, tapi sangat menyeramkan saat berurusan dengan orang yang mengganggu pasangan mereka"


"Benar. jadi kalau ingin memiliki keluarga itu rasanya ... sangat mustahil"


"Eh, ada bu Risha!" Para karyawan yang tadinya sedang membicarakan Risha langsung diam setelah melihat kedatangan Risha dikantor


"Apa kamu sudah mengatur jadwalmu? Kita akan berangkat besok. Aku, Zie dan Meisya akan menunggumu dibandara. Tante Cheva sudah mengatur jet pribadi keluarga kami disana" Risha sedang menghubungi Rendra untuk membicarakan keberangkatan mereka


"Aku sudah mengatur jadwalku. Alan yang akan menanganinya selama aku pergi. Kita akan bertemu dibandara. Aku akan datang bersama Billy"


"Baiklah. Sampai jumpa besok"


"Tunggu Sha. Bagaimana dengan pekerjaan Kenzie?" Rendra terdengar bingung dan penasaran karena Kenzie tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya pada Noey. Noey juga ingin ikut bersama mereka


"Kamu tidak perlu khawatir. Noey akan tetap ikut. Kenzie akan menyerahkan pekerjaannya pada sekertarisnya" Risha bicara pada Rendra sambil berjalan memasuki kantornya


"Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi. Sampai jumpa besok"


"Ya, sampai jumpa" Rendra dan Risha pun menutup telepon mereka


"Sepertinya bu Risha dan pacarnya sangat serasi. Apa kamu tahu siapa dia?" Karyawan Risha kembali bergosip setelah risha pergi


"Ya, ku dengar dia adalah Direktur utama dari Dirga Elektronik, Rendra Adelio Dirga"

__ADS_1


"Jadi, dia pewaris perusahaan Dirga? Pantas saja dia begitu berwibawa meskipun dia menggunakan kursi roda. Mungkin jika dia tidak menggunakan kursi roda, dia akan menjadi lebih berwibawa lagi"


"Sudah-sudah kembali bekerja sebelum nanti kita ketahuan" Para karyawan Diaz terus membicarakan Risha sejak kejadian itu. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang terjadi


***


Meisya dan Kenzie masih berdebat dengan pak Arseno mengenai rencana perjalanan mereka ke negara F


"Jadi kamu berencana membawa Meisya ke negara F? Apa kamu gila? Dia baru keluar dari rumah sakit, mana mungkin bisa langsung bepergian begitu jauh?" Pak Arseno duduk berhadapan dengan mereka dan bicara dengan nada yang sinis. Dia pun terus menatap Kenzie dengan tatapan mata yang tajam seakan membentuk sebuah permusuhan


"Pah, saudara kembarnya kak Zie akan menikah. Jadi tidak mungkin kalau aku tidak datang bersamanya kan?" Meisya bersikeras meyakinkan pak Arseno agar mendapatkan izin untuk pergi ke negara F


"Kamu itu baru keluar dari rumah sakit dan tanganmu juga masih belum terlalu bisa digerakan. Bagaimana jika nanti merasa kesulitan?" Pak Arseno terlihat khawatir. Dia menundukan kepala sedih karena Meisya ingin pergi ke negara F


"Pah, aku hanya pergi selama beberapa hari saja. Lagipula selama ini kita jarang menghabiskan waktu bersama, kenapa sekarang papa bersikap seperti ini?" Meisya bicara dengan sikap yang tenang agar sang ayah bisa memberikannya izin


"Haah ... baiklah, tapi ingat. Kamu harus menjaga dirimu baik-baik. Kalau sampai terjadi sesuatu dan kamu terluka lagi, itu artinya pemuda ini tidak bisa dibiarkan dan kamu tidak bisa bersama dengannya" Pak Arseno terlihat tegas dan serius. Dia telihat berwibawa sekaligus menyeramkan


"Kalau begitu kalian berdua bisa menyiapkan barang yang dibutuhkan Meisya selama perjalanan kalian. Ingat. Jika sampai Meisya terluka atau menangis, maka aku akan memisahkan kalian berdua, Tidak peduli bagaimana pun caranya itu"


"Baik om. Om tenang saja. Kali ini saya akan menjaga Meisya dengan baik" Kenzie bicara dengan penuh semangat dan rasa percaya diri yang tinggi"


"Kalau begitu papa mau pergi dulu. Ingat. kalau sampai Meisya menitikan air mata walau hanya setetes, papa tidak akan tinggal diam" Pak Arseno bicara sambil berbalik dan pergi dari hadapan Meisya dan juga Kenzie


"Hari ini papamu terlihat sangat menyeramkan" Kenzie bicara dengan sikap yang acuh tak acuh saat mengatakan tentang pak Arseno


"Ya, aku tidak tahu kenapa. Yang jelas kita masih beruntung karena papa masih bisa mendengar apa yang kita katakan" Meisya terlihat biingung ketika dia membicarakan bagaimana sikap sang ayah setelah dia dekat dengan Kenzie


"Sudahlah. Mungkin papamu hanya khawatir saja. Sekarang kita bersiap karena besok kita harus pergi pagi" Kenzie mengusap Kepala Meisya dengan lembut dan penuh cinta


"Hmn"Ujar Meisya disertai anggukan kepala dan senyum yang manis

__ADS_1


Keesokan harinya Meisya dan Kenzie pergi bersama ke bandara. Kenzie tidak berangkat bersama dengan Risha karena dia  berangkat langsung dari rumah Meisya. Risha pun berangkat sendiri namun dia menunggu Rendra diuar pintu bandara dan masuk sama-sama


"Risha! Rendra!" Kenzie berteriak memanggil Risha dan Rendra sambil melambaikan tangannya. Risha pun melmabikan tangan membalas Kenzie dan berjalan mendekat kearahnya bersama Rendra dan juga Billy


"Kalian lama sekali?" Kenzie mengeluh setelah dia datang lebih dulu dan harus menungu


"Maaf, ada sedikit kemacetan tadi, karena itu kami terlambat" Rendra sedikit menjelaskan dengan sikapnya yang tenang dan datar


"Kalian lama sekali? Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu kalian disini" Semua mata menoleh ketika mendengar suara Noey dari salah satu kursi ruang tunggu


"Oh, kamu sudah datang? Kami kira, kami masih harus menunggumu disini" Kenzie menyapa dengan sikap yang tenang dan dibalas anggukan oleh Kenzo


"Aku selalu tepat waktu, jadi tidak mungkin aku membuat orang lain menunggu" Noey bicara dengan sikapnya yang sinis dan acuh tak acuh


"Karena semua sudah berkumpul. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Pesawatnya juga sudah siap berangkat!" Risha menyarankan dengan sikap yang tenang


"Tentu" Mereka pun berjalan bersama menuju jet pribadi yang telah menunggu.


Karena paras mereka yang tidak biasa, serta aura pemimpin yang mereka pancarkan, semua pandangan orang-orang dibandara tertuju pada mereka. Orang-orang itu terlihat kagum dan juga penasaran dengan siapa mereka sebenarnya


"Meskipun ini sudah sering terjadi, tetap saja aku merasa tidak biasa dengan pandangan orang-orang yang terus mengarah pada kita" Meisya terlihat canggung saat semua orang menatap ke arahnya


"Santai saja. Aku pernah bilang kan kalau kamu harus terbiasa dengan tatapan semua orang yang mengarah padamu. Apalagi saat identitasku sudah terungkap, perhatian semua orang akan lebih mengarah padamu, karena kamu akan jadi pendamping dari Kenzie Lutherin Anggara dimasa depan. Menjadi pusat perhatian semua orang, tidak akan bisa terelakan saat itu" Kenzie berbisik pada Meisya dengan sikap yang tenang namun nada bicara dan senyumnya menunjukan kalau dia sangat bangga dengan itu


"Kamu terlalu percaya diri!" Meisya menanggapi Kenzie dengan sikap yang seakan mencibir namun dengan senyum


"Ya, mau bagaimana lagi pesonaku tidak bisa terelakan. Apalagi dengan menyandang status penerus" Ujar Kenzie lagi dengan bangga


"Narsis! Awas ada tiang di depan. Kamu bisa menabraknya jika bicara dengan kepala memandang keatas" Meisya memperingatkan dengan senyum dibibirnya


"Tidak akan karena ada kamu yang membimbingku agar tidak melakukan kesalahan"

__ADS_1


__ADS_2