
"Ini baru permulaan. Permainan kami baru saja dimulai sekarang"
Sikap Cheva, Lian, Diaz dan Radit terlihat sangat tenang. Seakan mereka memang tidak memiliki dendam dan datang untuk berkunjung. Bahkan senyum Cheva terlihat raman dan manis, jadi semua orang tentu akan percaya kalau mengatakan Cheva itu seperti bidadari yang cantik dan ramah. Hanya saja mereka tidak tahu jika senyum yang Cheva tunjukkan bisa jadi sebuah sampul yang dia gunakan untuk menutupi apa yang sedang dia lakukan. Seperti saat ini, disaat semua orang terpesona dengan semyum Cheva, Astria gemetar karena perkataan yang Cheva bisikan
"Se-sebenarnya apa tujuan kalian kemari?!" Astria berteriak dengan air mata yang kembali berlinang di pelupuk matanya
"Kami kemari ingin melihat secara langsung bagaimana kondisi Pras dan tentunya kami juga ingin menyampaikan rasa sedih kami sebagai mantan besan kalian. Bagaimana rasanya melihat orang yang kalian sayangi terbaring di ranjang rumah sakit karena kecelakaan? Tidak perlu kalian jawab, kami tahu bagaimana rasanya karena kami merasa jauh lebih buruk dari ini saat Lea harus meninggal karena kecelakaan. Atau lebih tepatnya profokasi akibat insiden kecelakaan?"
Diaz bicara dengan sikap tenang dan elegan. Sebelah tangan yang dumasukkan ke dalam saku celana membuat dia terlihat berwibawa, dan senyum tipisnya membuat orang terpana dengan ketampanannya
Astria dan Adnan hanya diam menatap Cheva dan Diaz, namun Sani dan suami Astria terlihat bingung dengan apa yang sedang dibicarakan disana
"Terimakasih karena kalian sudah berniat baik untuk datang kemari. TapiĀ kami baik-baik saja, dan karena Pras juga masih belum sadarkan diri jadi akan lebih baik kalau kalian pergi saja dari sini" Adnan berusaha bersikap tenang meskipun saat ini dia mulai gelisah dengan apa yang Diaz dan Cheva katakan
"Lagipula apa yang terjadi pada Lea adalah kecelakaan. Itu tidak ada sangkut pautnya dengan kami" Sambung Adnan mencoba meyakinkan Diaz
"Tidak ada sangkut pautnya denganmu?! Kamu pikir kami ini bodoh? Kami sudah mendapatkan buktinya dan cepat atau lambat kalian akan mendapat balasannya!" Radit yang kesal tidak bisa menahan emosi dan berteriak pada Adnan
"Radit, tidak baik bersikap kasar. Minta maaf pada orang yang lebih tua" Radit menunjukkan wajah kesal pada Lian karena menghentikannya
"Ingat Dit. Tidak baik menggunakan kekerasan. Mereka juga tidak akan mengerti meskipun kamu mencaci makinya" Lian tetap bicara dengan sikapnya yang dingin
"Tapi kak Lian"
"Minta maaf!" Lian menyela ucapan Radit dan tetap memintanya untuk minta maaf pada Adnan
"Maaf karena aku sudah bersikap kurang ajar" Terlihat wajah Radit yang kecewa dengan kepala tertunduk
"Tidak, bukan karena bersikap kurang ajar. melainkan karena kita akan mulai menagih apa yang mereka lakukan pada kakakmu. Jika kami hanya kehilangan Lea di keluarga kami, maka kalian akan kehilangan semuanya. Kita lihat saja apa dulu yang akan kami ambil dari kalian" Nada bicara Lian terdengar sangat dingin, kemudian dia menoleh pada Cheva yang ada disampingnya
__ADS_1
"Ayo pergi princes. Kita tidak perlu berlama-lama disini" Dengan nada bicara yang berbeda 180 derajat dengan sebelumnya, Lian bicara sangat lembut dan senyum manis tersungging di bibirnya pada Cheva sambil melingkarkan sebelah tangannya dipinggang Cheva
"Tentu hubby, ayo!" Mereka berbalik pergi di ikuti Diaz dan Radit yang berjalan mengikutinya. Mereka berempat tentu mencuri perhatian semua orang. Tidak kalah dengan selebriti papan atas, penampilan mereka berempat mampu menyihir mata banyak orang yang melihatnya
"Bukankah itu ... Cheva, Lian, Diaz dan Radit? Aku beruntung bisa melihat mereka"
"Benar, mereka terlihat sangat tampan, dan Lian dan Cheva juga terlihat sangat serasi"
"Apa ada saudara mereka yang dirawat disini?"
"Ehm ... sepertinya tidak. Yang aku dengar Lea baru saja meninggal tapi katanya bayinya juga sudah dibawa pulang"
"Jadi untuk apa mereka datang kermah sakit?"
"Entahlah"
***
"Sebenarnya apa yang terjadi? Coba jelaskan apa yang mereka maksud pada kami!"
"Benar, apa maksud mereka datang kesini? Kenapa mereka sepertinya senang melihat Pras mengalami kecelakaan?" Sani dan suami Astria meminta penjelasan pada Adnan dan Astria mengenai maksud dari kedatangan Cheva dan yang lainnya
"Mereka ingin membalas dendam pada kita. Mereka menuduh kitalah yang menyebabkan kecelaan Lea dan membuat dia meninggal. Mereka hanya mencari kambing hitam untuk melampiaskan kesedihan mereka saja" Adnan menjawab pertanyaan istri dan adik iparnya dengan taut wajah kesal
"Membalas dendam pada kita? Bagaimana itu bisa terjadi? Meninggalnya Lea, Galen dan Rey adalah murni karena kecelakaan. Dan pelaku yang menyebabkan itu terjadi juga sudah ditangkap. Harusnya mereka menemui kantor polisi dan menghajar supir truk itu! Kenapa mereka malah datang kemari dan membuat ulah?"
Suami Astria yang tidak tahu apa-apa terus menggerutu atas kedatangan Cheva dan lainnya
"Kalian tenang saja, aku akan membereskan kesalah pahaman ini. Kita tidak boleh gegabah dalam berurusan dengan mereka" Dengan sikap yang tenang Adnan berusaha meyakinkan Sani dan adik iparnya
__ADS_1
"Eum... " Terlihat Pras mulai sadar dan merintih kesakitan
"Pras? Anakku? Apa kamu baik-baik saja?" Astria langsung mendekat begitu melihat pergerakan kecil Pras dan berusaha membangunkannya
"Ma, semua tubuhku terasa sakit. Apa yang terjadi?" Suara Pras masih terdengar lirih dan pelan
"Kamu kecelakaan. Kamu tidak ingat kejadiannya?" Pras pun mulai berpikir dia berusaha mengingat kembali waktu terakhir sebelum kecelakaan terjadi
"Ya, aku ingat. Terakhir kali aku mencoba menyalip sebuah mobil sport yang selalu kejar-kejaran denganku. Dia menutup rapat kaca mobilnya tapi aku merasa mobil itu cukup familiar. Uuch..."Cerita Pras terhenti ketika dia merasa sakit dikakinya
"Ada apa?" Astria mendekatinya dengan wajah panik melihat sang putra terus meraba kakinya
"Mah, pah, kakiku... aku tidak menemukan kakiku! Mah, pah apa yang terjadi dengan kedua kakiku?!" Pras menyibak selimut yang menutupi bagian kakinya dan mendapati bahwa kakinya dari lutut sampai kebawah tidak ada.
"Tenanglah nak" Astria berusaha menenangkan putranya
"Mah! Bagaimana aku bisa tenang?! Sekarang aku cacat! Aku tidak berguna lagi!" Pras berteriak histeris sambil memukul bagian pahanya
"Dokter! dokter!" Sang ayah berlari keluar memanggil dokter agar memeriksa keadaannya
"Tolong anak saya dok!" Sambungnya ketika dokter dan suster masuk ke dalam dan melihat Pras terus berteriak histeris. Akhirnya dia disuntik dengan obat penenang, barulah dia kembali tidur
"Saya sudah menyuntikan obat penenang. Kalian harus berusaha menguatkan mentalnya agar dapat memerima leadaan" Ujar dokter yang kemudian beranjak pergi dari ruang Pras
"Terimakasih dokter"
"Bagaimana ini pah? Apa yang harus kita lakukan?" Astria kembali menangis dipelukan sang suami
"Tenanglah, kita harus tetap kuat agar bisa menguatkan mental putra kita"
__ADS_1
"Kita tidak boleh lengah. Radit dan saudaranya itu pasti tidak akan berhenti sampai disini. Kalian jangan pernah tinggalkan Pras sendiri. Dia sedang terguncang, aku takut kalau Cheva melakukan hal yang sama pada Pras seperti kita melakukannya pada Lea"
"Apa maksud ucapanmu? Jangan bilang kalau yang dikatakan Radit itu benar! Kalian yang menyebabkan Lea meninggal?"