
Rendra terus tersenyum selama perjalan mereka menuju toko tas dimana Risha membeli tasnya
"Kamu terlihat sangat bahagia? Apa karena seorang gadis terus saja memperhatikanmu meskipun dia sudah punya pacar?" Risha yang cemburu bertanya dengan nada sinis dan mengejek. Dia juga terus menekuk wajahnya yang cantik.
"Apa kamu cemburu? Biasanya kamu tidak pernah bersikap seperti ini terhadapku" Rendra menanggapi dengan senyum yang menggoda Risha.
"Huh! Tidak sama sekali. Untuk apa aku cemburu? Karena setelah menikah, kamu hanya akan kadi milikku" Risha kembali menanggapi dengan nada yang sinis dan mengancam.
"Ya, aku hanya akan jadi milikmu sampai kapanpun" bisik rendra menanggapi ucapan Risha.
Mereka pun tiba ditoko yang dimaksud.
"Permisi". Risha langsung masuk kedalam toko dan bersikap sopan pada karyawan toko tas mewah itu
"Nona Risha, Pak Rendra, anda berdua kembali lagi? Apa ada yang tertinggal disini?" Manajer toko yang melihat kedatangan Risha dan Rendra langsung menyambut mereka dengan sangat sopan dan ramah.
"Apa kamu mengingat apa yang aku beli hari ini dari tokomu?". Risha mengabaikan pertanyaan manajer toko dan langsung bertanya tentang tas yang dia beli hari ini.
"Tentu saja saya ingat. Anda sudah memesan tas ini dengan sangat lama, bahkan sebelum tas ini diluncurkan. Tapi kami baru bisa memberikan pesanan anda sekarang karea izin untuk kepemilikan tas ini yang cukup sulit". Manajer toko tas menjelaskan mengenai keterlambatannya menyiapkan pesanan Risha.
"Jadi kamu mengenal nona ini? Tas ini benar miliknya?" Ayah Julian bertanya dengan seksama mengenai Risha pada manajer toko tas sambil menunjuk tas yang dipegang Ciara.
"Tentu saja pak. Toko kami sangat mengenal Nona Risha. Terkadang keluarga Nona Risha selalu meminta kami menyiapkan tas yang mereka inginkan". Manajer toko tas menjelaskan dengan tenang kalau dia mengenal Risha dan keluaganya.
"Sekarang sudah jelas kan siapa pemilik tas itu?" Risha bicara tersenyum lebar setelah manajer toko itu memberikan kesaksiannya
Kini Julian dan Ciara yang terdiam dengan kepala tertunduk dan saling menatap satu sama lain karena malu, namun dibalik kepalanya yang tertunduk malu, Ciara diam-diam menatap Rendra yang terus saja berfokus pada Risha.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Julian pada Ciara dengan suara hampir berbisik
__ADS_1
"Menurutmu, apa pacarnya bisa menolong kita?" bisik Ciara yang terus menatap Rendra meskipun dia sedang bicara dengan Julian saat ini.
"Aku hampir lupa. Bukannya kalian berdua akan berlutut dihadapanku?" Risha menagih apa yang dikatakan Julian dan Ciara sebelumnya. Pasangan itu terlihat sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Risha.
"Ah itu ..." Julian terlihat bingung sambil menoleh pada sang ayah.
"Apa yang telah kalian lakukan sampai harus berlutut?" ayah Julian bertanya dengan sikap yang tenang, namun matanya menatap dingin pada Julian.
"Putra anda mengatakan siapapun yang salah nantinya harus berlutut. Dan sekarang, karena ini memang tasku bukannya mereka berdua yang harus berlutut dihadapanku?" Risha tersenyum sinis dan nada yang sombong. Dia menatap Julian dan Ciara dengan tatapan mengejek
"Julian, Ciara, apa benar yang dikatakan olehnya?" tanya ayah Julian lagi dengan penuh wibawa. Dia berusaha memastikan apa yang dikatakan Risha.
"Benar, Pah. Tapi apa kami harus berlutut dihadapan orang ini? Kita bahkan tidak mengenal dia. Kita ini dari keluarga terhormat, kenapa harus berlutut padanya? Memangnya siapa dia? Hanya seorang direktur saja sudah sombong. Aku yakin kalau papa bisa membuat dia dipecat dari perusahaan Sanjaya. Benar kan, Pah?" Julian menolak melakukan apa yang diminta Risha dan justru malah bersikap sombong padanya
"Jadi kamu ingin mengingkari apa yang telah kamu katakan? Aku memang hanya seorang direktur, tapi bukan berarti kalau statusku lebih rendah darimu. Aku bisa membuat mall ayahmu ini ditutup saat ini juga" Risha bicara dengan penuh keyakinan. Dia sama sekali tidak takut pada ayah Julian yang terus menatapnya dengan dingin
"Anda tidak dengar apa yang saya katakan? Saya memang hanya seorang direktur diperusahaan Sanjaya, tapi bukan berarti anda dan anak anda bisa merendahkan saya seenaknya" Risha bicara dengan sikap yang tegas dan tenang
"Huh! Omong kosong. Mana mungkin kamu bisa menutup mall kami yang sangat besar ini? Kamu kira kekuasaanmu bisa lebih tinggi dari kami? Tidak mungkin!". Julian terus saja menghina dan merendahkan Risha
"Kamu menantangku? Jangan salahkan aku kalau semuanya terjadi. Saat aku menggunakan ponselku, maka kalian hanya bisa menyesal" Risha benar-benar kesal pada Julian dan juga pacarnya.
"Maaf menyela pembicaraan kalian berdua, tapi Pak Deren, sebagai pemilik dari sebuah mall bukannya anda sagat mementingkan pelayanan dan keramahan? Kenapa anda malah membiarkan anak anda merendahkan calon istri saya padahal kami selalu datang ke mall anda? Anda tidak takut jika ada orang yang mengkritik tentang pelayanan anda yang tidak ramah?" Rendra pun kini ikut bicara dan membela Risha.
"Anda mengenal saya, Pak Rendra?". Pak Deren terlihat sangat tidak percaya saat Rendra menyebutkan namanya.
"Tentu saja saya tahu tentang anda. Pemilik mall yang memulai bisnis sendiri dari bawah, Hanya berawal dari ruko kecil, sekarang anda punya mall besar. Tapi sepertinya sekarang anda lupa siapa diri anda sampai berani merendahkan calon istri saya?" Rendra bicara dengan sikap yang tenang dan dingin.
"Bukan itu maksud saya, Pak Rendra. Mungkin anak saya tidak tahu kalau gadis ini adalah calon istri anda. Jika dia tahu mana mungkin dia berani mengganggu calon istri dari seorang pengusaha muda dari keluarga Dirga"
__ADS_1
"Jadi menurutmu, aku hanya bisa berdiri dipunggung Rendra untuk melindungi diri? Kamu salah besar... Aku bisa melakukan apa saja hanya dengan menyebutkan namaku karena keluargaku jauh lebih terhormat daripada kalian". Risha yang merasa tersinggung dan geram pada Ciara, Julian dan ayahnya, langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
Tuut tuut tuut
"Halo" tak lama terdengar suara seorang pria dari ujung telepon
"Halo, om Roni. Tolong lakukan sesuatu untukku" Risha bicara dengan sikap yang tenang namun nada yang kesal pada Roni.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Roni dengan sikap yang dingin.
"Tutup mall milik pak Deren. Pelayanannya sangat buruk. Mall itu sama sekali tidak pantas lagi untuk beroperasi. Bila perlu, buat mall baru yang lebih layak dan lebih lengkap segala-galanya".
Semua orang sangat terkejut mendengar perkataan Risha sampai mereka saling menatap satu sama lain dengan raut wajah bingung.
"Menutup mall ini dan membuka mall baru?"
"Apa mungkin bisa seperti itu?"
"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Julian dengan berteriak pada Risha
"Menutup mall milik ayahmu. Dengan begitu kalian akan berlutut dihadapanku!" Risha menanggapi dengan senyum percaya diri
"Kamu pikir kamu siapa. Dasar orang kaya baru! Baru diangkat sebagai direktur saja sudah sombong. Apalagi jika kamu jadi seorang pemilik perusahaan" Julian terus saja menghina Risha.
"Oh kamu tenang saja karena aku memang akan jadi penerus perusahaan Sanjaya. Aku Arisha Nedzara Kusuma. Kurasa tidak ada keluarga manapun yang lebih kaya dan terhormat melebihi keluargaku" Risha tersenyum bangga saat mengatakan nama lengkapnya.
"Apa?! Kamu putri dari keluarga Kusuma?!" Semua orang nampak terkejut mendengar nama Risha, terutama Julian, ayahnya, dan juga Ciara. Mereka sangat terkejut sampai mata mereka hampir melompat keluar.
"Tidak mungkin! Habislah kita"
__ADS_1