
Jam makan siang pun tiba. Risha selalu menghabiskan waktu makan siangnya bersama dengan Rendra tanpa diketahui rekan kantor mereka maupun sekertaris Rendra. Dan seperti yang telah diprediksi oleh Risha sebelumnya kalau tangannya masih tetap meninggalkan bekas merah meskipun sudah diberi salep luka bakar. Risha makan seperti biasa. Mereka berbincang mengenai banyak hal sambil menyantap makanan.
"Apa kamu tahu kalau Kenzo sudah mulai masuk perusahaan neneknya?" Rendra bertanya dengan sikap yang e7enang sambil menyantap makan siang miliknya
"Benarkah? Dia tidak memberitahulu. Bagaimana kamu bisa lebih tahu daripada aku?" Risha bertanya dengan nada yang sedikit kesal lada Rendra
"Kami masih sering melakukan video call" Jawab Rendra dengan sikap yang dingin
"Kadang aku sedikit curiga dengan kalian berdua. Apa benar kalian berdua ini hanya sekedar sahabat saja? Kenpa kalian berdua lebih dekat dan saling mengerti dibandingkan kami yang bersaudara?" Risha bicara dengan senyum mengejek Rendra. Dia bicara sambil menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Saat itulah Rendra menyadari luka Risha
"Kenapa dengan tanganmu? Bagaimana ini bisa terluka?" Rendra meraih tangan Risha yang terdapat bercak merah dan bertanya dengan sorot mata tajam juga sikap yang dingin
"Oh ini ... aku tidak sengaja terkena air panas saat akan membuat kopi" Risha menjelaskan dengan wajah tertunduk di depan rendra. Dia melakukan itu agar Rendra merasa kalau Risha cukup tertekan selama di tempat kerjanya
"Kamu pikir aku bodoh? Tidak perlu berpura-pura lembut dan polos di depanku. Aku ini cukup tahu karakter kalian bertiga" Rendra bicara dengan senyum tipis dibibirnya sambil terus menyantrap makan siangnya
"Hah?Apa maksudmu? Kamu pikri aku ini menipumu? Aku sama sekali tidak bohong" Awalnya Risha terkejyt dengan rekasi Rendra, namun kemudia dia kembali bersikap tenang dan bicara dengan nada yang manja
"Aku sudah lama mengenal Kenzo. Aku selalu membantunya menyelesaikan masalah kalian bertiga. Kurasa, aku cukup tahu bagaimana karakter kalian bertiga" Rendra tersenyum dengan menatap Risha
"Kenzo lebih tenang,, matang dan selalu memperhitungkan semuanya, dia selalu mengabil jalan satu langkah didepan dari apa yang diperkirakan. Sedangkan Kenzie, meskipun dia tersenyum ceria dan ramah tapi dia termasuk orang yang selalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan kadang dia juga bersikap ceroboh. Kamu sendiri, kurasa orang menilaimu sebagai gadis manis yang polos, ceria dan ramah, tapi kenyataannya, kamu tidak cukup hanya dibilang cerdik, tapi bisa dibilang kamu juga gadis yang licik"
"Terimakasih atas pujiannya. Ku kira itu sanjungan yang sangat berharga dari seorang Rendra Adelio Dirga yang lebih banyak diam. Kamu bilang kalau Kenzo itu pangeran es, tapi pada kenyataannya kamu juga sama saja dengannya. Apa karena kalian sudah lama bersama jadi lebih banyak persamaan dan juga kalian lebih saling mengerti satu sama lain?" Risha kembali tersenyum saat mengatakan pendaparnya tentang Rendra dan Kenzo
"Apa sudah selesai? Waktu makan siang kita sudah habis. Sebaiknya kita kembali kekantor. O iya, apa lukamu sudah diberi obat?" Tanya Rendra saat mereka beranjak keluar meninggalkan restoran
"Sudah, tadi aku sudah oleskan salep untuk luka bakar"
__ADS_1
Mereka berjalan bersama sebelum nantinya berpisah setelah keluar dari restoran
Drrt drrt drrt
Rendra menghentikan langkahnya karena ponselya tiba-tiba berdering. Dilihatnya itu panggilan dari Kenzo
"Panjang umur juga si pangeran es kita ini" Gumam Rendra disertai senyum tipis dibibirnya. Risha pun ikut menghentikan langkahnya mendengar Rendra mengatakan kalau Kenzo yang menghubunginya
"Halo, Zo" Sapa Rendra setelah dia menerima telepon Kenzo
"Ren, apa kamu sedang sibuk?" Kenzo bertanya untuk sekedar basa basi
"Apa yang kamu inginkan? Aku tidak percaya kalau kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan aku sibuk atau tidak. Lagipula, tidak mungkin kalau kamu mau mengajakku pergi makan siang kan?" Renda bicara dengan senyum mencibir
Risha tersenyum melihat sikap Rendra yang selalu berubah setiap kali dia bicara dengan Kenzo. Seakan dia sangat nyaman dan tidak ada beban sama sekali saat bersamanya. Seperti halnya Risha yang bisa bersikap apa adanya saat bersama dengan Kenzo dan Kenzie.
"Bagaimana jika aku terbang sekarang ke negara A dan mengajakmu makan malam romantis?" Kenzo bicara dengan nada yang dingin dan serius
"Hahaha …. kalian berdua lucu sekali. Apa saat kedua gunung es bertemu maka esnya seketika langsung hancur? Hahaha" Risha terbahak karena sedikit mendengar apa yang dibicarakan Kenzo dan Rendra
"Siapa itu? Suaranya seperti tidak asing" Tanya Kenzo singkat dan dingin
"Risha, aku baru saja selesai makan siang dengannya" Jawab Rendra menjelaskan dengan wajah kembali datar
"Kenapa kalian bisa bersama?" Tanya Kenzo lagi yang penasaran menunggu jawaban Rendra
"Bukannya kamu sendiri yang memintaku menjaganya dan memperlakukannya dengan baik? Jadi kami makan siang bersama. Lagipula, makan siang sendiri sungguh membosankan" Jawab Rendra dengan sikap yang tenang.
__ADS_1
"Aku hanya memintamu untuk menjaganya agar tidak ada yang berani melukainya, bukan memintamu untuk mendekatinya" Ujar Kenzo dengan sikap yang dingin
Risha merebut ponsel Rendra dari tangannya untuk bicara pada Kenzo
"Zo, kenapa kamu selalu menghubungi Rendra tapu tidak menghubungiku?" Risha bertanya dengan nada manja dan juga kesal
"Tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Berikan lagi ponselnya pada Rendra!" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang acuh tak acuh
"Huh! Menyebalkan! Nih!" Risha yang kesal langsung memberikan ponsenya lagi pada Rendra
"Ren, tolong periksa mengenai perusahaan teknologi yang bekerja sama denganku itu dan juga seorang aktor bernama Gilang" Ujar Kenzo dengan sikap yang tenang
"Kamu lebih pandai mengenai komputer, kenapa malah menyuruhku?" Rendra bertanya dengan raut wajah bingung
"Ehm ... mungkin karena aku sudah terbiasa denganmu?" Kenzo menjawab dengan sikap acuh tak acuh
"Cih. Cepat cari asisten sendiri! Aku tidak ingin terus jadi asister gratismu saja! Tapi, siapa itu Gilang? Apa dia membuat masalah dengan safira?" Rendra yang sebelumnya bicara dengan nada sinis seketika langsung tenang saat menanyakan Safira
"Tidak ada. Aku hanya ingin mendengar berita dari negara A tentang dia saja"
"Kamu yakin?" Rendra terdengar tidak percaya satat Kenzo mengatakan tidak ada apa-apa dengan Safira
"Tentu saja aku yakin ... Sudahlah, lain kali kita bicarakan lagi saat beraada dirumah. Ah aku lupa, data mengenai orang-orang yang kamu minta itu sudah aku kirimkan ke emailmu. Jangan terkejut jika orang-orang disekitarmu yang menggerogoti uang perusahaanmu sendiri"
"Apa kita sedang bertukar informasi?" Tanya Rendra dengan senyum tipisnya
"Anggap saja seperti itu. Aku tutup dulu" Kenzo langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Rendra
__ADS_1
"Safira? Siapa itu Safira?" Risha yang sejak tadi diam, menatap Rendra dengan tatapan penuh tanya
"Gawat, aku lupa kalau ada Risha? Kalau dia diberitahu, maminya Kenzo akan membuat keributan tidak ya?" Rendra terdiam dengan raut wajah yang terlihat bingung dan tidak tahu harus menjawab apa