
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu dari kediaman utama, Kenzie dan Risha pun akhirnya tiba diperusahaan. Karena mereka berangkat lebih dulu, mereka pun tiba dikantor lebih dulu dibanding Diaz.
"Zi, makasih ya karena sudah mengantarku kekantor. Jadi aku tidak perlu menyetir mobil sendiri" Risha bicara dengan senyum manis dan manja
"Sama-sama. Tapi … sudah lama aku tidak datang kemari. Bagaimana keadaan didalam?" Kenzie bertanya dengan senyum manis yang terlihat mencurigakan
Risha mengerutkan dahi hingga kedua alisnya hampir menyatu karena heran dengan ucapan Kenzie
"Apa maksudmu, Zie? Jangan macam-macam kamu! Kamu tidak lihat kalau semua gadis menatapmu dengan tatapan seperti pemburu liar? Sebentar lagi mereka akan mulai mencabik-cabikku, jadi sebaiknya kamu segera pergi dari sini!" Risha berusaha keras mengusir Zie agar dia tidak memaksa untuk masuk kedalam kantornya, namun itu tidak berhasil.
"Tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin melihat kantormu saja. Lagipula ini masih belum masuk jam kantor kan? Apa salahnya kalau aku datang melihatmu sebentar?"
Kenzie tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan saat dia bicara. Diapun tidak meminta pendapat Risha lagi. Zie langsung meninggalkan mobilnya dan berjalan menuju kantor lebih dulu
"Zie...! Kamu ini mau membuat masalahku semakin banyak ya?!" Risha berteriak memanggil Zie dan mempercepat langkah kakinya agar bisa mengejar Zie yang kini sudah berjalan cukup jauh didepannya.
"Aku hanya ingin melihat kantormu saja" Zie menjawab dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah
"ZIe, kamu tahu kan apa yang mereka gosipkan tentangku? Karena kamu datang kesini, sudah pasti mereka akan semakin menggosipkan aku lagi" Risha bicara pada Zie dengan nada mengeluh agar dia tidak jadi masuk kekantornya
"Jutsru itu yang ingin aku lihat. Aku yakin kamu akan terdengar keren karena selalu bersama dengan pemuda yang tampan dan gagah. Benarkan?" Zie dengan sengaja menggoda Risha dan membuatnya berada dalam gosip panas lagi
"Eh, itu bu Risha? Dengan siapa lagi dia?"
"Pria tampan lagi! Belum lama dia dijemput oleh pria tampan dengan kursi roda. Sekarang pria lain lagi dengan mobil sport yang mahal. Bagaimana dia bisa melakukan itu ya?"
"Tentu saja karena dia cantik. Jika kamu cantik, pasti kamu bisa memikat siapapun yang kamu inginkan"
"Benarkah itu? Tapi tidak semua orang cantik bisa merayu banyak pria seperti dia. Mungkin bu Risha itu memiliki 'kelebihan lain' yang dia gunakan untuk merayu banyak pria termasuk atasan kita sendiri?"
__ADS_1
Beberapa karyawan terlihat menatap Risha dengan tatapan mencibir. Banyak juga dari mereka yang terpesona dengan ketampanan Zie tanpa berkomentar apapun.
"Zie, apa kamu sudah lihat ulahmu itu? Mereka benar-benar menatapku dengan tatapan yang sangat merendakan. Kini mereka menatapku seperti aku ini seorang gadis murahan" Risha menggerutu dengan ekspresi kesal diwajahnya
"Melihat orang-orang berpikiran sempit dan negatif ... bukankah itu hal yang biasa, Sha? Pada akhirnya mereka akan menjadi mainan untuk memuaskan kebosanan kita kan? Cukup pecat mereka saja dan cari pekerja baru" Kenzie bicara dengan senyum lebar dan mata yang seakan menunjukkan banyak kelicikan didalamnya.
"Haah … kamu ini seperti anak kecil yang masih kurang bermain saja. Kita sudah dewasa dan bukan saatnya bermain. Saatnya kita mulai fokus pada bisnis" Risha pun menjawab dengan malas apa yang dikatakan Kenzie
Tak berapa lama, mereka tiba diruangan Risha, Kenzie langsung melihat-lihat sekitar ruangannya kemudian duduk di sofa sementara Risha meletakkan tas kerjanya diatas meja miliknya
"Kamu sudah melihat-lihat dan kamu juga sudah tahu ruang kerjaku, sekarang waktunya kamu pergi. Kamu harus segera menemui Meisya. Aku juga masih harus menyelesaikan proposal yang akan aku serahkan pada Rendra secepatnya. Aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan bicara hal yang tidak masuk akal denganmu. Kita juga akan bertemu lagi setelah pulang kerja, jadi kita bahas nanti saja! Sekarang waktunya kamu pulang! " Risha bicara sambil mendorong Kenzie menjauh dari ruangannya. Dia tidak sadar kalau saat ini ada seseorang yang sedang mengawasinya
"Ho ho bertemu lagi setelah pulang kerja? Ini kesempatan untukku!"
***
"Terimakasih karena hadirin sekalian sudah menyempatkan waktu untuk menghadiri konferensi pers kali ini. Disini saya ingin memberitahukan mengenai beberapa hal. Mungkin kalian bertanya-tanya karena sudah beberapa lama Safira tidak tampil dimanapun dan menerima tawaran apapun dari semua pihak. Kami ingin memberikan klarifikasi atas apa yang telah dia alami belakangan ini"
Para wartawan terlihat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Mona saat ini. Mereka menunggu dengan sabar meskipun saat ini terlihat kalau wajah mereka sangat tegang. Mereka juga sesekali mengambil gambar sebelum Mona bicara
"Sebenarnya selama ini Safira divonis mengidap kanker otak oleh dokter"
"Hah?! Apa?!"
Sesaat semua orang terlihat sangat terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain, setelah itu mereka dengan serempak mengambil gambar Safira, Mona dan Tiara untuk dijadikan bahan berita mereka
Jepret!
Jepret!
__ADS_1
Jepret!
"Awalnya dia selalu mengeluh sakit kepala hebat bahkan ada beberapa kali dia sampai mengeluarkan darah dari hidungnya. Beruntungnya Safira mengetahui penyakit itu dari awal. Sehingga dokter masih bisa menyarankan untuk melakukan operasi dan perawatan, namum peluang keberhasilannya juga hanyalah 10%, Safira bisa saja kehilangan nyawanya saat operasi. Meskipun operasinya berjalan lancar sekalipun, keberhasilan operasi itu juga tidak bisa 100%. Karena ini operasi yang berhubungan langsung dengan otak, ada kemungkinan Safira harus menerima konsekuensi setelahnya, Safira bisa saja kehilangan semua ingatannya. Saat itu Safira harus memilih antara mempertahankan semua ingatannya sampai dia menghembuskan nafas terkahir, atau menerima pegobatan yang bisa saja membuat dia kehilangan semua ingatannya yang berharga"
Semua kembali terkejut saat Mona menjelaskan keadaan Safira yang sebenarnya. Setelah itu mereka memotret Safira yang hanya diam di sebelah Mona
"Jadi maksud anda, Safira ... dia ..." Salah satu wartawan bertanya mengenai kondisi Safira Safira saat ini
"Ya, Safira memang sudah sembuh, tapi dia kehilangan ingatannya. Disini saya juga membawa dokumen dari rumah sakit di negara L yang menyatakan kebenaran dari keadaan Safira. Jadi kami disini ingin memberitahu dengan jujur pada publik mengenai kondisi Safira. Kami tidak ingin jika ada dari kalian yang merasa sakit hati atau merasa tidak dihargai saat bertemu dengan Safira karena sekarang dia tidak lagi mengingat masa lalunya"
Mona menjelaskan dengan raut wajah sedih sambil sedikit menundukkan tubuhnya untuk meminta maaf.
Dunia maya seketika dihebohkan dengan berita mengenai Safira yang baru saja berhasil melewati maut setelah mengidap penyakit berbahaya
"Hu u u ... dewiku... kamu pasti sangat menderita"
"Aku tidak menyangka kalau kak Fira sakit, padahal selama ini dia tidak pernah terlihat lemah ataupun mengeluh karena dia lelah"
"Kak Safira ...bagaimana bisa kamu melewati ini sendiri padahal ada banyak penggemar yang sudah pasti akan mendukungmu dan selalu memberikan semangat untukmu?"
Safira tersenyum dengan air mata yang juga turut mengalir diwaktu yang bersamaan
"Aku tidak tahu kalau ada banyak orang yang mendukungku. Terimakasih karena kalian selalu ada bersamaku meskipun aku tidak mengenal kalian semua secara langsung"
"Terimakasih kak Mona, Tapi … Apa tidak papa jika aku mengumumkan mengenai keadaanku sekarang? Aku takut ini akan menimbulkan banyak kerugian untuk kita"
"Tidak papa. Ini lebih baik daripada kita mengecewakan mereka karena mengira kamu sombong saat mereka menyapamu padahal kamu tidak mengingatnya" Ujar Mona dengan senyum manis
"Jika mereka benar-benar penggemarmu, maka mereka akan tetap mendukungmu"
__ADS_1