
Kenzoe dan Meisya bergegas kerumah sakit setelah mendapat telepon dari Risha mengenai keadaan Rendra. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak memakan waktu terlalu lama diperjalanan.
Kenzie langsung berjalan dengan langkah cepat kedalam rumah sakit begitu dia sampai. Namun dia tetap mengimbangi langkah kaki Meisya agar mereka tetap berjalan bersama. Mereka pun berjalan menuju meja informasi untuk bertanya pada suster yang berjaga disana tentang kamar yang ditempati Rendra
"Permisi. Dimana kamar pasien bernama Rendra di rawat?"
Kenzie terlihat panik dan khawatir saat dia bertanya pada suster
"Ya, tolong tunggu sebentar"
Kenzie pun mengangguk dan suster dengan cepat mencari data mengenai kamar yang digunakan Rendra
"Permisi pak. Pasien bernama Rendra berada diruang VVIP lantai 4 kamar Teratai" Perawat itu bicara dengan sopan pada Kenzie
"VVIP lantai 4 kamar Teratai. Terimakasih. Ayo" Kenzie memastikan kamarnya kemudian kembali beralih pada Meisya dan menggenggam tangannya menuju lift
"Terkadang aku agak risih kalau melihat tatapan mereka saat aku bersama denganmu. Aku merasa seperti punggungku sewaktu-waktu bisa berlubang karena tatapan itu"
Meisya bicara dengan nada yang dingin dan sesekali melirik para gadis yang memandang Kenzie dengan mata terpesona akan ketampanannya
Kenzie melihat lirikan Meisya kemudian tersenyum lembut
"Aku tidak bisa merubah wajahku, jadi kamu harus terbiasa dengan tatapan mereka padaku" Kenzie bicara dengan senyum dan alis yang diangkat menunjukkan kesombongan
"Cih, narsis" Meisya berdecih kesal dengan sikap Kenzie
Tak lama pun mereka tiba dilantai 4, kini mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan mencari kamar Teratai dimana Rendra dirawat
"Sepertinya itu kamarnya" Kenzie menunjuk kearah dimana Bastian dan Alan sedang duduk dan menunggu Rendra. Kenzie tahu karena dia pernah melihat Bastian dimajalah bisnis.
"Permisi, apa ini kamar Rendra?" Kenzie bertanya pada Alan dengan sikap yang tenang
Alan dan Bastian langsung menoleh begitu mendengar suara Kenzie
"Kenzo?" Bastian terkejut melihat Kenzie. Wajahnya langsung pucat karena dia mengira itu adalah Kenzo
"Bukan, saya Kenzie. Bagaimana kondisi Rendra sekarang?" Kenzie bertanya dengan sikap yang tenang
"Oh maaf, saya kira kamu Kenzo. Rendra masih belum sadar. Dokter bilang dia masih kritis" Bastian menjelaskan bagaimana keadaan Rendra saat ini.
__ADS_1
"Oh Begitu. Apa Risha juga di dalam?" Kenzie mengangguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Bastian
"Ya, dia ada didalam menemani Rendra"
Kenzie menoleh ke kamar Rendra dengan wajah sedih
"Kalau begitu, kami akan masuk sekarang"
"Ya silahkan"
"Sha"
"Zie!" Risha langsung berdiri dan berhambur kepelukan Zie ketika dia melihat saudaranya itu masuk ke kamar Rendra
"Sha, apa kamu baik-baik saja?" Kenzie memberikan jarak pada mereka agar bisa melihat wajah Risha, meletakkan kedua tangnnya dipipi Risha dan melihat wjahanya dengan seksama. Kali ini gadis yang biasa bersikap manja dan jarang sekali menangis terlihat sangat rapuh. Matanya sembab dengan air mata yang masih terlihat disana, hidungnya merah dan suaranya terdengar sedikit serak. Entah sudah berapa lama dia menangis. Risha mengangguk dengan lemah kemudian kembali menatap Rendra
"Dia masih kritis. Kita belum bisa tahu perkembangannya sampai besok. Jadi hari ini kita hanya bisa menunggu, semoga dia bisa bertahan malam ini"
Risha menjelaskan kondisi Rendra disela isak tangisnya. Dia hanya fokus pada Rendra, bahkan tidak menyadari kalau Kenzie datang bersama Meisya
"Tenanglah Sha, Rendra itu bukan pria yang lemah, jadi dia pasti bisa bertahan. Meskipun aku tidak mengenalnya dengan baik, tapi aku yakin kalau Rendra tidak akan menyerah begitu saja. Kamu tahu kan kalau Kenzo tidak mungkin berhubungan dekat dengan sembarang orang"
"Bagaimana dengan Kenzo? Apa dia akan kemari?' Kenzie mengalihkan pebicaraannya dan bertanya mengenai Kenzo. Dia tidak ingin Risha terus menangis
"Sepertinya dia sedang dalam perjalanan kemari. Dia bilang mungkin akan tiba disini besok pagi" Kenzie menganggukan kepala menanggapi penjelasan dari Risha
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat dulu. Aku yakin kalau kamu pasti lelah karena terus saja menangis. Entah sudah berapa lama itu, mungkin matamu membutuhkan transfusi air mata agar bisa menangis lagi nanti"
Kenzie sengaja menggoda Risha agar dia bisa tersenyum, dan ternyata itu berhasil meskipun Risha hanya menunjukan sedikit senyuman saja.
"Apa maksudmu transfisi air mata? Kamu pikir air mata ini akan habis? Tentu saja tidak akan pernah" Risha menanggapinya dengan senyum sambil menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipinya
"Eh, tunggu. Siapa gadis cantik dibelakangmu? Kamu tidak menculik anak gadis orang saat di perjalanan kemari kan?' Risha menggoda Kenzie dengan senyum yang manis dan tatapan mencurigakan
"Jangan sembarangan bicara. Dia datang kemari atas kemauannya sendiri. Kamu pikir aku suka memaksa orang lain?" Kenzie membela diri dari tuduhan Risha dengan sikap sombong
"Ya… selama ini memang begitu kan? Meskipun kamu bilang tidak menculik mereka tapi tetap saja kamu selalu membawa gadis dibelakangmu" Risha terus menggoda Kenzie dengan sikap acuh tak acuh
"Itu karena mereka yang mengikutiku. Aku sama sekali tidak pernah meminta mereka dengan sengaja untuk ikut"
__ADS_1
Kenzie terus menangapi Risha dengan penuh percaya diri. Dia tidak sadar kalau jawabannya membuat Meisya kesal dan mengaktifkan tatapan membuhuhnya. Punggung Kenzie tiba-tiba terasa panas, seakan ada api besar yang menyala di belakangnya. Diapun membalikkan badannya perlahan dan menatap Meisya dengan senyum canggung
"Ooh ... mereka yang mengikutimu sendiri ya? Tidak pernah meminta gadis manapun ikut, tapi kamu selalu dikelilingi banyak gadis cantik ya, hah?"
Meisya bicara dengan lambat tapi sorot matanya terlihat menyeramkan. Senyumnya pun lebih terlihat seperti iblis. Dia seakan siap melahap siapapun yang berada di dekatnya saat ini
"Itu… jangan dengarkan Risha. Dia suka bercanda. Oh kalian kan belum saling kenal. Sekarang biar aku kenalkan kalian" Kenzie mengalihkan pembicaraan agar tidak lagi membahas mengenai gadis lain.
Risha berusaha menahan tawa ketika melihat sikap Kenzie yang salah tingkah karena Meisya.
"Hai, aku Risha" Risha mendekati Meisya dan mengulurkan sebelah tangannya untuk berjabat tangan.
"Aku Meisya, senang bertemu denganmu. Aku turut prihatin atas apa yang menimpa pacarmu" Meisya menyambut uluran tangan Risha dan memperkenalkan dirinya. Dia berkata dengan wajah sedih ketika menoleh bicara tentang Rendra sambil menoleh melihatnya
"Terimkasih. Kemarin kami baru saja resmi pacaran, dia berjanji akan menjemputku setelah pulang dari pesta. Aku menunggunya dengan tidak sabar karena ingin menikmati kencan pertama kami. Seharian kemarin aku terus tersenyum, memikirkan apa yang akan kami lakukan saat berkencan. Apakah pergi nonton film romantis sambil bergandengan tangan, atau mengajaknya berbelanja, atau mungkin pergi makan malam di restoran yang romantis. Tapi yang aku dengar justru bukan kabar baik. Aku malah mendengar dia jatuh dari balkon. Kupikir dia bukan orang yang ceroboh sampai melompat dari balkon agar bisa pergi dari pesta dan segera menemuiku. Tapi tidak yang tahu bagaimana kejadiannya"
Risha kembali menangis saat menceritakan Rendra. Sesekali dia menunjukkan senyum disela derai air matanya. Dia menatap Rendra yang terbaring dengan wajah sedih. Siapapun yang melihatnya tentu akan ikut menitikan air mata.
Tak tega melihat sepupunya bersedih, Kenzie berjalan mendekati Risha. Menariknya dalam pelukannya yang lembut.
"Sha, percayalah kalau Rendra akan baik-baik saja. Kita juga akan menemukan penyebab dia jatuh. Jika memang ini dilakukan seseorang yang dengan sengaja mencelakainya, maka kita tidak akan membiarkan dia lolos. Kamu tentu ingat kan, mata untuk mata dan nyawa untuk nyawa. Jadi kamu hapus air matamu dan berhentilah menangis."
Dari luar kamar, Bastian mendengar percakapan didalam. Diapun tertunduk sedih penuh sesal atas apa yang terjadi pada Rendra.
"Aku akan pergi membelikan sesuatu untuk kamu makan. Kamu pasti belum makan kan?"
"Aku tidak nafsu makan. Kamu tidak perlu repot-repot membelikan makanan" Risha menggelengkan kepala sambil menghapus air matanya sendiri
"Tidak. Kamu harus makan, aku tidak mau kamu sakit. Dan kamu juga tidak mau kan dirawat dirumah sakit saat Rendra sedang membutuhkanmu?"
Risha tidak menjawab Kenzie dia hanya diam menatap Rendra
"Meisya, kamu tunggu disini. Aku pergi sebentar"
"Baiklah. Hati-hati"
"Tidak perlu. Anda bisa tetap disini. Biar saya yang turun kebawah dan membeli beberapa makanan" Alan langsung masuk begitu mendengar Kenzie akan keluar
"Kalau begitu, tolong ya" Kenzie sama sekali tidak menolak dan membiarkan Alan pergi
__ADS_1