
"Bagaimana bisa ada gadis seperti itu? Bisa-bisanya dia menggodamu didepan mataku sendiri? Dasar gadis tidak tahu malu dan sama sekali tidak bermoral!"
Meisya terus saja menggerutu dengan kesal setelah dia meninggalkan butik.
Kenzie hanya diam dan sesekali tersenyum menikmati kecemburuan gadis yang dia cintai, yang justru saat ini terlihat menggemaskan.
"Kenapa kak Zie diam saja? Dari tadi aku perhatikan kak Zie sama sekali tidak bicara. . Kak Zie hanya senyam senyum saja. Apa kak Zie juga diam-diam menyukai gadis itu?"
Meisya yang sedang marah kini juga mulai kesal pada Kenzie yang hanya diam saja saat mereka bertemu dengan Marina tadi.
"Kenapa kamu jadi menuduhku seperti itu? Dia bukan tipeku. Mana mungkin aku menyukai gadis seperti itu. Gadis tidak tahu malu yang berani menggoda pria yang tidak dia kenal. Jelas tipe gadis idamanku adalah gadis sepertimu. Gadis yang cantik, pintar, lembut namun tegas. Gadis tadi sama sekali tidak bisa dibandingkan denganmu"
Meisya yang sedang marah langsung diam setelah Kenzie memujinya. Dia memandang keluar jendela dengan pipi yang berubah merah
"Sudah, jangan marah lagi ya. Nanti papamu akan menyalahkanku karena dia mengira telah membuatmu kesal" Kenzie meraih sebelah tangan Meisya dan menciumnya
"Jangan menggodaku terus. Fokus saja pada jalanannya" Ujar Meisya yang kini semakin malu karena gombalan Kenzie
"Baiklah-baiklah. Sebentar lagi kita akan sampai" Kenzie bicara sambil tersenyum tipis melihat Meisya yang malu-malu
Tak berselang lama, mereka tiba di rumah ayahnya Meisya
"Sepertinya sudah banyak tamu yang datang"
Kenzie menoleh kesana kemari dan melihat sudah banyak mobil yang terparkir dihalaman rumah pak Arseno yang sangat luas
"Sepertinya begitu. Ayo kita masuk!"
Kenzie pun mengangguk kemudian turun lebih dulu dari mobil, barulah dia membantu Meisya turun
"Apa mereka tahu kalau kamu putri pak Arseno?"
"Ehm ... sepertinya tidak. Kak Zie tahu kan kalau aku sudah lama tidak pulang kerumah? Jadi yang mengenalku hanya pekerja rumah ini saja"
Meisya menanggapi dengan sikap yang tenang. Mereka berdua berjalan dengan anggun memasuki ruang tamu yang disulap menjadi aula besar untuk pesta
"Selamat malam pak Kenzie, nona Meisya"
"Ya selamat malam"
Sudah berkali-kali para penjaga dan pembantu rumah ini menyapa Kenzie dan juga Meisya begitu mereka memasuki gerbang rumah. Dan tanggapan yang mereka berikan selalu sama, menganggukan kepala disertai senyum dan jawaban atas salam mereka
"Sepertinya pesta yang dibuat papamu sangat ramai. Apa kita temui papamu terlebih dahulu?"
Kenzie bertanya dengan lembut saat mereka sudah berada di tengah-tengah pesta
"Ya, sebaiknya kita menyapa papa lebih dulu. Aku yakin kalau dia pasti mencari kita" Meisya bicara dengan lembut pada Kenzie.
"Baiklah" Kenzie dan Meisya pun menoleh kesana kemari dan mencari keberadaan pak Arseno
"Kak ZIe ... apa dunia ini begitu sempit? Bisa-bisanya aku melihat dia lagi"
"Hah? Siapa maksudmu?"
Kenzie terlihat bingung mendengar apa yang dikatakan Meisya. Diapun mengikuti arah mata Meisya yang terus menatap ke salah satu sudut di aula pesta, dimana beberapa gadis tengah berkumpul sambil berbincang disana. Dahi Kenzie pun berkerut dengan senyum mencibir melihat orang yang dimaksud Meisya.
"Jadi dia mencari gaun untuk dipakai ke pesta ini? Bagaimana dia bisa sampai disini? Apa ayahmu juga mengenalnya?" Kenzie terus menatap Marina tanpa berkedip. Dia terlihat bingung dengan kedatangan Marina dipesta ayahnya Meisya
"Kita harus segera menemui papa. Jangan sampai bertemu dengan gadis itu lagi. Urusannya bisa runyam jika dia melihat kita disini"
Meisya dengan cepat menarik Kenzie dari tempat yang ramai dan berniat mencari sang ayah
"Jadi kalian juga ada disini?"
__ADS_1
Langkah Kenzie dan Meisya langsung terhenti begitu mendengar suara yang familar ditelinga mereka. Kenzie dan Meisya pun saling menatap satu sama lain sebelum dia akhirnya membalikkan badan melihat orang yang memanggil mereka.
"Jadi kalian datang ke pesta ini juga?" Marina bertanya dengan nada yang sedikit mencibir
"Ya, kami juga dapat undangan ke pesta ini. Justru aku tidak menyangka, bagaimana bisa kamu memiliki undangan untuk datang kesini?"
Kini Meisya yang bertanya dengan nada yang dingin namun tetap tenang
"Aku adalah putri dari pengusaha tambang. Tentu saja aku bisa mendapatkan kartu undangan. Bukankah tidak aneh jika seorang putri bangsawan menghadiri pesta?"
Marina menunjukkan gayang yang sombong dan angkuh. Dia juga terlihat merendahkan orang lain dengan statusnya
"Ya ampun … bagaimana bisa ada orang sepertimu?"
Meisya mencibir sambil memukul keningnya sendiri pelan
"Apa yang salah denganku? Pemuda ini yang aneh"
Marina menjawab dengan polos lalu menunjuk Kenzie dengan jari telunjuknya
"Aku? Kenapa jadi aku yang aneh? Sudahlah sayang sebaiknya kita tinggalkan saja dia"
Kenzie kembali menggandeng Meisya dan berniat meninggalkan Marina
"Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku demi wanita itu?!"
Meisya dan Kenzie kembali berbalik melihat Marina. Kali ini bukan hanya mereka berdua saja yang memperhatikan gadis itu, tapi semua orang yang ada dipesta memperhatikan mereka bertiga
"Apa yang terjadi? Apa kedua gadis itu sedang bertengkar untuk memperebutkan seorang pemuda?"
"Sepertinya begitu"
"Wah wah wah … hebat sekali dia, karena diperebutkan oleh dua gadis cantik"
Semua tamu yang hadir membicarakan perdebatan antara Kenzie, Meisya dan juga Marina.
"Apa yang kamu bicarakan? Jangan sembarangan bicara?!"
Meisya mulai kesal dengan apa yang dilakukan oleh Marina
"Ada apa ribut-ribut?"
Kedatangan pak Arseno mencuri semua perhatian kerumunan orang
"Om, mereka berdua ini membuat masalah denganku!"
Marina dengan angkuhnya kini mengadu pada pak Arseno
"Apa yang mereka lakukan?"
Pak Arseno bertanya dengan sikap yang tenang dan sesekali menatap Meisya dan Kenzie yang terlihat bingung
"Tadi mereka membuatku malu saat dibutik dan sekarang demi wanita ini dia mengabaikan aku!"
Kenzie dan Meisya menatap malas satu sama lain. Mereka tetap diam karena ingin tahu sejauh mana gadis ini akan membuat ulah.
Pak Arseno pun menatap Kenzie dan Meisya dengan tenang.
"Marina, om dan papamu memang berteman baik. Tapi apa kamu tidak malu karena membuat keributan dipesta yang om buat?"
"Aku tidak bermaksud begitu om. Tapi mereka memang berani bersikap kurang ajar padaku. Om tidak seharusnya mengundang orang seperti mereka"
"Sayang, gadis ini gila atau gimana ya? Dia yang membuat masalah, kenapa kita yang disalahkan?"
__ADS_1
"Sepertinya dia gila kak"
Kenzie dan Meisya bicara sambil berbisi. Mereka semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Marina
"Sudahlah jangan buat keributan lagi. Silahkan lanjutkan. Nikmatilah pesta ini dengan nyaman"
Pak Arseno bicara pada Marina dengan mada malas dan meminta tamunya untuk menikmati pesta yang telah dia buat
"Kalian berdua ikut denganku"
Kenzie dan Meisya pun menganggukan kepala menanggapi ajakan pak Arseno. Saat Kenzie, Meisya dan pak Arseno berbalik untuk pindah ke tempat lain tiba-tiba
Prang …
Aula pesta yang sebelumnya ramai dengan alunan musik, seketika langsung hening setelah terdengar suara pecahan kaca. Semua orang pun berbalik dan menoleh ke arah sumber suara.
"Marina! Apa yang kamu lakukan?!"
Pak Arseno berteriak dengan raut wajah kesal pada putri dari sahabatnya itu
"Om, harusnya om usir gadis itu! Kenapa om malah membawanya ke dalam?!"
Marina pun ikut berteriak pada Pak Arseno
"Haah … papamu meminta om untuk menjagamu selama di pest, dia akan pulang besok. Jadi kamu tidak boleh membuat keributan! Jika kamu ingin membuat masalah, sebaiknya kamu pulang saja"
"Jika om tidak mengusir dia, aku yang akan mengusirnya! Ayo ikut!"
"Lepaskan!"
Marina yang tidak suka pada Meisya, kini menarik tangannya dengan keras.
"Lepaskan atau aku akan berbuat kasar!"
Zie yang tidak tega melihat kekasihnya ditarik paksa pun langsung memegang tangan Meisya untuk melepaskannya. Kini Meisya ditarik oleh Kenzie dan juga Marina
"Tampan, kamu itu pacarku, kenapa malah membela gadis lain di depanku?"
Marina bicara dengan nada yang manja
"Benar-benar gila"
Kenzie terlihat semakin kesal, lalu dia merogoh ponselnya di saku jas dan menghubungi seseorang
Tuut tuut tuut
"Selamat malam. Rumah sakit Harapan Jiwa, ada yang bida dibantu?"
Terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon
"Halo, rumah sakit jiwa? Kirimkan orang untuk menjemput pasien di kediaman Pak Arseno Wilandra sekarang juga. Jalan XX no 5"
"Baik, kami akan segera mengirim beberapa perawat kesana"
"Terimakasih"
Kenzie pun menutup teleponnya setelah bicara
"Kenzie, apa itu tidak berlebihan?" Pak Arseno sedikit ragu dengan keputusan Kenzie
"Biar aku yang urus. Orang gila memang sudah sepatutnya berada dirumah sakit jiwa"
Kenzie menjawab dengan seringai tipis dan sorot mata yang tajam
__ADS_1