
Rendra dan beberapa pengawalnya akhirnya tiba di rumah utama keluarga Dirga
"Tuan muda, kita sudah sampai" Ujar salah satu pengawal yang membukakan pintu mobil untuk Rendra
Rendra menoleh pada rumah besar yang ada di hadapannya. Dia keluar dari mobil dan kembali terdiam menatap rumah besar itu
"Rendra, jangan berlarian seperti itu. Kamu bisa jatuh!" Teriak seorang wanita cantik dengan senyum lembut di bibirnya
Dubrak
"Huu..uuu..uu"
"Rendra!" Wanita itu berlari dengan wajah panik ketika melihat putranya jatuh
"Ibu, kakiku berdarah" Ujar Rendra kecil yang jatuh dan terluka
"Kita obati di dalam" Sang ibu yang bernama Intan berusaha menenangkan anaknya dengan senyum lembut dibibirnya
"Kamu tidak ajarkan dia tatakrama? Bagaimana bisa kamu biarkan anakmu ini berlarian kesana kemari? Bagaimana kalau dia melukai Bastian?" Ujar seorang wanita lain dengan sorot mata penuh kebencian. Dia adalah Aulia, ibu dari Bastian yang merupakan istri pertama James Dirga
"Maafkan aku, kak. Rendra hanya anak kecil. Dia masih tidak mengerti apapun, aku akan memberitahunya lagi agar lain kali dia tidak berlarian" Intan menundukkan kepala penuh penyesalan untuk melindungi putranya
"Ren, kamu tidak papa? Lututmu berdarah. Tante, lututnya Rendra berdarah" Ujar Bastian yang memiliki usia 3 tahun lebih tua dari Rendra
"Bastian, kemari kamu! Untuk apa kamu baik pada anak sialan itu! Tidak usah bersikap baik padanya!" Ujar sang ibu dengan penuh kebencian.
"Tapi mah, dia itu adikku"
Plak
Bastian yang berusaha membela Rendra seketika mendapat tamparan dari sang ibu
"Bastian!" Intan yang sejak tadi memeluk Rendra sangat terkejut melihat Bastian ditampar ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Dia itu bukan adikmu! Kamu tidak punya adik. Dia hanya anak dari istri simpanan ayahmu saja!"
Tanpa terasa air mata Rendra mengalir begitu mengingat kenangan masa kecilnya dirumah besar ini. Dia dengan cepat menghapus air matanya
"Tuan muda, mari!" Rendra menganggukkan kepala menanggapi ajakan dari pengawal
"Tuan muda, selamat datang kembali" Seorang pria paruh baya datang menyambut Rendra begitu dia melihat Rendra memasuki rumah
"Paman Markus, lama tidak jumpa. Bagaimana kabar paman?" Rendra menyapa sambil berjalan masuk kedalam rumah besar itu dengan wajah datar
"Saya baik, tuan muda. Terimakasih sudah menanyakan kabar saya. Anda akan istirahat dulu atau langsung menemui tuan besar?" Tanya Markus yang jadi pelayan kepercayaan sang ayah
"Saya akan temui ayah" Jawab Rendra dengan sikap yang dingin tanpa menghentikan langkahnya
"Baik, saya akan minta seseorang menyiapkan kamar tuan muda"
"Tidak perlu repot-repot. Saya akan pulang kerumah saya sendiri" Rendra menanggapi sambil berlalu meninggalkan Markus dan berjalan menuju kamar sang ayah
Rendra berjalan dengan langkah kaki yang berat menuju kamar sang ayah. Kenangan masa kecilnya dirumah besar itu membuatnya terasa sesak napas
"Kamu sudah datang?" Terlihat seorang pemuda dengan setelan jas lengkap duduk disamping pria tua yang terbaring dengan selang infus dan menggunakan bantuan pernapasan dimulutnya
"Hemn" Rendra menanggapi dengan dingin. Dia menatap pria tua yang kini terbaring tak berdaya dihadapannya
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rendra dengan sikap yang dingin
"Tidak baik. Dokter bilang ayah sudah tidak ada harapan lagi, karena itu aku memintamu pulang" Ujar pemuda itu dengan sikap datar, dia adalah Bastian
Rendra tidak menanggapi ucapannya, dia hanya diam menatap sang ayah dengan lekat
"Ayah sudah pulang? Ayah tadi disekolah aku apat nilai A lagi" Ujar Rendra bercerita pada sang ayah ditemani sang ibu disampingnya
"Benarkah? Wah putra ayah pandai sekali" James memuji Rendra sambil mengusap kepalanya
__ADS_1
"Benarkah Rendra dapat nilai bagus lagi? Wah hebat sekali" Rendra, ibunya dan James pun langsung menoleh bersamaan mendengar suara orang lain memuji Rendra. Wajah Rendra dan ibunya langsung berubah pucat dan menundukkan kepala melihat Aulia yang datang
"Benarkan, Rendra itu anak hebat. Dia tidak kalah pintar dari Bastian" Sang ayah tersenyum santai melihat istri pertamanya juga memuji putranya. Namun dia tidak tahu kalau tatapan Aulia berubah sinis dan dingin saat menatap Intan dan Rendra
Lagi-lagi kenangan masa lalu kembali membayangi Rendra saat melihat sang ayah
"Aku lelah, jadi aku akan langsung pulang kerumahku. Besok aku akan kemari lagi" Ujar Rendra sambil berbalik dan hendak pergi meninggalkan kamar sang ayah
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Bastian yang membuat langkah kaki Rendra langsung terhenti. Diapun dengan cepat berdiri dan berjalan lebih dulu dari Rendra. Rendra pun mengikutinya dari belakang
"Apa yang ingin kakak bicarakan denganku?" Tanya Rendra dengan sikapnya yang dingin
"Kamu masih tidak ingin kembali kemari?" Bantuan terlihat sedikit kesulitan untuk bertanya pada Rendra
"Sejujurnya, iya. Kalau saja bisa, aku tidak ingin lagi masuk kerumah ini dan jadi bagian dari keluarga ini" Rendra menjawab tanpa merubah sikapnya sama sekali
"Ren, itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Mereka juga sudah tidak ada, apa kita tidak bisa merubah sikap kita dan jadi keluarga biasa saja?" Bastian bertanya dengan wajah putus asa
"Keluarga? Aku selalu memimpikan itu sejak masih kecil. Tertawa bahagia dan bermain dengan kakak, ayah dan ibu, tapi kita tidak sedekat itu sampai disebut sebuah keluarga yang asli. Kita hanya dekat dan jadi keluarga saat didepan ayah saja. Ketika ayah tidak ada, aku dan ibuku hanyalah lalat pengganggu untuk kalian. Bukankah itu yang sebenarnya, kakak?"
"Rendra, kamu tahu sendiri kan kalau aku selalu menganggapmu adikku? Aku selalu rela melakuman apa saja untukmu"
"Tapi sayangnya setiap kakak berusaha berhubungan dekat denganku, itu jadi masalah utukku. Jika tidak dipukul, maka aku akan dikurung dan ibuku hanya akan menangis sambil meminta maaf tanpa henti didepanku" Rendra mengepalkan tangan mengungkapkan isi hatinya pada Bastian
"Ren... aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi aku tetap ingin meminta maaf padamu atas apa yang sudah kamu alami sejak kecil. Aku minta maaf atas semuanya. Kuharap saat ini, kamu benar-benar memutuskan untuk pulang dan mengelola perusahaan bersama denganku" Bastian termenung menatap wajah sang adik
"Tidak usah meminta maaf lagi. Saat ini aku belum memikirkannya, jadi nanti lagi saja bahasnya" Rendra menjawab dengan sikap acuh acuh sambil terus menatap layar ponsel ditangannya. Dimana disana ada foto mengenai sang ibu
"Ren, apa kamu tidak bisa melepaskan masa lalu dan hidup disini denganku? Aku mengatakannya dengan tulus padamu. Aku ingin memperbaiki hubungan diantara kita berdua. Sekarang hanya ada ayah, aku dan kamu. Apa kita tidak bisa jadi satu keluarga?" Bastian bicara dengan raut wajah sedih
"Aku tidak bisa. Setiap aku berusaha menerima hubungan denganmu, maka itu akan jadi kesalahan berat untukku. Dan itupun berlaku hingga sekarang. Semua kenangan itu masih saja terus menghantuiku. Padahal ibu kita sudah sama-sama tidak ada. Tapi rasanya itu berat sekali. Aku tidak sanggup membayangkannya" Rendra menanggapi dengan sikap dinginnya
"Aku mengerti. Aku akan tetap menunggu sampai kamu siap menerimaku kembali sebagai kakakmu" Bastian tersenyum manis membujuk Rendra
__ADS_1
"Sudah tidak ada lagi yang ingin aku katakan. Jadi, aku akan pergi sekarang" Rendra tetap bersikap acuh tak acuh dan melangkah pergi meninggalkan rumah besar itu. Bastian hanya bisa memandangi punggung Rendra dengan raut wajah sedih