Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kesedihan Kenzie Dan Meisya


__ADS_3

Kenzie kembali kekantor dengan wajah murung. Dia terlihat sangat sedih dan tidak bersemangat. Senyum ramah dan cerianya kini sama sekali tidak terlihat. Noey memperhatikan dari kejauhan begitu dia mendekat ke ruangannya.


“Bagaimana? Apa kamu sudah bicara dengannya?” tanya Noey dengan sedikit berhati-hati.


Kenzie hanya menggelengkan kepala dengan wajah sedih tanpa mengatakan apapun. Noey pun tidak bertanya lebih lanjut dan membiarkan Kenzie kembali keruangannya dengan wajah murungnya.


Kenzie duduk disofa dengan melemparkan tubuhnya dan berakhir bersandar pada sofa dengan sebelah tangan menutupi matanya.


“Mei, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan hubungan kita?” batin Kenzie menangis tanpa suara mengingat apa yang Meisya katakan padanya.


***


Meisya kembali kerumah pak Arseno setelah dia memberikan surat pengunduran diri dari perusahaan Kusuma.


“Nona sudah pulang?”


“Hmn”


Pak Har menyapa Meisya begitu melihat dia masuk ke dalam rumah. Namun Meisya hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, bahkan dia juga tidak memandang pak Har. Dia terus berlalu menuju kamarnya dengan wajah suram.


“Ada apa dengan non Meisya?” gumam pak Har melihat nona mudanya yang biasa ceria dan pembangkang hanya diam dengan wajah murung.


“Har, tadi aku lihat taksi dari sini. Apa Meisya sudah kembali?” Pak Arseno bertanya pada Har yang sedang termenung menatap sisa kepergian Meisya.


“Oh, ia tuan. Nona sudah pulang, tapi entah apa yang terjadi, dia terlihat sangat sedih sekali hari ini” Har mengatakan apa yang dia lihat pada Arseno dengan wajah bingung.


“Benarkah? Kalau begitu, aku akan menemuinya” Pak Arseno pun langsung beranjak pergi menuju kamar Meisya dan meninggalkan Har sendiri.


“Mei terlihat sedih? Apa dia benar-benar sudah putus dengan Kenzie?” Gumam pak Arseno dengan langkah kaki yang semakin cepat agar bisa segera menemui Meisya.


Tok tok tok

__ADS_1


“Mei, apa kamu baik-baik saja?” Pak Arseno langsung mengetuk pintu ketika dia baru saja tiba didepan kamar Meisya.


Dia dalam Meisya sedang menangis dalam ruangan yang gelap. Dia memeluk erat kedua lututnya dan membenamkan wajahnya disana.


“Kak Zie … kak Zie… aku sudah terlanjur mencintaimu. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Hu … u … u” Gumam Meisya disela isak tangisnya. Dia mengabaikan sang ayah yang terus mengetuk pintu.


“Mei, apa kamu baik-baik saja? Buka pintunya Mei. Papa ingin bicara denganmu" Pak Arseno terus berteriak dari balik pintu kamar Meisya.


"Aku baik-baik saja, Pah. Papa pergi saja. Aku sedang ingin sendiri" ujar Meisya menanggapi dari dalam kamarnya.


Pak Arseno hanya bisa menundukkan kepala dan berbalik pergi meninggalkan kamar Meisya lalu kembali keruang kerjanya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin kebahagiaan putri kita, tapi aku tidak bisa membiarkan dia menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Dulu kamu meninggalkanku karena status kita yang berbeda. kesibukanku dan latar belakang keluargaku yang jauh lebih tinggi darimu membuatmu tertekan berada ditengah-tengah keluargaku. Sekarang Meisya juga ingin jadi bagian dari keluarga kaya yang latar belakangnya jauh diatasku. Apa aku harus membiarkannya? Tidak. Aku tidak ingin Meisya Mangalami kesedihan sepertimu. Aku tidak mau kalau sampai jatuh kedalam jurang yang gelap dimana tidak ada sedikitpun cahaya yang dapat membantunya keluar”


Pak Arseno bicara sendiri sambil mengingat ibunya Meisya yang sudah tidak ada.


“Permisi tuan. Maaf saya ikut campur. Apa anda benar-benar akan membiarkan nona dan Kenzie mengakhiri hubungan mereka? Saya tahu kalau anda sangat menyayangi nona dan takut kalau nona tidak akan bahagia dengan


keluarga itu, tapi apa anda rela melihat nona bersedih seperti ini? Tuan, mungkin saja itu hanya kekhawatiran anda saja. Anda tidak bisa menyamakan keluarga Kusuma dengan keluarga anda dulu. Kita tahu sendiri kalau keluarga Kusuma selalu saling menyayangi dan melindungi keluarga mereka, jadi menurut


Arseno terdiam dengan kepala tertunduk mendengar apa yang dikatakan Har padanya. Dia kembali mengingat betapa sedihnya Meisya saat kehilangan ibunya. Putrinya itu menutup diri begitu lama dan hanya berdiam diri dikamar sendirian.


“Har, aku melakukan semua ini demi kebagiaan Mei. Aku tidak ingin melihat Mei depresi dan sakit-sakitan seperti ibunya. Mei pasti akan baik-baik saja setelah beberapa waktu. Ini hanya butuh waktu saja sampai Mei


menyadari kenapa aku melarang hubungan mereka berdua. Yang harus kita lakukan adalah mencarikan pengganti Kenzie yang sepadan dengannya”


Pak Arseno bersikeras untuk tidak menyetujui hubungan Meisya dengan Kenzie dengan dalih untuk melindunginya.


***


Hari ini Risha tidak memiliki janji dengan Rendra dan langsung pulang kerumah setelah bekerja. Dia tiba lebih dulu dibanding  Kenzie. Risha sedang duduk sambil membaca majalah di sofa ruangan tempat dia biasanya menghabiskan waktu dengan Kenzo dan Kenzie. Letaknya tidak jauh dari kamar mereka bertiga. Risha mengalihkan pandangannya ketika menyadari kedatangan Kenzie yang terlihat lemas dan malas, bahkan hanya untuk melangkahkan kakinya.

__ADS_1


“Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?” pikir Risha dengan dahi berkerut dan tatapan heran dimatanya. Dia pun berdiri


dan menghampiri Kenzie


“Zie, ada apa? Apa terjadi sesuatu?” ujar Risha bertanya dengan lembaut dan suara yang lemah.


Kenzie yang terlihat seperti tak memiliki semangat hidup lagi menoleh dan menatap wajah Risha dengan raut wajah sedih.


“Hubunganku sudah berakhir. Aku dan Meisya sudah putus” jawabnya lirih.


“Putus? Kenapa kalian putus? Apa ada masalah yang terjadi diantara kalian berdua?” Risha terlihat terkejut dan bertanya dengan wajah khawatir.


"Aku juga tidak tahu kenapa dia melakukan ini. Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang" Kenzie duduk disalah satu kursi dan bercerita dengan wajah sedih.


"Apa ini ada hubungannya dengan ayahnya yang tidak menyukaimu?" tanya Risha dengan ragu-ragu.


"Mungkin" Kenzie memanggapi dengan singkat dan kembali menutup matanya dengan sebelah tangan.


"Lalu kamu akan diam saja? Bukannya sebelumnya kamu akan berusaha meyakinkan ayahnya Meisya? Kamu akan menyerah begitu saja dengan hubungan kalian berdua?" Risha bertanya dengan sikap yang sinis. Dia berusaha meyakinkan Kenzie agar mempertahankan hubungannya.


"Tapi apa yang harus aku lakukan, Sha?" tanya Kenzie lagi dengan ragu-ragu


"Apapun. Asalkan bisa membuktikan ketulusanmu padanya" Risha mengangkat kedua bahu saat bicara disertai senyum manis dibibirnya.


Kenzie menatap Risha sambil mempertimbangkan apa yang dikatakan olehnya.


"Kamu benar. Aku tidak boleh menyerah begitu saja atas hubungan kami. Aku harus berhasil meyakinkan pak Arseno kalau aku layak untuk bersanding dengan putrinya"


Kenzie pun kembali bersemangat dan bergegas pergi lagi dari rumah.


"Kamu mau kemana lagi? Ini kah sudah malam" tanya Risha yang tidak tahu apa yang dipikirkan Kenzie

__ADS_1


"Tentu saja kerumah pak Arseno. Aku harus berusaha mendapatkan kembali cintaku" Kenzie menanggapi dengan senyum penuh percaya diri dan langsung berbalik pergi meninggalkan Risha.


"Aku tahu kamu bukan orang yang mudah menyerah" gumam Risha menatap punggung Kenzie yang semakin menjauh disertai senyum dibibirnya.


__ADS_2