
Semua orang sangat terkejut mendengar pemberitahuan mendadak yang dilakukan Jingga. Mereka saling menatap satu sama lain sambil berbisik dengan rekan disebelah mereka.
“Ada apa, Bu? Apa terjadi sesuatu sampai anda menyerahkan posisi pemimpin perusahaan secara mendadak?” Tanya salah satu anggota dewan direksi dengan raut wajah penasaran dan khawatir.
“Tidak ada. Ini murni karena saya ingin menikmati masa tua saya saja dan membiarkan generasi muda yang memimpin perusahaan ini. Sudah waktunya untuk generasi baru yang menggerakkan perusahaan ini” Ji menanggapi dengan sikapnya yang tenang dan penuh wibawa
“Tapi, Bu. Siapa orang yang akan memimpin perusahaan ini? Bagaimana bisa anda langsung percaya kalau dia bisa menjadi pemimpin yang baik untuk perusahaan ini?” tanya anggota dewan direksi yang tadi selalu menentang Jingga
“Pak Hardi, apa anda meragukan penilaianku?” Tanya Jingga lagi dengan sorot mata yang tajam dan nada bicara yang dingin
“Ti-tidak. Bukan itu maksud saya. Hanya saja ... anda tidak pernah membicarakan masalah ini sebelumnya” Hardi tergagap dengan wajah tertunduk ketika Jingga bertanya langsung padanya.
“Apa kalian akan membiarkan saya melepaskan posisi ini jika saya bicara pada kalian semua sebelumnya?” Ji memicingkan mata saat dia bicara pada semuanya, namun matanya menjurus pada Hardi. Semua orang terdiam tanpa kata setelah mendengar Ji bicara.
“Tapi Bu Jingga, kami juga memiliki sejumlah saham disini. Anda perlu mendengarkan pendapat kami juga, anda tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Dan lagi kami harus tahu pemimpin perusahaan ini selanjutnya. Apa dia pantas atau tidak, kami tidak ingin semua uang yang kami investasikan disini jadi sia-sia” ujar dewan direksi lain yang juga merasa keberatan dengan keputusan Ji.
“Kalian? Kalian memang memiliki saham disini, tapi apa kalian ikut menyelesaikan setiap masalah yang ada diperusahaan ini? Kalian hanya peduli jika saham perusahaan naik dan turun, tentu saja karena itu berpengaruh pada keuntungan yang kalian hasilkan diperusahaan ini besar atau kecil" Ji kembali menatap semuanya dengan tatapannya yang dingin. Kini suasana ruang meeting terasa sangat dingin dan mencekam.
***
Sementara itu dilantai bawah, Kenzo baru saja tiba diperusahaan sedangkan Zack sudah tiba lebih dulu dan menunggunya di depan pintu lobby. Dia langsung mendekati mobil Kenzo dan membukakan pintu untuknya saat melihat mobil sang atasan berhenti.
“Apa nenekku sudah datang?” tanya Kenzo dengan suara kecil pada Zack
“Ya, sepertinya bu Jingga sudah menunggu diruang rapat. Mereka tinggal menunggu kedatangan anda saja” Zack menanggapi dengan sikap yang sopan.
“Baiklah, ayo kita masuk kedalam!” Zack mengangguk dan mengikuti Kenzo yang berjalan di depannya. Dia terlihat sangat berwibawa dengan ekspresi wajah dingin dan langkah yang elegan dan berwibawa. Penampilan yang rapih dan sempurna tentu saja menjadi daya tarik Kenzo hingga membuat semua orang merasa
penasaran dengan tujuannya datang ke perusahaan JB Company.
“Itu ... bukannya dia programer muda itu?”
__ADS_1
“Benar, dia juga sekarang menjabat sebagai direktur utama perusahaan Anggara. Apa yang dia lakukan disini? Apa kita akan bekerja sama dengannya?”
“Aku tidak tahu"
"Wah ... ternyata dia terlihat lebih tampan daripada yang ditampilkan di televisi”
“Permisi, dimana ruang meetingnya?” Zack bertanya pada resepsionis yang sedang bertugas.
“Ruang meeting ada dilantai 3. Maaf, anda berdua mencari siapa?” tanya resepsionis itu dengan sopan dan senyum yang ramah.
“Kami sudah punya janji dengan bu Jingga sebelumnya” ujar Zack mengatakan kedatangannya namun tidak dengan rincian tujuannya datang ke perusahaan JB Company.
“Kalau begitu silahkan. Liftnya ada disebelah sana” Pandangan Zack mengikuti arah tangan resepsionis yang menunjukan letak lift
“Terimakasih. Sebelah sini, Pak” Setelah dia selesai bicara dengan resepsionis, dia langsung mempersilahkan Kenzo untuk berjalan menuju lift.
Semua orang terdengar berbisik sambil terus memperhatikan Kenzo yang berjalan dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celananya. Dia sama sekali tidak menghiraukan apa yang dibicarakan orang-orang dibelakangnya. Dia hanya berjalan lurus kedepan menuju lift untuk bisa sampai ruang meeting secepatnya
“Ini ruangannya, Pak” ujar Zack yang telah menemukan ruang meetingnya
“Ayo kita masuk!” Zack menganggukkan kepala dan membukakan pintu untuk Kenzo
“Selamat pagi semuanya. Maaf karena saya terlambat dihari pertama” ujar Kenzo begitu dia masuk ke ruang meeting. Dia terlihat tenang dan
tegas dengan senyum tipis yang terlihat dibibir tipisnya
“Kamu sudah tiba disini, Pak Kenzo” Ji berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Kenzo
“Perhatian semuanya. Ini pak Kenzo. Dia yang akan menggantikan posisiku untuk memimpin perusahaan ini mulai dari sekarang. Kalian tentu sudah mengenal siapa dia dan tahu bagaimana kinerjanya sebagai pemimpin, karena dia juga menjadi pemimpin diperusahaan Anggara dan berhasil menstabilkan perusahaan terbengkalai itu. Dan sekarang, saya memintanya untuk mengelola perusahaan ini sebagai direktur utama menggantikan saya”Ji menjelaskan dengan sikap yang tenang sambil berdiri disamping Kenzo. Dia terlihat sangat percaya
diri san yakin saat menjelaskan mengenai cucu tersembunyinya itu.
__ADS_1
“Bu Jingga, kenapa harus pak Kenzo? Bukankah banyak orang kompeten diperusahaan ini? Kalau tidak, anda juga memiliki cucu dari bu Cheva dan pak Lian yang bisa mengelola perusahaan ini. Kenapa anda dan pak Lian malah memberikan jabatan sebagai pemimpin utama kepada orang lain?” lagi-lagi pak Hardi meragukan keputusan Jingga dengan mata mendelik pada Kenzo.
“Pertama, saya menjadikan dia pemimpin disini karena Lian juga percaya padanya dan kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Dan sampai cucuku layak mendapatkan pengakuan sebagai seorang keturunan Kusuma, beliau ini akan memimpin perusahaan sebagai Kenzo Osterin” Ji kembali menjelaskan kalau
dia tetap bersikeras dengan keputusannya menjadikan Kenzo sebagai direktur utama.
Kenzo hanya diam dan memperhatikan setiap anggota dewan satu persatu sebelum dia memperkenalkan dirinya sendiri.
"Halo semuanya, nama saya Kenzo Osterin. Saya menjabat sebagai direktur utama di perusahaan Anggara dan saya juga mendapat tawaran kesempatan dari Bu JIngga untuk menjabat sebagai direktur utama diperusahaan milik beliau. Saya mohon Kerjasama dari anda semua untuk dapat membantu saya mengemban tugas berat ini” Zo terlihat sangat tenang dan berwibawa saat dia memperkenalkan dirinya pada semua orang diruang meeting.
Meskipun mereka tidak menanggapi atau pun menolak apa yang dikatakan Kenzo. Mereka hanya saling menatap satu sama lain dengan wajah bingung.
“Jika ada yang ingin kalian tanyakan sebaiknya tanyakan sekarang. Karena saya akan langsung membawa pak Kenzo untuk melihat ruang
kerjanya” Tatapan Ji menyapu kesetiap anggota dewan untuk mengetahui bagaimana respon mereka dan memastikan apakan ada pertanyaan yang mereka miliki atau tidak
"Sepertinya tidak ada lagi yang ingin kalian katakan. Kalau begitu, kita akhiri rapat ini sampai disini. Jika kalian memiliki masalah dan keluhan, kalian bisa langsung katakan pada pak Kenzo. Mari pak Kenzo, saya akan menunjukkan ruangan anda sekaligus pekerjaan anda" ujar Jingga dengan sikap yang dingin.
"Baik. Sampai jumpa semuanya" Kenzo pun pamit pada semua anggota rapat dan mengikuti Ji dari belakangnya
"Bagaimana ini? Apa kalian yakin dengan kemampuan pemuda itu?" ujar salah satu anggota dewan setelah kepergian Kenzo dan Jingga
"Bu Jingga pasti punya penilaian sendiri. Kita tidak mungkin menenteng keputusan beliau"
"Tapi kita tidak bisa diam saja dan membiarkan orang luar memimpin perusahaan ini sementara banyak orang kompeten diperusahaan!"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu berani menentang keputusan bu Jingga? Meskipun kita memiliki sejumlah saham diperusahaan ini, tetap saja bu Jingga adalah pemegang saham terbesar dan pendiri perusahaan ini. Beliau tidak mungkin membiarkan sembarangan orang mengambil alih posisinya"
"Jika memang dia layak jadi pemimpin, maka kita tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi jika fia tidak layak, maka kita harus segera menunjukkan buktinya pada bu Jingga sebelum terlambat"
"Pak Hardi benar. Kita harus membuat pemuda bernama Kenzo itu menunjukan kemampuannya mengelola perusahaan. Jika dia terbukti tidak layak, maka kita harus segera menendangnya keluar dari sini" Pak Kusno dan pak Hardi saling menatap dengan seringai tipis dibibir mereka tanpa ada orang lain yang sadar
__ADS_1