Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kekhawatiran Diaz


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan?" Diaz langsung mendekati Cheva dan meminta penjelasan dari apa yang baru saja dia katakan


"Aku bilang kalau kak Diaz juga akan segera kehilangan putri cantik Kak Diaz, karena sekarang Risha sedang dekat dengan Rendra, temannya, Kenzo" Cheva bicara dengan nada yang menggoda Diaz. Senyumnya dengan jelas mengatakan kalau mereka mengalami hal yang sama


"Kamu bercanda kan? Bagaimana bisa Risha bertemu dengan Rendra? Bukannya Rendra mengikuti Kenzo ke negara F?" Diaz terlihat tidak percaya dengan apa  yang dlkatakan Cheva


"Kakakku tersayang ... memangnya kamu tidak tahu kalau Risha itu bekerja dikantornya Rendra?" Cheva dengan sengaja menggoda Diaz dengan nada bicaranya yang lembut dan senyum mengejek.


"Lian, apa itu benar?" Kini Diaz beralih pada Lian untuk mendapatkan jawaban yang pasti


"Kenapa kamu malah bertanya padaku? Tanyakan sendiri pada putrimu" Lian menanggapi Diaz dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuhnya


"Kalian berdua ini memang benar-benar pasangan yang menyebalkan!" Diaz yang kesal pun hendak meninggalkan kamar Cheva, namun dia menghentikan langkahnya dan berbalik pada Lian dan Cheva


"O iya, apa Kenzie sudah pulang?" Tanya Diaz lagi pada Cheva dan Lian


"Kamu sudah melihatnya apa belum? Bukannya dari tadi kita duduk di bawah berdua ya?" Lian tetap menanggapi dengan sikapnya yang dingin


"Hemn ... sepertinya belum ya? Ya sudahlah aku hubungi Risha saja" Diaz langsung berbalik dan pergi meninggalkan kamar Lian dan Cheva


Diaz merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Risha


Tuut tuut tuut


Cukup lama Diaz menunggu sampai Risha menerima telepon darinya, namun dia tak kunjung menerima telepon dari Diaz


"Kemana anak itu? Kenapa dia tidak menerima telepon dariku?" Gumam Diaz sambil terus berusaha menghubungi Risha


"Om? Ada masalah apa? Kenapa om terlihat panik begitu?" Diaz langsung menoleh ketika mendengar suara Kenzie yang baru saja tiba.


"Zie, kemari! Ada yang mau om tanyakan"


"Tenang om. Tidak perlu sampai menarik tanganku segala" Kenzie memberontak ketika Diaz menariknya ke kursi


"Zie, dimana Risha bekerja?" Diaz menunggu jawaban Kenzie dengan raut wajah penasaran


"Di perusahaan Dirga Electronik. Tidak mungkin kalau om tidak tahu dimana perusahaan itu berada kan?' Kenzie menjawab dengan sikap yang tenang. Dia tersenyum seakan menggoda Diaz


"Tentu saja om tahu itu. Tapi siapa pemimpinnya sekarang?"


"Eh? Rendra. Memangnya apa yang terjadi om? Apa ada sesuatu yang gawat?" Kenzie pun kini penasaran dengan apa yang sedang dikhawatirkan oleh Diaz


"Bukannya perusahaan Dirga dikelola oleh Bastian?" Tanya Diaz lagi untuk memastikan


"Tidak. Semenjak ayah mereka meninggal, perusahaan dibagi menjadi dua. Bastian mengelola Dirga Motors, sedangkan Rendra mengelola Dirga Elektronik" Kenzie menjelaskan situasinya pada Diaz

__ADS_1


"Memangnya ada apa om? Apa om berniat kerjasama dengan mereka?" Tanya Kenzie berusaha menebak kekhawatiran Diaz


Diaz terdiam dengan tatapan kosong, bahkan dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan Kenzie


"Apa Risha benar-benar akan meninggalkanku? Bagaimana jika Rendra nantinya tidak membiarkan aku mengunjungi Risha? Bagaimana jika dia terlibat perebutan kekuasaan dengan Bastian seperti Lea? Apa yang harus aku lakukan?" Pikir Diaz yang asyik dengan khayalannya sendiri.


"Om ... Om ... Om!"


"Ya. Kenapa kamu berteriak? Mengagetkan saja"


Kenzie berkali-kali memanggil Diaz namun dia diam saja. Akhirnya dia meninggikan suaranya dan membuat Diaz terkejut


"Aku sedang bicara dengan om. Kenapa om malah melamun?" Kenzie bicara dengan nada yang sedikit kesal


"Oh, maafkan om. Tadi om memikirkan hal lain. Kamu bicara apa?" Diaz kembali menanyakan apa yang dikatakan Kenzie saat dia melamun tadi.


"Tidak ada. O iya, dimana mami dan papi?"


"Mereka ada di kamarnya. Tadi mereka sedang berkemas untuk pergi ke negara F"


"Apa?! Mereka akan pergi ke negara F?!" Kenzie yang terkejut sampai meninggikan suaranya


"Kenapa kamu senang sekali berteriak? Lama-lama om bisa jantungan gara-gara kamu!" Lagi-lagi teriakan Kenzie membuat Diaz terkejut hingga berjingkut


"Maafkan aku om. Aku hanya terkejut mendengarnya. Apa benar mami dan papi akan pergi kesana?" Kenzie kembali merendahkan suaranya dan bicara dengan nada yang lembut


"Hehe... Kalau begitu aku akan ke kamar mereka. Aku ingin tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya" Kenzie pun beranjak pergi meninggalkan Diaz dan berjalan menuju kamar orang tuanya meninggalkan Diaz yang sedang kalut dengan hubungan Risha dan Rendra


"Mami, apa yang terjadi? Om Diaz bilang kalau mami dan papi akan pergi ke negara F? Apa terjadi sesuatu?" Kenzie langsung masuk ke kamar Cheva dan bertanya dengan nada bicara yang lembut dan raut wajah penasaran


"Tidak ada apa-apa. Mami hanya ingin bertemu dengan pacarnya Kenzo, itu saja" Cheva menjawab dengan senyum manis dibibirnya


"Apa harus terbang sekarang juga? Kalian kan bisa pergi besok pagi" Zie menyarankan Cheva karena ini sudah petang


"Tentu saja. Mami harus segera menemui pacarnya Kenzo. Mami ingin menghabiskan waktu dengannya" Cheva bicara dengan senyum ceria diwajahnya


"Aku sedikit khawatir, tapi ya sudahlah terserah mami saja. Sampaikan salamku pada Kenzo ya mih. Aku mau istirahat dulu dikamarku" Kenzie menggelengkan kepala dengan wajah seakan curiga


"Ya, akan kami sampaikan. Jangan beritahu Kenzo, mami ingin memberikan kejutan padanya" Cheva sedikit berteriak karena Kenzie sudah berjalan keluar kamarnya


"Baik, mami!" Jawab Kenzie dengan berteriak


***


Dinegara F

__ADS_1


Kenzo masih setia menunggu Safira yang terbaring di tempat tidur. Safira yang belum sadarkan diri perlahan mulai membuka matanya


"Euh"


Gumamnya dengan suara parau


"Kamu sudah sadar? Apa ada yang terasa tidak enak?" Kenzo langsung mendekat dan menanyakan keadaannya


"Ini … dimana?" Fira yang belum sepenuhnya sadar, bertanya pada Kenzo setelah melihat langit-langit kamar rumah sakit yang terasa asing


"Kita dirumah sakit. Tadi siang kamu tidak sadarkan diri saat proses syuting" Kenzo menjelaskan sambil membantu Safira untuk minum


"Syuting … gara-gara aku proses syutingnya jadi terlambat. Aku jadi merasa tidak enak pada kru film ini" Safira bicara dengan raut wajah sedih


"Tidak perlu begitu. Ini bukan salahmu. Tidak ada seorang pun yang menginginkan dirinya sakit, jadi kamu tidak perlu berpikiran macam-macam" Kenzo menjelaskan dengan nada bicara yang lembut


"Apa kamu membutuhkan sesuatu? Apa kamu lapar?"


Safira menggelengkan kepala perlahan menanggapi tawaran Kenzo


"Tunggu sebentar. Aku akan panggilkan dokter kemari" Kenzo pun langsung bergegas keluar kamar rawat Fira untuk memberitahu dokter kalau dia sudah sadar.


Tak berselang lama, Kenzo kembali bersama dokter dan suster untuk memeriksa keadaan Safira


"Semuanya oke, tidak ada masalah. Tapi untuk memastikan semuanya baik-baik saja, besok kita akan melakukan CT Scan dan juga rontgen" Dokter menjelaskan dengan rinci kepada Kenzo dan Safira


"Lalu, kapan Fira bisa keluar dari rumah sakit? Apa dia masih perlu dirawat selama beberapa hari disini?" Tanya Kenzo yang terlihat khawatir pada Safira


"Setelah melakukan pemeriksaan, dia bisa pulang. Kami akan menghubungi lagi setelah hasilnya keluar. Tapi besok kita akan lakukan pemeriksaan ulang sebelum meninggalkan rumah sakit. Untuk sekarang, anda tetap harus beristirahat dengan cukup"


Kenzo dan Safira saling menatap satu sama lain setelah mendengar penjelasan dokter


"Baik dokter, kami mengerti"


"Kalau begitu kami permisi"


"Baik, terimakasih dokter" Dokter pun menganggukkan kepala dan meninggalkan ruangan Safira diikuti oleh suster dibelakangnya


"Kamu dengar kan? Kamu masih harus banyak istirahat. Apa kamu ingin makan? Aku tadi membelikanmu bubur" Kenzo begitu lembut dan penuh perhatian


"Zo, terimakasih. Kamu sangat perhatian padaku. Aku bersyukur memilikimu disampingku. Jika tidak ada kamu … aku mungkin hanya akan bersama dengan Tiara saja. Kakek dan nenekku sudah terlalu tua untuk menemaniku"


Tanpa terasa Safira menitikan air mata mendapatkan kebaikan dari Kenzo


"Tidak perlu bicara begitu. Aku menyayangimu. Apapun akan aku lakukan untukmu. Asalkan kamu selalu berada di sampingku" Kenzo meraih tangan Safira dan mengecup punggung tangannya

__ADS_1


"Aku akan selalu berada disampingmu. Meskipun aku jauh. tapi hatiku selalu dekat denganmu"


__ADS_2