
Pandangan Rendra, Risha dan Safira terus tertuju pada Kenzo setelah Bastian pergi dari rumah sakit.
"Kenapa kalian trus menatapku sepert itu? Apa ada sesuatu yang aneh diwajahku?" Kenzo bertanya dengan sikap yang datar dan nada bicara yang dingin. Matanya menatap heran pada Rendra, Risha dan Safira.
"Aku tidak tahu kalau kamu sangat peduli padaku. Aku jadi terharu" Rendra berkata dengan tatapan yang seakan berbinar.
"Aku tidak menyangka kalau dibalik sikapmu yang dingin, ternyata kamu juga pria yang perhatian"
"Ku kira kamu hanya akan perhatian padaku dan Kenzie saja, ternyata kamu juga perhatian pada sahabatmu"
Renda, Risha dan Safira bicara saling bergantian memuji Kenzo
"Ada apa dengan kalian? Kalian benar-benar aneh" Kenzo kembali berkata dengan sikap dingin. Dia lalu membuka laptopnya dan masuk ke jaringan perusahaan Rendra. Kenzo menarik ujung bibirnya ke atas dan membentuk sebuah senyuman.
"Ah tidak sia-sia. Kurasa besok adalah waktunya mulai bermain"
Risha, Rendra dan Safira menatap Kenzo dengan heran.
"Apa maksudnya?"
Kenzo menoleh pada Risha dan Rendra kemudian berkata dengan senyum dibibirnya.
"Risha, kamu siapkan pakaian Rendra. Besok kita akan pergi ke kantornya"
Risha dan Rendra saling menatap heran satu sama lain.
"Untuk apa kita kesana? Ku kira kamu akan menyelesaikannya sendiri?" Tanya Rendra bingung
"Tentu aku akan menyelesaikannya. tapi sebagai pemimpin perusahaan, bukannya kamu akan mengambil kembali perusahaanmu? Memang kamu akan biarkan aku mengambil perusahaan itu?" Kenzo bicara sambil tersenyum menggoda Rendra
"Sembarangan. Tentu saja aku akan kembali mengambil apa yang menjadi hakku" Rendra menjawab dengan nada kesal
Kenzo kembali memasukkan laptopnya ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.
"Kalau begitu, aku titip Safira pada kalian. Aku sudah lelah menunggu. Sekarang aku perlu sedikit bermain-main untuk hiburan"
"Kamu mau pergi kemana?" Safira bertanya dengan wajah penasaran
"Kamu tunggu disini ya. Aku pergi sebentar" Kenzo bicara dengan senyum yang manis kemudian mengecup mesra kening Safira sebelum dia pergi.
***
Bastian langsung pergi ke kantornya Rendra setelah dia dari rumah sakit. Dan kebetulan disana banyak teman-teman Fredi sedang berkumpul di kantornya.
"Fredi, kamu siap kan untuk pertandingan besok malam?" Salah satu teman Fredi bertanya sambil menikmati kopi di tanganya
"Tentu saja aku siap. Mana mungkin aku melewatkan pertandingan dengan hadiah yang lumayan besar seperti itu. Kita bisa bersenang-senang dengan uang yang dimenangkan nanti" Fredi menjawab dengan penuh keyakinan dan percaya diri kalau dia akan memenangkan balapan besok.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Kami sudah tidak sabar melihatmu kembali jadi juara dijalanan" Kata temannya yang lain menimpali
"Jadi ini yang kamu lakukan selama jam kerja?" Bastian langsung masuk keruang Fredi tanpa mengetuk pintu lebih dulu
"Bastian. Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu tidak mengabariku lebih dulu?" Fredi nampak terkejut melihat Bastian ada dikantornya
"Aku membiarkanmu memegang kendali perusahaan ini untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang dan mengacaukan perusahaan Rendra! Apa kamu tahu kalau saham perusahaan ini turun drasts sekarang? Jika kamu terus seperti ini, maka perusahaan ini akan bangkrut ditanganmu!" Bastian yang kesal terus berteriak pada Fredi didepan teman-temannya
"Aku sudah melakukan pekerjaan yang harus aku lakukan. Dan sekarang aku hanya membiarkan teman-temanku berkunjung kemari. Mereka juga tidak mengganggu para karyawan yang sedang bekerja dikantor" Fredi menjawab dengan tenang seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Tidak mengganggu?! Kamu bilang ribut-ribut dikantor tidak mengganggu?! Ini sama sekali tidak pantas dilakukan! Jika kamu tidak mendengarkanku, maka kamu boleh pergi dari kantor ini. Aku masih jadi pemilik utama perusahaan Dirga, maka aku bisa memecatmu!" Bastian semkain kesal. Dia meminta Fredi untuk pergi dari kantornya
"Sebaiknya kalian pergi dulu saja. Kita akan bertemu besok malam ditempat biasa" Fredi akhirnya mengalah karena dia tidak ingin pergi dari kantor Rendra.
"Baiklah, kami pergi dulu. Sampai ketemu besok" Akhirnya semua teman Fredi mulai meninggalkan kantor dan membiarkan Fredi dan Bastian berdua saja diruangan.
"Sekarang kamu harus kembali memulihkan harga saham kita. Baru saja 2 hari kamu memegang kendali perusahaan ini, harga sahan kita sudah turun drastis. Kamu bilang bisa menjaga perusaah ini. Jika terus seperti ini maka perusahaan ini akan hancur. Sekarang anggota dewan mendesak untuk mencopot jabatanmu. Besok akan diadakan rapat dewan direksi. Jika kamu masih ingin jadi direktur perusahaan ini, maka kamu harus memikirkan strategi untuk meyakinkan para anggota dewan. Mengerti!" Bastian langsung pergi meninggalkan Fredi tanpa memberikannya kesempatan untuk membela diri
"Iiish bagaimana ini? Bisa-bisanya dia mengancamku. Alan, tolong datang keruanganku" Fredi memanggil Alan melalui telepon kantor
Tok tok tok
"Bapak memanggil saya?" Tanya Alan sambil berjalan mendekati Fredi
"Apa benar besok ada rapat dewan direksi?" Fredi bertanya untuk memastikan ucapan Bastian
"Owh begitu. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Fredi bertanya pada Alan cara menstabilkan harga saham
"Saham perusahaan ini menurun sejak anda mengambil alih posisi direktur utama. Jadi menurut saya, langkah pertama yang harus anda ambil adalah meyakinkan pemegang saham dan para vendor kita kalau anda bisa mengendalikan perusahaan ini dengan baik. Lebih tepatnya anda harus membuat semua orang percaya dengan kemampuan anda" Fredi mengangguk-anggukan kepala berkali-kali menanggapi ucapan Alan
"Ehm … lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Fredi bingung
Alan memasang wajah heran melihat ekspresi Fredi
"Apa dia bodoh? Orang seperti dia ingin jadi direktur?" Batin Alan mencibir sikap Fredi yang tidak tahu apa-apa
"Bapak harus bekerja lebih keras dan menunjukkan kemampuan bapak pada semua orang" Alan memberitahu apa yang harus dilakukan Fredi
"Begitu ya. Baiklah aku akan bekerja keras dan mulai mempelajari apa yang harus ku pelajari. Kamu harus membantuku" Pinta Fredi dengan yakin
"Baik" Alan mengangguk setuju dengan senyum tipis. Dalam hati dia mengatakan hal lain
"Terlambat jika anda ingin belajar sekarang. Besok pak Kenzo akan kembali mengambil posisi anda"
***
Rian sedang ada meeting di sebuah restoran. Mereka menggunakan ruang pribadi untuk acara meeting mereka. Ruang pribadi berada dilantai 2. Setiap ruang pribadi memiliki balkon sendiri. Jadi pengunjung bisa memilih makan didalam ruangan atau duduk diluar sambil menikmati pemandangan depan restoran yang dihiasi pohon dan juga bangunan lain yang tertata rapih
__ADS_1
"Kurasa kerja sama kali ini bisa berjalan lancar" Rian sedang membahas kerja samanya dengan rekan kerjanya
"Ya kurasa juga begitu. Kali ini kita pasti mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat atas kerja sama yang saling menguntungkan ini" Rekan Rian menjawab sambil menikmati makanan mereka.
"Ku dengar putramu menjadi direktur diperusahaan Dirga Electronik, apa itu benar?" Tanya rekan Rian yang satunya lagi.
"Ya, dia baru 2 hari menjabat sebagai direktur utama disana"
Rian dan kedua rekannya terus berbincang membicarakan bisnis dan yang lainnya.
"Kurasa hari ini sampai disini saja. Kita bisa membahas sisanya nati"
"Baiklah kalau begitu kami permisi lebih dulu"
"Ya, sampai jumpa" Rian pun berjabat tangan dengan kedua rekannya sebelum mereka pergi
"Sepertinya kamu sangat bangga karena putramu jadi direktur utama setelah mencelakai Rendra"
Rian langsung menoleh kearah balkon setelah mendengar suara seseorang disana.
"Siapa kamu?" Dia berjalan kearah balkon dan bertanya dengan wajah penasaran
"Kamu lupa siapa aku? Kita pernah bertemu saat pemakaman mendiang ibunya Rendra dan juga ibunya Bastian" Kenzo menjawab dengan tenang sambil bersandar pada tembok pembatas balkon
"Kamu … bukannya kamu temannya Rendra?" Rian menebak dengan ragu-ragu
"Ternyata meskipun sudah tua, ingatanmu bagus juga" Kenzo kembali tersenyum tipis menanggapi Rian
"Untuk apa kamu menemuiku?" Rian tak lagi basa basi dan langsung bertanya pada Kenzo
"Aku datang untuk menagih hutangmu. Aku sudah membiarkan kamu dan juga anakmu melenggang dengan tenang setelah upaya pembunuhan Rendra. Kurasa ini sudah berakhir. Aku tidak suka kamu berkeliaran dengan tenang sedangkan Rendra masih berada dirumah sakit. Itu tidak adil namanya" Kenzo bicara dengan acuh tak acuh dan sikap yang terkadang mencibir Rian
"Lalu apa yang kamu inginkan? Aku sama sekali tidak mendorong Rendra. Dan aku tidak memiliki motif apapun untuk mencelakai dia" Rian bersikeras membela diri meskipin terlihat dia mulai panik
"Tidak memiliki motif? Benarkah? Mungkin benar kalau kamu tidak mendorong Rendra dari balkon, tapi aku punya bukti kejahatan lain ditanganku. Penggelapan dana perusahaanmu sendiri, kerja sama dengan mendiang ibunya Bastian untuk mencelakai Rendra dan juga ibunya. Dan menyembunyikan bukti kejahatan. Semua sudah tertulis dengan rinci dalam kertas-kertas ini"
Kenzo melambaikan beberapa lembar kertas yang ada ditangannya pada Rian.
"Aku tidak percaya. Kamu pasti menipuku kan?!" Rian bertanya dengan sinis dan mata menatap tajam pada Kenzo
"Benarkah, mau lihat ini? Jika aku menghubungi polisi, maka kamu dan anakmu sudah pasti akan masuk penjara"
Kenzo menyodorkan lembar kertas itu pada Riab. Rian mulai panik mendengar ucapan Kenzo langsung berjalan mendekatinya dan berusaha meraih kertas itu. Saat sudah dekat, Kenzo melemparkannya ke udara hingga semua kertas itu bertebaran dan jatuh ke bawah
"Tidak … Aaaahhh!!!" Rian yang hendak meraih kertas itu kehilangan keseimbangan dan ikut jatuh kebawah
"Akhirnya sama. Hanya saja kita lihat nanti, apa hutangnya sudah lunas atau belum" Gumam Kenzo dengan senyum yang terlihat licik sambil menatap Rian yang jatuh ke bawah dan tergeletak disana bersama lembaran kertas yang berserakan. Setelah itu dia kembali melompat ke balkon sebelah sebelum ada yang melihatnya.
__ADS_1