
Olivia terus memperhatikan Kenzo yang sedang meeting bersama dengan Andre disalah satu kursi yang letaknya tidak jauh dari mereka. Dia
memperhatikan sambil menikmati makan siang yang entah kenapa terlihat seperti tidak terasa enak karena matanya hanya menatap Kenzo.
“Kenapa mereka lama sekali? Ini sudah hampir habis waktu makan siang” gerutu Olivia karena tidakbbisa mendekati Kenzo yang sedang meeting.
Tak lama kemudian, Andre dan Kenzo saling berjabat tangan dan mengakhiri rapat mereka.
Andre dan asistennya pergi lebih dulu, sedangkan Kenzo masih duduk direstoran dengan laptop dihadapannya. Olivia pun tersenyum cerah dan kembali mendekati Kenzo.
“Karena rapat anda telah selesai, jadi saya bisa duduk disini kan?” tanya Olivia dengan lembut dan senyum yang menggoda.
Kenzo yang sedang memainkan laptopnya langsung mengalihkan pandangan dari layar monitor dan menatap Olivia.
“Jadi anda sengaja menunggu saya sampai selesai rapat? Sebenarnya apa tujuan anda? Apa yang anda inginkan dari saya?” Kenzo menatap Olivia dengan tatapan sinis dan nada bicara yang dingin.
“Saya hanya ingin mengenal anda lebih dekat saja. Apa itu salah?” Olivia menanggapi dengan senyum dibibirnya, lalu dia duduk dihadapan
Kenzo tanpa menunggu izin darinya.
“Tapi tidak ada untungnya bagi saya untuk lebih dekat dengan anda. Anda bukan teman maupun rekan kerja. Anda juga bukan kolega bisnis saya” ujar Kenzo dengan sikap tak acuhnya.
“Jika anda mau, saya bisa membantu anda dengan pekerjaan anda. Anda baru mengambil alih JB Company dan kebetulan ayah saya adalah salah satu pemegang saham tertinggi di perusahaan itu”.
Olivia bicara dengan senyum bangga dan penuh percaya diri. Sedangkan Kenzo mendengus dengan senyum mencibir setelah mendegar apa yang dikatakan oleh Olivia.
“Anda bilang … ayah anda adalah salah satu pemegang saham tertinggi selain nenek saya? Kalau begitu saya tebak, ayah anda adalah pak Hardi Wijaya?” ujar Kenzo dengan sikap yang tenang dan dingin.
“Benar, beliau adalah papa saya” jawab Olivia lagi dengan senyum menggoda. Dia mengira kalau Kenzo tertarik dengan identitas yang dia miliki.
__ADS_1
“Apa anda disini karena permintaan ayah anda?” Kenzo menyilangkan kedua tangannya didada dan bersandar pada kursi saat dia bicara. Kini tatapannya terlihat semakin tajam pada Olivia yang mendekatinya.
“Tidak, papa tidak meminta saya kemari. Saya memang datang keperusahaan, tapi saya sama sekali tidak tahu kalau anda ada disini. Ini hanya sebuah kebetulan saja. Atau mungkin
… ini adalah takdir kita untuk bertemu disini?” ujar Olivia kembali bicara dengan senyum yang manis dan gelagat tubuh yang terlihat genit untuk mengambil perhatian Kenzo.
“Takdir? Anda percaya kalau kita bertemu karena sudah ditakdirkan?” Kenzo bertanya dengan raut wajah datar dan nada yang sinis.
“Tentu saja. Tidak mungkin kita akan bertemu secara kebetulan kalau bukan karena takdir. Terlebih lagi saya tidak bekerja di JB Company dan juga baru kembali dari luar negri. Tidak mungkin kalau ini hanya kebetulan belaka”
“Jika memang ini takdir, apa anda tidak berpikir kalau takdir ini bisa membawa anda pada kehancuran?”. Kenzo mencondongkan tubuhnya kedepan dan membiarkan kedua tangannya menyangga dagu dengan nada bicara yang tenang sesekali dia menggelengkan kepala saat bicara.
“Kehancuran? Saya memang pernah mendengar kalau anda selalu tegas dalam mengambil keputusan yang menyangkut perusahaan, tapi saya tidak percaya kalau anda bisa menghancurkan gadis seperti saya”
Dari raut wajahnya sudah terlihat jelas kalau Kenzo sangat kesal dan merasa terganggu dengan kehadiran Olivia, namun Olivia terus saja mengganggu dan tidak pergi juga dari hadapan Kenzo.
“Ku kira kamu sendirian dan tidak bisa makan dengan baik. Ternyata kamu ditemani gadis cantik saat makan siang”. Kenzo dan Olivia
Kenzo pun tersenyum dan langsung berdiri dan menghampiri seorang wanita yang datang dengan menggunakan masker dan juga kacamata. Dia tahu kalau wanita itu adalah istri yang dicintainya.
“Sayang, kukira kamu tidak akan datang. Apa syutingnya berjalan lancar?”.
Kenzo bicara dengan lembut dan senyum manis dibibirnya. Caranya memperlakukan Safira dan Olivia sangatlah bebeda sampai membuat semua orang tak percaya. Tidak hanya Olivia, bahkan para gadis yang ada disana juga merasa iri dengan perlakukan manis yang diberikan Kenzo pada sang istri. Dia menarik salah satu kursi untuk sang istri duduk.
“Syutingnya berjalan lancar dan lebih cepat dari dugaanku, karena itu aku bisa langsung datang kemari setelah menghubungimu” ujar Safira yang mulai duduk setelah Kenzo
menarik kursi untuknya. Dia pun tersenyum pada sang suami. Meskipun memakai masker, namun dari sudut dekat matanya yang sedikit terangkat, dapat terlihat kalau dia sedang tersenyum.
“Sayang, siapa gadis ini? Apa dia rekan bisnismu?” Sambung Safira yang menatap Olivia dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
“Bukan. Rekanku sudah pergi sejak tadi. Gadis ini hanya ingin menemaniku selagi menunggumu. Kurasa dia juga akan segera pergi” Kenzo menanggapi dengan sikap yang tenang sambil mendelik pada Olivia.
Olivia yang dibicarakan Kenzo dan Safira secara langsung terlihat canggung dan salah tingkah, namun sesaat kemudian dia kembali bersikap tenang dan tersenyum lembut lagi
“Saya pikir pak Kenzo hanya duduk sendiri untuk melanjutkan makan siang, ternyata beliau menunggu seorang gadis misterius seperti anda. Selera pak Kenzo memang berbeda, anda sangat suka membuat rahasia”.
Kenzo dan Safira saling menatap satu sama lain dengan tatapan heran melihat sikap Olivia yag terkesan memandang rendah Safira dengan
nada bicaranya yang sinis namun tetap tenang dan tersenyum.
“Apa maksud anda?” Tanya Kenzo yang semakin kesal
“Tidak ada. Karena anda sudah memiliki rekan untuk makan siang, maka saya akan pergi dulu. Lain kali kita akan bertemu lagi. Sampai
jumpa” Olivia pun beranjak pergi dari hadapan Kenzo dan Safira dengan senyum yang manis dibibirnya. Sorot matanya menunjukan kalau dia tidak menyerah dan akan berusaha mendekati Kenzo lagi.
“Hmn … ternyata sekarang suamiku ini memiliki lebih banyak penggemar daripada aku ya?” Safira bicara dengan senyum dibibir dan nada yang seakan menyindir. Dia menatap Kenzo dengan sebelah tangan menyangga dagunya.
“Tidak mungkin aku memiliki penggemar yang lebih banyak daripada istriku. Jika kamu melepas maskermu, maka semua orang pasti akan berkerumun disini untuk minta tanda tangan dan juga fotomu” Kenzo menanggapi
dengan sikap yang tenang dan kedua alis yang diangkat bersamaan saat pandangan mereka saling bertemu.
“Sudah. Lupakan. Apa kamu sudah selesai makan siang? Aku yakin kamu tidak bisa makan dengan baik karena ada gadis liar yang mengganggumu”
“Ya, mau bagaimana lagi? Karena ketampananku, aku tidak bisa pergi kemanapun dengan tenang”
“Cih. Pak Kenzo Osterin Anggara. Bisakah anda tidak terlalu narsis?” ujar Safira dengan nada mencibir.
“Entahlah. Karena wajah tampan ini bukan keinginanku, melainkan kelebihanku sejak lahir, jadi nyonya Safira Tifania Anggara, anda harus sudah terbiasa” Kenzo bicara dengan kedua alis yang kembali diangkat bersamaan disertai senyum manis dibibirnya.
__ADS_1
"Ya ampun ... aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan dengan sikapmu selama ini. Tapi, apa ini kelebihanmu atau kekuranganmu?" Kenzo dan Safira saling tersenyum ceria saat mereka berbincang. Olivia yang masih berdiri diluar, menatap mereka dengan tatapan iri.
"Bagaimanapun caranya, aku akan pisahkan kalian berdua dan menjadikan Kenzo milikku" gumam Olivia dengan tatapan penuh kebencian dan juga iri dengki.