
Kenzo dan Safira hari ini bersiap pergi ke negara A. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.
"Sayang, apa kamu yakin tidak papa? Kita lagsung berangkat begini padahal kamu sudah lembur selama 2 hari. Apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu? KIta bisa berangkat nanti malam".
Safira bicara dengan raut wajah khawatir menatap sang suami yang terlihat sangat kelelahan.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Aku bisa istirahat saat dipesawat nanti". Kenzo menanggapi sang istri dengan lembut sambil memegang sebelah tangannya agar Safira bisa tenang.
"Apa kamu yakin?" tanya Safira lagi memastikan
"Ya, tentu saja aku sangat yakin". Kenzo tersenyum lembut dengan anggukkan kepala perlahan
"Zack, aku titip perusahaanku selama seminggu ini. Jika terjadi sesuatu yang penting kamu bisa langsung hubungi aku". Kenzo beralih pada Zack yang sedang mengemudi setelah dia selesai bicara dengan Safira.
"Baik, Pak. Anda tenang saja, saya akan menjaga perusahaan anda sementara anda pergi. Oh dan untuk JB Company ... bagaimana, Pak?" Zack bicara pada Kenzo sambil sesekali melihat Kenzo melalui kaca spion. Zack juga sesekali menoleh pada jalanan yang ada didepannya.
"Kamu bantu Max, dia masih belum terbiasa dengan banyak pekerjaan yang aku tinggalkan. Cukup awasi saja dan beritahu dia jika ada seseuatu yang tidak dia mengerti"
"Baik, Pak. Saya mengerti"
Zack dan Safira tidak banyak bicara lagi selama perjalanan. Mereka membiarkan Kenzo untuk beristirahat sejenak.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lancar karena bukan jam kerja, mereka tiba di bandara
"Kita sudah sampai, Pak". Zack memberitahu ketika dia sudah memarkirkan mobilnya.
"Ya". Kenzo yang sejak tadi memejamkan mata, perlahan mulai membuka matanya dan mengumpulkan kesadarannya.
"Ayo, sayang". Safira mengajak Kenzo turun setelah dia mangenakan masker. Sedangkan Zack sudah turun lebih dulu untuk menurunkan koper Kenzo dan Safira yang ada dibagasi mobil.
Kenzo dan Safira turun dari mobil bersamaan. Safira tidak membiarkan sang suami membukakan pintu mobil untuknya karena dia tahu kalau Kenzo sedang kelelahan. Namun meskipun begitu, ketampanan Kenzo sama sekali tidak berkurang. Dia yang mengenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sayu tetap terlihat gagah dan penuh wibawa saat berjalan dengan menggandeng tangan Safira. Semua mata tetap tertuju pada mereka. Bahkan ada beberapa gadis yang dengan sengaja mengambil photonya dari kejauhan.
"Zack, kamu bisa kembali. Ingat untuk langsung menghubungiku jika terjadi sesuatu". Kenzo kembali mengingatkan Zack sebelum mereka pergi
__ADS_1
"Baik, Pak. Anda tidak perlu khawatir. Hati-hati dalam perjalanan anda". Kenzo pun menganggukkan kepala menanggapi perkataan Zack
"Zack, sampai jumpa lagi" Safira pun melambaikan tangan pada Zack sebelum dia dan Kenzo mengikuti pramugara mereka ke pesawat
"Iya, Bu, Sampai jumpa". Sesaat Zack menatap punggung Kenzo dan Safira yang semakin menjauh, lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari bandara untuk kembali ke perusahaan Anggara.
***
Keluarga Kusuma sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan Risha dan Rendra. Cheva dan Tania sibuk memeriksa setiap detil dari dekorasi ruangan yang akan digunakan.
"Kak Tania, bukannya ini terlalu sederhana? Kurasa vas bunga dengan warna gold akan lebih cocok". Cheva sedang berdiskusi dengan Tania mengenai dekorasi
"Tidak. Kurasa biru muda akan lebih cocok karena terkesan soft"
"Tidak, Kak. Ini akan lebih bagus jika warna gold"
"Gunakan biru muda saja"
Cheva bersikeras dengan dekorasi berwarna gold sedagkan Tania bersikeras dengan dekorasi berwarna biru muda.
"Kak Diaz tidak perlu ikut campur!"
"Kamu tidak perlu ikut campur!"
Cheva dan Tania secara serempak membentak Diaz.
"Kenapa dalam hal ini kalian sangat kompak?" ujar Diaz yang bingung dengan kekompakan istri dan juga adik sepupunya.
"Sudahlah, lebih baik kak Diaz pergi saja ke kantor dan periksa pekerjaan Risha. Jangan sampai dia kelelahan sebelum pesta pernikahannya". Cheva bicara sambil mendorong tubuh Diaz agar pergi darisana.
"Ya ya ya, tapi kamu tidak perlu mendorongku seperti ini. Kalian berdua selalu kompak jika mengusirku ya? Sayang, apa kamu tidak akan menolongku dari ibu cerewet yang satu ini?" Diaz meminta bantuan Tania agar menyelamatkannya dari Cheva.
"Maaf Sayang, tapi aku setuju dengan Cheva. Sebaiknya kamu pergi kekantor dan jangan biarkan Risha terlalu lelah bekerja. Biarkan dia bersantai sebelum pesta pernikahannya" Tania bicara dengan senyum tipis dibibirnya.
__ADS_1
"Ya sudahlah. Sepertinya aku tidak punya pilihan. Tapi Va, kenapa kamu tidak pergi kekantor?" Diaz dengan sengaja bertanya pada Cheva yang hari ini meninggalkan pekerjaannya.
"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Dan asistenku akan mengatur pekerjaanku hari ini. Kakak tidak perlu khawatir, lagipula Kenzie sudah mulai mempelajari pekerjaan diperusahaan utama, jadi aku bisa mengalihkan jabatanku padanya kapan saja" Cheva menanggapi dengan sikap yang tenang dan kedua alis diangkat bersamaan saat dia bicara.
"Wah, jadi kamu ingin bersantai-santai sementara aku sibuk dikantor? Kenapa kamu dan Lian bisa sangat santai padahal mengelola perusahaan besar?". Diaz bertanya dengan tenang seakan dia tidak tahu jawabannya.
"Apa perlu aku menjawabnya?" ujar Tania menyela dengan senyum mencibir Diaz
"Lian sudah menyerahkan perusahaannya pada Kenzo dan sekarang dia hanya fokus pada galeri dan juga melukis. sedangkan Cheva juga mulai dibantu oleh Kenzie dalam mengambil keputusan. Sedangkan kamu ..."
"Cukup cukup. Aku sudah tahu jawabannya. Aku masih menjabat sebagai direktur utama dan belum bisa menyerahkan semua tanggung jawabku pada Risha karena identitasnya belum terungkap kalau dia adalah putriku. Tapi kan karyawan diperusahaan sudah tahu kalau Risha adalah putriku"
"Tetap saja Kakak tidak bisa memberikan tanggung jawab penuh pada Risha karena orang luar beluk tahu identitasnya. Yang ada rekan bisnis Kak Diaz akan heran jika Kakak melakukan itu, karena seorang direktur biasa memiliki wewenang tinggi dalam mengambil keputusan" Cheva bicara dengan senyum mencibir diwajahnya
"Yaaah kamu benar. Aku harus secepatnya mengungkapkan identitas Risha agar aku bisa sedikit bersantai denganmu" ujar Diaz menggoda Tania.
"Aku tidak bisa selalu menemanimu karena sesekali masih harus pergi keperusahaanku dinegara F untuk mengecek kondisi perusahaan" Tania menanggapi godaan Diaz dengan senyum mencibir.
"Ah, Kak Tania kesana juga hanya sebentar. Karena Kakak menyerahkan posisi pemimpin diperusahaan dan memutuskan hanya untuk mengawasi, Kakak tidak sesibuk kami diperusahaan". Cheva bicara dengan nada mengeluh dan bibir mengerucut.
"Ya, karena itu aku bisa menghabiskan waktu disini dengan kedua anakku. Jika aku tidak melakukan itu, maka sudah pasti aku tinggal dinegara F" jawab Tania dengan sikap acuh tak acuh dan senyum tipis dibibirnya.
"Karena sekarang kak Lian juga hanya sibuk melukis, aku juga akan melepaskan jabatanku dan memberikannya pada Kenzie. Aku ingin menghabiskan waktu dengan suamiku tercinta". Cheva sengaja bicara seperti itu pada Diaz untuk memanas-manasinya, karena Diaz hanya punya kesibukan dikantor Sanjaya saja dan tidak banyak waktu yang dia habiskan dengan Tania
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Kamu ingin memprovokasiku?!" Diaz menanggapi Cheva dengan mata menatap tajam padanya
"Tidak ada. Aku hanya ingin memberitahu Kak Diaz kalau Kakak masih harus bersabar sampai Risha bisa mengambil alih perusahaan Sanjaya dan bisa jadi dia memutuskan untuk ikut dengan Rendra setelah menikah nanti"
Diaz terdiam memikirkan Risha yang ikut membantu Rendra. Dia membayangkan kalau dia akan bekerja sampai tua diperusahaan Sanjaya
"Tidak tidak tidak. Risha akan tetap mengambil alih Sanjaya menggantikan aku. Papi tidak membiarkan Dhefin mengambil alih perusahaan Sanjaya karena dia yang akan mengambil alih Taeson Elektronik nanti. Aku harus pastikan ini dulu pada Rendra. Harus!". Diaz yang panik pun langsung pergi dengan langkah kaki cepat meninggalkan Cheva dan Tania
Cheva tetawa sinis melihat tingkah laku Diaz
__ADS_1
"Kak Tania, aku salut karena Kakak bisa bertahan dengan Kakak sepupuku yang aneh itu" ujar Cheva yang hanya ditanggapi dengan senyum oleh Tania