Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Sikap Tersembunyi Risha


__ADS_3

Noey pergi kedapur setelah dia melihat-lihat foto Mariana yang terpajang diruang keluarga. Dia melihat Mariana yang memasak dengan lincah dan cekatan seperti dia sudah terbiasa melakukannya. Namun Sebagian rambut panjangnya yang dia ikat kuncir kuda ada yang masuk kedalam mulutnya. Mariana berusaha menyingkirkan rambut itu dari wajahnya dengan tangan yang kotor, namun sangat sulit. Noey pun melihatnya dan berjalan mendekatinya. Dia membantu Mariana menyibakkan rambut itu.


Sesaat Mariana terkejut karena Noey yang tiba-tiba ada dibelakangnya.


“Terimakasih” ujar Mariana sambil menoleh pada Noey dan tersenyum padanya.


“Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Noey setelah dia menganggukan kepala menanggapi Mariana.


Mariana menoleh kesana kemari untuk mencari apa yang bisa dibantu Noey. Pandangannya pun berakhir pada sekeranjang buah yang belum dibersihkan.


“Eum ... apa kamu bisa membantuku mencuci buah-buahan itu?” tanya Mariana sambil menunjuk buah yang ada diatas meja.


“Tentu” Noey pun meraih buah itu dan mulai mencucinya satu persatu hingga bersih. Noey masih terus berada didapur meskipun dia telah selesai dengan buah-buahan yang harus dia cuci. Dia bersandar pada meja dekat Mariana.


“Apa kamu sudah terbiasa masak sendiri?” tanya Noey yang terlihat heran karena meskipun Mariana seorang artis terkenal, dia cekatan dalam hal memasak.


“Ya, aku sudah terbiasa masak sendiri. Aku tidak bisa sembarangan makan karena aku tidak tahu cara mereka memasak, entah itu bersih atau tidak. Jadi lebih baik aku memasak sendiri” ujar Mariana menjelaskan dengan senyum yang lembut


"Oh, pantas kamu terlihat sangat lihai dalam menggunakan semua perlengkapan masak” Mariana hanya tersenyum manis mendengar pujian Noey padanya.


Tak lama, Mariana pun selesai dengan beberapa hidangan yang dia masak.


“Cucilah tanganmu dulu, karena tadi kamu sudah membantuku” Mariana pun meminta Noey mencuci tangan dengan sopan sementara dia merapikan meja makan. Noey hanya mengangguk dan melangkah menuju wastafel yang ada didapur. Setelah itu mereka mulai menikmati hidangan yang dibuat oleh Mariana. Ada udang, daging dan juga sayuran. Mariana pun menyiapkan salad buah untuk pencuci mulutnya


“Kamu pandai dalam memasak. Kamu bisa masak semua ini sendiri” ujar Noey setelah melihat beberapa hidangan yang tersedia diatas meja.


“Ini hanya masakan rumahan biasa. Makanlah dan beritahu aku apakah sesuai dengan seleramu atau tidak?” Noey mengangguk dan mulai mencicipi setiap masakan yang tersedia diatas meja makan.


“Bagaimana? Apakah rasanya enak?” Mariana menatap Noey dengan tatapan penuh harap dan dia terlihat gugup


“Enak. Ku kira hanya tampilannya saja yang bagus, ternyata rasanya juga sesuai dengan tampilannya" Noey memuji Mariana dengan sikap yang dingin dan wajah tanpa ekspresi.


“Pyuuh ... syukurlah jika rasanya enak. Aku benar-benar takut jika ini tidak sesuai dengan seleramu” Mariana menghela napas lega setelah Noey mengatakan kalau masakannya enak.


Noey terus memperhatikan wajah Mariana yang tersenyum lega setelah mendapatkan pujian atas makanannya.


“Bagaimana bisa gadis polos seperti dia mendapatkan kekerasan fisik dan mental dari lelaki yang katanya mencintainya?” pikir Noey sambil terus menatap Mariana


“Ada apa? Apa ada sesuatu diwajahku?” tanya Mariana dengan tatapan heran karena Noey terus menatanya. Diapun menyentuh setiap bagian wajahnya sendiri yang tanpa sadar mengenai luka memar dipipinya. Mariana sedikit meringis kesakitan.


“Apakah sangat sakit?” Ekspresi Noey terlihat sangat dingin dan khawatir saat dia bertanya. Dia juga terlihat kesal dan entah apalagi yang dia rasakan. Dia pernah mengalami kekerasan saat dia masih muda, dia tahu betul bagaimana rasanya tidak memiliki tempat bersandar.


“Hah? Oh, ini? Ini bukan apa-apa. Tidak perlu khawatir” Mariana menanggapi pertanyaan Noey sambil tersenyum dan menyembunyikan kepedihannya. Namun dia tidar sadar kalau senyumnya terlihat ketir dimata Noey


“Apa kamu tidak memiliki keluarga atau saudara? Kenapa kamu tinggal sendiri?” Noey menghentikan makannya dan bertanya pada Mariana dengan sikap yang dingin.


“Aku memliki 1 adik laki-laki, tapi aku memasukkan dia kesekolah yang memiliki asrama. Aku tidak ingin dia terlalu lelah mengejar pelajaran dan harus kembali kerumah setiap hari. Lagipula, aku juga belum tentu bisa merawatnya dengan baik. Orang tua kami sudah lama meninggal dan kami tidak memiliki saudara lagi” Mariana menanggapi dengan senyum ketir sambil memainkan makanan yang ada dihadapannya. Dia menundukkan kepala dengan ekspresi sedih saat dia menceritakan perihal keluarganya.


“Maafkan aku. Sehausnya aku tidak banyak bertanya padamu”


“Tidak papa. Ini bukan masalah yang besar kok. Lagipula mereka sudah meninggal lama. Aku juga adikku sudah terbiasa hidup berdua” Mariana menggerakkan tangannya dan menggelengkan kepala dengan serempak menanggapi permintaan maaf Noey. Mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka dengan tenang.

__ADS_1


***


Sementara itu Risha tiba dikantor setelah dia mampir ke toko pakaian untuk membeli baju ganti. Luka dibahunya memang hanya luka gores saja sehingga tidak diperban dengan besar maupun menggunakan penyangga tangan. Jadi Diaz tidak mungkin tahu kalau Risha terluka.


“Zie, apa kamu akan masuk kekantorku dulu?” tanya Risha pada Kenzie yang telah mengantarnya.


“Tidak perlu. Aku akan langsung kembali ke kantorku saja” ujar Kenzie menanggapi Risha dengan senyum di bibirnya


“Apa kamu yakin? Tidak ingin menemui papi lebih dulu?” Risha memicingkan mata disertai senyum saat dia menggoda Kenzie


“Tidak perlu. Saat diruman nanti, aku kuga akan bertemu dengan om Diaz”


"Baiklah. Hati-hati dijalan" Kenzie langsung menolak tawaran Risha dan mulai kembali menyalakan mesin mobilnya Risha pun melangkahkan kaki masuk ke gedung kantornya, namun dia mengingat sesuatu sebelum dia masuk keruang kerja miliknya.


“Tunggu. Apakah Sean sudah dibawa ke kantor polisi? Hukuman seperti apa yang akan dia dapatkan?” pikir Risha yang langkah kakinya terhenti sebelum masuk keruangannya. Diapun berbalik dan kembali meninggalkan kantor. Dia menghubungi Kenzie untuk meminta nomor telepon Noey.


Tuut tuut tuut


“Halo, Sha. Ada apa?” tanya Kenzie yang menerima telepon sambil mengemudi


“Zie, bisa minta nomor telepon Noey? Aku ingin menanyakan kekantor polisi mana dia membawa Sean” ujar Risha dengan tergesa-gesa.


“Ya, akan aku kirimkan sekarang”


“Terimakasih” Risha langsug menutup teleponnya dengan Zie.


Tak lama Zie mengirimkan nomor Noey


Risha langsung menghubunginya begitu mendapat nomoe teleponnya


Tuut tuut tuut


“Halo” Terdengar suara Noey dari ujung telepon


“Noey, kamu membawa Sean ke kantor polisi mana?” tanya Risha dengan sikap yang tenang


“Kantor polisi tidak jauh dari rumah Mariana” Noey pun menanggapi dengan sikap yang tenang


“Oh, terimakasih” Risha langsung menutup teleponnya dengan Noey dan bergegas pergi ke kantor polisi yang dimaksud Noey menggunakan taksi


“Taksi!”


Risha menghentikan taksi yang melintas dan bergegas pergi ke kantor polisi


Setelah menempuh perjalanan berberapa lama, akhirnya Risha tiba dikantor polisi yang dimaksud Noey


“Permisi. Saya ingin menemui Sean, pemuda yang baru saja dibawa kemari dengan luka tembak ditangan dan kakinya” ujar Risha menjelaskan pada polisi yang berjaga


“Tentu. Tersangka masih berada diruang perawatan untuk penanganan luka tembak yang dia terima. Silahkan sebelah sini” Polisi menanggapi Risha dengan senyum yang ramah


“Terimakasih” Risha pun melangkahkan kaki mengikuti polisi yang berjalan didepannya

__ADS_1


“Ini ruangannya. Anda memiliki waktu 30 menit untuk mengunjungi tersangka” ujar polisi menjelaskan aturannya pada Risha


“Baik. Terimakasih” Risha pun melangkah masuk keruangan seorang diri tanpa ditemani polisi


“U-untuk apa kamu datang kemari?” Sean terkejut mlihat Risha. Dia bertanya dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan.


“Aku ingin melihat kamu pakai baju tahanan. Apa kamu masih terlihat tampan atau tidak” ujar Risha dengan senyum yang manis


"Pergi kamu! Dasar jal*ng kurang ajar!" teriak Sean pada Risha yang semakin mendekat


"Tidak perlu kamu usirpun aku akan pergi. Tapi setelah memastikan kalau kamu juga mendapatkan hukuman yang setimpal" Risha bicara dengan senyum yang manis dan nada yang lembut


"Apa kamu gila?! Kamu sudah menembak tangan dan kakiku?! Kamu masih belum puas, hah?!" teriak Sean yang ketakutan


"Belum. Aku belum lihat kamu babak belur" Risha menanggapi dengan sikap yang tenang


"Sebenarnya apa masalahmu? Aku tidak memiliki masalah apapun denganmu. Kenapa kamu melakukan ini padaku?!"


"Ehm... kamu membuat perusahaanku rugi. Kamu juga melukai bahuku. Dan kamu juga membuatku jijik dengan sikapmu yang berani melakukan kekerasan pada wanita" Awalnya Risha terlihat tenang, tapi setelah itu sorot matanya berubah tajam saat dia menatap Sean


"Itu … dia pacarku, apa hubungannya denganmu?!"


"Dia artisku. Kamu sudah mencemarkan nama baiknya dan kamu sudah merugikan perusahaanku karena sudah menunda perilisan film kami!" Risha menanggapi dengan sikap dingin


"Ka-kamu …"


"Kamu tunggu saja hadiah dariku" Risha berbalik dan pergi dari hadapan Sean


"Permisi Pak. Dimana Sean akan ditempatkan setelah dia sembuh dari perawatannya?" tanya Risha pada petugas polisi yang berjaga


"Disel sebelah sana" dia menunjuk pada sel tempat Sean akan ditempatkan


"Bisakah aku melihat kondisi selnya?" tanya Risha lagi dengan wajah polos


"Tentu, Nona. Silahkan" ujar polisi yang bertugas


"Terimakasih" Risha pun berjalan sendiri menuju sel. Ada beberapa tahanan yang ditempatkan disana


"Permisi. Apa kalian membutuhkan uang?" tanya Risha pada orang-orang didalam sel


"Tidak mungkin ada orang yang tidak butuh uang. Apa yang harus kami lakukan?" salah satu tahanan menanggapi Risha dengan senyum menyeringai


"Nanti akan ada tahanan baru dengan luka tembak ditangan dan kakinya. Dia selalu melukaiku dan menyakiti saudariku secara fisik dan mental. Karena aku takut padanya, jadi aku ingin kalian membantuku membalasnya agar saat dia keluar dari penjara … dia tidak lagi berani menyakiti kami" Risha berakting sedih dan takut saat dia bicara


"Kamu tenang saja. Kami akan membuat dia tidak berani lagi menyakiti perempuan manapun" ujar pria tadi yang terlihat marah dan kesal


"Terimakasih. Ini sebagai imbalan untuk kalian" Risha memberikan uang yang dia masukan dalam amplop coklat pada pria itu. Mereka langsung membukanya untuk dibagikan secara adil


"Kamu tidak perlu takut lagi. Sekarang kamu dan saudarimu bisa tenang. Kami disini karena tindakan pencurian. Tapi kami tidak suka dengan pria yang kasar pada perempuan"


"Sekali lagi terimakasih" Risha oun berbalik pergi dengan seringai dibibirnya

__ADS_1


"Sean, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, tapi aku juga tidak akan membiarkanmu hidup dengan mudah. Beraninya membuatku rugi"


__ADS_2