
"Apa kamu sudah lama menungguku?" Meisya langsung bertaya pada Kenzie ketika dia masuk kedalam mobilnya
"Tidak juga. Apa yang membuat kamu lama?"
Kenzie lebih dulu sampai diparkiran dan menunggu Meisya di dalam mobil. Mesipun mereka bekerja disatu perusaann tapi gedung yang mereka tempati berbeda. Meisya bekerja di gedung produksi sedangkan Kenzie sekarang bekerja di gedung utama
"Tadi aku meninggalkan ponselku di meja kerja, karena itu aku kembali ke dalam untuk mengambilnya" Meisya bicara sambil mengenakan sambuk pengamanannya.
"Oh begitu. Ya sudah, kita berangkat sekarang. Kita harus pergi membeli gaun dan juga jas, Kamu juga harus pergi ke salon. Apa waktunya akan cukup?" Kenzie mulai mengendarai mobilnya dan berkendara meninggalkan kawasan kantor. Sesekali dia menoleh pada Meisya yang berada disampingnya.
"Sepertinya cukup. Sekarang juga baru jam 5 sore, sedangkan pesta papa dimulai jam 8 malam. Di depan sana ada toko pakaian pria dan juga wanita, jadi kita bisa pergi kesana untuk mencari jas dan juga gaun. Kita tidak perlu ke salon, aku bisa merias diriku sendiri" Meisya menjawab dengan sikap yang tenang, sesekali dia pun menoleh pada Kenzie sambil tersenyum manis.
"Hemn ..." Kenzie pun setuju dan mengendarai mobilnya menuju toko yang dimaksudkan oleh Meisya
Tak berapa lama mereka tiba di toko yang dimaksud. Kenzie turun dari mobil terlebih dulu setelah itu barulah dia berjalan ke arah lain untuk membantu Meisya membuka pintu. Dia pun mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Meisya turun
"Silahkan tuan putri"
"Terimakasih" Meisya menyambut uluran tangan Kenzie dengan senyum yang lembut. Pasangan muda itu pun berjalan memasuki toko dengan saling bergandengan tangan
"Selamat sore. Selamat datang di toko kami. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang pramuniaga menyambut kedatagan Kenzie dan Meisya dengan senyum dan cara bicara yang ramah
"Kami mencari gaun dan juga jas. Tolong tunjukkan letaknnya" Kenzie pun dengan ramah mengatakan apa yang sedang dia cari
"Tentu. Untuk jas, anda bisa cari disebelah sana sedangkan untuk gaun berada disini" Pramuniaga itupun menunjukkan dua letak yang berbeda
"Apa kamu bisa membantu kami?" Kenzie kembali bertanya dengan sikap yang tenang
"Tentu pak. Model seperti apa yang kalian inginkan?" Pramuniaga itu terlihat sudah terbiasa membantu pembeli yang datang ke toko
"Tolong bawakan kami model yang simpel namun tetap elegan. Kami tidak suka model yang terlalu glamor" Meisya memberikan instruksi untuk membawa pakaian yang sesuai dengan keinginan mereka
"Baik, kami akan membawakan beberapa model pakaian kemari. Mohon tunggu sebentar" Pramuniaga itu pun meninggalkan Meisya dan Kenzie untuk mengambilkan pakaian yang sesuai dengan keinginan mereka. Dia juga terlihat memanggil rekannya untuk membantunya menyiapkan apa yang diminta Kenzie dan Meisya.
Tak berapa lama 3 orang pramuniaga datang kembali dengan membawa beberapa pakaian untuk Kenzie dan Meisya.
"Tuan, nona. Ini pakaian yang kami rekomendasikan. Silahkan dilihat-lihat dulu" Pramuniaga tadi bicara dengan sopan. Kenzie dan Meisya yang sedang duduk pun mulai berdiri dan memilih pakaian yang sudah direkomendasikan untuk mereka.
"Terimakasih, kami akan lihat-lihat dulu" Ujar Meisya dengan senyum yang ramah. Diapun mulai melihat-lihat gaunnya.
"Kak Zie, sebaiknya kamu pilih jasnya. Itu akan lebih menghemat waktu"
__ADS_1
Meisya bicara pada Kenzie yang malah ikut dengannya memilih gaun
"Itu gampang. Aku akan memilih gaun untukmu dulu agar nanti bisa kita cocokan dengan jas milikku" Kenzie menjawab Meisya tanpa menoleh padanya dan terus memilih gaun
"Bagaimana dengan ini?"
Kenzie menunjukan sebuah gaun berwarna biru muda yang jadi pilihannya pada Meisya
"Ini juga cantik. Bagaimana menurut kak Zie?" Meisya pun menunjukan gaun berwarna merah pilihannya
"Kalau begitu coba saja keduanya"
Kenzie menyarankan pada Meisya untuk mencoba keduanya dan memilih yang terbaik setelah dicoba nanti
"Baiklah, aku akan coba dulu. Kak Zie bisa lihat-lihat dulu jasnya"
Meisya berbalik menuju ruang ganti dengan kedua gaun ditangannya
"Mas bisa tolong pilihkan untukku juga?" Kenzie menatap sinis pada seorang gadis yang tiba-tiba memintanya untuk memilihkan gaun
"Maaf, aku bukan karyawan sini. Tolong pilihkan gaun untuknya" Kenzie menanggapi dengan tenang kemudian melambaikan tangan pada salah satu pramuniaga yang tadi membantu mereka
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu lagi?" Pramuniaga itu kembali mendekati Kenzie dan bertanya dengan sopan
"Mari nona, sebelah sini" Pramuniaga itu menunjukkan jalan pada gadis yang menghampiri Kenzie
"Kenapa harus kesana? Disini ada banyak gaun" Gadis itu menunjuk pada gaun-gaun yang sebelumnya dipilih untuk Meisya
"Maaf, gaun ini sudah disediakan untuk pacarku. Dia belum selesai memilih" Kenzie menanggapi dengan senyum yang ramah
"Pacarmu juga hanya memilih satu, apa salahnya aku pilih dulu sebelum dia?" Gadis itu menanggapi dengan sombong dan senyum menggoda Kenzie
"Maaf nona, disebelah sana masih banyak gaun. Saya akan bantu nona untuk memilih yang lain" Pramuniaga tadi berusaha membujuk sang gadis untuk menghindari keributan
"Aku tidak mau. Aku mau sitampan ini yang memilihkan gaun untukku" Ujar sang gadis dengan nada bicara yang menggoda
"Kenapa harus pacarku yang pilihkan untukmu? Memangnya siapa kamu?"
Semua menoleh begitu Meisya keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun berwarna biru pilihan Kenzie
"Aku Marina. Aku hanya ingin pacarmu yang pilihkan gaun untukku. Apa salahnya? Hanya memilih gaun saja"
__ADS_1
Marina bicara dengan nada yang sombong dan manja
"Sayang, bagaimana gaun ini? Bukankah ini pilihanmu?"
Meisya bertanya pada Kenzie dengan nada yang menggoda dan manja.
Kenzie tersenyum melihat sikap Meisya yang tidak seperti biasanya.
"Tentu, apapun yang kamu pakai sudah pasti itu cantik. Tapi … ehm … bagaimana kalau kamu coba yang ini juga?"
"Ini biar aku saja yang coba"
Marina langsung merebut gaun yang baru saja diambil Kenzie saat akan diberikan pada Meisya
"Kenapa kamu kurang ajar sekali ya? Aku mengambilkan gaun ini untuk pacarku. Kenapa kamu merebutnya begitu saja?" Kenzie yang sejak tadi bersikap ramah, kini menanggapi Marina dengan sikap yang dingin
"Aku sudah bilang kalau aku ingin kamu pilihkan satu gaun untukku. Aku harus segera pergi ke pesta. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi, jadi biarkan aku ambil gaun ini, oke? Kamu juga tidak mungkin bisa beli 2 gaun lni, kan?"
Marina bicara dengan nada yang mecibir Kenzie
"Aku memang tidak bisa beli 2 gaun ini. Aku akan beli semua gaun yang ada disini. Cepat bungkus semuanya"
"Baik tuan"
Kenzie menunjuk pada gaun yang telah disiapkan untuk Meisya coba tadi. Lalu dia menyodorkan kartu gold miliknya pada pramuniaga tadi
"Sayang, sekarang bantu aku untuk memilih jas yang sesuai untukku"
Kenzie menarik tangan Meisya dan membawanya mendekati beberapa setelan jas yang diperkirakan pramuniaga cocok untuknya
"Tunggu! Bagaimana kalian pergi begitu saja meninggalkan aku? Dan kamu tampan, apa kamu buta sampai tetap membela pacarmu itu? Jelas-jelas kalau aku lebih baik dari dia"
Meisya terlihat kesal mendengar ucapan Marina
"Memangnya kamu punya kelebihan apa sampai berani menbandingkan aku denganmu? Kamu itu hanya orang kaya baru yang bermimpi melewatiku. Tidak akan bisa. Aku tidak akan biarkan kamu merebut apa yang sudah menjadi milikku"
Meisya yang biasa tenang. kini bersikap tegas pada Marina.
"Sudahlah sayang, tidak perlu urusi dia. Ayo pergi" Kenzie memegang tangan Meisya dan membawanya memilih jas
"Kenapa kamu besikap seperti itu?! Sampai membelikan gaun yang ada ditoko ini. Memang kamu yakin kalau dia itu gadis baik,hah?" Marina dengan sengaja berteriak pada Meisya dengan nada mencibir
__ADS_1
"Dia pacarku, baik atau buruknya juga urusanku.. Bukan urusanmu!"