
Semua orang terkejut mendengar nama keluarga Kusuma. Bahkan polisi yang ada disana juga tak kalah terkejutnya mendengar apa yang dikatakan Kenzo
"Pengacara keluarga siapa?!" Tanya salah satu polisi untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar
Kenzo yang kini telah duduk dengan tenangnya menjawab pertanyaan polisi
"Pengacara keluarga Kusuma. Oh tidak perlu menghubungi mereka. Kita hubungi kakek dan nenek saja disini. Minta pengacara mereka saja yang datang" Dengan senyum yang terlihat menyeramkan Kenzo mengeluarkan ponsel dari sakunya
Tuut tuut tuut
Tak berapa lama teleponnya pun diangkat dan terdengar suara Ed
"Halo" Suaranya terdengar sedikit berat, entah Ed baru saja terbangun dari tidurnya atau memang dia mengantuk karena belum tidur
"Halo, kakek? Apa kakek sudah tidur?" Tanya Zo dengan sikap yang tenang
"Siapa ini? Tengah malam mengganggu orang tidur" Ujar Ed dengan sikap yang dingin
"Ini aku, Kenzo"
"Kenzo?" Ed mengulangnya karena takut salah dengar
"Ya, Kenzo. Kenzo Osterin Anggara" Semua orang dikantor polisi kembali terkejut mendengar nama lengkap Kenzo. Mata mereka kembali membelalak dan saling menatap satu sama lain. Bahkan pak Rudi pun menatap tajam pada Ilana
"Jadi ini yang kamu bilang identitas besar milik Kenzo?"
"Aku tidak tahu pah. Aku hanya tahu kalau Kenzo anak orang kaya. Itu saja" Jawab Ilana membela diri dengan wajah panik
"Ada apa kamu menghubungi kakek malam-malam begini?" Tanya Ed yang kini suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya
"Aku dikantor polisi. Kakek bisa kirimkan pengacara terbaik kakek kesini? Sepertinya terlalu berlebihan jika aku memanggil pengacara mami. Akan butuh waktu untuk perjalanan dari negara A" Kenzo kembali bicara dengan sikapnya yang tenang. Senyum mencibir tak pernah hilang dari wajahnya karena melihat wajah orang-orang yang ada dihadapannya kini sangat ketakutan hingga wajah mereka pucat dan tubuhnya gemetar
"Apa? Kantor polisi? Kantor polisi mana? Kakek dan nenekmu akan langsung kesana dengan pengacara terbaik kita disini" Ed cukup terkejut mendengar Kenzo ada dikantor polisi
__ADS_1
"Kakek tidak perlu repot-repot kemari. Cukup kirimkan pengacara saja, aku tidak papa. Aku juga tidak membuat masalah yang besar" Zo memukul keningnya sendiri ketika mendengar Ed akan datang ke kantor polisi
"Tidak bisa! Katakan dimana, kakek kesana sekarang!"
"Tidak perlu kek"
"Kamu pikir kakek tidak akan bisa menemukanmu? Kamu salah besar" Ed langsung memutus sambungan teleponnya dengan Zo
"Bagaimana Zo?" Tanya Rendra yang sejak tadi berusaha menahan tawa melihat reaksi orang-orang dikantor polisi
"Selamat kepada kalian semua karena sebentar lagi kalian memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan pasangan penindas nomor 1 dinegara F" Kenzo memberikan ucapan selamat kepada semua orang yang ada disana karena pasangan Ji dan Ed akan segera datang ke kantor polisi
"Zo, apa tidak sebaiknya kita pergi darisini? Aura yang nenekmu berikan lebih menyeramkan daripada kakekmu" Rendra memberi saran karena sudah pasti Ji akan marah pada Kenzo
"Jika kita pergi sekarang maka nenek bisa saja menggantung kepalaku" Bisik Kenzo pada Rendra dengan sorot mata yang tajam.
Akhirnya semua orang menunggu kedatangan Ji dan Ed dengan wajah pucat dan panik. Bahkan pak Stevan terus saja berjalan mondar mandir disana.
Tak berselang lama terlihat Ji dan Ed datang dengan bergandengan tangan diikuti beberapa pengacara dibelakang mereka
"Aku tidak membuat masalah nek. Justru aku menyelesaikan masalah" Kenzo menjawab sambil menoleh pada pak Rudi dan Ilana sebagai isyarat kalau mereka yang telah membuat masalah
"Masalah apa yang sampai membuatmu malam-malam ada disini?" Kali ini Ed yang bertanya dengan sikap yang dingin
"Masalahnya dia dulu temannya Zie dan Risha. Dia pernah memaksa masuk ke rumah kakek buyut tanpa izin kami, setelah itu dia mengatakan pada semua orang kalau kami ini penindas, karena itu Kenzie dan Risha dijauhi teman-temannya karena rumor itu. Sekarang dia kembali mengusikku. Dia mengatakan pada semua teman kampusku kalau aku penipu, dia bahkan jadi penguntit dengan mengikutiku dari kampus sampai ke tempat kerja. Dan pak Rudi juga malah ingin mencelakaiku. Sungguh menjengkelkan!" Ujar Kenzo dengan nada bicara yang kesal
"Kalau begitu aku ingin kalian menuntut mereka dengan pasal berlapis. Upaya pembunuhan, pencemaran nama baik dan juga stalker! Buat mereka berdua membayar mahal atas apa yang dilakukan pada cucu-cucuku. Baik hukuman pidana maupun denda yang dibayarkan. Jangan sampai membuatku kecewa!" Ji bicara pada para pengacaranya
"Baik nyonya" Jawab para pengacara serempak
"Dan untuk kepolisian ini, saya harap anda tidak membedakan laki-laki atau perempuan. Yang bersalah tetaplah bersalah" Maksud dari Ji adalah tidak memberikan Ilana perlakuan khusus karena dia perempuan. Dia tetap harus mendapatkan hukumannya
"Anda tenang saja nyonya, kami akan melakukannya dengan adil"
__ADS_1
"Maaf pak, saya tidak bisa membela anda. Ini terlalu beresiko meskipun anda membayar saya dengan mahal" Ujar pak Stevan yang langsung berbalik pergi meninggalkan kantor polisi sebelum pak Rudi memberikan tanggapan
"Bagaimana ini pah?" Rengek Ilana dengan derai air mata
"Ayo Zo. Kita pergi darisini. Biarkan pengacara yang menangani sisanya" Ji berbalik dan hendak pergi ketika pak Rudi tiba-tiba memegang kakinya
"Nyonya tolong maafkan kami. Berikan kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami"
"Kalian bisa merenung dalam penjara! Itu akan jadi tempat yang paling baik untuk mengakui kesalahan kalian!" Jawab Ji dengan nada yang sinis
Pak Rudi hanya bisa menatap Kenzo dengan penuh penyesalan. Sedangkan Ilana hanya bisa menangis
"Kalian berdua menggangguku saja! Ini kan mainanku, kenapa kalian ikut campur?!" Kenzo menggerutu kesal pada Ji dan Ed
"Kami tidak peduli. Mereka itu hampir mencelakaimu, mana mungkin kami diam saja? Dan kamu, bukannya kami sudah bilang untuk menggunakan nama keluarga? Kamu ini masih belum punya kekuatan sendiri. Kamu masih muda untuk bisa membangun namamu didepan orang yang punya kedudukan" Ji menjawab dengan nada yang dingin
"Tapi nek …"
"Tidak ada tapi-tapian. Jika kamu ingin belajar bermain dan membangun kekuatan pada namamu, maka orang-orang itu harus tahu namamu. Tidak masalah dengan nama keluarga asalkan kamu punya karakter dan caramu sendiri! Mengerti?!"
"Baik nek" Ji dan Ed pun mulai beranjak meninggalkan kantor polisi
"Kalian tidak ikut? Cepat naik, kami akan mengantar kalian pulang" Ed memanggil Kenzo dan Rendra yang diam saja menunggu Ji dan Ed pergi
"Kami bawa motor sendiri kek. Jadi, kakek duluan saja. Motor kami diparkirkan disana" Rendra menjawab dengan senyum lembut dibibirnya
"Tinggalkan saja motor kalian. Kami akan meminta orang mengambilnya" Ed masih bersikeras mengantar Zo pulang. Berbeda dengan Ji yang tahu betul watak cucunya
"Zo, jika kamu butuh bantuan nenek. Kamu bisa langsung hubungi nenek. Apapun masalahnya tidak perlu ragu. Lakukan apa yang membuatmu senang. Nenek pasti mendukungmu"
"Tentu nek. Aku akan ingat itu"
"Ayo Ed, kita pergi!"
__ADS_1
"Tapi queen, kita bisa mengantar mereka dulu agar tahu dimana rumah Zo" Ed masih berusaha mengetahui dimana rumah Kenzo
"Tidak perlu. Biarkan dia belajar mandiri. Dia sudah belajar mengatur strategi dengan baik. Aku harap dia bisa lebih tegas dalam memberi hukuman" Ed pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya dia mulai mengendarai mobilnya meninggalkan kantor polisi