
"Pah, apa kamu yakin kalau Safira yang mengedit videomu dan menyebarkan semuanya?" Bu Delima bertanya pada pak Gustian mengenai videonya yang tersebar luas di sosial media
"Aku tidak berbohong mah. Itu benar-benar hanya editan. Mana mungkin aku berani mengkhianatimu?" Ujar pak Gustian membela diri sambil menggenggam kedua tangan sang istri
"Lalu apa masalahmu dengannya sampai membuat dia berani memfitnahmu? Jika dengan Yulita, aku tahu kalau hubungan mereka berdua memang tidak baik, tapi aku tidak habis pikir kalau dia juga sampai memfitnahmu" Bu Delima terus berakting untuk mencari celah agar pak Gustian segera bicara dengan Yulita dan bertemu dengannya
"Mungkin karena dia tidak mendapatkan peran di drama yang aku produseri, makanya dia melakukan hal seperti itu" Pak Gustian terus saja mengelak dan berusaha menyalahkan Safira atas apa yang terjadi padanya
"Sepertinya aku benar-benar harus membuat perhitungan dengan dia. Oh iya pah, besok aku harus keluar kota untuk beberapa hari. Ada meeting penting dengan perusahaan lain" Ujar bu Delima yang tetap bersikap tenang meskipun saat ini dia sudah sangat kesal pada suaminya
"Baiklah, aku harap kamu selalu hati-hati saat berada dimanapun" Ujar Pak Gustian dengan lembut
"Tentu, sebaiknya kita istirahat sekarang. Besok aku harus pergi pagi-pagi" Ujar Bu Delima mengakhiri percakapan diantara mereka
"Baiklah, ayo tidur!" Bu Delima berbaring dengan wajah kesal, sedangkan pak Gustian berbaring dengan senyum penuh arti.
Keesokan harinya seperti yang dikatakan sebelumnya, bu Delima harus berangkat pagi-pagi untuk pergi ke luar kota
Tuut tuut tuut
"Halo, sayang. Apa sekarang kamu ada waktu?" Pak Gustian menghubungi Yulita setelah sang istri pergi
"Tentu saja" Yulita menjawab dengan senyum ceria
"Kalau begitu kita bertemu dihotel biasa" Ujar Gustian dengan senyuman dan tatapan kelicikan
"Iya, sampai jumpa nanti" Pak Gustian dan Yulita pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka berdua
***
Beberapa saat kemudian pak Gustian sudah berangkat lebih dulu ke hotel yang telah dijanjikan bersama dengan Yulita. Dia menunggu sang kekasih di kamar hotel.
Ting nong ting nong
Pak Gustian tersenyum lebar mendengar suara bel berbunyi
__ADS_1
"Itu pasti Yulita" Dengan senyum cerianya dia mulai melangkahkan kaki untuk membukakan pintu
"Sayang!" Seorang gadis langsung berhambur kepelukan pak Gustian begitu pintu dibuka
"Akhirnya kamu datang juga" Sambut pak Gustian yang memeluk Yulita erat. Lalu mereka melangkah masuk ke dalam kamar
Diluar kamar, bu Delima menunggu dengan raut wajah kesal dan sorot mata penuh kemarahan ditemani Safira disampingnya
"Ternyata kamu benar Fira, mereka berselingkuh setiap kali aku ada urusan diluar. Kali ini aku harus membongkar semuanya dan membuat mereka kehilangan muka" Ujar bu Delima dengan emosi
"Tenang dulu bu kita tidak bisa langsung menerobos kamarnya sekarang. Aku yakin kalau mereka tidak hanya berbincang saja, jadi kita harus minta bantuan pada petugas hotel agar memberikan kita kunci cadangan, jadi kita bisa memergoki mereka tanpa memberi jeda untuk berkelit lagi" Safira menjelaskan pada Bu Delima sambil tersenyum manis
"Tenang saja, sebentar lagi mereka akan memberikan kuncinya pada kita. Aku sudah memintanya pada pihak hotel tadi" Bu Delima pun tersenyum menanggapi Safira
"Permisi bu, ini kunci yang anda minta" Ujar seorang petugas pelayanan kamar menegur bu Delima
"Terimakasih. Safira, ini saatnya pertunjukan kita. Mereka yang menyebabkan dramamu tertunda penayangannya, jadi aku izinkan kamu untuk melihat langsung" Bu Delima tersenyum manis pada Safira
"Suatu kehormatan untuk saya" Safira dan bu Delima pun mulai melangkahkan kaki mendekati kamar Pak Gustian
Safira mengeluarkan ponselnya dan menyiapkan kamera video untuk merekam
Bu Delima dan Safira masuk ke dalam kamar dengan sangat hati-hati. Mereka tidak ingin menimbulkan suara agar pak Gustian tidak menyadari kedatangan mereka.
Bu Delima terpaku saat melihat sang suami sedang bercumbu mesra dengan wanita lain. Tanpa dia sadari air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya
"Apa anda baik-baik saja?" Safira memegang bahu bu Delima dan bertanya dengan lembut dan sedikit berbisik
"Ya, aku baik-baik saja" Jawab bu Delima disertai anggukan kepala dan senyum ketir dibibirnya. Safira pun membalas dengan senyum tipis, sebelah tangannya masih terus merekam apa yang terjadi meskipun dia memalingkan wajahnya karena merasa malu sendiri melihat pemandangan di depannya
"Owh, jadi video seperti ini yang kamu bilang palsu? Apa sekarang juga palsu?" Pak Gustian dan Yulita sangat terkejut mendengar suara seseorang dikamar mereka. Yulita dan pak Gustian dengan cepat meraih selimut untuk menutupi bagian tubuh mereka
"Mama?!" Ujar pak Gustian dengan mata membelalak lebar dan mulut menganga
"Bukannya kamu bilang ada urusan diluar kota?!" Tanya pak Gustian lagi dengan panik
__ADS_1
"Jadi karena aku keluar kota, kamu bisa seenaknya memanggil wanita lain ke tempat tidur?" Ujar Bu Delima dengan nada bicara yang dingin
"Tidak, ini sama sekali tidak seperti yang …" Pak Gustian tergagap karena dia sangat panik
"Aku sudah melihat semuanya, dan apa yang kulihat saat ini tidak mungkin bisa dipalsukan!" Sorot mata bu Delima sangat tajam karena kesal
"Mah dengarkan aku dulu!" Pak Gustian masih terus berusaha membela diri. Diapun meraih jubah mandi di dekatnya dan mulai mengenakannya lalu mendekati snag istri
"Tidak ada lagi yang perlu kudengarkan! Akan ku siapkan surat gugatan perceraian kita secepatnya!" Ujar Bu Delima yang mulai berbalik dan hendak beranjak pergi
"Tunggu sayang, tunggu! Kita tidak mungkin bercerai. Ingat anak kita, jika kita bercerai, bagaimana dengannya?" Ujar pak Gustian menahan sang istri
"Anak? Kamu baru ingat anak kita sekarang? Jika kamu ingat kalau kamu punya anak, maka kamu tidak akan melakukan hal yang memalukan seperti sekarang! " Bu Delima sangat marah mendengar ucapan suaminya
"Aku … aku …" Pak Gustian tidak bisa mengatakan apapun
"Ah, aku lupa mengatakan sesuatu" Bu Delima menghentikan langkahnya dan bicara tanpa membalikkan badan
"Bersiaplah kehilangan semuanya, aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan uang sepeserpun dari perceraian kita! Dan kamu, akan kupastikan kamu tidak bisa lagi terjun kedunia hiburan!" Ujar bu Delima setelah itu dia kembali melangkah keluar kamar hotel diikuti Safira dibelakangnya
"Tidak, mah!" Pak Gustian terduduk lemas mendengar ucapan sang istri
"Bagaimana menurut kalian? Bukankah ini yang kalian inginkan dariku? Sebelumnya kalian membuatku malu sampai tidak berani keluar rumah, sekarang kalian bisa merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat itu" Safira bicara dengan senyum manis dibibirnya kemudian melangkah pergi mengikuti bu Delima
"Safira, apa kamu merekam kejadian tadi?" Tanya bu Delima setelah mereka diluar hotel
"Ya, saya akan kirimkan pada anda" Ujar Safira yang langsung mengirimkan video itu pada bu Delima
"Sekali lagi terimakasih dan maaf untuk sebelumnya" Bu Delima bicara dengan kepala tertunduk
"Tidak perlu seperti itu. Jika anda membutuhkan bantuanku, anda bisa langsung mencariku" Ujar Safira lembut
"Ya, kuharap kita bisa bekerja sama kedepannya" Safira menanggapinya dengan anggukan kepala
"Kalau begitu saya pergi duluan. Saya akan langsung menyiapkan gugatan cerai untuk suami saya"
__ADS_1
"Ya, saya akan kembali ke lokasi syuting. Sampai jumpa" Safira dan bu Delima pun berpisah diluar hotel
"Beruntungnya aku mengenal Kenzo. Jika bukan karena dia, maka aku pasti tidan akan pernah berani mengangkat kepalaku lagi" Gumam Safira sambil terus tersenyum