Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Tekad Risha


__ADS_3

Risha melenggang pergi dari perusahaan tempat Ana berkerja dengan senyum penuh kemenangan dan cara berjalan yang anggun. Dia meninggalkan Ana yang terduduk dilantai dengan penuh penyesalan dan derai air mata tiada henti


"Sepertinya sudah waktunya aku membuat kekuasaanku sendiri. Ana membuatku membuka mata kalau kekuasaan itu sangat penting. Aku tidak bisa terus membuat orang segan hanya karena tahu nama belakangku. Aku akan membuat mereka segan hanya dengan mendengar nama depanku saja" Risha bertekad dengan sorot mata penuh dengan keyakinan


"Ah aku lapar. Aku harus  menghubungi Rendra untuk makan siang dengannya" Risha pun menghubungi Rendra untuk makan siang bersamanya


Tuut tuut tuut


"Halo" Terdengar suara Rendra hanya dengan beberapa kali dering


"Halo sayang, apa kamu masih dikantor? Urusanku sudah selesai. Apa mau makan siang diluar denganku?" Risha bicara dengan nada yang manja pada Rendra


"Tentu, kamu mau makan apa? Nanti kita bertemu di restoran" Rendra bertanya dengan sikap yang tenang dan lembut.


"Ehm... aku mau makanan barat. Jadi kita akan bertemu disana"


"Baiklah. Aku akan berangkat sekarang. Sampai jumpa disana"


Risha dan Rendra pun mengakhiri pembicaraan mereka di telepon


***


Saat ini Kenzie sedang sibuk dengan dokumen yang akan digunakan sebagai referensi dalam persentasi nanti. Dewan direksi meminta Kenzie melakukan persentasi untuk penilaian promosi jabatannya. Meisya sedang menemaninya diruangan sambil mengerjakan pekerjaannya bersama. Sesekali dia menatap Kenzie yang sedang serius dengan dokumen ditangannya.


"Sya, tidak perlu curi pandang begitu. Kamu bisa memandangiku sepuasnya. Dan aku juga tidak masalah untuk itu" Kenzie bicara dengan nada yang lembut dan senyum yang menggoda


"Kak Zie, sebenarnya aku punya 1 permintaan untukmu" Meisya sedikt ragu saat akan mengatakan apa yang dia inginkan pada Kenzie


"Katakan saja apa itu. Selama aku bisa, aku pasti akan mewujudkannya untukmu" Mata Kenzie terlihat lembut. dia memandang Meisya dengan tatapan penuh cinta. Meskipun Kenzie memang ramah namun tatapannya saat melihat  Meisya berbeda dengan saat menatap orang lain.


"Jika kamu sudah jadi direktur disini, jangan tunjukan perhatian spesial padaku di depan orang lain. Kita cukup jadi atasan dan bawahan saat ada dikantor. Tapi kamu juga tidak boleh terlalu ramah pada gadis lain"


"Lalu diliuar kantor? Apa aku bisa melakukan apapun yang aku mau?" Kenzie kembali menggoda Meisya dengan nada bicara yang genit dan mengedipkan sebelah mata


"Apa yang kakak pikirkan? Jangan berani berpikir macam-macam! Oh, papa mengadakan pesta dan papa ingin kita hadir disana. Apa kakak bisa pergi denganku?" Meisya mendekati Kenzie dan duduk dihadapannya dengan tatapan yang seakan memohon


"Lalu bagaimana? Apa kamu yakin tidak akan ada wartawan disana? Kehidupan kita pasti akan mulai disorot jika masuk ke pesta para bisnis" Kenzie terlihat sedikit khawatir jika kehidupan pribadinya nanti akan terganggu saat dia  mulai menghadiri pesta para pebisnis.

__ADS_1


"Meskipun ada wartawan ... toh tidak ada yang tahu kamu. Mereka hanya tahu kalau kak Zie manajer di cabang perusahaan Kusuma dan saudara kembar dari Kenzo. Bukannya kalian sudah mengatur semuanya?" Meisya menawab dengan senyum yang manis


"Baiklah, aku akan datang. Hanya saja, aku tidak suka menjadi pusat perhatian berlebihan" Kenzie mengajukan apa yang jadi syaratnya untuk datang ke pesta pak Arseno


"Tentu. Aku akan katakan itu pada papa" Meisya menjawab dengan senyum ceria


"Aku tidak akan mengganggu kak Zie lagi. Aku akan kembali ke meja kerjaku sekarang" Meisya berbalik dan hendak pergi


"O ho ... jadi kamu meninggalkanku setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan?" Kenzie bicara dengan nada yang sedikit mencibir


"Pak manajer, aku hanya karyawan biasa. Aku tidak akan bisa berdiri sendir tanpamu. Jadi sampai jumpa saat pulang kerja" Meisya menjawab dengan manja lalu beranjak pergi meninggalkan Kenzie


"Gadis ini semakin lama semakin berani" Gumam Kenzie yang menatap jejak kepergian Meisya


***


Restoran


Risha sudah menunggu Rendra disebuah restoran yang telah mereka sepakati sebelumnya. Dia duduk dengan elegan di salah satu kursi restoran


"Kenapa Rendra lama sekali? Jarak restoran kan tidak terlalu jauh dari kantor" Risha bergumam sambil terus kenatap ke arah pintu masuk restoran. Saat dia hendak menghubungi Rendra, seorang pria tiba-tiba berdiri didepannya


"Sepertinya masih banyak meja lain yang kosong, untuk apa ingin duduk denganku?" Risha bertanya dengan nada yang sinis


"Aku tidak tega membiarkan gadis cantik sepertimu duduk makan siang sendiri. Orang bilang makan sendiri itu tidak enak, akan lebih menyenangkan jika kita bisa makan siang bersama" Pria itu bicara pada Risha dengan lembut dan senyum yang ramah


"Tapi aku juga tidak suka ditemani oleh sembarangan pria. Dan aku sedang menunggu seseorang, jadi akan lebih baik jika anda pindah ke kursi lain sekarang" Risha menatap pemuda itu dengan sorot mata yang tajam


"Tapi cantik aku …" Belum selesai dia bicara, seseorang datang menyela


"Apa terjadi sesuatu?" Risha langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang yang familiar ditelinganya


"Ren, kamu sudah sampai. Aku sudah menunggumu" Risha langsung berdiri dan mendekati Rendra yang di dorong oleh Billi. Ekspresi wajahnya sangat berbeda dengan yang ditunjukan sebelumnya


"Ya, apa terjadi sesuatu?" Rendra bertanya dengan mata mendelik tajam pada pemuda yang mendekati Risha


"Tidak ada. Aku tidak mengenalnya dan kami tidak punya urusan sama sekali" Risha mengabaikan pemuda yang mendekatinya

__ADS_1


"Bil, kamu bisa pesan makan siangmu" Rendra bicara pada Billi yang masih berdiri dibelakangnya.


"Baik pak. Terimakasih" Billi pun duduk disalah satu kursi yang tidak jauh dari tempat duduk Risha dan Rendra


"Permisi, bukankah dia bilang tidak punya urusan dengan anda? Apa anda yang masih ada urusan dengannya?" Rendra bertanya dengan sikap yang dingin. Meskipun duduk dikursi roda, namun dia tetap terlihat gagah


"Oh tidak ada. Maaf mengganggu waktu kalian" Pemuda itupun beranjak pergi meninggalkan meja Risha dan Rendra


"Hanya dengan pria lumpuh saja sudah bangga. Apa yang dibanggakan darinya?!" Pemuda itu meninggalkan mereka sambil bergumam namun Risha dan Rendra dapat mendengarnya


"Apa katamu?!" Risha berteriak setelah mendengar apa yang dikatakan pemuda itu


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Mungkin kamu yang salah dengar?" Dia menanggapi Risha sambil tersenyum


"Kamu pikir aku tuli?!" Pemuda itu mengabaikan Risha dan tetap melangkah pergi


"Sudah Sha, duduklah. Bukankah kita kesini untuk makan siang?" Rendra menggenggam tangan Risha untuk menenangkannya dan itu berhasil membuatnya sedikit tenang


"Ya sudah, kamu mau pesan apa?" Risha bertanya dengan lembut


"Kamu saja yang pesan" Risha pun melambaikan tangan dan memanggil waitress lalu memesan makan siang untuk mereka berdua


"Ren ada yang ingin aku katakan padamu" Risha terlihat serius saat ini.


Rendra memicingkan mata dan menatap Risha dengan heran


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?"


"Ehm... aku memutuskan untuk kembali ke perusahaan papi. Hari ini Ana membuatku sadar kalau kekuasaan itu penting. Aku tidak ingin membuat orang tunduk padaku hanya karena mendengar nama Kusuma, aku ingin mereka segan padaku hanya dengan mendengar namaku"


Rendra terdiam saat mendengarkan cerita Risha


"Apa kamu marah kalau aku kembali kerumah?" Risha mengerutkan dahi dan mengira kalau Rendra marah padanya


"Kenapa aku marah? Aku senang jika kamu sudah memutuskan apa yang kamu inginkan. Berarti sekarang kamu sudah tahu apa tujuanmu. Sha, apapun yang akan kamu lakukan aku akan mendukungmu dan tentu saja aku juga akan berusaha lebih baik agar aku pantas bersanding denganmu" Rendra bicara dengan suara lembut dan senyum yang manis. Diapun menggenggam tangan Risha dengan lembut


Risha terpesona dengan apa yang dikatakan Rendra padanya. Hatinya merasa tersentuh dengan dukungan dan kepercayaan yang diberikan Rendra padanya

__ADS_1


"Terimakasih"


__ADS_2