
Saat pemakaman pun tiba. Semua orang yang hadir terlihat mengenakan pakaian serba hitam. Bastian berdiri disamping Rendra dengan sesekali mengusap air matanya. Sedangkan Rendra hanya menatap sang ayah yang mulai dimakamkan dengan tatapan kosong dan wajah yang dingin. Dia mengabaikan bisikan semua orang yang merasa penasaran tentang identitasnya.
"Pak Bastian, kami turut berduka cita atas meninggalnya ayah anda. Saya harap anda dapat bersabar dan menerimanya dengan ikhlas"
"Terimakasih" Ucapan duka cita tak hentinya disampaikan pada Bastian.. Karangan bunga pun memenuhi kediaman mereka.
"Ren, nanti kamu pulang kerumah ya. Pengacara ingin membacakan wasiat terakhir ayah untuk kita berdua" Rendra menoleh sejenak kemudian kembali memalingkan wajahnya dari Bastian
Semua orang mulai meninggalkan pemakaman, begitu pun dengan Bastian dan Rendra
"Ayo kita pulang!" Ajak Bastian pada Rendra yang hanya diam seribu bahasa.
"Aku akan pulang kerumahku sendiri. Besok aku akan kesana untuk mendengarkan wasiat ayah" Rendra menjawab dengan sikapnya yang dingin kemudian beranjak pergi meninggalkan Bastian sendiri tanpa menunggu tanggapan darinya. Bastian hanya bisa pasrah dan menatap punggung sang adik yang semakin menjauh
"Ren, aku punya coklat. Ayo kita makan sama-sama" Rendra tersenyum dan memakan coklat yang dibawa Bastian
"Enak tidak?" Tanya Bastian dengan senyum ceria
"Enak" Rendra pun menjawab dengan ceria
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Rendra dan Bastian menoleh bersamaan mendengar suara wanita dengan berteriak memanggil mereka
"Kami sedang makan coklat" Jawab Bastian dengan sikap tenang. Rendra yang ketakutan berdiri dibelakang Bastian
"Sini kamu. Tante sudah bilang agar kamu tidak dekat-dekat dengan Bastian! Kalian ini tidak cocok. Harusnya kamu tahu diri!" Teriak ibu Bastian dengan penuh amarah
"Bu, ini bukan salah Rendra. aku yang ingin makan ini dengannya" Ujar Bastian berusaha membela Rendra
"Maafkan saya tante"
"Kamu harus dikurung. Agar kamu tahu diri! Dan kamu Bastian, kamu itu penerus keluarga Dirga. Harusnya kamu bisa menjaga nama baik kita. Tidak usah mendekati anak sial*n ini. Dia bisa mencoreng nama baik kita!"
"Baik bu"
Bastian mengingat kembali masa kecilnya dengan Rendra
__ADS_1
"Seharusnya saat itu aku memang menjaga jarak darimu. Karena keegoisanku ingin memiliki teman bermain, kamu mengalami masa kecil yang menyedihkan karena terus mendapat hukuman dari ibuku" Gumam Bastian dengan wajah sedih
***
Risha dan Kenzie sudah mulai disibukkan dengan semua ujian dan juga sidang untuk skripsi mereka
"Sha, setelah ini kamu akan pergi meninggalkan aku sendiri? Kamu tega, kamu tidak ingin selalu bersama denganku lagi? Padahal aku selalu setia bersamamu" Kenzie dengan nada bicaranya yang ramah dan lembut berusaha membujuk Risha agar dia tidak meninggalkan rumah
"Tidak perlu berlebihan. Keputusanku sudah bulat dan kamu juga harus mulai fokus bekerja di perusahaan. Siapa tahu dengan begitu kamu bisa segera menemukan kekasih hatimu" Risha menjawab dengan senyum lembut dan sikap yang tenang. Mereka berdua selalu ceria saat sedang berdua
"Cih, seperti kamu sudah punya pacar saja" Kenzie menjawab Risha dengan senyum mencibir
"Bagaimana aku bisa dapat pacar jika kamu selalu ada disampingku? Semua pria takut saat melihat mode over protektifmu padaku" Jawab Risha dengan bibir mengerucut
"Yah itu karena tidak ada pria yang benar-benar pas yang selama ini mendekatimu" Kenzie menjawab dengan sikap yang tenang sambil mengangkat kedua bahunya
"Kamu dan Kenzo bekerja sama kan untuk menjauhkan semua pria yang mendekatiku?" Kini Risha bertanya dengan raut wajah serius dan nada yang sedikit kesal
"Kami hanya ingin yang terbaik untumu, jadi tidak ada salahnya kan jika kami memeriksa latar belakang setiapĀ pria yang mendekatimu?" Risha tidak dapat mengatakan apapun lagi dan pergi meninggalkan Kenzie dengan wajah kesal
***
"Bodoh, bagaimana bisa mereka yang biasanya bertolak belakang tiba-tiba cocok ketika berurusan dengan pria yang mendekatiku?" Risha terus saja menggerutu karena kesal dengan Kenzo dan Kenzie yang terlalu protektif padanya.
"Risha!" Risha menoleh ketika seseorang memanggil namanya
"Pak Panji? Ada apa?" Tanya Risha dengan sikap yang tenang
"Apa kamu sibuk? Aku ingin mengajakmu makan siang" Ujar Panji yang langsung bertanya dengan sikap yang tenang sesuai dengan pembawaannya sebagai seorang dosen
"Hmn ... baiklah" Risha menjawab setelah dia memikirkannya sejenak tawaran Panji. Mereka pun mulai berjalan bersama
"Memang kita mau makan dimana pak?" Tanya Risha karena mereka berjalan keluar dari kampus, bukan arah menuju kantin
"Ada restoran yang baru dibuka. Aku ingin membawamu kesana" Jawab Panji yang dibalas dengan senyum lembut oleh Risha
__ADS_1
Risha dan Panji pun mulai bergegas dengan menggunakan motor Panji. Mereka tidak tahu kalau tanpa sengaja Kenzie melihatnya
"Anak itu benar-benar. Padahal sudah diberitahu kalau tidak usah dekat-dekat dengan Panji. Dia itu sama sekali tidak cocok untuknya, tapi masih saja bandel. Terserah dia sajalah, aku tidak peduli"Kenzie hanya menggelengkan kepala melihat Risha meskipun dia kesal padanya
Beberapa saat kemudian
Risha dan Panji telah sampai di restoran yang Panji maksud. Restoran sederhana dengan dekorasi seperti sebuah taman yang asri.
Banyak anak muda yang sedang berbincang sambil menikmati cemilan disana. Banyak juga dari mereka yang memainkan laptop sambil makan cemilan
"Silahkan" Panji menarik salah satu kursi untuk Risha duduk
"Terimakasih pak" Jawab Risha dengan sopan
"Kita sedang berada diluar kampus, apa kamu tidak bisa memanggil saya dengan panggilan lain? Sudah lama kita kenal tapi kamu selalu saja memanggil saya dengan sebutan 'pak'" Panji bertanya dengan sangat sopan pada Risha perihal nama panggilan yang digunakan Risha
"Maaf pak, mau bagaimanapun anda tetaplah dosen saya. lagipula, kita tidak sedekat itu sampai harus memanggil dengan panggilan nama atau sejenisnya" Risha menjawab dengan senyum manis dibibirnya
"Baiklah, aku mengerti. mau pesan apa?" Panji mengalihkan pembicaraan dengan memberikan buku menu yang diberikan oleh waitress
"Saya pesan ini saja dan jus" Risha menunjuk pada steak ayam dan jus buah untuk makanannya
"Saya yang ini" Ujar panji yang memesan menu berbeda
"Sepertinya ada yang ingin bapak bicarakan dengan saya?" Tanya Risha dengan sikap yang tenang
"Ya, saya ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ehm... sebenarnya, saya ingin bertanya sesuatu padamu" Panji terlihat gugup sambil memainkan kedua tangannya
"Ada apa pak? Saya tidak sedang membuat makalah, jadi tidak ada yang harus kita diskusikan, kan?" Risha terlihat menunggu jawaban dari Panji
"Kali ini saya tidak ingin membicarakan makalah. Tapi ingin membicarakan masalah pribadi" Panji terlihat semakin gugup sekarang
"Ya sudah, katakan saja pak" Risha bersikap tenang karena dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan Panji
"Saya, saya memiliki perasaan padamu. Saya ingin memiliki hubungan serius denganmu. Selama ini saya menunggu karena kamu masih kuliah. Tapi sekarang kamu akan segera lulus, jadi saya ingin bertanya padamu, maukah kamu jari pacarku?"
__ADS_1