
"Aku sudah menghubungi mami. Akhir pekan ini kita akan pergi kerumah kakek dan nenekmu untuk membicarakan mengenai pernikahan kita" Zo langsung pergi kerumah Safira setelah dia pulang kerja. Kini mereka sedang duduk bicara dengan Safira berada dalam dekapan Kenzo
"Apa mereka tidak masalah denganku? Aku benar-benar khawatir jika mereka tidak setuju dengan hubungan kita" Safira bicara dengan raut wajah sedih dan khawatir sambil memainkan tangannya didada Kenzo
"Apa yang harus dikhawatirkan? Aku sudah bilang kalau sebelum kamu menjalani operasi kamu pernah bertemu dengan orang tuaku, saudara kembarku dan juga sepupuku. Mereka baik padamu dan kamu juga baik pada mereka. Tapi aku juga pernah melihatmu ganas seperti singa betina" Safira langsung menatap Kenzo begitu dia mengatakan kalau Safira ganas seperti singa betina
"Aku? Apa yang aku lakukan?" Tanya Safira dengan raut wajah penasaran
"Saat itu kamu bermain dengan sesama rekan artis yang berusaha menjatuhkanmu dan kamu membuat mereka menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan" Kenzo bicara dengan senyum tipis dibibirnya
"Benarkah? Aku seperti itu juga? Tapi ... kamu tidak memebenciku yang seperti itu?" Safira kembali bertanya dengan raut wajah khawatir
"Tidak, aku malah suka. karena sebagai singa jantan memang harus memiliki pasangan seperti singa betina. Dan sebagai orang yang berada dalam posisi rantai makanan teratas, tidak boleh ada yang berani menginjak kita. Hanya kita yang boleh menginjak mereka" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin namun senyum yang terlihat lembut
"Ah aku baru tahu kalau kamu seperti ini. Senyummu itu seperti memiliki banyak arti. Aku akan mengingat ucapanmu itu" Safira menanggapi Kenzo dengan senyum yang lembut
"Oh iya, Kapan konferensi persnya di gelar?" Kenzo bertanya dengan nada yang lembut sambil mengekus lembut tangan safira
"Entahlah, kak Mona bilang akan mengatur semuanya dulu. Sementara ini dia tidak akan mengambil pekerjaan untukku. Dia akan merundingkan dulu mengenai kondisiku dengan klien. Jika mereka tidak masalah, maka aku akan mengambil pekerjaan yang ditawarkan. Tapi jika mereka tidak yakin, maka kami tidak akan bisa melakukan apa-apa" Safira menjelaskan dengan sikap yang tenang
"Kamu pasti bisa melakukan yang terbaik. Aku yakin kalau akting adalah bakatmu" Ujar Kenzo sambil mengecup kening Safira
"Kamu tidak papa jika aku tetap menjadi seorang artis?" Tanya Safira penuh tanya
"Apa yang harus dipermasalahkan? Nenek Ji juga pernah menjadi model terkenal, hanya saja karena sebuah insiden, dia terpaksa berhenti dan terjun ke dunia bisnis. Mendiang tante Lea juga seorang model terkenal, tapi nasibnya juga tragis karena meninggal diusia muda. Jika kamu memang menyukai dunia keartisan, maka aku pasti akan mendukungmu" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan senyum tipisnya
"Kenapa dari ceritanya keluarga kalian seakan tidak diizinkan untuk menjadi model?" Safira terdengar bingung karena Ji dan Lea mengalami masa yang sulit ketika mereka menjadi model
"Entahlah, mungkin karena itu sudah jadi takdir mereka" Zo menjawab dengan sikap acuh tak acuh
"Mana ada takdir seperti itu? Kamu hanya mengada-ngada" Safira menanggapi dengan malas sambil menggelengkan kepala berkali-kali.
"Yah lagipula pekerjaan apapun tidak akan berpengaruh pada keluarga kami. Meskipun kamu atau aku tidak bekerja sekalipun, harta pribadi milkku juga tidak akan habis begitu saja" Kenzo bicara dengan tenang dan penuh percaya diri
__ADS_1
"Cih, kamu terlalu percaya diri" Safira mencibir Kenzo yang sangat percaya diri
"Bukan percaya diri. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya saja"
"Sudah. Hentikan itu. Aku pusing mendengarnya"
***
Meisya masih dirawat dirumah sakit karena lukanya. Pak Arseno dan Kenzie pun masih setia menemaninya dirumah sakit
"Kak Zie, bisa ambilkan aku air minum? Aku sangat haus" Meisya bertanya dengan nada yang manja pada Kenzie
"Biar papa saja yang ambil. Papa bisa melakukannya" Pak Arseno langsung berdiri dari duduknya meskipun Kenzie berada di dekat Meisya.
"Terimakasih pah" Meisya pun menunjukan senyum terpaksa dengan mata mendelik pada Kenzie. Pak Arseno kembali ke sofa dengan bangga.
Tak berapa lama Meisya kembali meminta sesuatu
"Tentu saja. Tunggu sebentar, akan aku kupaskan untukmu" Kenzie pun meraih apel di nakas samping tempat tidur Meisya
"Biar papa saja yang mengupas apel ini untukmu " Pak Arseno langsung bangun dari duduknya dan kembali merebut apel itu dari tangan Zie. Perlahan dia mengupas apel dan membelahnya menjadi potongan kecil untuk memudahkan Meisya memakannu
"Apa ada lagi yang kamu butuhkan?" Tanya pak Arseno yang menatap Kenzie dengan tatapan permusuhan
"Tidak ada pah. Terimakasih" Meisya kembali menjawab dengan sikap tenang. Pak Arseno pun kembali duduk di sofa
"Kak Zie, sebenarnya ada apa dengan papaku? Kenapa sejak dia tiba dirumah sakit, sikapnya jadi terasa aneh, seperti menyimpan dendam padamu?" Meisya bertanya dengan nada bicara berbisik sambil sesekali mendelik pada sang ayah
"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya dia menganggap aku sebagai saingannya yang bisa merebutmu kapan saja" Kenzie pun menjawab dengan sikap yang tenang
"Saingan? Bagaimana bisa papa menganggap kak Zie seperti itu? Bukannya akan lebih baik kalau kalian bisa bekerja sama dalam merawatku?" Meisya menanggapi dengan sikap yang bingung
"Sya, itu karena pak Arseno sangat menyayangimu. Tidak mungkin dia melakukan itu jika dia tidak menyayangimu" Zie berusaha meyakinkan Meisya mengenai sikap pak Arseno
__ADS_1
"Sepertinya itu bukan sangat menyayangi melainkan sangat posesif atau mungkin obsesif?" Meisya bicara dengan berbisik pada Kenzie
"Mungkin juga itu dia lakukan karena cemburu" Zie kembali berbisik pada Meisya
"Kenapa papi cemburu? Apa karena dia merasa terkalahkan oleh kak Zie?" Tanya Meisya yang menatap Kenzie penuh curiga
Kenzie menggelengkan kepala sambil berkata
"Bukan itu, melainkan karena papamu membutuhkan pasangan baru"
"Apa?!" Meisya sangat terkejut hingga dia membelalakan mata dan sedikit berteriak
"Itu hanya kemungkinan saja. Mungkin saja papamu membutuhkan pasangan baru" Zie tersenyum menggoda Meisya
"Hmn... apa iya begitu?" Meisya terdiam kemudian menoleh pada ayahnya yang sedang membaca dokumen ditangannya
"Kenapa kamu jadi melamun seperti itu? Apa ada yang salah dengan papa?" Pak Arseno yang sedang fokus pada dokumen seketika menoleh pada Meisya setelah merasa kalau anak gadisnya sedang menatap kearahnya
"Tidak ada pah. Aku hanya baru menyadari saja kalau papaku ternyata tampan juga ya. Rasanya tidak mungkin kalau tidak ada wanita yang tertarik pada ketampanan papa" Meisya bicara dengan senyum menggoda sang ayah. Kenzie pun tak kuat menahan senyum karena ternyata Meisya langsung termakan ucapannya
"Ini ulah kamu ya? Kamu sudah meracuni putriku kan?" Pak Arseno tidak menanggapi Meisya, dia justru menatap Kenzie dengan tatapan sinisnya
"Tidak om. Aku tidak pernah meracuni putri om. Aku hanya membawa pengaruh baik saja pada Meisya. Benarkan?" Kenzie bicara dengan lembut dan meminta persetujuan dari Meisya
"Ini tidak ada hubungannya dengan kak Zie, pah. Aku hanya mengatakan pendapatku saja. Daripada papa mengikuti kami, kenapa papa tidak berkencan saja?"
"Ppfftt"
Kenzie pun berusaha keras menahan senyumnya ketika Meisya bicara pada sang ayah. Sudah bisa dibayangkan bagaimana raut wajah pak Arseno saat ini
"Baiklah-baiklah. Jika kalian memang tidak ingin diganggu, papa akan pergi dulu. Besok papa akan kembali lagi kemari" Pak Arseno yang kesal tidak menanggapi Meisya, melainkan dia malah pergi meninggalkan rumah sakit dengan tatapan dingin pada Kenzie
"Kenapa aku merasa kalau tatapan papamu seakan ingin membunuhku ya?"
__ADS_1